Mag-log inLeon menyeringai. Elyana membenci raut itu karena ia tahu bahwa Leon tengah merencanakan hal lain. Ia pasti ingin membuktikan bahwa ini semua hanya pura-pura.
“Duke, a-aku…” Elyana sedikit terbata. Tidak ada kesepakatan untuk tidur bersama tadi. Ia merasa sedikit canggung. Melihat Elyana seperti itu, Leon menyeringai penuh ejekan. "Ada apa? Kau tidak mau tidur dengan pria ini? Apa kau … benar-benar menyukainya dan bukan hanya sandiwara?” Wajah Elyana memanas seketika. Ia berusaha menjawab Leon, namun dipotong oleh suara tegas Magnus. “Kau terlalu ikut campur,” tukas Magnus. Pria itu bergerak mendekati Elyana dan menarik pelan pinggangnya, seolah menandakan kepemilikan. Elyana menoleh, sedikit tersipu tiap kali Magnus berlaku yang tak disangkanya. Tatapan mereka bertemu. Elyana memegang tangan Magnus dengan sedikit gemetar. “Ayo, Lady,” ajak Magnus. Suasana lorong langsung menjadi hening beberapa detik. Tiba-tiba Leon tertawa. Suara tawa geli menggema di lorong panjang yang diterangi cahaya lilin. “Bersenang-senanglah dengan wanita murahan seperti dirinya!” Elyana menegang mendengarnya. Bagaimanapun hati kecilnya pasti tergores tiap kali Leon melontarkan kata itu. Jari yang melingkar di tangan Magnus menguat. “Duke Leon,” Magnus tiba-tiba bersuara. “Setidaknya aku adalah pria yang tahu batasan. Bukan seseorang yang gemar memaksa tunangannya untuk memuaskannya.” “Kau…!” tawa Leon berubah menjadi geram dengan napas menderu. Ia melangkah mendekati Magnus dan mengangkat satu tangannya. Elyana mengerjap. Apakah Magnus akan menjadi sasaran empuk tamparan Leon karena dirinya? ‘Jika Leon menamparnya…!’ Elyana hanya bisa memekik dalam hatinya. Ia ingin membantu namun kakinya seperti membeku. Tetapi tangan Leon tidak sempat mendarat di atas wajah Magnus. Sebab pria yang lebih tinggi itu lebih dahulu menepisnya dengan tangan yang tak merengkuh Elyana. Leon terlihat semakin geram. Tangan yang ditepisnya perlahan ia turunkan, namun napasnya masih menderu. Sementara itu, wajah Magnus masih tampak datar. Tanpa basa-basi lagi, Magnus melangkah masuk diikuti oleh langkah Elyana yang beriringan, dengan tangan Magnus yang masih melingkar di pinggang Elyana. Mereka meninggalkan Leon dan Mariana di belakang. Elyana sempat melirik Leon dari balik bahunya. Pria itu menatapnya tajam, namun Elyana mengabaikannya. *** Di dalam kamar tamu, pintu tertutup dengan suara pelan. Ruangan itu luas dan elegan, dihiasi perabotan mahal yang biasa digunakan untuk menjamu tamu bangsawan. Namun suasananya terasa sangat canggung dan sunyi. Hanya terdengar suara napas dua orang yang berdiri kaku. Magnus melepaskan tangannya dari tubuh Elyana, sebuah gestur yang sopan dan menghormati. Elyana pun berdiri di sana, tidak yakin harus berbuat apa. Punggungnya hampir menempel pada pintu kayu besar. Kepalanya perlahan menunduk. "Maafkan aku..." suaranya pelan. "Aku tidak menyangka akan menjadi sejauh ini." Magnus menatapnya beberapa detik. Lalu senyuman lembut muncul di wajahnya. "Bukan masalah. Lagipula, kita hanya harus tidur berdua tanpa melakukan apapun,” nada suaranya santai. Magnus melangkah menuju ranjang besar di tengah ruangan. Kedua tangannya terulur ke arah ranjang itu. "Untuk malam ini, silakan beristirahat. Aku akan tidur di lantai." “Apa?” Pipi Elyana langsung memerah. Ia benar-benar terkejut dengan perlakuan Magnus. Elyana menggeleng pelan. "Tidak, Yang Mulia! Seharusnya aku yang–” BRAK! Tiba-tiba suara nyaring terdengar dari balik pintu. “Masih ada waktu untuk meminta maaf padaku dan berkata bahwa semua ini hanya sandiwara, wanita murahan!” suara Leon menggema dari luar kamar. Elyana terbelalak. “Apa…?” ia berbisik. “Ayo keluar!” Leon memekik lagi. Di dalam kamar, Elyana gemetar. Takut jika kebohongannya harus terbongkar dan nasibnya akan kembali sama seperti kehidupan sebelumnya. Ia menatap Magnus yang sudah lebih dahulu menatapnya. Magnus