MasukHari pertama bekerja di Vanguard Media & Co. langsung menjadi mimpi buruk bagi Nara. Bos dingin yang ditakuti seluruh kantor ternyata Bara Arka Mahendra, mantan suaminya yang sudah tiga tahun tak ia temui! Belum habis rasa syoknya, pria ramah di meja sebelah mengulurkan tangan. Rian Pramudya, mantan kekasih masa kuliah yang terang-terangan ingin balikan. Terjebak di antara dua mantan dan kontrak kerja dengan penalti selangit, Nara hanya ingin bertahan tanpa terlibat urusan hati. Sayangnya, Bara punya rencana lain. “Bertahanlah sampai kontrakmu berakhir, Nara. Aku belum selesai denganmu.”
Lihat lebih banyakNara merapikan kerah blazer dusty pink untuk kedua kalinya di depan cermin toilet Vanguard Media & Co. Ia hanya ingin tampil sempurna. Setelah dua tahun terkurung dalam pernikahan yang mengikis habis harga dirinya, lolos ke agensi kreatif terbesar di ibu kota ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan finansial keluarganya setelah ratusan lamarannya berakhir dengan penolakan. Hari ini, ia kembali berdiri di atas kakinya sendiri.
“Semua karyawan baru diharapkan segera berkumpul di Auditorium Utama untuk townhall meeting kuartal ketiga,” pengumuman dari pengeras suara sentral gedung memotong lamunannya.
Tak lama kemudian, Nara menaiki lift menuju Auditorium Utama yang sudah dijejali oleh ratusan staf karyawan dari berbagai divisi. Dengan semangat baru, Nara berjalan ke tengah baris sembari meremas map lipat yang berisi kontrak kerja yang baru saja ditanda tangani empat puluh menit yang lalu. Sebuah kontrak kerja selama satu tahun dengan klausa penalti pengunduran diri bernilai fantastis: seratus juta rupiah.
“Selamat pagi, Vanguard!” Suara moderator dari tim HRD menyapa para audien dari atas panggung melalui mikrofon.
Sorak sorai karyawan menyambutnya termasuk Nara.
“Sebelum kita memasuki agenda evaluasi kuartal ini, mari kita dengarkan sambutan langsung dari pimpinan Divisi kreatif kita, Bapak Bara Arka Mahendra. Kepada beliau, kami persilakan.”
Suara riuh tepuk tangan mengudara. Namun, gerakan tangan Nara mendadak menggantung di udara.
Bara Arka Mahendra?
Sedetik kemudian, Nara menggelengkan kepalanya sembari terkekeh pelan mendengar nama familiar itu. Ada ratusan atau mungkin ribuan nama tersebut di dunia ini.
Tak lama kemudian di balik tirai panggung, seorang pria bertubuh tinggi sekitar enam kaki melangkah mantap ke bawah lampu sorot. Setelan jas berwarna midnight navy membingkai tubuh tegapnya. Rambut hitamnya dipotong classic side part, tersisir rapi dengan belahan yang tegas. Garis rahang yang kokoh dan tatapannya yang tajam membuatnya terlihat maskulin dan sukar didekati.
Nara membelalakan matanya untuk melihat siapa sosok yang datang. Jantungnya mencelos melihat sosok itu.
Pria itu benar-benar Bara, mantan suaminya.
Tiga tahun lalu, Nara mengajukan perceraian setelah tak sanggup lagi bertahan dalam pernikahan dingin yang membuatnya terus direndahkan oleh keluarga Bara. Namun, yang paling menyakitkan, pria yang dulu berjanji menjadi pelindungnya itu hanya menandatangani akta cerai tanpa berusaha menahannya, seolah kepergiannya memang tak pernah berarti apa-apa.
Rasa sesak yang terpendam tiga tahun silam mendadak melonjak naik ke tenggorokan. Bukan cuma kaget, tapi ada denyut luka lama yang kembali menganga.
Gilak! Semesta punya selera humor yang payah.
Bagaimana mungkin pria yang paling ingin ia hindari di muka bumi ini adalah atasannya di kantor yang baru saja menerimanya?
Tanpa sadar, Nara tertawa getir. “It’s nonsense!”
Ketika Bara mulai mengambil mikrofon untuk menyapa ruangan, dengan gerakan reflek, Nara berusaha bersembunyi agar tidak kelihatan oleh pria itu.
Dengan cepat, ia merundukkan tubuhnya dan menyelinap ke bagian belakang auditorium. Di sana tepatnya ada sebuah pot raksasa berisi tanaman Monstera. Tanpa pikir panjang, Nara menjadikan tanaman itu sebagai tameng persembunyian.
“Mbak, ada uang jatuh ya? Ngapain jongkok disitu?” salah satu staf wanita yang berada tak jauh dari sisinya berkomentar, menatap heran.
Nara mendengus pelan. “Gak ada uang jatuh, Mbak. Anting berlian saya lepas.” Bisik Nara panik, asal menjawab. Ia kembali menegakkan posisi berdirinya, berpura-pura merapikan pakaian seraya menyingkap tipis helai daun monstera untuk mengintip ke arah panggung.
Di panggung, pidato Bara mendadak berhenti sejenak. Manik matanya yang tajam menyapu kerumunan audien di barisan belakang hingga akhirnya terkunci tepat pada satu titik di belakang pot tanaman.
