FAZER LOGINCinta hanyalah mahasiswi biasa, sampai dunia berhenti mengikuti logika. Bayangan bernama Samudra, kotak biru yang terasa hidup, dan perasaan asing yang terus menempel membuatnya sadar, ada sesuatu yang sedang bangun di dalam dirinya. Dan ketika langit serta laut ikut campur, cinta tak lagi soal pilihan... melainkan tentang siapa yang berani menerima kebenaran lebih dulu.
Ver mais“Siapa dia?” gumam Cinta dalam hati.
Ia yakin seratus persen dirinya masih sadar. Karena setahunya, kalau orang pingsan itu dunianya langsung gelap, atau minimal ada suara berdenging seperti TV rusak, mirip adegan di sinetron jam tujuh malam. Tapi ini tidak… Otaknya masih on, jantungnya berdegup normal tanpa kendala, dan suara AC ruang seminar masih berisik seperti biasanya. “Ahhh.. nih AC dingin banget sih… bikin pengen buang air kecil, bbrrrr…” keluhnya pelan sambil merapatkan jaketnya. Tapi, ada satu hal yang jelas tidak biasa. Di sudut ruangan, seorang pria tampan berdiri dengan tenang. Dia jelas bukan mahasiswa kampus ini, bukan dosen, dan terlalu tenang kalau disebut panitia seminar. Tubuhnya tinggi dengan postur sempurna dan auranya... sangat berbeda dari bocah – bocah kampus yang lain. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian atas, basah di area kerah seolah baru saja terkena air. Rambut hitamnya jatuh berantakan, tapi justru terlihat keren… tipe berantakan ala Aktor korea habis mandi pagi. “Siapa dia?” ulang Cinta, kali ini suaranya agak kencang, nyaris terdengar dengan teman yang lain. Pria itu diam seperti manekin di toko – toko, dengan gaya yang dibuat semaksimal mungkin. Ia menatap Cinta lama, lalu sudut bibirnya melengkung sedikit. Bukan senyum penuh dan ikhlas, hanya refleks kecil yang entah kenapa membuat perut Cinta mendadak terasa hangat. Cinta refleks menoleh ke arah Rara, sahabatnya yang duduk di barisan belakang sambil selonjoran santai kayak dipantai. Dasar nggak sopan, besit Cinta. “Gaaasss, Cin!! Momet ini harus kita abadikan.” bisik Rara sambil memegang ponselnya yang sudah dalam posisi merekam. “Lo harus tunjukin hasil begadang ribuan purnama yang lo banggakan itu!!” Cinta melirik seisi ruangan, mahasiswa lain terlihat normal... ada yang mengetik, ada yang pura-pura menyimak walau entah yang dipikirkannya ternyata hal lain. Bahkan Pak Bambang, sang dosen killer, masih sibuk membolak-balik map cokelat tebalnya dengan wajah sedatar patung. Tidak ada yang terganggu dengan kehadiran pria tampan itu. Kecuali Cinta… Tapi saat Cinta kembali menoleh ke sudut ruangan... Tarrrraaa! Kosong... “Oke rileks..huuhh… ini pasti efek kurang tidur,” gumam Cinta sambil mengusap pelipisnya. Di sudut itu hanya ada layar proyektor dan kabel HDMI yang menggantung berantakan. Halusinasi yang datang disaat yang tidak tepat pikir Cinta. Kalau saja halusinasi tentang pria tampan itu datang saat dia sedang sendiri di kosan, pasti akan lebih menyenagkan. "Tok.. tok... tok... Saudari Cinta, silakan lanjutkan pemaparan Anda.” suara Pak Bambang memotong lamunannya seperti palu hakim. “Ehhh… Iya, Pak. Siap!!” jawab Cinta cepat. Ia merapikan rambut cokelat ikalnya, lalu mulai memaparkan presentasi. Kata-katanya mengalir lancar, tapi dadanya terasa sesak setiap kali Pak Bambang menatapnya tajam. “Saudari memahami apa yang Anda sampaikan?” tanya Pak Bambang ketus. “Iya, Pak, paham.” “Bukan hafalan?” “Bukan, Pak...” “Buktikan kepada kami, karena mata anda seperti sedang mengahapal!!” Rara