bergerak pelan menuju pintu, mengintip dari balik celah yang ada. “Pria itu menunggu di depan…” bisik Magnus. Ia lalu menoleh kepada Elyana lagi. “Lalu, apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?” Elyana menahan suaranya agar tidak bergetar. Magnus melangkah mendekati Elyana. Ia mengelus bahu Elyana pelan, nampak mencoba menenangkannya. Diperlakukan selembut itu membuat Elyana meleleh dengan cepat. Napasnya kini lebih teratur. “Tenang saja, Lady Elyana,” bisik Magnus pelan. “Aku punya caraku sendiri.” “Bagaimana, Yang Mulia?” tanya Elyana penuh harap."Thalira..." Edward Arcelmont tersenyum hangat. "Kau adalah putri tunggal Marquess Redmond, wanita yang sangat berani. Untuk menolak menjadi selir Leon, kau memutuskan untuk berpenampilan seperti laki-laki dan menjadi kadet di barak militer." Kata-kata itu jatuh di ruang makan seperti gelombang yang perlahan menyapu keheningan.Beberapa orang yang duduk di meja saling melirik. Tidak semua dari mereka mengetahui cerita itu secara lengkap. Namun cara Edward menyampaikannya membuat kisah itu terasa jauh lebih besar dari sekadar rumor.Di sisi lain meja, Alianne sedikit tersentak. Gerakan mengunyahnya berhenti. Potongan kue yang masih berada di mulutnya seolah tiba-tiba kehilangan rasa. Matanya sedikit membesar, seolah baru menyadari sesuatu yang baru saja ia dengar.Pipi dan bibirnya masih kotor dipenuhi krim dan remahan kue. Pemandangan itu membuat kontras yang aneh dengan suasana serius yang sedang dibangun Edward."Dan kini..." Edward melanjutkan.
"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi.." Edward tersenyum hangat, tidak menyadari kekacauan kecil yang diciptakan oleh Alianne dan Caelum. "Silakan menikmati jamuan hidangan dari kami!" Edward merentangkan kedua tangannya dengan dramatis sambil terus tersenyum, mempersilakan semua orang untuk menyantap makanan yang tersaji di depan mereka.Gerakan itu seperti sebuah sinyal tak terlihat. Para tamu yang duduk di sepanjang meja panjang segera bersiap. Hampir semua orang melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan.Mula-mula, mereka semua mengambil celemek masing-masing. Kain pelindung itu diangkat dengan rapi, lalu bagian talinya diikatkan di belakang leher mereka. Beberapa orang menarik simpulnya lebih erat, memastikan kain itu benar-benar menutupi bagian depan pakaian mereka.Di kalangan bangsawan, makan malam bukan sekadar makan. Itu adalah ritual. Sebuah pertunjukan etiket. Tidak ada yang ingin pakaian mahal mereka ternodai saus atau remah makanan.Setelah itu, tangan-tangan terlatih m
"Yang Mulia, apa kau yakin di desa selanjutnya, kita akan didukung?" tanya Mariana yang duduk di dalam kereta kencana. Napasnya terdengar tidak teratur.Sejak meninggalkan desa sebelumnya, rasa takut yang menyelimuti dirinya belum juga hilang. Bayangan wajah-wajah rakyat yang memandang mereka dengan kebencian terus terlintas di benaknya.Tangannya yang berada di atas pangkuan gemetar pelan.Dia berusaha menenangkan diri, tetapi semakin mengingat apa yang terjadi sebelumnya, semakin sulit baginya untuk mengendalikan kepanikan yang muncul.Di hadapannya, Leon duduk dengan rahang mengeras.Wajahnya tampak tenang pada pandangan pertama, tetapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.Leon mengepalkan tangannya. Dengan kesal, dia memukul jendela bagian dalam kereta kencana. Suara benturan itu membuat Mariana tersentak."Sial! Tidak ada jaminan desa selanjutnya belum didatangi oleh Yang Mulia Ratu maupun Lady Elyana. Dua wanita busuk itu... Aku benar-benar tidak bisa membaca taktik m
