MasukJuna mengabaikan tawa Ucup yang kembali pecah. Tangannya bergerak masuk ke dalam kotak karton kedua yang belum terbuka. Dia memilah di antara tumpukan kue, lalu menarik keluar pastry berbentuk bundar dengan lapisan krim putih tebal di bagian tengahnya.
Juna menyodorkan kue itu ke depan dada Nara. "Nar. Cobain yang ini. Tadi pas di kantor kata sekretarisnya, yang ini varian paling kurang manis. Nggak bikin enek."
Nara menatap k
Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna."Juna. Rafi. Ruangan gue."Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Dan
Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini.""Bapak juga," balas Dita pendek.Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di
Dita menunduk, rahangnya mengeras.Heru tertawa pendek. "Saya ini punya ingatan yang kuat soal wajah orang. Apalagi kalau pelayanannya malam itu... cukup membekas sampai besok paginya."Dita mempererat genggamannya di tas kanvasnya. "Saya datang ke sini untuk interview kerja, Pak Heru.""Saya tahu," Heru kembali duduk di kursi. "Makanya saya masih ada di dalam ruangan ini sekarang. Kalau saya nggak mau, kamu sudah disuruh pulang sama staf saya."Pandangan dita bergeram ke poster bertuliskan Integrity. Growth. People First di belakang HeruHeru menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kanan. "Kita bicara realitas saja, Dita. Nilai tes administrasi kamu pas-pasan. Pengalaman kerja kamu di bidang logistik hampir nggak ada nilainya untuk standar Prames Group. Usia kamu juga sudah mepet untuk batas maksimal posisi entry level di sini."Dita menatap permukaan meja kayu yang mengkilap."Tapi saya bisa bantu kamu," suara Heru turun satu oktav.Dita tidak mengangkat wajahnya. "Bantu gimana, Pak
Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.Prames Group TowerUndangan Interview: Staf Administrasi Logistik LapanganWaktu: Pukul 14.00 WIBLantai 12, Ruang Rekrutmen BTok. Tok.Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk
Gerakan koin di tangan Juna berhenti di tengah punggung Monic. Logam itu menempel kaku di atas kulit. "Hah? Maksud lo?""Kamar 104. Kamarnya Dita."Juna menelan ludah, menatap garis merah vertikal yang baru dibuatnya di punggung Monic. "Maksud lo apa sih, Mon? Jangan mulai deh," ia meletakkan koin seribuan di atas kasur. Logam itu jatuh tanpa bunyi di atas kain seprai.Monic memutar kepalanya, melirik dari balik bahunya yang memerah. Kelopak matanya yang sayu menyipit. "Gue kebangun tengah malem pas mau ambil minum ke bawah. Ada siluet cowok keluar dari Kamar 104 pakai kaos kebalik. Pas lewat lampu koridor, gue kenal kaosnya."Juna mematung. Tangannya terkepal di atas lutut."Besok paginya, si Dita keluar jemur baju sambil senyum-senyum sendiri pas pasang jepitan jemuran," Monic kembali menghadap bantal. Suaranya datar. "Gue cuma mau tahu satu hal dari lo.""Apa?""Lo m
Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "G







