Isla berdiri di kamarnya, ponsel menempel erat di telinganya.
"Gabriel, tolong, angkat teleponmu." Jemarinya memilin ujung piyama yang dia kenakan, menunggu suaminya menjawab panggilannya. Namun, suaminya tak juga mengangkat.
Dia mulai berjalan mondar-mandir di kamar luas yang tertata indah itu. Isla tidak sedang mengharapkan keajaiban. Dia hanya menginginkan satu hal, yaitu agar suaminya hadir besok di pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya.
"Tut .... Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut."
Sudah tidak mengejutkan lagi, Gabriel tidak menjawab panggilannya. Isla menatap riwayat panggilan di layar dan tersenyum pahit. Gabriel adalah seorang triliuner yang selalu sibuk bekerja. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Gabriel bahkan lebih serig menghabiskan waktu bersama sekretarisnya daripada bersama Isla.
Namun, besok adalah ulang tahun pernikahan orang tua Isla dan mereka menelepon, mengatakan bahwa Gabriel "harus" datang.
Isla mengerutkan kening. Jika Gabriel tidak muncul besok sore, dia berencana menghadiri acara itu seorang diri. Saudari-saudarinya akan datang bersama suami mereka. Akan menyenangkan jika Gabriel juga bisa berada di sisinya, meskipun hanya untuk satu malam. Begitulah pernikahan mereka selama dua tahun terakhir, sekadar pernikahan di atas kertas.
Mereka bahkan tak pernah tidur sekamar. Gabriel tidak menikahinya karena cinta. Dia menikahinya karena skandal yang terjadi dua tahun lalu. Isla sempat dijebak dengan obat di sebuah pesta dan akhirnya terbangun di kamar hotel Gabriel. Apa yang terjadi malam itu bukan kesalahannya, tetapi skandal itu menjadi berita utama ketika para fotografer memotret mereka keluar bersama keesokan paginya.
Demi melindungi reputasi Keluarga Wijaya yang tak bercela, kakek Gabriel, Alfred Wijaya, memaksanya menikahi Isla. Isla menyetujui pernikahan itu, walau sebenarnya hatinya sudah dimiliki oleh Gabriel sejak lama. Dia selalu diam-diam mencintainya, bahkan sejak kecil. Namun, Gabriel hanya melihatnya sebagai teman baik.
Dia mencoba menelepon nomor Gabriel lagi dan kali ini terjawab. Hanya saja, bukan Gabriel yang menjawab. Yang terdengar adalah suara seorang perempuan.
"Halo, maaf, dia nggak bisa bicara sekarang. Nanti aku sampaikan kalau kamu menelepon."
Tut ... tut ....
Sambungan terputus. Mulut Isla menganga, masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Dia sangat mengenali suara itu. Itu suara Delphine.
"Kapan dia kembali?" gumam Isla pelan. Dia masih tak percaya Delphine kembali bersama Gabriel.
Sekarang semuanya jelas. Gabriel tidak mengangkat teleponnya karena sedang bersama Delphine.
Delphine adalah kekasih masa kecil Gabriel. Namun tiga tahun lalu, perempuan itu meninggalkannya. Isla tahu betul bahwa hati Gabriel sebenarnya bukan untuknya, melainkan untuk Delphine Windaya, supermodel terkenal yang tumbuh besar bersamanya.
Gabriel sudah menyatakannya dengan jelas. Dia bilang dia tidak akan pernah bisa mencintai Isla, karena hatinya hanya untuk Delphine. Namun dia berjanji akan tetap mendukung Isla dalam segala hal.
Satu-satunya hal yang selalu dipegang Isla adalah harapan. Harapan yang bersumber dari kata-kata lembut ibunya, yang sering terngiang di kepalanya. "Semuanya akan membaik, Nak. Bersabarlah dengannya." Harapan itulah yang membuatnya bertahan dalam pernikahan ini selama dua tahun.
Isla akhirnya menyerah, ponselnya diletakkan di meja samping tempat tidur. Kemudian, dia naik ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sambil memeluk diri sendiri. Tepat saat dia hendak mematikan ponsel, layarnya menyala.