"Apa lagi yang Yang Mulia Raja tuliskan dalam surat itu, Ayah?" tanya Elyana dengan penasaran. Rasa ingin tahunya semakin besar saat melangkahkan kaki memasuki ruang kerja sang ayah. Edward yang berdiri di dekat jendela mengangkat surat di tangannya."Yang Mulia mengatakan bahwa mereka semua sudah bersiap untuk melakukan pencitraan," jawab Edward, mengangkat surat di tangannya. "Sama seperti yang kau lakukan sebelumnya. Ini untuk menguatkan reputasi kita kepada masyarakat. Dan Yang Mulia sudah memberikan arahan serta pembagian wilayah desa mana yang akan kita kunjungi."Elyana mendengarkan dengan saksama. Sebenarnya, dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat. Namun, mengetahui bahwa Raja Aldren sendiri telah menyusun pembagian wilayah membuat kegiatan ini terasa jauh lebih serius daripada yang dibayangkannya.Edward mengulurkan surat ke arah Elyana.Elyana dengan senang hati menerimanya.Pandangan matanya segera menelusuri tulisan tangan Aldren yang rapi dan t
Kereta kuda dan pasukan raja perlahan meninggalkan kediaman Count Arcelmont. Derap kaki kuda dan gemeretak roda kereta menggema di sepanjang jalan berbatu, semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya hanya menyisakan keheningan yang menggantung di udara sore.Elyana berdiri di samping ayahnya, memandangi iring-iringan itu hingga bayangan terakhir mereka menghilang di balik gerbang utama. Angin petang berembus lembut, mengibaskan ujung rambut pirangnya yang terurai di punggung."Yang Mulia ingin kembali ke kediaman Marquess Redmond, ya?" tanya Elyana.Edward mengangguk pelan. "Begituan." Dia kemudian berbalik ke arah kediamannya sendiri. "Yang Mulia Ratu masih ada di sana. Mereka akan kembali setelah menjemput Yang Mulia Ratu."Elyana masih menatap ke arah gerbang yang kini kosong. Jalanan yang tadi ramai mendadak terasa sunyi."Magnus kapan datang, ya?" gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh ayahnya."Kau merindukan pria itu?" tanya Edward dengan penasaran.Elyana tersentak. Ja
Setelah perjalanan sekitar satu jam dari kediaman Count Arcelmont, Leon akhirnya tiba di kediamannya sendiri.Kediaman Duke Gabriellion.Sebuah pagar besar berwarna putih menyambutnya, menjulang kokoh seolah menjadi simbol kemurnian dan kehormatan keluarga. Para pengawal yang berjaga segera menunduk hormat dan dengan sigap membukakan pagar begitu melihat sang Duke mendekat.Derit besi pagar terdengar panjang saat terbuka.Begitu celah cukup lebar, Leon kembali mengarahkan kudanya untuk berlari masuk tanpa memperlambat laju. Para pelayan di halaman depan tersentak melihat kondisi wajahnya yang berlumuran darah.Ia berhenti di halaman depan kediamannya dengan tarikan kekang yang tajam.Kuda itu meringkik pelan.Leon turun tanpa berkata apa-apa, menyerahkan kendali pada pengawal yang segera membawa kuda itu ke kandang.Baru saat itulah pupil biru lautnya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.Mariana."Yang Mulia!"Wanita muda itu berlari menghampiri Leon. Rambut cokelatnya bergoyang an
Pelayan itu segera mengangguk, meski ada keraguan tipis yang sempat melintas di matanya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela dengan gerakan cepat namun tetap terjaga, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasinya. Jemarinya meraih pengait jendela, lalu membukanya perlahan.Dan
'Sial! Sudah begini, yang harus aku lakukan adalah terluka berguna.'Rahannya mengeras, otot di wajahnya menegang saat Leon menyadari posisinya. Tatapan orang-orang di sekitarnya, nada bicara mereka, bahkan cara mereka memandangnya, semuanya mengarah pada satu hal. Ia berada di posisi ya
"Tabib?" Mata Mariana membulat saat mendengar jawaban Leon. "Yang Mulia... Mereka ini..." Matanya menatap para tabib yang kedua tangannya diikat. "Tabib dari mana?"Leon hanya membalas dengan senyum miring. Senyum itu tipis, namun sarat makna yang tidak ingin ia jelaskan. "Kau tidak perl
"Mengambil tabib?" Kadet itu menatap Leon dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudnya, Yang Mulia Duke!"Suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih berat. Kadet muda itu masih berlutut, tubuhnya gemetar bukan hanya karena luka, tetapi juga karena situasi yang semakin sulit ia pahami.Leon me







