Se connecterCinta hanyalah mahasiswi biasa, sampai dunia berhenti mengikuti logika. Bayangan bernama Samudra, kotak biru yang terasa hidup, dan perasaan asing yang terus menempel membuatnya sadar, ada sesuatu yang sedang bangun di dalam dirinya. Dan ketika langit serta laut ikut campur, cinta tak lagi soal pilihan... melainkan tentang siapa yang berani menerima kebenaran lebih dulu.
Voir plus"Langkah satu centi lagi, dan lo bakal nyesel seumur hidup, Cinta."Suara bariton Samudra membelah keheningan gerbang belakang kampus seperti silet yang mengiris udara.Cinta tersentak, kakinya yang nyaris menyentuh pusaran kabut hitam itu mendadak kaku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Samudra berdiri di sana, namun kali ini wajahnya bukan wajah pelindung yang biasanya hangat. Matanya kelam, sedalam palung laut yang menyimpan rahasia paling gelap.Di sampingnya, Langit berdiri dengan posisi siaga, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama dinginnya. Mereka berdua berdiri seperti algojo yang siap mengeksekusi mangsa."Lo berdua... mau apa?!" desis Cinta, suaranya bergetar antara marah dan rasa malu karena aksinya menyelinap dari kosan ternyata gagal total."Gue nggak punya pilihan, Cin," sahut Langit datar. Suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, seolah-olah Cinta hanyalah objek tugas yang harus diselesaikan."Lo terlalu nekat. Lo pikir nemuin gerbang ini sendirian malam-
"Gue nggak butuh dikasihani ya, apalagi dijagain sama pembohong kayak lo."Kalimat itu keluar dari mulut Cinta bahkan sebelum Samudra sempat membuka suara di depan pintu kosannya yang tertahan. Cinta mundur selangkah, menatap Samudra dengan pandangan yang lebih dingin dari angin malam. Tidak ada isak tangis yang mendayu, hanya ada gurat kelelahan dan rasa muak yang sangat nyata."Cinta, dengerin gue dulu..""Dengerin apa lagi, Sam?" potong Cinta cepat. "Dengerin skenario baru yang lo buat biar gue kelihatan bego lagi? Jangan pura-pura peduli deh, geli gue liatnya. Selama ini gue hidup dalam rasa bersalah karena ngira Bokap ninggalin gue, dan ternyata lo tahu segalanya tapi milih buat tutup mulut rapat-rapat!"Samudra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras hingga garis ototnya terlihat jelas di bawah lampu koridor yang temaram. Di dalam hatinya, Samudra berteriak bahwa ia hanya ingin melindungi kewarasan Cinta. Ia takut jika Cinta tahu betapa mengerikannya kondisi ayahnya di bawa
"Gue tahu di mana bokap lo sekarang, Cinta."Langkah kaki Cinta mendadak terpaku di atas lantai marmer koridor rektorat yang dingin. Suara itu tidak mengelegar, hanya halus dan tenang, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan aliran darah di pembuluh nadi Cinta seketika. Cinta perlahan menoleh, lehernya terasa kaku. Di sana, bersandar pada pilar beton besar dengan gaya yang terlalu sempurna untuk seorang manusia, berdiri Arden.Cinta mendengus sinis, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, sebuah topeng pertahanan yang biasa ia pelajari di kelas psikologi. "Oh, lo masih sehat ya sekarang? Gue pikir habis kejadian kemarin lo bakal absen lama buat pemulihan diri."Arden tidak terganggu dengan sarkasme itu. Ia malah tersenyum tipis... jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu punya cara buat pulih lebih cepat, Cinta. Apalagi kalau motivasinya adalah lo. Dan ada yang sangat menarik sekarang. Lo pikir gue bakal lewatin gitu a
"Cin.., lo mau masuk kelas atau mau jadi patung selamat datang di situ?"Suara melengking Rara membuyarkan lamunan Cinta yang sedari tadi terpaku menatap punggung Samudra yang menjauh di bawah pohon mahoni. Cinta tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Ia segera menyesuaikan tali tasnya dan bergegas menyusul Rara masuk ke ruang kuliah 302 yang sudah mulai penuh."Sorry, Ra. Agak blank dikit gue," gumam Cinta sambil mencari tempat duduk di barisan tengah, posisi paling aman untuk mahasiswa yang sedang tidak ingin jadi pusat perhatian dosen.Di depan kelas, Pak Bambang, dosen senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan cara bicaranya yang lambat namun menghujam, sudah berdiri di balik podium kayu. Ia sedang menyiapkan materi slide presentasi bertajuk "Mekanisme Pertahanan Ego, Represi dan Amnesia Disosiatif".Cinta menelan ludah. Topik hari ini rasanya seperti sebuah sindiran halus dari semesta."Selamat pagi semuanya," suara Pak Bambang menggema, ber
Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia mel
“Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal l
“Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mendin
“Lo nyium bau amis nggak, sih?”Cinta berhenti menulis. Pulpen yang sejak tadi ia tekan ke kertas refleks terangkat, menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia menoleh pelan ke arah Rara. Sahabatnya itu sudah memasang wajah super aneh.“Apaan, sih Ra?” gumam Cinta. “Jangan mulai aneh-a






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires