Share

Bab 7 Hah?

last update publish date: 2026-10-12 16:33:20

“Kinara belum dateng, Pak?” Satria bertanya pada Manajer Bagian Produksi yang sedang berdiri di depan meja.

“Belum.” Lelaki itu menjawab pelan, bahkan hanya melirik sekilas pada teman Kinara.

Satria langsung memeriksa jam tangan. “Lah, ke mana tuh, bocah? Tadi berangkat duluan.”

Lelaki bernama Purnomo yang sedang pakai komputer Kinara, melirik lagi. “Kinara punya pacar, loh, Mas,” ucapnya santai.

Karena di mata Purnomo, jelas sekali kalau Satria suka pada Kinara. Tapi selama dua hari, Purno
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 8 Bego

    Dira [Kin, lo sengaja bareng Arka biar bisa deket terus sama Bang Satria, kan?] Satria [Kin, lo belum sampe? Mampir ke mana sama Arka?] Arka [Mbak Kin, kaki aku luka parah. Kamu tanggung jawab pokoknya. Nanti sore traktir aku makan sate. Aku butuh protein buat pemulihan.] “Para Kampret!” Kinara mendesah panjang saat melihat layar ponsel. Tiga pesan yang tadi pagi diterima hampir bersamaan, belum ada yang ia balas. Sampai siang, ponsel Kinara tetap sepi. Tidak ada notifikasi, kecuali pembaruan aplikasi. Tapi setiap kali Kinara buka ponsel, tiga pesan paling atas itu membuatnya kesal terus. Akhirnya ia mengirim balasan. [Maksud lo gimana?] Kinara menekan tombol kirim. Pesan dari Nadira yang ia balas. Sekarang Kinara makan siang di kantin sambil menatap layar ponsel. Pesan dengan cepat berubah jadi centang biru. Bahkan Nadira terlihat sedang mengetik. Kinara jadi menunggu. Dira [Lo dulu sering banget ceritain Bang Satria. Lo suka sama dia, kan?] Kinara sampai me

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 7 Hah?

    “Kinara belum dateng, Pak?” Satria bertanya pada Manajer Bagian Produksi yang sedang berdiri di depan meja. “Belum.” Lelaki itu menjawab pelan, bahkan hanya melirik sekilas pada teman Kinara. Satria langsung memeriksa jam tangan. “Lah, ke mana tuh, bocah? Tadi berangkat duluan.” Lelaki bernama Purnomo yang sedang pakai komputer Kinara, melirik lagi. “Kinara punya pacar, loh, Mas,” ucapnya santai. Karena di mata Purnomo, jelas sekali kalau Satria suka pada Kinara. Tapi selama dua hari, Purnomo melihat Kinara diantar pacar. Mereka bercanda, saling sindir, lalu Kinara pamit dengan lambaian kecil. Meski wajah Kinara terlihat jutek, beberapa langkah saat meninggalkan gerbang, Kinara tersenyum. “Hah?!” Sekarang Satria bengong. “Punya, Pak? Siapa?” “Nggak tahu namanya. Tapi dianter terus tiap pagi.”Satria mengerjap pelan. Ia langsung tahu yang dimaksud Purnomo adalah Arka, adiknya. “Bukan pacar itu, Pak. Kinara bohong.” Purnomo jadi menatap Satria. Ia tersenyum simpul. “Kinara nggak

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 6 Kawin yuk, Mbak

    “Mau sarapan apa, Kin?” Pertanyaan Nadira membuat Kinara menoleh dengan cepat. “Gue paling beli sambil jalan,” ujar gadis yang sedang menyisir rambut itu. “Lah, nggak sarapan bareng dong?” Nadira sampai merengut. “Gue udah janjian sama Bang Satria.” “Ya, udah. Lo berdua aja. Ngapain juga ngajak gue!?” Kinara merapikan rambut sekali lagi, memastikan penampilannya sudah rapi. “Ya, gue nginep di sini. Masak lo nggak mau sarapan bareng.” Kinara mendesah panjang. Bukan keinginannya Nadira menginap. Bahkan ia terpaksa mengizinkan gadis itu tidur di kamarnya. Kinara mengira Nadira sudah diantar pulang setelah pergi kencan dengan Satria. Justru menjelang tengah malam, pintu kamarnya diketuk. Pukul 23.05. Kinara sampai kaget melihat Nadira dan Satria berdiri di depan pintu kamarnya. Sekarang temannya itu pakai kemejanya, pakai jeans miliknya juga. Bahkan pakaian dalam juga milik Kinara yang masih baru. Ia merelakan stok pakaian dalamnya untuk Nadira, daripada miliknya dipinj

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 5 Eh, Kin ...?!

