LOGINKabar Pangeran Kesebelas mengusir Shian dari Istananya, telah sampai ke telinga Raja karena ulah Pangeran Kelima. Ia memijat lembut keningnya karena mendadak pusing mendengar berita tersebut. Tujuannya mengirim Shian ke istana untuk melindungi Pangeran Kesebelas, sayangnya tujuan Raja digagalkan oleh Pangeran Kesebelas sendiri.
“Apapun yang terjadi Kun Shian harus menjadi bawahanku.” gumam Pangeran Kelima yang sedang berdiri di halaman kediamannya.
Setelah melihat bagaimana Shian melawan Moran, tentu saja Pangeran Kelima akan memanfaatkan Pengusiran Shian sebagai Peluang untuk menjadikannya sebagai Pengawal Pribadinya.
Di luar istana, Pangeran dan Ahan diam-diam mengikuti Shian dari kejauhan dan ternyata Yenu dan Ayin juga melakukan hal yang sama dari sisi yang berbeda.
Menyadari ada yang mengikutinya, membuat Shian lebih waspada. Ia memilih menjauh dari jalanan kota, melewati jalan setapak, mencoba untuk menangkap basah orang yang mengikutinya.
Yenu dan Ayin berhenti mengikuti Shian yang telah hilang dari pandangan mereka. Shian tiba-tiba sudah berada di belakang mereka, bilah pedangnya yang berkilau dan tajam sudah berada di leher Ayin. “Mengapa kalian berdua mengikutiku?” tanya Shian.
Ayin membalikkan tubuhnya sambil berkata, “Shian, ini Aku dan Kak Yenu!”
Shian segera menyimpan pedangnya setelah mengetahui bahwa kedua orang itu adalah Yenu dan Ayin.
“Hanya kalian berdua?” tanya Shian sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang lain karena sebelumnya ia merasa tidak hanya dua orang yang mengikutinya.
Yenu dan Ayin mengangguk.
“Jadi, mengapa kalian berdua mengikutiku?” tanya Shian.
“Kami berdua melihat kau dan Wan Feng…” jawab Yenu sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Ah, Wan Feng. Dia memang perlu menerima kritikan agar tidak bertingkah kekanakan.” kata Shian dengan nada datar, namun tegas dan penuh penekanan.
Yenu dan Ayin saling memandangang, keduanya terkejut melihat Shian yang nampak berbeda. Baru sebulan tidak bertemu dan Shian kepribadian Shian sudah berubah menjadi dingin. Selama ini, mereka berdua mengenal Shian sebagai pribadi yang ceria dan hangat.
“Apa yang terjadi? kau tampak sedikit berubah sejak terakhir kita bertemu.” tanya Yenu sambil menepuk pundak Shian.
Shian menjauhkan tangan Yenu dari pundaknya sambil berkata, “Waktu dan keadaan dapat mengubah siapapun. Hari ini mungkin aku, bisa saja besok kau.”
Yenu mengangguk, membenarkan ucapan Shian yang memang terdengar masuk akal.
“Bukankah kau seharusnya berada di istana?” tanya Ayin.
Shian membalikkan tubuhnya, membelakangi Ayin dan Yenu. "Aku sudah meninggalkan istana!" jawabnya dengan santai sambil melangkah, meninggalkan dua bersaudara itu.
Meskipun sudah mendengar sedikit pembicaraan Wan Feng di restoran, Ayin tetap terkejut mendengar bahwa Shian benar-benar keluar dari istana. “Eh… Apa semudah itu keluar dari istana?”
“Atau terjadi sesuatu di istana sehingga dia meninggalkan istana dan membuatnya sedikit berubah?” lanjutnya diliputi rasa penasaran.
Beberapa hari berlalu, Raja akhirnya meminta Jenderal Kun datang menemuinya bersama dengan Shian. Selain itu, Raja juga meminta Putra Mahkota, Pangeran Kelima, dan Pangeran Kesebelas untuk datang ke Aula.
ketika tiba, Jenderal Kun dan Shian segera memberi salam dan penghormatan kepada Raja.
“Aku sudah mengetahui Kun Shian sudah meninggalkan kediaman Pangeran Kesebelas.” kata Raja tanpa basa-basi, membuat jenderal Kun terkejut sekaligus ketakutan mendengar ucapan Raja. Di hadapan Raja, Jenderal Kun dan Shian langsung bersujud. ”Yang Mulia hamba pantas dihukum karena lalai mendidik anak hamba!” kata Jenderal Kun, menundukkan kepala.
“Jenderal Kun berdirilah!” Pinta Raja, dengan tegas. Jenderal Kun diikuti oleh Shian mengikuti perintah Raja, keduanya berdiri dengan posisi tetap hormat pada Raja.
“Aku meminta kalian berdua datang kemari bukan untuk menghukum kalian berdua dan Aku tahu masalah yang terjadi di Istana Pangeran Kesebelas.” lanjutnya sambil memandang Shian dan Pangeran Kesebelas secara bergantian.
“Titah yang telah kuberikan sebulan yang lalu tetap berlaku.” kata Raja dengan tegas.
“Tetapi hari ini di hadapan semua orang, aku memberimu dua pilihan, yaitu menjadi Pengawal Pribadi Pangeran Kelima atau Pangeran Kesebelas. Kau akan memilih yang mana dari kedua pilihan itu?” tanya Raja.
Semua orang yang berada di aula pertemuan sangat terkejut mendengar pertanyaan Raja, terutama Shian. Sementara, Pangeran Kelima tampak puas mendengarnya. Dia sangat yakin Shian akan memilihnya karena menurutnya, Shian tidak akan memilih Pangeran Kesebelas yang telah mengusirnya.
“Hambaaa….” Shian merasa ragu untuk menjawabnya.
Raja menarik napas panjang sambil menatap Shian yang dipenuhi keragu-raguan. “Sebelum aku memanggilmu ke istana, aku sudah sering mencari tahu tentangmu, bahkan sesekali aku sendiri yang datang melihatmu dan aku dapat melihat bahwa kau adalah pemuda yang menyukai kebebasan dan keramaian di luar sana.”
Ia berdiri dengan tenang sambil melanjutkan ucapannya, “Istana memang bisa dikatakan tidak cocok untuk pemuda berjiwa bebas seperti dirimu, tetapi selain Ahan, kau satu-satunya pemuda yang cocok menjadi pengawal Pribadi Pangeran Nian.” Raja benar-benar menaruh harapan dan kepercayaan besar pada pada Shian.
“Hamba akan mengikuti pilihan Yang mulia.” jawab Shian singkat.
“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanya Raja.
“Hamba Yakin.” ucap Shian tegas.
“Baik!” Raja sangat senang mendengar ucapan Shian.
“Kalau begitu, titah yang telah kuberikan sebelumnya tetap berlaku dan tidak dapat diubah lagi.” kata Raja Dengan tegas raja memutuskan Shian tetap menjadi Pengawal Pangeran Kesebelas sesuai dengan titah sebelumnya. Wajah Raja sangat berseri-seri saat memerintahkan Shian kembali menjadi Pengawal Pangeran Nian.
Di sisi lain, ada Pangeran Kelima mengepal kedua tangannya, menahan amarahnya. Ia merasa tidak puas dengan keputusan Raja, yang tetap memerintahkan Shian kembali ke istana Pangeran Kesebelas. Sementara itu, Pangeran Kesebelas tidak memberikan komentar apapun mengenai keputusan Raja.
Raja teringat permintaan Jenderal Kun yang diajukan beberapa waktu lalu. "Satu lagi, kediaman Pangeran Kesebelas sangat sepi. Kau diperbolehkan membawa orang-orangmu ke sana untuk membantumu dan Ahan," tambahnya dengan penuh pertimbangan, memperbolehkan Shian membawa bawahannya ke kediaman Pangeran Kesebelas.
Keputusan yang dibuat oleh Raja semakin menimbulkan ketidaksenangan pada Pangeran Kelima. Ia sangat bertanya-tanya, mengapa Pangeran Kesebelas mendapat keuntungan dari setelah mengusir Shian. Bukankah seharusnya dia tidak mendapatkan apapun.
