LOGINMy mom was a brilliant programmer. She created an app called "Shake for Allowance." After my brother and I downloaded it, she told us, "From now on, this is how you'll get your living expenses. On the first of every month, just shake your phone. Whatever number you get is the amount you'll receive. "The range is from zero to ten thousand dollars." At first, I was excited. Every month, I shook my phone with anticipation. However, every time, the result was the same: 0 dollars. My brother, meanwhile, always landed the highest amount. "Wow, sis, your luck really sucks," he said. Even when he showed me the transfer record for ten thousand dollars, there was a smug smile on his face. When I confronted Mom, she brushed it off, saying my luck was bad and that no one else was to blame. With no other choice, I worked three part-time jobs just to support myself while studying. On the night before my final exams, I collapsed from exhaustion and died. When I opened my eyes again, I had returned to the very day my mom created the "Shake for Allowance" app.
View MoreDi sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Sedang duduk beberapa orang yang tampak sangat serius membicarakan sesuatu.
"Baik, aku akan membantumu. Tapi, tentu saja aku memiliki syarat. Apa kau sanggup memenuhi syarat dariku?" Tanya pria itu dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Olivia yang mendadak pulang dari kampus, karena mendapat kabar tentang kebangkrutan Ayahnya, melihat ada tulisan, " RUMAH INI DISITA BANK" di depan pagar rumahnya.
'Ternyata berita itu benar.' Olivia berkata dalam hatinya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah, tepat saat Ayahnya selesai bertanya pada pria yang duduk di hadapannya itu.
"Apa syarat dari anda, Tuan Muda?" Tanya Willson, Ayah Olivia.
Olivia berjalan ke arah kursi dimana Ibunya sedang duduk. Pria itu menatap sangat dalam pada wajah Olivia. Ya, meskipun agak tomboy, tapi Olivia memiliki wajah yang sangat cantik dan body yang bisa dibilang sangat bagus untuk kalangan wanita-wanita yang diidamkan pria.
"Sebagai syaratnya...aku ingin dia menikah denganku!" Ucap pria bernama Albert itu sambil menunjuk ke arah Olivia.
"Jangan gila! Aku tidak ingin menikah di usia muda. Terlebih lagi, dengan pria tua sepertimu." Tolak Olive mentah-mentah. Olivia bisa tau dari wajahnya, jika pria itu pasti jauh lebih tua dari dirinya.
Willson berlutut di depan pria itu. Membuat Olivia membulatkan mata tanda tak suka.
"Ayah! Apa yang Ayah lakukan?"
"Diam lah. Jangan banyak bicara!" Hardik Willson dengan perasaan tega tak tega karena telah menghardik putri semata wayang yang sangat ia sayangi.
"Tuan Muda, aku mohon. Jangan minta Putriku. Aku akan memenuhi semua persyaratan yang kau ajukan, selain itu." Ucap Willson menghiba pada Albert.
Pria itu menyunggingkan senyuman sinis, lalu berkata "Tapi sayangnya, aku tidak punya persyaratan lain, selain itu."
"Tuan, kami mohon. Biarkan Putri kami dengan kehidupannya sendiri. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Dan lagi, dia masih berstatus mahasiswi. Umurnya masih sangat muda." Clara ikut memohon pada Albert.
Hati Olivia sangat sakit, bercampur sedih. Melihat orang tuanya berlutut di hadapan pria angkuh ini.
Olivia tak pernah bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika ia masih terus diam. Orang tuanya tak akan pernah meminta ia untuk menyetujui persyaratan gila itu. Olivia tau jelas, sebesar apa mereka mencintai dan menyayanginya selama ini.
"Aku menerima persyaratan darimu! " Entah dari mana datangnya keberanian Olivia mengucapkan kalimat itu. "Tapi, aku juga punya syarat." Lanjutnya lagi.
"Ckckck... Berani sekali kau mengajukan syarat padaku." Tatapan menghina dari pria itu terpancar sangat jelas.
"Terserah padamu. Karena kau meminta aku menikah denganmu, tentu saja aku juga harus memiliki syarat." Olivia berbicara dengan sangat percaya diri.
"Olive, biarkan ini menjadi urusan Ayah. Kau tak perlu ikut bertanggung jawab. Ayah berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." Willson menatap nanar pada Olivia.
Olivia berjalan ke arah Willson dan Clara. Dia membantu orang tuanya untuk berdiri.
"Jangan berlutut pada manusia keji ini. Sampai kapan pun, dia tak akan membiarkan keluarga kita hidup dengan mudah. Jadi, lebih baik turuti saja kemauannya." Tatapan benci Olive tujukan pada Albert.
"Gadis yang sangat berani. Tidak salah jika aku memilihmu!" Ucap Albert lalu mejatukan bokongnya di atas kursi empuk ditengah ruangan itu.
"Aku akan membayar semua hutang-hutangmu pada Bank, membayar seluruh gaji karyawanmu, dan menanam saham yang cukup besar pada perusahaanmu. Aku akan membantu perusahaanmu untuk bangkit kembali. Anggap saja itu mahar pernikahan dariku." Albert membeberkan hal-hal yang akan diberikannya saat dia telah resmi menikahi putri mereka, Olivia.
Willson menduduk lesu. Clara memeluk Olivia dan menangis. Mereka tak tau harus bersyukur atau bersedih saat ini. Apakah mereka akan menjual Putri mereka sendiri, demi uang?
"Baik. Semua disetujui." Ucap Olivia dengan lantang.
Dia tau dengan jelas, orang tuanya pasti akan berusaha menolak tawaran ini. Mereka tak akan tega menukar putrinya dengan uang. Tapi, Olivia merasa tidak ada pilihan lain lagi saat ini. Olivia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang tuanya dari tuntutan Bank dan demo para karyawan. Dia tak ingin ayahnya berakhir di penjara. Bagaimana nanti nasib dirinya dan juga ibunya. Dia harus melakukan pengorbanan untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Aku suka gadis berani dan penurut sepertimu!" Albert dengan mata tajamnya memuji keberanian Olivia.
"Sayang, tolong jangan lakukan ini. Ayah berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kau tidak perlu mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya ayah pikul." Ucap Willson meyakinkan Olivia untuk terakhir kalinya. Sebagai seorang ayah, tentu dia tak tega jika kebahagiaan Putrinya ditukar dengan harta.
Olivia menatap wajah Willson yang terlihat sedih dan pilu. Dia tak pernah melihat wajah ayahnya sesedih itu selama hidupnya.
"Aku baik-baik saja. Ayah dan Ibu tak perlu khawatir. Aku pandai menjaga diriku." Hiburnya pada Willson dan Clara. Kedua tangan Clara memeluk tubuhnya dengan lembut. Menangis, melihat betapa berbaktinya Putri mereka saat ini.
"Aku rasa, semua sudah sangat jelas. Orang kepercayaanku akan segera mengurusnya. Aku harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus kukerjakan." Ucap Albert dengan nada dingin.
"Dan, kau! Bersiaplah! Aku hanya memberimu satu hari untuk berkemas. Besok, saat buku pernikahan telah berada di tanganku, Mike akan menjemputmu." Albert berdiri dari duduknya, dan memandang Olive yang terlihat bimbang. Ada kata yang ingin dia ucapkan, tapi tak berani ia lontarkan.
"Tolong jaga Putrimu dengan baik, jangan sampai dia kabur malam ini." Sambung Albert mengingatkan Willson.
"Ba-baik, Tuan Muda." Willson berdiri dan membungkuk hormat pada Albert.
Pria angkuh itu bahkan tidak menjawab perkataannya. Dia keluar dari kediaman Willson dengan di ikuti asistennya, Mike yang berjalan di belakang.
Kini hanya tinggal Willson, Clara dan Olivia yang masih menghuni kursi diruang tamu ini.
Willson mendekati Olive yang duduk di sebelah Clara. Dia memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa memberikanmu kebahagiaan yang seharusnya kau dapatkan."
"Jangan berkata seperti itu! Selama ini Ayah sudah memberikan semua hal terbaik di dunia ini untuk kumiliki. Mungkin kini saatnya aku berbakti pada kalian." Olive menangis dalam pelukan Willson dan Clara.
"Semoga saja dia bersikap baik padamu. Aku tidak akan pernah rela jika dia menyakiti atau melukaimu." Clara membelai wajah Olivia dengan lembut.
