DARK CRAVINGS. A COLLECTION OF STEAMY, SHORT STORIES.

DARK CRAVINGS. A COLLECTION OF STEAMY, SHORT STORIES.

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-08-30
Oleh:  ShakespenOngoing
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
49Bab
8.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Our eyes never lie, no matter how hard we try. “But you're my sister, Camila. You're my fucking sister and you and I know we shouldn't be doing this” He finally found his oral freedom, but I wasn't the one to be subdued, neither was I the one to give up easily, not when I have nursed the fetish fantasy of making out with my twin brother ever since I turned 18. We turned 18, and here I was, with him. After a year of being apart. Just before our 24th birthday, I had tried talking with a few friends of mine, Carolyn inclusive who had done nothing but to ignite more fire into the passion. “Girl, you need to take your chance! Take those chances baby girl. Your brother is hot! Very hot and you, only you alone can have him and you can do that all to yourself” Maybe she was right. Maybe she was wrong. I couldn't tell, all I knew was that I wanted to satisfy my curiosity.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Sister's seduction 1

Lantai marmer dingin itu terasa seperti es yang menusuk kulit Jolina saat tubuhnya menghantam permukaan keras tersebut. Rasa sakit menjalar dari lutut hingga ke pinggangnya, namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan penghinaan yang baru saja ia terima. Di belakangnya, deru napas berat dan bau alkohol yang menyengat menandakan kehadiran pria yang seharusnya ia panggil ‘Ayah’.

"Lepaskan! Kumohon, Ayah... jangan lakukan ini!" jerit Jolina, suaranya parau karena isak tangis yang tertahan sejak mereka meninggalkan rumah.

Cengkeraman tangan kasar ayahnya di lengan Jolina tidak mengendur sedikit pun. Malah, pria itu menyeretnya lebih dalam ke tengah ruangan luas yang didominasi oleh perabotan kayu gelap dan aroma cerutu mahal. Jolina meronta, kakinya menendang udara, mencoba mencari pegangan pada apa pun, namun ia hanyalah seekor anak domba yang diseret ke kandang serigala.

"Diam kau, anak tidak berguna!" bentak ayahnya, suaranya menggema di ruangan sunyi itu.

"Setidaknya sekali dalam hidupmu, kau bisa berguna untuk membayar kesalahan-kesalahanku!"

Dengan satu sentakan kuat, ayahnya melemparkan Jolina ke depan. Tubuh mungil itu tersungkur, jatuh tepat di depan sepasang sepatu pantofel hitam yang mengkilap hingga Jolina bisa melihat pantulan wajahnya yang berantakan di sana.

"Ini dia, Tuan Felix," suara ayah Jolina tiba-tiba berubah, penuh nada memelas sekaligus menjilat.

"Seperti janji saya. Dia masih murni, cantik, dan belum tersentuh. Dia pelunas hutang saya. Anggap saja bunga dan pokok hutang saya lunas hari ini."

Jolina gemetar hebat. Ia tidak berani mendongak. Di depannya, berdiri sosok yang selama ini hanya ia dengar dalam bisikan ketakutan di sudut-sudut kota. Felix, Sang Don yang tidak mengenal kata ampun.

Keheningan yang mencekik menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Kemudian, terdengar suara gesekan kain dan gerakan halus.

Felix berjongkok di hadapannya.

Jolina masih menunduk, air matanya menetes membasahi lantai marmer. Namun, sebuah tangan yang besar dan kuat tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan tegas—tidak kasar, tapi penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Felix memaksa kepala Jolina terdongak ke atas, memaksanya menatap langsung ke dalam sepasang mata gelap yang sedingin liang lahat.

Mata itu tidak menunjukkan empati. Hanya ada penilaian dingin, seolah ia sedang memeriksa kualitas sebuah barang dagangan.

"Lihat aku, Jolina!" suara Felix rendah, berat, dan mengirimkan getaran aneh yang mengerikan ke sepanjang tulang belakang Jolina.

Felix memiringkan wajah Jolina ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap inci fitur wajahnya yang sempurna meski sedang sembab. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Jolina yang gemetar.

"Barang yang bagus," bisik Felix pendek, senyum tipis yang mematikan tersungkur di sudut bibirnya. "Bahkan lebih bagus dari yang digambarkan di atas kertas."

Felix berdiri, lalu melirik sekilas ke arah ayah Jolina yang masih berdiri dengan wajah penuh harap di ambang pintu.

"Hutangmu dianggap lunas. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa nyawamu lebih berharga sebagai tambahan bunga."

Tanpa menoleh lagi pada putrinya yang menangis tersedu-sedu, pria itu berbalik dan lari secepat mungkin, meninggalkan Jolina sendirian di dalam sarang monster.

"Tidak... Ayah! Jangan tinggalkan aku!" Jolina mencoba bangkit, namun sebelum ia sempat berlari, Felix sudah melingkarkan lengannya di pinggang Jolina.

Dengan satu gerakan lancar yang menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, Felix mengangkat Jolina, memangkunya sejenak sebelum mendudukkannya dengan paksa di atas meja kerja kayu mahogani yang besar.

Jolina terperangkap di antara kedua lengan kokoh Felix yang kini bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuhnya.

"Tolong... lepaskan aku, Tuan," bisik Jolina di sela isaknya. "Aku tidak tahu apa-apa tentang hutang itu. Itu bukan urusanku. Aku punya kehidupan, aku punya impian... Tolong, biarkan aku pergi."

Felix memajukan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum sandalwood dan maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Jolina.

"Dunia tidak bekerja seperti itu, Sayang," Felix berbisik tepat di depan bibirnya.

"Ayahmu sudah menandatangani kontraknya. Namamu tertulis di sana sebagai jaminan. Dan dalam duniaku, kontrak yang sudah ditandatangani dengan darah tidak bisa dibatalkan hanya dengan air mata."

Tangan Felix mulai bergerak. Jemarinya yang panjang merayap dari bahu Jolina, turun ke leher, dan mulai menelusuri garis kerah pakaiannya. Jolina memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku seperti batu. Ia bisa merasakan panas dari tubuh Felix yang menekannya, membuatnya merasa sesak sekaligus terancam.

"Kau milikku sekarang," gumam Felix, suaranya kini terdengar lebih serak. "Seluruhnya. Mulai dari napasmu hingga..."

Tangan Felix baru saja hendak masuk ke balik tengkuk Jolina untuk menariknya lebih dekat, saat sebuah suara melengking memecah ketegangan yang hampir meledak itu.

Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Felix yang tergeletak di atas meja, tepat di samping paha Jolina, bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat otot-otot di lengan Felix yang tadinya rileks menjadi tegang seketika.

Felix terdiam. Matanya beralih dari bibir Jolina ke layar ponsel tersebut. Ekspresinya yang tadinya penuh gairah predator berubah menjadi dingin dan waspada dalam sekejap mata.

Ia tidak langsung mengangkatnya. Ia menatap Jolina sekali lagi, sebuah tatapan yang sulit diartikan—antara rasa haus yang belum tuntas dan kemarahan yang tertahan. Felix menjauhkan tubuhnya, memberi ruang bagi Jolina untuk bernapas, meski ia masih tetap berada dalam jangkauan Sang Don.

Felix menyambar ponselnya, menggeser layar dengan kasar, dan menempelkannya ke telinga.

"Bicara," perintahnya singkat.

Jolina memperhatikan rahang Felix yang mengeras saat mendengarkan suara di seberang sana. Mata pria itu berkilat tajam, dan tiba-tiba, Felix menoleh ke arah jendela besar di belakang mejanya, lalu kembali menatap Jolina dengan intensitas yang membuat jantung Jolina hampir copot.

"Apa?" Felix menggeram. "Kapan? Pastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup."

Felix mematikan panggilan itu tanpa salam. Ia terdiam sejenak, menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya. Ruangan itu kembali hening, namun suasananya kini berbeda. Ada bahaya lain yang sedang mengintai, sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi manusia di antara mereka.

Felix melangkah mendekat lagi, namun kali ini ia tidak menyentuh Jolina dengan lembut. Ia mencengkeram bahu Jolina dan menariknya turun dari meja dengan sentakan cepat.

"Sepertinya rencana malam madu kita harus tertunda, Jolina," ucap Felix dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi jangan senang dulu. Karena apa yang akan terjadi selanjutnya... mungkin akan membuatmu berharap kau tetap berada di atas meja ini bersamaku."

Felix menarik tangan Jolina, menyeretnya menuju pintu rahasia di balik rak buku.

"Ada yang datang untuk menjemputmu," Felix berbisik di telinganya saat mereka memasuki lorong gelap.

"Dan mereka bukan datang untuk menyelamatkanmu."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

GIC-N
GIC-N
this book is demonic. nobody should read it. God forbid! how can you write a book on incest? author, you're sick. your imagination is sick.
2025-12-15 02:55:48
0
1
49 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status