LOGIN"Abaikan dia." Alya bahkan tidak menatap Emran, nadanya makin dingin.Lexa hanya mengatupkan bibir dan melirik Emran dengan hati-hati.Emran sudah cukup sering diperlakukan Alya dengan dingin selama beberapa hari terakhir, jadi Emran sudah agak kebal.Emran pun menatap Ricky, "Nak, Ayah juga nggak perlu bekerja hari ini. Apa Ayah boleh ikut?"Ricky mengernyit. "Jangan tanyakan pertanyaan seberbahaya itu padaku, langsung tanya saja pada ibuku."Emran hanya terdiam.Ada bedanya antara anak yang dilahirkan secara biologis dengan yang dibesarkan sendiri.Jauh lebih berbeda lagi apabila anak itu dilahirkan dan dibesarkan dengan tangan sendiri.Ricky telah tinggal bersama ibunya selama bertahun-tahun. Soal kasih sayang, tentu saja anak itu lebih menyayangi ibunya.Itu sebabnya di momen penting, Ricky akan tetap memihak pada ibunya.Ricky mendongak ke arah Alya dan bertanya, "Ibu, apa boleh kita makan siang KFC?""Boleh." Alya menatap putranya. "Tapi, makanan seperti itu nggak sehat. Makan se
Alya menahan emosinya dan bertanya dengan lembut, "Ricky, kamu mau nonton film apa?"Ricky mengerjap-ngerjapkan matanya, dia akhirnya menyadari bahwa ibunya benar-benar akan mengajaknya ke bioskop."Kalau ...." Ricky tersenyum dan bertanya, "aku mau nonton film pembasmi iblis, boleh?""Tentu saja." Alya meraih tangan putranya. "Kalau begitu, ayo kita ke mal sekarang. Ibu nggak perlu bekerja hari ini, jadi Ibu bisa menemanimu seharian ini.""Hore!" Ricky mengangguk dengan antusias, matanya berbinar-binar bahagia.Lexa sudah selesai mengemasi barang-barang Alya dan menutup resleting koper kecil itu."Bu Alya, semua sudah siap.""Oke, aku mau ajak Ricky ke mal. Bisakah kamu mengantar kami ke sana dulu, lalu tolong bawakan koperku kembali ke rumah Keluarga Nantar?""Baik," jawab Lexa.Alya mengajak Ricky keluar.Emran refleks minggir untuk memberi jalan bagi mereka.Sebenarnya, Emran datang menemui Alya setiap hari. Namun, karena Alya tidak ingin bertemu dengannya, dia tidak pernah masuk k
Vano juga tidak tahu bahwa pria itu menggunakan buku nikah untuk menjebak adik perempuan kesayangannya.Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa suatu hari nanti, pria itu akan secara pribadi mengantar adik perempuan kesayangan Vano menuju kematiannya ....…Setelah Alya dan Blake pergi, si kepala departemen kembali ke kantornya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor."Pak Emran, Nona Alya dan Pak Blake sudah pergi."Suara Emran terdengar dingin dan dalam dari ujung telepon sana. "Apa mereka menanyakan sesuatu?""Mereka bertanya apa ada orang lain yang menemui Pak Vano hari ini," jawab si kepala departemen dengan jujur. "Tapi, aku nggak membocorkan rahasia Pak Emran.""Bagus, kamu harus merahasiakan bahwa aku menghubungimu.""Jangan khawatir, aku akan melakukannya."Setelah menutup telepon, Emran mengangkat tangannya dan memijat pangkal hidungnya.Semoga masalah ini berjalan lancar.Emran yakin bahwa ini adalah kesempatan terbesarnya untuk merebut kembali Alya!...Hari
...Sekitar empat puluh menit kemudian, mereka tiba di sanatorium.Saat Blake keluar dari mobil, ekor matanya sekilas melihat sebuah mobil yang familier.Blake sontak tertegun.Kenapa Emran juga ada di sini?Alya yang masih berada di dalam mobil ikut memandang keluar mengikuti arah pandangan Blake.Dia juga melihat mobil Emran.Ekspresi Alya langsung berubah menjadi dingin."Ayo kita naik dulu." Blake membuka pintu kursi roda dan membantu Alya duduk.Setelah Alya duduk, Blake dengan penuh perhatian menutupi kaki Alya menggunakan selimut kecil.Sikap perhatiannya bukanlah sesuatu yang disengaja, itu adalah tindakan yang natural dan muncul karena kebiasaan.Alya beranggapan bahwa semua dokter seperti ini dan tidak terlalu memikirkannya....Kamar Vano berada di lantai 20, di kamar pribadi paling mewah.Blake telah memberi tahu pihak sanatorium, jadi ketika mereka keluar dari lift, dokter yang merawat Vano sudah menunggu mereka bersama timnya.Setelah saling menyapa, dokter yang bertugas
Suasana di kamar rawat itu terasa sangat tegang.Blake menuangkan segelas air hangat untuk Alya, lalu berjalan mendekat dan memberikan gelas itu sambil berkata, "Minum air dulu."Alya mengambil gelas itu dan berkata, "Terima kasih."Blake duduk di tepi tempat tidur, dia menatap Alya dengan sorot tidak berdaya dan sedih. "Alya, aku benar-benar minta maaf."Alya mendongak menatap Blake. "Sejak kapan kamu tahu?""Erick dan aku sama-sama tahu tentang itu."Alya sontak tertegun."Tapi, saat itu kamu masih terlalu terobsesi dengan Emran. Kami merasa kalau kamu tahu bahwa kakakmu telah menghubungi Emran secara diam-diam, hubunganmu dengan kakakmu akan makin memburuk. Jadi, setelah berdiskusi dengan Erick, kami memutuskan untuk merahasiakannya darimu."Mata Alya kembali berkaca-kaca. "Kalian sudah melakukan hal yang benar. Sekalipun waktu itu kalian memberitahuku, dengan sifatku saat itu, aku hanya akan menganggap kakakku nggak masuk akal. Aku sangat keras kepala saat itu, aku selalu merasa ka
"Tapi, aku sudah nggak mencintaimu lagi!" Alya mendorong Emran menjauh dan balas berseru, "Emran, kamu bisa memaafkan kebodohan masa mudaku, tapi bukannya aku juga muda dan bodoh saat itu? Bisakah kamu membiarkanku pergi demi kebodohan masa mudaku? Kamu bisa nggak?""Nggak." Emran menggelengkan kepalanya. "Kamu telah mencintaiku selama 18 tahun, nggak mungkin kamu nggak mencintaiku lagi. Kamu hanya bilang begitu karena kamu lagi marah. Kamu masih marah padaku sekarang. Aku akui itu. Aku sudah meminta maaf. Tolong hentikan keributan ini. Mari kita jalani hidup yang baik bersama ....""Aku nggak membuat keributan!" seru Alya dengan suara serak, dia merasa tidak tahan lagi. "Emran, apa yang kamu inginkan dariku? Apa kamu ingin mendorongku sampai mati baru kamu puas?"Emran sontak tertegun.Setelah beberapa saat, dia melangkah maju dan menatap mata Alya. "Kamu melahirkan Ricky demi aku. Meskipun aku nggak membantumu saat itu, kamu tetap mencintaiku selama delapan tahun. Kamu bahkan melihat