"Percaya lah padaku, Bu. Putrimu ini sangat tangguh. Aku bukan perempuan yang cengeng dan lemah." Semua yang di katakan oleh Olivia adalah kebenaran. Di Kampus, ia terkenal dengan julukan si gadis pemberani. Gayanya sedikit tomboy, namun kecantikannya tak perlu diragukan lagi.
"Ayah, Ibu, aku akan ke kamar. Aku perlu menyiapkan barang-barang yang akan kubawa besok." Olive mengendurkan pelukannya dari Clara.
Dengan cepat Clara menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. "Pergi lah, Ibu akan menyiapkan makan malam. Nanti setelah makan malam, Ibu akan membantumu berkemas."
"Be quiet!"Mom's voice cut through the air like a knife, and speaking of knives, she actually grabbed one, a fruit knife, and held it to my face."This is your last chance. How did you find out? If you won't tell me, I'll make sure you can't show off that genius girl face of yours ever again!"I was drowning in fear, the kind that made me think I might actually die, and the kind that came with the threat of being scarred for life.I knew she would do anything.In a moment of pure terror, I blurted out the truth: "I'm reborn!"The words hung in the air, and they all just stopped, frozen.The knife in my mom's hand hovered, motionless, and her eyes were full of shock and disbelief."What did you just say?"However, I was past the point of no return, and with a rush of reckless courage, I screamed:"I clawed my way back from hell! In my previous life, I fell for your rotten scams, ended up broke every single month, barely scraping by with odd jobs, until I starved to death! You
I bailed on that suffocating house and snagged a tiny apartment close to school.I was soaking up a kind of freedom I never knew before.However, go figure, my mom was still on my case.It started with a few Messenger messages.[Rosie, come home for dinner. I miss you.][I was wrong before, I'm sorry. We're family, after all.]Next came my brother Trevin's awkward voice message: "Sis, mom's realized her mistake, and so have I. Come back, okay? From now on, I'll split my allowance with you."I stared at those hollow words on my screen and could not help but scoff.Miss me?Sorry?They were just scrambling because I was finally making waves, getting noticed by Melissa, and my name was out there. Their egos and schemes were kicking in again.Maybe they could not handle the gossip, or maybe they saw some new worth in me.They were trying to reel me back into their little game of control.I tried to ignore it, but their texts and calls just kept coming.They even played the no
I turned to the judges and the audience, bowing deeply."Sorry for the interruption. My personal drama shouldn't have messed with the competition's vibe. However, I stand by what I did. Calling out a lie that's hiding behind tech, pointing out unfairness, that matters way more than any trophy. "Tech should be about sharing warmth, making things fair, not locking in biases or controlling people. "Just then, a woman with an air of confidence stood up from the judges' table.She grabbed the mic, her eyes fixed on me, full of open admiration."Hold up a sec, Rosie, " she said.Her voice was steady, commanding the room's attention."I'm Melissa Rogers, the head honcho at NovaRise Tech. "NovaRise Tech!That name rang a bell for everyone there: the big leagues of AI, where every computer whiz kid wanted to be.Melissa went on:"First off, from all of us judges, your 'Family Growth Tree' project? Love the heartwarming idea, the smart design. It's got a solid product sense. "How
Silence swept over the crowd.Once the shock wore off, my mom's voice shook with the sting of betrayal:"Rosie, I can't believe I raised you for nothing! To win, to get famous, you'd spin such nasty lies about your own mom?!"Playing favorites? Abuse? That's just crazy talk! You're the one who messed up, and when I caught you, you bolted. And now you're trying to pin it on me?"She faced the judges and the audience, her voice filled with sincerity:"Esteemed judges, I ask for your clear judgment! My sole purpose in creating the 'Shake for Allowance' was to make family time more enjoyable. There was never any intention for it to be unfair."That was the denial I was waiting for."Oh, really? Just for fun?"Then tell me, Mom, if it's all so fair, why is it that every single time I shook my account, the outcome was zip, nada, zero?" I spoke with cool composure, pulling out my phone with a practiced ease, unlocking it, and tapping the familiar app icon.The giant screen mirrored m












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.