LOGINDituduh atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, Elyana harus menghadapi pengkhianatan paling kejam dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya sendiri. Di hari eksekusinya, ia mati tanpa sempat membela diri. Namun takdir memberinya satu kesempatan lagi. Tanpa disangka, ia bertemu dengan seseorang yang mengalami nasib serupa!
View More"Aku adalah putri tunggal dari Count Edward Arcelmont. Tentu saja aku berhak memutuskan siapa yang boleh masuk dan tidak!" jawab Elyana dengan tegas.Suaranya terdengar jelas di tengah ketegangan yang memenuhi area gerbang depan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya. Meski berdiri di hadapan seorang Duke wilayah Utara, Elyana tetap mempertahankan postur tegak dan tatapan lurusnya.Leon menatap Elyana beberapa detik tanpa berbicara. Tatapannya dingin, tajam, dan perlahan mulai dipenuhi sesuatu yang lebih gelap.Kemudian ia mengangkat sebelah alisnya tipis."Kau hanya seorang perempuan yang tidak bisa menuruti perkataan pria," jawabnya dengan sinis.Nada bicaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat beberapa pengawal di sekitar sana menegang. Bahkan beberapa pelayan yang tadi masih sibuk mengatur persediaan mulai menghentikan aktivitas mereka secara diam-diam.Tatapan Elyana langsung mengeras."Berhenti
Pagi kembali menerangi kerajaan Valtarian.Langit yang semula gelap perlahan berubah menjadi semburat keemasan. Cahaya matahari pagi menyapu dinding-dinding batu kediaman Arcelmont, memantulkan kilau lembut pada jendela-jendela besar dan pagar besi hitam yang mengelilingi area depan mansion bangsawan itu.Namun pagi kali ini jauh dari kata tenang.Suara derap kaki kuda memenuhi udara sejak fajar belum sepenuhnya tinggi. Pasukan berkuda dengan armor kerajaan berjajar rapi di halaman depan, membentuk barisan pengawal yang mengelilingi sebuah kereta kencana berwarna hitam dengan lambang keluarga kerajaan terukir megah di sisinya.Di belakangnya, beberapa kereta kuda lain memenuhi area halaman yang luas. Roda-roda besar mereka meninggalkan jejak di tanah, sementara para pelayan dan prajurit sibuk menurunkan karung gandum, peti makanan, benih tanaman, hingga pupuk dalam jumlah besar.Suasana sibuk itu dipenuhi suara perintah dan langkah kaki y
"Mungkin saja," jawab Elyana dengan santai.Ia melipat kembali surat di tangannya dengan rapi, lalu bangkit dari kursi di depan meja rias. Gaun panjangnya bergerak lembut mengikuti langkahnya saat ia berjalan meninggalkan kamar tanpa tergesa-gesa, namun cukup cepat untuk menunjukkan bahwa pikirannya sedang tertuju pada sesuatu yang penting."Aku ingin memberitahukan pada ayahku dulu!"Pintu kamar terbuka, lalu tertutup kembali sesaat setelah Elyana keluar. Suara langkah kakinya menggema pelan di sepanjang lorong kediaman Arcelmont yang luas dan sunyi. Di belakang sana, sang pelayan masih berdiri diam di tempatnya semula.Tatapannya kosong penuh kebingungan.Ia masih belum mampu mencerna bagaimana percakapan santai tadi bisa berubah menjadi pembahasan mengenai kejatuhan seorang Duke. Jantungnya bahkan masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.Sementara itu, Elyana terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.Wajah cantiknya tetap tenang, tetapi pupil birunya tampak hidup oleh se
Pelayan itu segera mengangguk, meski ada keraguan tipis yang sempat melintas di matanya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela dengan gerakan cepat namun tetap terjaga, seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasinya. Jemarinya meraih pengait jendela, lalu membukanya perlahan.Dan benar saja, seekor burung gagak berwarna hitam pekat melesat masuk tanpa ragu, sayapnya mengepak kuat sebelum akhirnya melambat di dalam ruangan yang hangat itu.Seperti biasanya, gagak itu sama sekali tidak memperhatikan keberadaan orang lain di dalam kamar. Tatapannya tajam dan terarah, seakan hanya mengenali satu tujuan. Ia melewati pelayan begitu saja, nyaris tanpa suara, lalu terus terbang lurus menuju sosok yang duduk di depan meja rias.Elyana.Burung itu menurunkan ketinggian dengan presisi yang mengagumkan, lalu mendarat dengan ringan di pangkuan Elyana. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan menolak. Elyana tetap duduk tenang, seolah hal itu adalah sesua
Musik perlahan mereda, lalu benar-benar berhenti. Suara alat musik yang tadinya mengalun lembut kini menghilang, digantikan oleh bisik-bisik halus para bangsawan. Itu adalah tanda yang jelas. Saatnya bertukar pasangan.Beberapa pasangan mulai berpisah dengan anggun, saling memberi hormat sebelum me
“Hah— hahaha...” Tawa Edward pecah tiba-tiba.Bukan tawa yang ringan, melainkan tawa yang terdengar retak, dipaksakan, nyaris seperti seseorang yang berdiri di tepi kewarasannya sendiri. Suara itu menggema di ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan, membuat udara yang sudah berat ter
“Yang Mulia Duke Valzaren...” Edward mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Magnus, suaranya diturunkan, seolah takut dinding pun ikut mendengar. “Masalah ini jauh lebih rumit dari yang terlihat. Masalahnya...”Kalimatnya menggantung di udara. Untuk sesaat, hanya suara detak jam tua di sudut ruanga
Mendengar itu, Elyana terkejut bukan main. Apa-apaan maksud pria itu? Ini sama sekali tidak ada dalam perjanjian mereka!Elyana melirik tajam ke arah Magnus. Sementara itu yang dituju hanya memasang wajah serius. "Permainan macam apa yang sedang kalian mainkan?" suara Edward menggelegar. Matanya m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews