ログインDituduh atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, Elyana harus menghadapi pengkhianatan paling kejam dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya sendiri. Di hari eksekusinya, ia mati tanpa sempat membela diri. Namun takdir memberinya satu kesempatan lagi. Tanpa disangka, ia bertemu dengan seseorang yang mengalami nasib serupa!
もっと見る"Duchess Elyana Gabriellion! Kau telah membuat Mariana keguguran. Aku akan menjatuhi hukuman mati untukmu!"
Suara tegas Leon menggema keras, memecah hiruk-pikuk aula yang sebelumnya penuh percakapan para bangsawan. Seketika suasana yang semula ramai berubah membeku. Semua mata tertuju ke satu titik. Di tengah aula yang luas dan megah itu, seorang wanita hamil bersandar lemah di pelukan Leon. Gaunnya yang berwarna pucat ternodai merah. Darah menetes perlahan dari sela-sela jarinya yang menekan perutnya yang membesar, lalu jatuh ke lantai marmer putih, menciptakan bercak-bercak merah yang kontras dan mengerikan. Leon memeluk wanita itu erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Mata biru lautnya yang biasanya tenang kini dipenuhi amarah yang membara. Dengan mata yang memerah dan dipenuhi emosi, Leon mengangkat kepalanya dan menatap satu sosok di seberang ruangan. Tatapan tajamnya menghujam Elyana. Ia tidak salah dengar bukan? Hukuman mati. Kata-kata itu jatuh seperti palu pengadilan tanpa belas kasihan. Elyana lantas membeku. "Tidak! Tunggu!" Suaranya pecah, penuh kepanikan. Mata biru langitnya menatap Leon dengan penuh harapan, harapan kecil yang tersisa bahwa pria itu akan mendengarkan penjelasannya. "Bukan aku yang membuatnya terjatuh! Dia jatuh sendiri—" "Pengawal!" Suara Leon yang keras memotong ucapannya sebelum sempat selesai. Perintah itu begitu tegas hingga beberapa pengawal yang berdiri di dekat mereka langsung bergerak maju tanpa ragu. Dengan nada dingin dan penuh otoritas, Leon berkata, "Tangkap wanita jahat itu dan bawa dia ke ruang eksekusi!" Pupil Elyana melebar. Seakan dunia berhenti berputar. "Yang Mulia! Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa padanya! Dia terjatuh sendiri! Lagi pula... Aku adalah istri sah!" Tangannya terangkat, gemetar, menunjuk ke arah wanita yang berada di pelukan Leon. "Berbeda dengan dia! Dia hanyalah selingkuhan yang—" "Yang Mulia..." suara Mariana memotong pekikan Elyana. Suaranya begitu lemah hingga hampir tertelan oleh gema aula yang luas. Leon langsung menunduk, menatap wajahnya dengan penuh perhatian. "Jangan menghukum Yang Mulia Duchess... Dia mungkin tidak sengaja." Elyana yang mendengar itu langsung tertawa getir dalam hatinya. Wanita licik! batin Elyana. Mariana..." suara Leon melunak. Mata biru lautnya menatap Mariana dengan keseriusan yang tidak biasa. "Kau terlalu baik. Karena itulah kau mudah ditindas oleh wanita sialan itu. Tapi aku tidak sebaik dirimu…” Apa maksud pria itu!? Leon lantas menoleh lagi kepada Elyana. Kali ini tatapannya sedingin es. "Tunggu apa lagi? Cepat tangkap wanita itu!" pekik Leon lebih keras. Perintah itu langsung dipatuhi. Beberapa pengawal mendekat dan mencengkeram kedua tangan Elyana tanpa ampun. Pegangan mereka kuat, membuat Elyana bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan diri. "Tu- tunggu! Ada kesalahpahaman di sini! Aku tidak salah!" Elyana meronta-ronta, berusaha melepaskan dirinya. Namun tenaganya tidak sebanding dengan para pengawal yang jauh lebih kuat. Kakinya terseret di lantai marmer saat mereka menyeretnya keluar dari aula. Gaunnya bergesekan dengan lantai dingin. Suara napasnya mulai tersengal. Namun tak satu pun orang di aula itu bergerak untuk menolongnya. Sebagian bangsawan hanya menonton dalam diam. Sebagian lainnya berbisik pelan. Dan di tengah semua itu, Leon bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. *** Di sebuah ruangan yang gelap dan dingin, Elyana terduduk lemah. Kedua tangannya dirantai tinggi ke dinding batu menggunakan rantai besi yang berat. Posisi itu memaksanya untuk duduk di lantai yang dingin dengan kedua tangan tergantung di atas kepalanya. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, rantai itu berderit. Tubuhnya terasa lelah. Pergelangan tangannya mulai memerah karena gesekan besi. "Kenapa?" suara Elyana bergetar. Setetes air mata jatuh dari matanya, mengalir perlahan di pipinya yang pucat. "Kenapa aku harus dihukum? Aku tidak salah apa-apa!" Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. "Kau salah, Elyana!" itu Leon. Ia berteriak dengan tegas, bersamaan dengan pintu besi yang terbuka. Pupil biru langit Elyana bergerak perlahan ke arah pintu, menatap Leon yang berdiri di sana. Tubuhnya menjulang tinggi, bayangannya jatuh panjang di lantai batu. Di tangan kanannya terdapat sebuah pedang panjang. Leon perlahan menarik pedang itu keluar dari sarungnya. Suara gesekan logam yang tajam terdengar memenuhi ruangan. Mata Elyana membulat saat melihat bilah pedang yang panjang dan dingin itu. Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup kencang. "Kau salah! Karena sejak awal menjadi orang ketiga diantara kami berdua!" seru Leon. "Orang ketiga?" Ekspresi Elyana membeku kebingungan. Alisnya berkerut, matanya membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Elyana menatap Leon lekat-lekat, mencoba mencari tanda bahwa pria itu hanya bercanda atau sedang berbicara dalam amarah sesaat. Namun yang ia temukan hanyalah wajah dingin yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan. "Apa maksudmu, Yang Mulia? Yang orang ketiga adalah Mariana! Bukan aku! Kita sudah bertunangan sejak remaja!" suara Elyana menggema di ruangan batu yang dingin itu. Pantulannya kembali dari dinding-dinding yang lembab, membuat kata-katanya terdengar semakin putus asa. Leon tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan santai beberapa langkah dari Elyana, seolah tidak sedang berada di ruang eksekusi. "Aku tidak peduli,” jawabannya jatuh datar. Tangannya bergerak perlahan mengusap bilah pedang yang telah ia keluarkan dari sarungnya. Ujung jarinya menyusuri permukaan logam dingin itu dengan gerakan yang hampir santai, seolah ia sedang menilai ketajamannya. Matanya tertuju pada pedang itu, bukan pada Elyana. "Aku dari awal tidak pernah menyukaimu. Kau adalah wanita tidak patuh, sombong dan egois. Sangat berbeda dengan Mariana," setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang ditusukkan satu per satu ke dalam dada Elyana. Elyana menatapnya dengan ekspresi yang kini berubah. Kesal. Marah. Terluka. Tubuhnya condong ke depan secara refleks, membuat rantai besi yang menahan kedua tangannya berderak keras. Suara logam beradu menggema di ruangan sempit itu. "Jika kau tidak menyukaiku dari awal, kenapa tidak membatalkan pertunangan denganku dari awal? Kenapa tidak..." Elyana menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan air mata yang terus menggenang di matanya. "Kenapa tidak menyelesaikan semuanya dengan cara baik-baik?" Untuk sesaat, hanya ada suara api obor yang berderak pelan di dinding. Leon akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapannya tetap dingin. "Karena aku masih ingin menguasai Count Arcelmont,” jawaban itu diucapkan begitu saja tanpa ada usaha untuk menyembunyikan niatnya. Elyana terdiam beberapa detik. Ia berusaha mencerna kata-kata itu. "Apa yang kau inginkan dari ayahku?" tubuhnya kembali mencondong ke depan, rantai besi di tangannya bergetar karena gerakan mendadaknya. Ekspresi wajahnya kini dipenuhi kemarahan. "Aku tidak akan diam saja jika kau berani macam-macam dengan ayahku!" Leon akhirnya mengalihkan pandangannya dari pedang itu. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah seringai. Seringai dingin yang dipenuhi kelicikan. "Untuk apa aku memberitahumu jika kau akan mati di sini sebentar lagi?"Fajar mulai menyingsing.Cahaya matahari pagi merayap perlahan melalui celah tirai, menyusup masuk ke dalam kamar tamu yang ditempati Elyana. Sinar keemasan itu jatuh lembut di atas ranjang, menyentuh wajahnya yang masih terpejam. Hangat, namun cukup untuk mengusik tidurnya.Kelopak mata Elyana bergetar pelan. Lalu perlahan, ia membuka matanya sedikit, silau oleh cahaya yang langsung menyapa penglihatannya. Napasnya masih berat, seolah semalam bukanlah malam yang benar-benar memberinya istirahat. Ia terdiam sejenak. Memandang langit-langit kamar yang terasa asing.Lalu, dengan gerakan pelan, Elyana bangkit duduk dari ranjang tempatnya tidur. Selimut yang semula menutupi tubuhnya meluncur turun, memperlihatkan bahunya yang sedikit menegang.Suasana kamar begitu sunyi. Namun kesunyian itu tidak bertahan lama.“Lady... Kau sudah bangun?” Suara itu datang dari samping, lembut namun cukup mengejutkan.Elyana menoleh. Sandy, pelayan pr
“Hah— hahaha...” Tawa Edward pecah tiba-tiba.Bukan tawa yang ringan, melainkan tawa yang terdengar retak, dipaksakan, nyaris seperti seseorang yang berdiri di tepi kewarasannya sendiri. Suara itu menggema di ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan, membuat udara yang sudah berat terasa semakin menekan.Alis Magnus langsung berkerut tipis. Ia tidak ikut tertawa. Tidak pula menunjukkan ketertarikan. Tatapannya tetap dingin, mengamati, menilai, seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi di balik tawa yang terdengar ganjil itu.“Yang Mulia Duke Magnus Valzaren...” Edward menarik napas sebelum melanjutkan, berusaha mengendalikan nada suaranya yang sempat goyah. “Keluargamu memang suka menyelesaikan semua masalah dengan jalan pembunuhan dan kudeta, ya?”Kalimat itu meluncur tajam, penuh sindiran yang tidak lagi disembunyikan.Magnus tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menatap Edward dengan dingin, tanpa sedikit pun rasa tersinggung
“Yang Mulia Duke Valzaren...” Edward mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Magnus, suaranya diturunkan, seolah takut dinding pun ikut mendengar. “Masalah ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masalahnya...”Kalimatnya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya suara detak jam tua di sudut ruangan yang terdengar, berdentang pelan namun terasa menekan dada.Edward menarik napas panjang, dadanya naik turun sebelum akhirnya melanjutkan, “Sebagai seorang bangsawan, kau sendiri tahu tentang tradisi debutante dan sebagainya.”Magnus tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam, seolah menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan. Lalu ia mengangguk pelan, rahangnya mengeras. “Aku mengerti! Kakakku juga menikah setelah melakukan debutante. Jadi... Ini memang perjodohan politik, ya?”“Tepat!” jawab Edward dengan tegas, mungkin sedikit terlalu cepat, seakan ingin segera mengakhiri pembahasan itu. Namun sorot matanya justru menunjukkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. “Jadi... Jika ki
"Soal kehidupan kedua..." Magnus berjalan masuk lebih dalam ke dalam kamar. Langkahnya tenang, namun ada sesuatu yang terasa berat di baliknya. Ia tidak langsung berbicara lagi, seolah memilih kata-kata yang tepat.Ruangan itu sunyi. Hanya suara langkah kakinya yang perlahan mengisi kekosongan. Dia kemudian berjalan ke sofa dalam kamar dan duduk di atasnya. Posisi duduknya santai, tetapi bahunya sedikit menegang, menandakan bahwa apa yang akan ia katakan bukanlah hal ringan."Duduklah, Yang Mulia Count!"Edward tidak membantah. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di sofa seberang Magnus. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, namun terasa seperti ada garis tak kasat mata yang membatasi.Tatapan Edward langsung mengunci Magnus. Tajam. Menekan. Tidak memberi ruang untuk kebohongan."Ceritakan saja pelan-pelan soal kronologinya! Tenang saja! Aku tidak akan menyela atau menghakimi sebelum kau selesai berbicara." Kalimat itu terdengar tenang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー