DI BALIK LAMPU IBUKOTA

DI BALIK LAMPU IBUKOTA

last updateLast Updated : 2026-09-02
By:  Arata KaivanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Juna Pranata datang ke Jakarta dengan mimpi sederhana, bekerja, berhasil, dan membuktikan bahwa ia tidak serendah pandangan orang-orang yang dulu meremehkan keluarganya. Di kota yang lebih peduli hasil daripada luka, Juna belajar menjual, membangun koneksi, memasuki lingkaran kelas atas, dan perlahan naik menjadi sosok yang diperhitungkan. Dari kos murah di gang sempit, ia masuk ke kantor, bisnis, proyek besar, dan hubungan-hubungan yang membuat hidupnya terlihat makin mapan. Namun semakin Juna naik, semakin ia rusak. Di antara Nara, perempuan lama yang membaca hidupnya seperti data. Alika, perempuan kelas atas yang melihat sisi baik Juna saat ia sendiri hampir menyerah pada keburukannya; dan Monic, perempuan dari pintu lama yang paling jujur melihat kerusakannya, dan Dita perempuan pertama yang membawanya ke kehidupan sex bebas. Juna dipaksa menghadapi pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan uang, jabatan, atau permintaan maaf. Juna terseret ke relasi-relasi rumit dengan empat perempuan yang masing-masing memaksanya melihat bentuk paling jujur dari cinta, kesalahan, dan tanggung jawab.

View More

Chapter 1

1. JAKARTA HARI INI

Hawa panas mengepul dari aspal di area luar Stasiun Gambir, mengaburkan bayangan deretan gedung tinggi di kejauhan. Bunyi peluit petugas stasiun melengking, bersahut-sahutan dengan deru mesin bus Transjakarta yang mengerem di halte seberang.

Juna berdiri di dekat tiang beton pintu keluar. Tangan kanannya mencengkeram erat map plastik biru berisi ijazah S-1 Manajemen, sertifikat pelatihan, dan surat kontrak kerja.

Tas hitam tersampir di pundak kirinya. Butiran keringat menetes dari pelipisnya.

Dia menurunkan ransel ke atas lantai, lalu merogoh saku celana kainnya. Matanya menatap alamat kantor di area Jakarta Selatan dari layar ponselnya.

Seorang pengemudi ojek online berhenti dua meter di depannya, menatap Juna sambil menaikkan dagu. "Mau ojol, Mas? Ke mana?"

Juna menggeleng pelan, tersenyum kaku. "Enggak, Bang. Makasih."

Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu mengangkat ranselnya ke bahu. Juna menarik napas dalam, menghirup aroma campuran solar, asap knalpot, dan gorengan dari gerobak pinggir jalan.

"Oke, Juna. Cari kos dulu," suaranya hampir tenggelam di antara klakson mikrolet yang saling bersahutan. "Besok baru mikirin yang lain."

Ia melangkah menuju jembatan penyeberangan, meninggalkan area stasiun, kepalanya terangkat tegak.

Pintu pagar besi tempa berwarna hitam terbuka perlahan. Juna melewati halaman parkir yang dilapisi paving block bersih. Bangunan di hadapannya berdiri kokoh dengan arsitektur minimalis modern.

Cat dindingnya putih bersih, dikombinasikan dengan aksen kayu bergaris vertikal. Di sudut teras, beberapa tanaman monstera tumbuh subur di dalam pot beton ekspos.

Juna melangkah masuk, memandangi deretan jendela kaca besar yang memantulkan langit siang. Lantai lobi dilapisi granit abu-abu yang dingin di bawah sol sepatunya.

Seorang wanita paruh baya bangkit dari balik meja resepsionis, dengan rambut disanggul rapi. Jari telunjuknya membetulkan letak kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. Wangi parfum melati memenuhi udara lobi.

"Mau cari kamar kosong, Mas?" tanya wanita itu.

"Iya, Bu. Yang fasilitasnya kamar mandi dalam dan AC masih ada?" Juna menurunkan map birunya, memegangnya dengan kedua tangan di depan perut.

"Ada. Sisa dua kamar di lantai dua. Sudah gratis Wi-Fi, ada dapur bersama di tiap lantai, dan pembersihan kamar seminggu sekali." Wanita itu tersenyum, jemarinya yang dihiasi cincin batu giok menunjuk ke arah tangga.

Juna mengangguk, matanya berbinar. "Kalau boleh tahu, harganya berapa ya, Bu, per bulannya?"

"Satu juta delapan ratus," jawab wanita itu santai.

Juna meraba dompet di saku belakangnya. "Oh, satu delapan... Masih masuk budget UMR saya sih, Bu. Boleh saya lihat kamarnya dulu?"

Wanita itu tertawa kecil. "Masnya baru di Jakarta, ya?"

Juna berkedip. "Iya, Bu. Kenapa, ya?"

"Satu juta delapan ratus itu per minggu, Mas. Bukan per bulan. Kalau per bulan, ya tinggal dikali empat saja." Wanita itu mengambil brosur kecil dari laci, lalu menyodorkannya ke arah Juna.