Setelah pertemuan tersebut, Shian dan jenderal kembali ke kediamannya. Di sepanjang perjalanan, Jenderal Kun merasa bingung dan heran melihat sikap anaknya hari ini. Ia tidak menyangka dalam pertemuan ini, Shian tidak melakukan hal-hal yang akan membuat marah.
Di istananya, Pangeran Kesebelas berdiri di depan pintu kediaman utamanya bersama Ahan. Ia cukup terkejut mendengar Raja meminta Shian membawa bawahannya ke kediamannya.
“Mengapa tiba-tiba Yang Mulia Raja memintanya membawa bawahannya juga?” ucapnya, penuh tanda tanya.
“Dia tidak mungkin merencanakan sesuatu, kan?” lanjutnya penuh rasa curiga.
“Entah dia memiliki maksud lain atau tidak, ketika dia datang. Kau harus mengawasinya.” perintah Pangeran dengan tegas.
Setelah mengatur dan memberi arahan pada semua bawahannya selama tiga hari, Shian pun berangkat ke kediaman Pangeran Kesebelas. Kali ini, ia tidak lagi di jemput oleh Ahan, sehingga ia berangkat bersama para bawahannya, termasuk Bei.
“Setelah tiba di istana Pangeran Kesebelas, cukup lakukan tugas kalian, menjaga keamanan kediamannya. Jangan ikut campur mengenai hal lain yang tidak ada hubungannya dengan keselamatannya, juga jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu.” kata Shian memperingatkan Bei dan semua orang yang ikut bersamanya.
“Baik!” jawab semua bawahannya dengan tegas dan serentak.
Kali ini, dia benar-benar berusaha untuk lebih berhati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti diusir dari istana.
Ketika tiba, Ahan menyambut Shian di depan gerbang utama, sementara Pangeran berada di dalam kediamannya, sama seperti saat pertama kali Shian datang.
Shian menghela napas sebelum masuk ke kediaman Pangeran Kesebelas. Baru saja tiba di hadapan Pangeran, Shian langsung berlutut dengan kepala menunduk sebagai tanda hormatnya kepada Pangeran Kesebelas. "Yang Mulia!" katanya, menyapa Pangeran.
"Mengenai masalah sebelumnya..." Shian hendak membahas masalah sebelumnya, namun Pangeran langsung memotongnya. "Tidak perlu membahasnya." kata Pangeran.
Pangeran diam sejenak, memikirkan selanjutnya ia harus mengatakan apa kepada Shian. "Aku tidak akan menghukummu mengenai masalah itu." ucap Pangeran.
"Terima kasih, Yang Mulia!" jawab Shian dengan tulus.
“Yang Mulia…” ucap Shian sambil mengarahkan pandangannya ke luar. “Mereka sedang menunggu Anda.” lanjutnya.
Pangeran segera beranjak dari mejanya, menuju keluar diikuti oleh Ahan dan Shian. Baru saja muncul di depan pintu dan semuanya orang langsung memberi hormat pada Pangeran Kesebelas. “Yang Mulia, Kami para pengawal Anda siap melayani dan menjaga keselamatan Anda!”
Hati Pangeran Kesebelas merasa tersentuh melihat orang-orang yang berada di hadapannya memberi hormat padanya dengan tulus. Di dalam hidupnya, ini pertama kalinya ia melihat begitu banyak orang memberi salam dan hormat padanya, layaknya seorang Pangeran.
Ia menarik napas sedalam mungkin lalu berkata, “Berdirilah!”
Semua berdiri sesuai dengan perintah Pangeran.
Pangeran menatap satu persatu para pengawal barunya, yang berdiri di hadapannya. “Selama ini, aku tidak pernah memiliki banyak pengawal. Jadi, aku mungkin memiliki banyak sekali kekurangan sebagai atasan kalian yang baru, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar dan menjadi pemimpin yang layak untuk kalian semua.” katanya dengan jujur dan penuh kerendahan hati. “Aku berharap kita bisa saling mendukung dan bekerja sama demi keselamatan dan kemajuan bersama.” tutupnya dengan penuh harap.
Pagi menjelang tetapi langit masih gelap. Embun pagi masih menempel di dedaunan dan kabut tipis masih menyelimuti, membuat udara terasa sejuk. Cahaya lentera dan obor di setiap sudut kota masih menyala, menerangi langkah Shian yang baru saja keluar dari istana. Shian menyusuri jalan kota hingga jalan setapak di luar kota Huan, seolah-olah langkahnya diiringi oleh matahari yang perlahan-lahan mulai nampak di ufuk timur. Setelah berjalan cukup jauh, Shian akhirnya tiba kuil yang sering ia dan keluarganya kunjungi. Kuil tersebut dikenal dengan sebutan Kuil Bukit Awan karena berdiri di puncak bukit yang sering kali diselimuti oleh awan. Ketika tiba hal pertama yang ia lakukan adalah berdoa di depan patung dewa. Di luar, seorang biksu berdiri, menunggu Shian selesai berdoa. Biksu tersebut adalah Biksu Wu, biksu yang sering Shian dan keluarganya temui saat datang ke kuil ini. “Master Wu!” kata Shian menyapa biksu tersebut sambil memberi hormat. “Aku baru saja hendak menemui Anda.” Biksu W
Cahaya matahari menyelinap masuk ke kamar Shian melalui celah dinding. Cahaya itu berwarna kuning-Jingga menandakan hari sudah sore, sementara Shian masih berbaring di tempat tidurnya. Shian tidur hampir satu hari satu malam, membuat Pangeran mengkhawatirkannya. “Dia benar-benar baik-baik saja, kan?” tanya Pangeran pada Puya berdiri di depan pintu kamar Shian. Puya membawa nampan berisi Sup dan obat penambah stamina untuk Shian.Puya tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Pangeran. “Yang Mulia tenang saja. Shian hanya tidur untuk mengumpulkan energinya.” kata Puya, menenangkan Pangeran yang sejak pagi tidak ada hentikan memeriksa keadaan Shian. “Dia akan otomatis bangun saat energinya sudah terkumpul.” Setelah menenangkan Pangeran, Puya berpamitan kepada Pangeran untuk kembali ke dapur karena Shian belum bangun. “Sepertinya dia bukan hanya tidur untuk mengisi energi.” gumam Puya sambil tersenyum tipis. “Shian belum bangun?” tanya Bei yang baru saja selesai memeriksa sekeliling
Pangeran Kesebelas memasuki ruang kerja Raja, dituntun oleh seorang kasim. Ketika tiba di hadapan raja yang duduk di meja kerjanya, Pangeran segera memberi salam pada dengan penuh rasa hormat sambil berkata, “Hamba datang memberi salam kepada Yang Mulia. Semoga Yang Mulia dianugerahi segala berkah dan kedamaian.”Raja merasa senang, melihat pangeran datang menemuinya secara pribadi di ruang kerjanya karena hal tersebut hampir tidak pernah terjadi. Namun, bagaimana Pangeran memberi salam dan menyapanya justru membuat Raja merasakan adanya jarak tak kasat mata yang membentang di antara mereka, seolah-olah hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan, tanpa ada ikatan darah sedikitpun. “Yang Mulia, hamba memiliki permintaan kecil dan berharap Yang Mulia mengabulkannya.” Kata Pangeran Kesebelas dengan nada penuh harap. “Oh, Permintaan?” kata Raja, terkejut mendengar anak bungsunya itu meminta sesuatu padanya. Bagaimanapun ini pertama kalinya Pangeran Kesebelas datang menemuinya seca
Langit yang cerah tiba-tiba saja berubah, awan putih di atas sana berubah menjadi hitam. Angin berhembus cukup kencang dari biasanya, menandakan hujan badai mungkin akan datang. Sebelum hujan turun, Orang-orang sudah mulai membawa payung kemanapun mereka pergi. Di istana Yunqi, Pangeran Kesebelas duduk di depan jendela. Tangannya memegang buku, sementara matanya fokus pada buku tersebut. Dia sedang mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca berbagai macam buku. Namun, Pikirannya tetap mengembara, memikirkan berbagai macam hal yang telah terjadi. Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja Shian muncul di depan jendela sambil berkata, “Yang Mulia?” Pangeran jelas terkejut, tetapi ia tetap berusaha untuk terlihat biasa saja dengan wajah datar khasnya. Sementara Shian yang berdiri di depan jendela, tersenyum lebar padanya. “Apakah anda masih memikirkan hukuman yang akan diberikan Raja pada Xu Fei dan Xu Sue?” tanya Shian, mengerutkan keningnya, menatap wajah Pangeran yang datar. Pangeran
