MasukPernikahan Nirmala bagaikan neraka. Indra, suaminya terang-terangan berselingkuh di depan matanya, sementara ibu mertuanya selalu menghina dan memperlakukan Nirmala seperti pembantu. Hingga malam itu tiba. Malam yang tanpa sengaja menautkan takdir Nirmala dengan Sigan Bramantara, kakak iparnya yang dingin dan berkuasa. Di tengah hubungan rumah tangga Nirmala yang terasa semakin dingin, Sigan datang memberikan perhatian dan perlindungan yang tak pernah Nirmala dapatkan sebelumnya dari Indra. Pria perkasa itu perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Nirmala hingga hubungan terlarang pun tak terhindarkan. Mampukah Nirmala menyudahi dosa yang telanjur terikat? Atau justru semakin tenggelam dalam pelukan pria yang tak seharusnya dia cintai?
Lihat lebih banyak"Mas Indra, tega sekali kamu!"
Jeritan Nirmala meledak di ambang pintu. Dunianya runtuh saat matanya menyaksikan Indra, pria yang begitu ia cintai, tengah bergumul di atas ranjang mereka bersama Maya, pembantu mereka sendiri.
Hati Nirmala rasanya seperti diremas hingga hancur. Sakit dan terhina.
Amarah membutakan matanya. Nirmala melangkah lebar, merangsek masuk dan hendak melayangkan tangan sejadi-jadinya ke arah wajah Maya.
Namun, belum sempat telapak tangannya menyentuh kulit wanita itu, Indra lebih dulu menyambar pergelangan tangannya.
Suaminya mencengkeramnya begitu kasar hingga Nirmala meringis menahan sakit.
"Mas, sakit...," rintih Nirmala.
"Diam kamu! Jangan bilang siapa-siapa soal ini! Kalau kamu sampai bilang, aku bakal berhenti membayar biaya rumah sakit ibumu yang sekarat itu!" tandas Indra dengan tajam memberikan ancaman pada Nirmala. Nirmala langsung terdiam. Di saat yang sama, dia menangkap sebelah sudut bibir Maya terangkat membentuk sebuah senyuman sinis. Kalau Indra sampai berhenti membayar biaya rumah sakit ibunya, Nirmala tidak tahu lagi bagaimana ibunya bisa bertahan. Harta keluarganya sudah habis untuk melunasi utang mendiang ayahnya. Kini, ibunya terbaring koma akibat tabrak lari, dan wanita tua itu adalah satu-satunya alasan Nirmala untuk tetap hidup. Setelah lama terdiam, Nirmala bergeleng pelan. Air mata mulai memenuhi matanya sampai mengaburkan pandangannya. "Ja-jangan, Mas... Jangan Ibu," ucap Nirmala lirih. Indra tersenyum puas melihat pertahanan Nirmala hancur. Ia menghempaskan tangan istrinya dengan kasar. "Ingat! Kalau kamu masih mau aku tetap membiayai rumah sakit ibumu, kamu pura-pura saja tidak tahu soal ini. Mengerti?!" sentak Indra tidak berperasaan. Nirmala hanya bisa mengangguk pasrah. Di rumah mewah ini, ia memang tidak pernah dianggap sebagai anggota keluarga, hanya tak ubahnya orang asing yang menumpang hidup. Puas melihat kepatuhan istrinya, Indra mendorong Nirmala keluar, lalu membanting pintu kamar rapat-rapat demi melanjutkan aksi biadabnya bersama Maya. Di luar pintu yang tertutup itu, Nirmala terduduk gemetar. Ia menutup rapat kedua telinganya, berusaha menulikan diri dari desahan menjijikkan yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. Malam harinya, semua anggota