    “Makasih,” ucap Arka menyindir gadis yang baru turun dari boncengannya. Kinara sendiri mengerutkan kening. “Gue nggak lupa. Cuma belum buka helm aja!” Ia mencebik kesal, sambil menyerahkan helm. “Terima kasih tebengannya, Dek Arka!” Arka langsung menyengir lebar. Gadis manis yang ia yakin suka pada kakaknya itu, sering bersikap judes. Tapi malah Arka melihat wajahnya semakin manis. “Entar malem makan di luar bareng gue, Mbak. Lo lagi pengen apa, gue traktir.” Kinara mau langsung naik tangga, tapi ucapan tersebut membuatnya menoleh. “Lo amnesia? Kita ketemu di rumah makan padang! Gue udah beli nasi lauk dobel!” Kinara mengangkat keresek merah ke depan wajah Arka. Malam nanti, ia masih mau merayakan sakit hati. Jadi Kinara sengaja beli makan yang mengenyangkan. Di sana tadi mereka bertemu. Kebetulan Arka juga sedang beli makanan. “Tapi lo, kan, makannya banyak, Mbak. Gue jamin nanti jam delapan lo laper lagi.” Arka menggerakkan alis naik turun. Itu membuat ekspresinya jadi menjeng

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 4 Hah, Suka?

    “Sialan! Mau ada audit, malah kesiangan!” Kinara kesal pada diri sendiri karena terlambat bangun. Alarm pukul 5 pagi, tak terdengar. “Gara-gara kebanyakan nangis, sih! Drama banget! Kayak abis diapain aja sama si Bang Sat!” Kinara kembali menggerutu sendiri. Tubuhnya terus bergerak melakukan persiapan kerja. “Jam berapa ini?” Kinara menghidupkan layar ponsel saat akan keluar dari pintu kamar. “Gila! Mepet banget!” Gadis itu keluar dengan cepat. Tangannya pun lincah mengunci pintu. Kemudian, kakinya melangkah lebar, bahkan langsung melewati dua anak tangga. “Bareng gue, Kin!” Kinara menoleh. Ada Satria yang baru memanaskan motor. Lelaki itu tersenyum padanya. “Bentar. Gue ambil helm lo dulu!?” Lelaki itu langsung ke kamar lagi. Kinara meringis. Yang dimaksud bukan helm miliknya. Tapi helm milik Satria yang sering ia pakai saat nebeng. “Nggak usah, Bang. Gue mau beli lontong dulu!” seru Kinara lantang. “Gue anter. Gue juga mau nyari lontong sayur!” Suara Satria terden

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 3 Kamu Nggak Apa-Apa?

    “Hop! Hop!” seru Kinara sambil menepuk pundak Arka dengan kuat. “Berhenti! Gue turun di sini!” ujarnya lagi. “Lah, ngapa dah? Tinggal masuk doang, malah minta stop!” Arka tetap menghentikan motornya di depan pagar kos. “Banyak orang, Ogeb!” Kinara melotot pada lelaki yang ternyata 4 tahun lebih muda darinya itu. “Gue nggak mau ada gosip!” “Bilang aja lo takut Bang Satria salah paham,” ucap Arka setengah mengejek. “Nggak, ya! Jangan asal ngomong!” Kinara menyangkal dengan tegas. “Hahaha. Biasa aja kali?! Nggak usah panik gitu.” Arka cengengesan melihat gadis yang panik itu. Ia belum maju, masih duduk di atas motor yang berhenti di depan pintu masuk kos. “Sana masuk! Ngapain berdiri di sini?! Nungguin gue?” Alis Arka naik sebelah. Senyumnya juga muncul, tapi itu membuat wajahnya jadi tengil. “Dih, ge-er!” Kinara langsung melengos. Ia melewati pagar yang masih terbuka lebar. Mata gadis itu langsung waspada, karena ada motor Satria. “Jangan bilang Dira masih ada,” gumamnya li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status