menahan tawa di belakang. “Busyeet, Cin. Mati lo... ke-gep noh sama tuh dosen!” Cinta hanya bisa memberikan senyum tipis yang ia usahakan terlihat anggun. Ia menarik napas panjang, mencoba menjelaskan ulang dengan bahasanya sendiri yang lebih logis. Namun, semakin ia bicara, udara di ruangan terasa berubah menjadi lembap. Seperti udara setelah hujan badai. Cinta menunduk sejenak. Sepatunya mulai basah. Sedikit demi sedikit air muncul di lantai ubin. Cinta mengerjap. Sekali... dua kali... dan lantai kembali kering. “OMG… Gue halu kayaknya.. kalau bukan karena begadang mungkin kebanyakan makan micin nih..” bisik Cinta dalam hati. “Fokus, Cinta. Sedikit lagi neraka ini selesai. The and..” “Saudari mulai melamun ya?” Pak Bambang mengetuk meja dengan pulpen. “Maaf, Pak. Maksud saya...” Cinta berusaha tegak, tapi suara ombak mulai muncul di telinganya. Pelan, namun sangat luas. Ia menunduk lagi, dan kali ini ubin putih itu benar-benar basah. Jejak kaki muncul satu per satu, besar dan tegas, berjalan menuju ke arahnya. Cinta membeku. “Tarik napas... hembuskan... huuhh.” ia mencoba menenangkan diri. Ia menatap sekeliling, semuanya normal. Tapi begitu ia melihat ke depan kakinya lagi, seseorang sudah berdiri di sana. “Oh My God... Lee Min Ho?” batin Cinta terpesona sekaligus membeku. Wajah pria itu kini terlihat jelas. Kulitnya sehat dan glowing. Matanya tajam menatap Cinta. “Lo harusnya nggak liat gue dulu...” pria itu bersuara. Rendah dan tenang di tengah gemuruh jantung Cinta. “Lo... nyata?” bisik Cinta dengan bibir gemetar. “Mungkin...” “Apa gue udah mati?” Pria itu menggeleng tipis. “Hmm... Belum.” Cinta ingin tertawa sekaligus menangis. “Apa gue udah gila?” Pria itu hampir tersenyum, membuatnya semakin menawan. “Kemungkinan begitu...” jawabnya sambil mengangguk pelan dan seketika membuat kesal. Suara Pak Bambang terdengar menjauh, seperti dari ujung lorong Panjang. “Saudari Cinta, apakah Anda masih bisa melanjutkan?” Pandangan Cinta buram. Suara ombak menggelegar. “Cin… lo oke?” suara Rara terdengar panik dan samar ditelinga Cinta. Kaki Cinta lemas, dan sedetik kemudian, tubuh langsingnya jatuh menghantam lantai. “CINTAAAA!” Rara loncat berdiri. “YA AMPUN! Eh, bentar... gue masih live. Guys... Cinta pingsan, kita off dulu ya! See u... pai pai!!” Mahasiswa lain panik. Pak Bambang bangkit dari kursi, berjalan cepat ke arah Cinta, dan... Gedubraaaakk! “ADUUUH!” Pak Bambang mengaduh. Map cokelatnya melayang dan kertas ujian berhamburan. “Kenapa lantainya licin begini?!” bentaknya kesal. Padahal bagi yang lain, lantai itu kering kerontang. Tak ada air. Tak ada jejak. Di ambang kesadarannya yang menghilang, Cinta masih melihat pria itu berdiri di sudut ruangan, menatapnya dalam diam. Siapa pria tampan misterius itu? kenapa dia ada dalam khayalanku yang terlihat seperti nyata?Hujan itu berhenti.Bukan mereda pelan seperti hujan normal, tapi putus seketika, seperti sakelar lampu yang dimatikan tanpa aba-aba. Begitu Cinta melangkah menjauh dari gudang tua dengan kotak biru di pelukannya, langit di atas kepalanya mendadak bersih. Terik. Sama teriknya dengan gang kosan yang lain.Cinta berhenti tepat di depan gerbang kosannya.Refleks, kepalanya mendongak. Mencari awan kelabu yang biasanya setia menggantung di atas kepalanya. Tapi langit itu kosong… biru dan normal. Sangat normal.“Serius?” gumamnya lirih. “Setelah semua kekacauan itu… sekarang malah berhenti?”Aspal yang tadi basah mulai menguap, mengirimkan aroma panas dan debu. Orang-orang lalu lalang tanpa peduli. Tidak ada yang menatap aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada keajaiban.Dan justru itu yang bikin dada Cinta terasa makin sesak.“Harusnya lo masih ada...” katanya pelan ke langit. “Minimal ngasih tanda kek. Ini apa? Prank? Lo kira gue punya waktu buat ini?”Ia menggeleng sendiri, tertawa pendek
Matahari pagi bersinar terik, membakar aspal gang kosan hingga hawa panasnya memantul ke dinding-dinding sempit. Namun bagi Cinta, dunia terasa salah musim.Air hujan masih jatuh tepat di atas kepalanya… dingin, konsisten, dan tidak masuk akal… seolah awan kecil itu menolak pergi ke mana pun ia melangkah.Setelah sore penuh kegilaan, ketika kerang mutiara di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara deburan ombak halus, Cinta tahu satu hal.. ia tak bisa terus berpura-pura ini hanya stres biasa.Ia berdiri di depan gudang tua di samping gang kosannya dengan kondisi mengenaskan. Rambut lepek, baju lembap, dan napasnya berat.Satu-satunya alasan ia datang ke sini adalah kotak biru itu. Ada denyut aneh di dadanya… selaras dengan detak jantungnya… seolah sesuatu di dalam gudang sedang memanggil namanya.“Duuhh.. Gusti… piye iki? Masa gue harus bawa awan mendung ini sampai wisuda?” gerutunya. “Bisa-bisa gue dikenal sebagai mahasiswi musim hujan.”Ia mengacak rambutnya frustrasi, memercikkan a
“Cin.”“Kenapa, Ra? Mau ikut makan kerrang saos padang?” Cinta berhenti mendadak. Dingin tiba -tiba menjalar dilengannya, terlalu tajam untuk ukuran sore yang terik.Rara mendekat dengan alis berkerut dalam. Ia tidak tertawa. “Nggak deh buat lo aja... Tapi, lo dingin banget. Kayak es batu padahal lagi terik gini.”“AC Ra.. Biasalah, kampus kita kan kalau nyalain AC suka nggak kira-kira.” jawab Cinta cepat, sebuah pembelaan diri yang terasa makin lemah.“Cin, kita udah di luar. Matahari nya nyolot banget tuh.” balas Rara sambil menunjuk langit.Matahari masih menyengat, membakar aspal kampus tanpa ampun. Tidak ada tanda hujan, tidak ada awan gelap diatas mereka. Semua orang berjalan santai, kering, normal… kecuali Cinta.Baru saja Cinta mau membalas omongan Rara dengan kalimat sarkas, tiba-tiba...Plok…Satu tetes air jatuh tepat di ujung hidungnya, Cinta berkedip bingung.Plok… Plok…Dua tetes berikutnya mendarat di kening dan pipinya. Rara refleks menengadah ke langit. “Hujan? Terik
“Lo simpan di mana kerangnya?”Langkah Cinta terhenti tepat di depan pintu kantin yang bising. Ia menoleh pelan ke arah Rara, matanya menyipit dengan ekspresi yang sedikit bingung.“Gue titip di pos satpam.” Jawab Cinta santai. “Sekarang gue Cuma mikir, lebih enak saos padang atau mentega.”“Mending saos padang sih… eh, ini apaan? Kerang tadi lo mau eksekusi? Kalau kerang jadi jadian gimana?” sahut Rara panik.“… ya jadi tai gue.. hahah… kapan lagi coba dapat kerang gratis, hidup anak kos itu berat Ra.”Rara malah nyengir sambil geleng geleng kepala, melihat keabsurdan temannya itu.“Yaa udah.. next gue doain bakalan ada kepiting atau ubur-ubur nyangkut di resleting lo..”“Aamiin!” balas Cinta tenang.Mereka akhirnya masuk ke area kantin. Suasana ramai, panas, dan berisik langsung menyergap indra mereka. Aroma gorengan yang baru diangkat, sambal pedas, kopi sachet, dan uap mie ayam bercampur menjadi satu.Normal. Kantin yang panas, berisik, dan penuh bau minyak, cukup membuat Cinta ya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.