Ia terpaku sejenak. Alisnya terangkat sebelah tatkala menangkap sepasang manik almond milik wanita yang pernah ia sia-siakan. Melihatnya, Bara menelan salivanya susah payah. Ia mencoba menguasai dirinya sebelum mendekatkan mikrofon ke bibirnya, melanjutkan pidatonya dengan nada tenang. “---Dan saya berharap seluruh tim, terutama para staf baru bisa menunjukan komitmen terbaiknya di Vanguard. Terima kasih.”
Nara memegangi dadanya yang terasa sesak. Jantungnya berdegup liar akibat akumulasi rasa sakit yang mendadak bangkit, dan kenyataan pahit yang kini ia hadapi.
Bara sialan... dia pasti sudah melihatku. Dan dia pikir aku masih Nara yang dulu?
“Aku mendengar semuanya tadi.” Suaranya terdengar berat. “Sejak kapan kamu lebih memilih meminta bantuan pria lain daripada mantan suamimu sendiri?”Nara tercekat. Belum sempat menjawab, Bara kembali bersuara. “Tiga tahun, Nara.” Suara Bara terdengar dingin. “Tiga tahun kamu menghilang begitu saja, menutup akses komunikasi.”Tatapan pria itu berubah gelap, seolah menahan napas yang terasa sesak. “Sekarang setelah kita bertemu, kamu berpura-pura seperti tidak mengenalku?”“Pak Bara, tolong jaga sikap Anda!” Jawaban Nara membuat Bara terdiam dengan napas yang berat. Tatapan matanya yang dingin tak berpaling sedikitpun dari wajah mantan istrinya. “Nara, begitu mudah kamu melupakanku.” Tukas Bara dengan nada yang dingin sarat akan kemarahan yang terpendam. “Aku Bara … mantan suamimu! Haruskah aku mengingatkanmu lagi?” Bara semakin mencondongkan tubuhnya, memerangkap tubuh Nara. Alih-alih merasa terintimidasi, Nara tampak tenang meski jantungnya berdetak maraton. “Tidak perlu, Pak Bara.
“Bu Nara, pasti belum terbiasa ya melihat bos seperti Pak Bara? Maklum ya, dia memang galak dan judes, tapi aslinya... ya gitu deh, tetep aja menyebalkan.” Kalina, junior graphic designer meringis pelan, menatap Nara seakan tengah menenangkan seorang anak magang yang baru saja kena mental usai makan siang yang hot.Mereka kini sudah kembali ke kubikel masing-masing di Vanguard, disibukkan dengan tumpukan moodboard desain.“It’s okay, Kalina. Aku gak apa-apa.”“Btw, menurut rumor yang beredar di lantai ini, Pak Bara itu makin kejam dan dingin karena hobi diputusin.”“Patah hati?” Nara memicingkan matanya, setengah kaget setengah geli. Di lingkungan kerja baru seperti Vanguard, tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa Nara adalah mantan istri sang VP. Satu-satunya yang tahu masa lalu mereka cuma Rian. Itu pun Rian tipikal mantan pacar yang tahu batas, tidak semeresahkan Kalina yang doyan gosip kantor.Kalina mengangguk mantap, gayanya sudah seperti pengamat percintaan senior yang hidup
Beberapa orang refleks menoleh ke arah Bara, termasuk Nara yang dibuat tertegun melihat raut kaku pria itu. Pandangan Nara lalu turun pada pulpen di genggaman Bara yang kini sudah terbelah dua.Tanpa mengalihkan tatapan dinginnya dari Nara, Bara membersihkan jemarinya yang basah terkena lelehan tinta hitam.Nara sangat hafal gestur itu. Ingatan lama mendadak melintas di kepalanya. Dulu, pria itu pernah melakukan hal serupa ketika melihat Nara keasyikan menggambar. Tanpa sepatah kata, Bara mematahkan pensil 7B milik Nara begitu saja. Ia marah karena Nara lebih memilih menggambar ketimbang mendengarkan ceritanya. Dan, gestur Bara saat ini menunjukkan raut kemarahan yang persis sama.Aneh. Seharusnya pria itu senang karena presentasi tim berhasil.“Jadi, kita mau merayakan keberhasilan hari ini pakai apa?” suara salah satu staf junior memecahkan ketegangan yang sempat menggantung di ruangan.“Bagaimana kalau makan siang di resto Jepang?” usul yang lain bersemangat.“Aku sih setuju saja.
“Nara, kamu memang tinggal di mana sekarang?” Dari balik kemudi Rian melongokan kepalanya tatkala melihat Nara tengah berjalan sendirian di area parkiran Vanguard.“Um... daerah Tangsel.” Nara menjawab singkat. “Kebetulan aku mau ke arah sana. Mau ke rumah kakakku. Sekalian aja bareng aku,” ajak Rian to the point, melemparkan senyum ramah yang hangat.Nara sempat menimbang sejenak. Bukankah menghemat ongkos ojek online adalah pilihan bijak untuk dompetnya yang makin menipis? Namun, mengingat statusnya saat ini, ia tahu diri. Ia tidak ingin bergantung pada siapa pun lagi.“Makasih tawarannya, Ian. Tapi aku sudah tanggung pesan ojek, kok,” tolak Nara halus seraya menunjukkan layar ponselnya dengan terkekeh pelan.Rian mengangguk mengerti, tak memaksakan. “Ya sudah, see you tomorrow, Nara! Hati-hati di jalan!”Sedan hitam Rian melaju meninggalkan area pelataran Vanguard. Nara melangkah ke luar gerbang, berdiri mematung di bawah naungan pohon rindang di tepi trotoar yang mulai temaram. U












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.