Panggilan video dari nomor tak dikenal. Dia tidak tahu itu siapa. Jantungnya berdebar keras. Dengan cepat, dia duduk bersandar pada sandaran kepala tempat tidur. Jemarinya merapikan rambut pirangnya yang panjang. Dengan tangan bergetar, dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
Suara yang menyambutnya membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Suara erangan, desahan, dan bunyi kulit yang beradu.
Jantung Isla seolah-olah berhenti berdetak selama beberapa detik. Dia berkedip, tak sanggup bernapas, sebelum matanya yang basah dan gemetar fokus ke layar.
Itu bukan sekadar panggilan video biasa. Itu adalah panggilan video Delphine bersama seorang pria yang sangat mirip Gabriel, suaminya sendiri.
Tubuh pria itu bergerak di atas tubuh Delphine, memegang kedua kakinya dan mendorong pinggulnya dengan irama yang membuat perut Isla terasa mual dan perih.
"Lebih cepat, Gabby. Lebih keras lagi," desah Delphine.
Pria itu menuruti, memberikan apa pun yang diinginkan Delphine.
Isla tak sanggup lagi menonton. Dengan teriakan histeris, dia melempar ponselnya ke seberang ruangan. Ponsel itu jatuh dengan suara keras, tetapi suara desahan mereka masih bergema di kepalanya.
Tangisnya pecah, tak terbendung lagi. Dia memeluk lututnya erat-erat, air mata membasahi pipinya. Jika dia tahu pernikahan ini tidak akan pernah bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menyetujuinya. Dia sudah mengorbankan dua tahun hidupnya, hatinya, harga dirinya, demi mempertahankan sesuatu yang sudah hancur sejak awal.
Kini dia tahu, apa pun yang dia lakukan, Gabriel sama sekali tak berniat memperbaiki apa pun. Delphine meneleponnya karena ingin Isla melihat semuanya dengan mata kepala sendiri.
....
Keesokan malamnya, semua orang yang berkumpul di rumah orang tua Isla tampak bahagia.
Taman di rumah mewah Keluarga Anggara diterangi lampu-lampu redup yang memancar di antara pepohonan, menciptakan cahaya keemasan di malam hari. Semua meja dihiasi bunga-bunga dan musik lembut mengalun di latar belakang. Para tamu tertawa. Wajah mereka penuh sukacita. Beberapa pasangan saling bergandengan tangan, dentingan gelas terdengar bersahutan.
Malam itu adalah peringatan ulang tahun pernikahan ke-30 orang tua Isla. Seluruh keluarga pun berkumpul untuk merayakannya. Hadiah-hadiah mahal dan ucapan selamat yang hangat diberikan kepada kedua orang tuanya.
Isla duduk diam di sudut meja, senyumnya samar, pikirannya melayang jauh. Dia nyaris tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya. Ingatan tentang suara mengerikan yang dia dengar malam itu terus berputar di benaknya. Sekuat apa pun usaha Isla untuk menghapusnya, ingatan itu selalu kembali dan merobek-robek hatinya.
"Sayang." Suara lembut ibunya, Diana, menyapanya saat berjalan mendekat. "Kenapa kamu duduk sendirian di sini? Di mana suamimu dan keluarganya? Bukannya mereka bilang bakal datang?"
Isla buru-buru menyeka sudut matanya dan berdiri, memaksakan senyum di bibirnya. "Mereka datang kok, Bu. Gabriel bakal datang nanti. Aku rasa … dia masih ada urusan di kantor."
Ibunya menatapnya lama, seolah-olah tahu semuanya. "Sekarang hari Minggu, Isla. Jangan berusaha membelanya. Ibu bisa lihat kamu sedang terluka."
Isla membuka mulut, berusaha membela lagi, tetapi tidak ada kata yang keluar. Sebelum sempat berbicara, terdengar keributan di dekat pintu masuk. Para tamu menoleh dan berbisik-bisik, sementara suara langkah kaki dan percakapan pelan memenuhi taman.
Pandangan Isla mengikuti sumber suara itu. Alfred Wijaya telah tiba. Dia tidak datang sendirian. Dia datang bersama keluarganya dan yang berjalan di antara mereka, tegap dan berwibawa, adalah Gabriel.
Mereka datang bersama dengan gaya mewah khas keluarga besar itu. Hampir semua orang di Rivela mengenal mereka.
Wajah Isla langsung berseri. Dia berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun, "Lihat 'kan, Bu? Aku bilang juga mereka pasti datang."
reviewsMore