keluarga Bramantara yang terdiri dari Indra, Bu Retno, dan Nirmala berkumpul di ruang makan. Mereka sedang makan malam bersama dalam diam. Nirmala tidak banyak bicara. Dia hanya diam sambil melahap makanannya. Namun, tiba-tiba ibu mertuanya berucap memecah keheningan. "Nirmala, jadi kapan kamu mau mengambil program hamil? Sampai kapan kamu membuat Mama menunggu?" tanya Bu Retno yang langsung menghunjam relung hati Nirmala. Sebenarnya Nirmala masih belum ingin membahas hal ini. Dia masih terpukul dengan apa yang terjadi tadi pagi di kamarnya. Mana bisa Nirmala hamil jika Indra saja tidak pernah menyentuhnya, dan suaminya itu justru menghabiskan waktunya bersama pembantu mereka? Tapi, Nirmala tak bisa mengatakan hal itu pada ibu mertuanya, mengingat ancaman Indra tadi. "Akhir bulan ini, Ma. Nirmala akan mencoba menghubungi teman Nirmala yang dokter kandungan minggu depan," jawab Nirmala berusaha menguatkan dirinya menghadapi Bu Retno. Ibu mertuanya itu mendengus kasar, seolah tidak suka dengan keputusan Nirmala. "Kelamaan kalau akhir bulan, Nirmala. Besok saja kamu pergi dengan Indra ke rumah sakit langganan Mama." "Jangan, Ma. Aku masih sibuk kalau besok," tukas Indra tidak setuju. "Kalau besoknya lagi?" Bu Retno masih mencoba untuk menawar. "Aku masih ada kegiatan di perusahaan, Ma," balas Indra yang tidak ingin dibebani oleh tanggung jawab mengantarkan Nirmala ke rumah sakit. Nirmala yang menyadari keengganan Indra tersebut, memaksakan diri untuk tersenyum pada ibu mertuanya. "Biar Nirmala sendiri yang ke rumah sakit, Ma. Mas Indra masih sibuk. Nirmala tidak mau merepotkan Mas Indra." "Ya sudah kalau begitu. Pokoknya kamu harus segera hamil, Nirmala. Indra sudah tiga puluh lebih. Sudah seharusnya kamu dan Indra memberikan penerus untuk keluarga Bramantara," tandas Bu Retno. Nirmala mengangguk dengan menahan perasaannya. "Iya, Ma." Padahal, Indra yang bekerja sebagai manager di perusahaan Bramantara tidak memiliki kegiatan sepadat itu sampai tidak bisa mengantarkan Nirmala ke rumah sakit besok. Nirmala diam-diam merasakan perih kembali di hatinya saat tahu jika Indra hanya mencari-cari alasan agar suaminya itu tidak ikut ambil bagian dalam progam kehamilan Nirmala. Pria itu membiarkan Nirmala menanggung beban memberikan seorang penerus untuk keluarganya seorang diri. Begitu makan malam selesai. Bu Retno mendatangi Nirmala yang sedang sibuk mencuci piring sendirian di dapur. Sedang, Maya pergi keluar bersama Indra dengan alasan membeli kebutuhan memasak besok di mall. "Nirmala," panggil Bu Retno yang sudah berdiri di samping Nirmala. Nirmala segera menghentikan aktivitasnya sebentar, dan menatap Bu Retno sopan. "Ada apa, Ma?" "Kamu harus belajar memuaskan Indra. Kalau begini terus kapan kamu bisa hamil?" tukas Bu Retno. "Kamu harus pinter dandan, main di ranjang. Jangan cuma pinter masak doang!" Nirmala menggigit bibir bawahnya yang bergetar.Andai Bu Retno tahu jika anak kesayangannya justru berselingkuh dengan seorang pembantu, apa wanita paruh baya itu akan terus menyalahkan Nirmala?
