Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya

Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya

last updateLast Updated : 2026-10-13
By:  Dwisur PenulisUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
3 ratings. 3 reviews
8Chapters
31views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Bang Satria emang bangsat, Mbak. Udah lupain aja dia. Jadi pacarku aja, yuk." Arka dengan santai mengajak pacaran teman dekat kakaknya. "Situ waras?!" Kinara menolak dengan mata melotot. ** Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah ditolak cintanya, malah dikejar berondong gila. Begitu nasib cinta yang Kinara pendam selama ini. Jatuh cinta pada teman memang serba salah. Diungkap, dengan resiko kehilangan teman. Dipendam, tapi bikin sesak. Apalagi saat Kinara tahu, ternyata Satria berpacaran dengan gadis lain yang merupakan teman dekatnya. Bukan hanya tiap hari harus patah hati, tapi Kinara juga kesal karena ulah Arka, adik Satria. Malah Arka terus menggodanya, sampai Kinara kesal bukan main. Tapi begitu Arka tak terlihat, Kinara diam-diam mencari. "Rindu, tapi malu. Kangen, tapi mendem. Nasib!"

View More

Chapter 1

Bab 1 Ditolak

[Iya, udah di kosan. Kenapa?]

Sebuah pesan yang ditunggu akhirnya datang. Pesan dari sebuah nomor yang diberi nama Bang Satria.

Kinara tersenyum simpul membacanya. Ia tidak membalas, malah ponselnya digenggam erat.

Mata Kinara langsung mengamati jalanan yang dilewati. Di angkot yang penuh saat jam pulang kerja itu, wajahnya tetap berseri.

“Aku mau bikin kejutan,” gumam gadis berambut panjang itu dengan semangat.

“Mampir beli brownies dulu kali, ya. Bang Satria, kan, suka manis. Kayak aku misalnya.” Kinara terkekeh mendengar ucapannya sendiri yang penuh percaya diri.

“Kiri, Bang.” Tak lama Kinara mengetuk kaca angkot. Ia turun meski belum sampai kosan.

“Jalan dikit nggak apa, demi Bang Satria.” Begitu pikir gadis berlesung pipi itu. Ia berjalan dengan semangat, masuk ke sebuah ruko. Di sana ada toko kue terkenal.

“Yang toping keju ini, Mbak,” ujar Kinara sambil menunjuk satu kue berukuran sedang.

Kue diterima, juga sudah dibayar, Kinara lalu meninggalkan ruko itu sambil tersenyum. Hatinya sedang berdebar, tapi juga berbunga. Ia bertekad untuk mengungkapkan isi hati yang selama ini dipendam.

Tidak naik angkot lagi, Kinara lebih memilih jalan kaki. Masih beberapa ratus meter dari gang masuk rumah kos tempat tinggalnya. Untuk naik angkot, jaraknya terlalu dekat. Sedangkan jalan kaki, masih cukup jauh.

“Demi Bang Satria,” gumam Kinara menghibur diri.

Saat masuk gang, gadis itu mendesah panjang. Napasnya ngosngosan karena tanpa sadar kakinya melangkah cepat sejak tadi.

“Astaga … matahari udah nggak ada, tapi masih gerah banget! Menyengat!” Kinara mengeluh agak lebai, sambil mengusap dahi yang memang berkeringat.

Dua ratus meter dari masuk gang, ia sampai di bangunan dua lantai yang punya pintu berderet. Salah satu pintu di lantai dua merupakan kamar kosnya.

“Bang Satria udah pulang?” Kening Kinara mengerut melihat motor matic merah terparkir. Motor yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.

“Kasih sekarang?” Kinara berdiri di anak tangga pertama, menimbang sebentar. “Tapi aku keringetan banget. Bau. Mandi dulu, deh!”

Baru kaki bergerak di dua anak tangga, namanya dipanggil. Hal itu memaksa Kinara berhenti.

“Kin!?”

Si pemilik nama menoleh. “Eh, Bang Sat. Gimana, Bang?”

Padahal Kinara sengaja beli brownies, sampai pulang jalan kaki, agar bisa dapat muka di depan lelaki itu. Sekarang ia hanya bisa meringis canggung.

“Baru sampe lo? Mau gue barengin tadi pulangnya, lo udah kabur duluan,” ujar lelaki yang baru mandi itu. Rambutnya masih basah, aroma sabun pun masih menguar segar, menyapa penciuman lawan bicaranya.

“Wajar kali lo duluan sampe, Bang. Gue naik angkot. Macet banget tadi.” Kinara bicara sambil mendengus pelan.

“Belagu, sih! Pake acara pulang duluan. Biasanya juga bareng gue!” ujar Satria sambil duduk di motornya.

Satu kaki diangkat, dilipat ke jok. Siku kirinya menyandar ke stang yang ada di belakang. Lelaki itu juga tersenyum miring pada Kinara.

Salah satu yang membuat Kinara jatuh cinta selain wajah yang tampan, Satria memang perhatian padanya. Mereka satu kosan. Kamar Kinara tepat di atas kamar Satria. Karena bekerja di pabrik yang sama, sering ada ajakan berangkat atau pulang bareng.

Hal itu yang menyebabkan timbul rasa dalam hati Kinara. Karena perhatian Satria, ia menduga lelaki itu juga punya rasa yang sama.

“Kirain orang Office lembur,” ujar Kinara nyengir lebar. Dadanya masih berdebar karena berhadapan dengan pujaan hati, tapi ia masih bisa tersenyum.

“Mana ada Office lembur! Yang ada orang Produksi yang lembur! Target lagi tinggi, kan?” Satria membalas dengan suara tegas.

Kinara mengangguk pelan, masih tersenyum juga. “Seringnya gue ketinggalan kalo mereka lembur. Gue nggak diajak!”

“Ya, kan, gaji lo lebih tinggi. Kalo lo lembur, anak Produksi lain jadi iri!” ucap Satria lagi.

Kinara mendengus, wajah ditekuk, meski itu pura-pura saja. Ia sedang salah tingkah hanya karena diajak ngobrol.

“Lah, sempet beli brownies juga?” Sampai akhirnya Satria melihat tentengan di tangan Kinara.

“Oh ….” Gadis itu diam sebentar. “Buat Bang Satria. Nih!” ujarnya menyodorkan kantung berisi sekotak brownies.

“Hah? Buat gue?” Satria bangun dari duduk di motor. Tangannya terulur ragu, seolah tak percaya kalau Kinara membelikan kue untuknya.

“Iya. Bang Satria pernah bilang suka brownies keju. Ini aku beliin,” ujar Kinara sambil menampilkan senyum manis.

“Hah? Tumben ….” Satria menerima pemberian itu, sampai diintip meski kantongnya transparan.

“Karna kamu suka brownies, dan aku suka kamu.” Kinara bicara santai sekali. Wajahnya tersenyum manis. Bahkan jari jempol dan telunjuknya membuat tanda hati kecil, ditunjukkan pada Satria.

“Hah?” Lelaki itu tambah bingung. “Lo suka sama gue?”

Kinara bengong sejenak, tak sadar kalau sudah keceplosan. “Iya, dong. Hehehe.” Akhirnya bisa mengaku meski sambil tertawa canggung.

“Serius, Kin?!” Wajah Satria berubah. “Tapi gue ….”

“Udah nggak usah dipikirin! Anggap aja gue nggak pernah ngomong!” Kinara berdebar karena takut ditolak di tempat. Jadi ia bersikap seolah sedang bercanda.

“Serius dulu, Kin! Gue nggak enak ini!”

“Hehehe. Enakin aja.” Kinara tersenyum, tapi senyumnya berubah aneh seiring dengan perubahan wajah lelaki di depannya.

“Masalahnya gue punya pacar,” ucap Satria kemudian.

“Hah?!” Sekarang Kinara yang bengong. Hanya sebentar, kemudian senyumnya muncul lagi, bahkan lebih lebar dari sebelumnya.

“Ada yang mau sama lo, Bang?” tanya Kinara dengan nada sarkastis.

“Sialan lo! Malah ngatain gue!” Satria pasang wajah galak. Matanya melotot, meski masih merasa canggung dengan Kinara.

“Hahaha!” Tapi gadis itu malah tertawa lebar. Tangannya melambai, badan berbalik, ia langsung menaiki tangga. Meski matanya beradu tatap dengan orang lain yang sepertinya baru pulang kerja juga.

“Buat lo browniesnya, Bang. Makan sama cewek lo!” ujar Kinara agak lantang. Niatnya mau menutupi kecewa, tapi suaranya malah bergetar.

“Lah …?!” Satria berdiri dengan wajah bingung. Menatap gadis yang sudah sampai lantai dua rumah kos mereka itu.

Kinara berhenti, menyandar di pembatas serambi, lalu tersenyum saat beradu tatap dengan mata Satria. “Lo kan, baik. Sering nebengin gue. Makanya pas lihat brownies, gue inget sama lo, Bang. Uda santai aja. Siapa tahu besok gue nebeng lagi.”

Satria mendengus. “Kalo mau nebeng, tinggal ngomong aja. Ngapain ngasih-ngasih segala!”

“Tinggal bilang makasih, apa susahnya?” ujar Kinara setengah kesal. Bukan karena brownies, tapi karena pernyataan cinta yang dibuat seperti candaan tadi tak disambut.

“Udah, ah! Gue mau mandi! Bye!” Kinara berbalik tanpa menoleh. Buka pintu dan masuk kamar, lalu mengunci rapat. Tak dipedulikan lagi ucapan terima kasih Satria yang masih terdengar.

“Sial! Gue ditolak!” ujar gadis yang berdiri menyandar di pintu. “Sakit, ya Allah! Malu banget pasti kalo ketemu.”

“Sayang …!”

Kinara mengerjap pelan mendengar suara manja itu. Ia kenal siapa pemiliknya karena familier sekali. Suaranya agak samar, pasti orangnya di bawah.

“Aku mau nyamperin Kinara, ah!”

“Nanti aja. Dia baru sampe. Masih mandi pasti.”

“Iih, biarin! Aku nggak sabar mau kasih tahu dia!”

“Sini dulu, ah! Ayo!”

Kinara kembali mengerjap. Suara percakapan itu tak terdengar lagi, ia jadi penasaran.

Gadis itu membuka pintu lagi, lalu berdiri di pembatas dan melihat ke bawah. Satria sudah tak ada. Perempuan pemilik suara manja tadi juga tak terlihat.

“Hah?” Kinara bergeming.

Kemudian ekor matanya melihat lelaki yang tadi beradu pandang sekilas. Kinara bengong. Lelaki itu pun menatapnya lekat.

Sampai Kinara melengos lebih dulu saat melihat senyum terukir samar di wajah si lelaki. Ia buru-buru masuk kamar lagi.

“Bangke! Ketahuan orang lagi!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Lin Yue
Lin Yue
seru, Kak. lanjut?!
2026-10-12 21:58:26
1
0
Oh Hana
Oh Hana
Ceritanya lucu dengan gaya bahasa ringan yg mudah dipahami. Semangat lanjut, Kak Dwi! ...
2026-10-12 21:15:07
1
0
Ardhya Rahma
Ardhya Rahma
Seru nih ceritanya. Lanjut, Thor
2026-10-12 15:26:54
1
0
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status