Juna terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup lagi. Matanya terpaku pada deretan angka di brosur yang tergeletak di atas meja granit.

Sinar matahari menembus kaca lobi, terasa panas membakar tengkuknya. Aroma sate Padang bercampur dengan bau busuk air parit di udara. Juna berdiri di depan bangunan berlantai dua.

"Kamar mandi luar ya, Mas. Airnya pakai pompa, gantian sama anak-anak bawah," kata seorang pria berkaos sambil meludah ke selokan.

Juna melirik ke dalam lorong kos yang gelap dan pengap. Matanya menatap pakaian dalam basah yang digantung di tali jemuran melintang di atas kepala. "Harganya berapa, Pak?"

"Sembilan ratus ribu. Pas."

Juna menelan ludah, melihat kecoak mati telentang di dekat pintu masuk lorong, lalu mundur satu langkah. "Saya... saya keliling lagi deh, Pak. Makasih."

Satu jam kemudian, Juna berdiri di depan pagar kos bertingkat tiga yang hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari gedung calon kantornya. Kamarnya luas, dilengkapi kasur springbed, dan jendela besar menghadap langsung ke jalan raya.

"Dua juta seratus ribu per bulan," ucap penjaga kos yang mengenakan seragam safari hitam.

Juna mengangguk. "Bisa bayar bulanan, Pak?"

Pria berseragam itu menggeleng. "Di sini minimal kontrak langsung satu tahun di muka, Mas. Ditambah uang jaminan satu bulan sewa. Jadi, totalnya dua puluh tujuh juta tiga ratus ribu."

Juna perlahan memundurkan langkahnya, tumit sepatunya membentur ambang pintu. Matanya bergerak memandangi aspal jalan raya yang padat kendaraan.

Di bawah terik matahari pukul dua siang, kepalanya mulai berdenyut.

"Bisa agak cepat, Bang?" Juna setengah berteriak di balik helm yang dipakainya.

Pengemudi ojek online di depannya tidak menyahut. Pria itu memainkan tuas gas, mesin motor matiknya menderu pendek di antara sela-sela roda mobil Toyota Alphard hitam yang berhenti total di depannya.

Asap tebal dari knalpot bus kota menyembur ke arah wajah Juna. Ia terbatuk, memejamkan mata. Debu jalanan menempel di kemeja putih Juna, mengubah warna kerahnya menjadi keabu-abuan.

Kepala Juna menoleh ke kanan, matanya terpaku pada kafe berdinding kaca di sisi jalan. Beberapa anak muda dengan pakaian necis duduk di kursi rotan estetik. Mereka tertawa sambil memegang cangkir kopi putih, laptop berlogo apel menyala di depan mereka.

Ia mendongak, matanya lurus menatap iklan jam tangan mewah dengan slogan "Success is Choice" di billboard digital raksasa.

Juna memalingkan wajahnya ke bawah, merogoh ponselnya, lalu membuka aplikasi perbankan digital. Angka Rp3.450.000 terpantul di pupil matanya.

"Belum kerja sehari udah miskin," gumam Juna. Suaranya hilang, tersapu klakson truk tronton di belakang mereka.

Matahari tenggelam di balik deretan gedung pencakar langit. Juna duduk di undakan semen warung kelontong, memandangi selembar kertas sisa brosur kos yang sudah penuh dengan coretan tanda silang.

Seorang pria tua dengan handuk kecil melingkar di leher dan kaos parpol bergambar wajah caleg duduk di dekatnya. Pria itu menghisap rokok kretek, asapnya mengepul tebal di bawah lampu neon warung yang berkedip.

"Nyari kos dari siang, Mas?" tanya pria tua itu sambil mengorek sela giginya dengan tusuk gigi.

Juna menoleh. "Iya, Pak. Susah, ya."

"Kerjanya di daerah mana, emangnya?"

"SCBD, Pak."

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, batuk kering menghentikan tawanya. "Halah, Mas, Mas. Kalau nyari kos yang dekat-dekat dari sana, ya habis gaji sampeyan buat bayar kamar doang. Nombok itu namanya."

Juna menyengir, jemarinya meremas pinggiran map biru yang sudutnya sudah melengkung. "Iya, ya, Pak. Mahal-mahal banget."

Pria tua itu mematikan puntung rokoknya di dalam kaleng biskuit bekas berisi pasir. Dagunya terangkat menunjuk ke arah seberang jalan raya, ke gapura beton tanpa cat yang berdiri di antara dua ruko konveksi yang sudah tutup.

"Kalau mau murah, ya masuk gang," kata pria tua itu, suaranya merendah.

Juna mengikuti arah pandangan pria tua itu. "Gang?"

"Ya, di gang. Jakarta itu nggak cuma yang kelihatan di jalan raya, Mas. Yang gemerlap, yang gedungnya tinggi-tinggi itu cuma kulitnya. Isinya mah di dalam gang-gang begitu." Pria itu berdiri, menepuk celananya yang berdebu, lalu berjalan masuk ke dalam warung.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status