"Kalau kamu tidak segera hamil. Mama bakal menyuruh Indra menikah lagi dengan anak teman Mama," tukas Bu Retno lagi. Lalu, tanpa menunggu jawaban dari Nirmala, dia langsung berderap pergi begitu saja. Sebelum Bu Retno menjauh, Nirmala sempat mendengar ucapan menyakitkan dari bibir ibu mertuanya itu. "Percuma punya menantu yang tidak bisa hamil. Paling mandul. Apes banget aku."“Perempuan sepertimu sia-sia saja kalau hanya bekerja di rumah.” Mata elang Sigan menjelajahi penampilan Nirmala dari atas sampai bawah. “Mungkin ada banyak hal yang bisa kamu kerjakan di kantorku.” Nirmala tercengung dalam sekian detik. Apalagi mendapati bibir Sigan yang kini membentuk sebuah senyuman yang tak dapat diartikan. “Jadilah sekretarisku. Hidupmu akan terjamin,” tambah pria itu. Helaan napas panjang timbul dari mulut Nirmala. Dia mengangguk mengerti. Tetapi, ada satu hal yang membuat kepalanya berputar lebih keras. "Aku pikir-pikir dulu ya, Mas," balas Nirmala pada tawaran yang Sigan berikan. Dia sebenarnya ingin kembali bekerja seperti dulu, namun dia tidak tahu apa dia diperbolehkan bekerja lagi atau tidak oleh Indra. Selain itu, Nirmala juga masih belum mengenal sifat asli kakak iparnya itu sehingga dia masih segan bekerja bersamanya. Jadi, Nirmala tidak langsung menolak ataupun menerima tawaran dari Sigan, dan memilih memikirkannya terlebih dulu. "Kenapa ragu? T
Setelah mendengar ucapan ambigu dari Sigan tadi, Nirmala berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kakak iparnya itu.Nirmala bahkan lebih memilih menyibukkan diri di dapur terus daripada melihat Sigan yang kini duduk di ruang tamu sambil memegang laptopnya."Nirmala, kamu cuci mobilnya Sigan, ya. Besok mau dia pakai kerja," tukas Bu Retno pada Nirmala, membuat menantunya itu terlonjak kaget karena sebelumnya sempat melamun."Iya, Ma," balas Nirmala cepat-cepat sambil pura-pura memotong sayuran untuk dia masak nanti sore. Padahal semua pekerjaannya sudah selesai, tapi Nirmala masih enggan untuk duduk bersantai di ruang tamu bersama kakak iparnya."Kalau bisa sekarang. Soalnya nanti Mama bakal nyuruh kamu buat ambilin pesanan Mama di butik yang biasanya," ucap Bu Retno yang dibalas anggukan mengerti oleh Nirmala."Baik, Ma."Setelah menyanggupinya, Nirmala mengerjakan perintah dari ibu mertuanya untuk mencuci mobil Sigan.Nirmala sempat merasakan tatapan Sigan mengikutinya ketika dia
"Bukan apa-apa, Mas Sigan. Aku cuma mau ngenalin Mas Sigan sama Nirmala, istriku," ucap Indra cepat-cepat.Nirmala sampai dibuat heran. Suaminya yang selalu angkuh dan arogan mendadak seperti menciut, tak ubahnya seekor semut di hadapan Sigan. "Oh." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Sigan Bramantara. Pria berpostur tinggi tegap itu lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada Nirmala. Tatapannya menelisik dalam, membuat Nirmala refleks menundukkan kepala. Rasa ketakutan dan ingatan akan kejadian semalam membuat sekujur tubuhnya meremang.Nirmala meremas jemarinya, ingin cepat-cepat angkat kaki. Namun, Indra justru menyikutnya dan berbisik menekan."Kamu harus layani Mas Sigan selama dia di sini. Masak buat dia, cuci bajunya, siapkan semua kebutuhannya seperti kamu melayaniku," desis Indra persis di telinga Nirmala."Tapi, Mas..." Nirmala hendak menolak, tapi Indra langsung memberinya cubitan keras di lengannya hingga Nirmala meringis pelan. "Kalau kamu penurut, Mas Sigan bi
"Mbak Nirmala, masakin sate lilit, pakcoy saus tiram, udang asam manis, cumi pedas, sama ayam ungkep. Kalau udah buatin es buah pakai bahan-bahan ini," tukas Maya seraya melempar kantong belanjaan ke atas meja dapur. Setiap Bu Retno pergi bersama teman-teman sosialitanya, Maya selalu berlagak seperti nyonya rumah. Sejak menjadi selingkuhan Indra, sikapnya makin tidak tahu diri. "Loh, Mbak. Kok semuanya dikasihkan ke aku?" protes Nirmala tidak terima. Dia sudah membuatkan sarapan tadi. Dan sekarang dia harus memasak lagi sebanyak lima menu sekaligus. "Halah. Cuma itu doang. Aku mau istirahat sebentar. Toh, setelah ini aku bakal sibuk soalnya kakak kandung Pak Indra bakal pulang dari Amerika hari ini," balas Maya sembari mengibaskan tangan, dan langsung meninggalkan Nirmala sendirian di dapur. Tangan Nirmala mengepal, ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu. Namun belum sempat ia melangkah, sosok Indra muncul dari arah kamar utama dengan pakaian rapinya. "Mas ...." "Jan









![Dangerous Lies [Bahasa Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)








Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.