Hari yang panjang begitu terasa bagi Nyonya Kun, yang sedang bersujud di depan patung dewa di kuil. Ia sedang mendoakan anak bungsunya, yang saat ini terbaring lemah di salah satu ruangan di kuil tersebut. Shian harus dibawa ke kuil karena sisa jeratan roh yang melekat di tubuhnya. Itu adalah resiko yang harus ia terima ketika melakukan ritual. Keluarga Kun memiliki hubungan yang sangat dekat dengan salah satu biksu di kuil tersebut dan hanya dia yang dapat membantu Shian. “Nyonya Kun, setelah ini dia harus lebih hati-hati karena apapun yang ia lakukan tidak hanya mempengaruhi dirinya.” kata Biksu tersebut kepada Nyonya Kun, yang baru saja keluar dari dalam kuil.Nyonya Kun hanya mengangguk. Setelah bertemu biksu tersebut, Nyonya Kun berjalan di sekitar Kuil. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa cemas yang menyelimuti dirinya. Hal itu terlihat jelas di Wajahnya yang murung. Selain itu, napasnya juga terdengar berat bahkan sesekali ia menghela napas dengan sangat dalam. “Kami telah me
Di Siang yang cerah Putra Mahkota sedang berdiri di hadapan puluhan prajurit, yang biasanya bertugas sebagai anggota penyidik. Mereka semua datang ke kediaman Putra Mahkota untuk membantu menyelidiki masalah Menteri Kehakiman dan Bupati Joushan. Prajurit yang bertugas sebagai anggota penyidik segera membagi tugas, ada yang menuju ke kediaman menteri kehakiman, ada yang ke gedung kehakiman, ada yang menuju ke kediaman bupati joushan untuk mencari bukti sekaligus menangkap bupati joushan. Penangkapan bupati joushan dan penyelidikan yang dilakukan di kediamannya dan di kediaman menteri kehakiman menjadi pembicaraan hangat di kalangan rakyat biasa. “Apa yang terjadi?” “Aku dengar menteri kehakiman dan bupati joushan melakukan korupsi.” “Sangat disayangkan!” “Huh, apa yang perlu disayangkan, lagipula selama ini bupati joushan hanya topengnya saja.” “Topeng?” “Benar, Topeng. Beberapa orang sudah pernah diperlakukan buruk olehnya karena tidak sengaja menyentuh pakaiannya. Sal
Setelah kejadian di pernikahan Putra Mahkota, Pangeran Kesebelas mulai memperhatikan Shian yang lebih sering menghabiskan waktunya di atas pohon dan juga di atas atap kediamannya. Pada dasarnya, Pangeran tidak begitu menerima kedatangan Shian di istananya karena ia merasa dengan adanya Ahan dia tida
Kun Shian merenungi nasibnya sebagai Pengawal Pangeran Kesebelas, Pangeran Nian. Sudah seminggu berada di istana dan hanya berada di sekitar kediaman Pangeran kesebelas, tidak pernah keluar.“Ini bukan lagi istana tapi penjara.” Gerutu shian yang seperti biasanya, berada di atas atap kediaman utama
Seorang pria tua berpakaian merah maroon dengan beberapa orang yang datang bersamanya, memasuki pintu gerbang sebuah rumah mewah. Di depan gerbang rumah tersebut bertuliskan “Kediaman Jenderal Kun”. Ketika tiba di halaman, Sepasang suami istri beserta penghuni kediaman lainnya, termasuk pelayan, te
Sejak didirikan kerajaan Yun telah mewarisi Aura Mistis yang selalu menjadi ketakutan dan kekhawatiran semua anggota kerajaan. Aura mistis yang menjadi warisan kerajaan Yun mulanya dipercayai sebagai Anugerah dari Dewa dan tak semua anggota keluarga beruntung untuk menerima anugerah ini. Hanya satu







