MasukDituduh atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, Elyana harus menghadapi pengkhianatan paling kejam dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya sendiri. Di hari eksekusinya, ia mati tanpa sempat membela diri. Namun takdir memberinya satu kesempatan lagi. Tanpa disangka, ia bertemu dengan seseorang yang mengalami nasib serupa!
Lihat lebih banyak"Thalira..." Edward Arcelmont tersenyum hangat. "Kau adalah putri tunggal Marquess Redmond, wanita yang sangat berani. Untuk menolak menjadi selir Leon, kau memutuskan untuk berpenampilan seperti laki-laki dan menjadi kadet di barak militer." Kata-kata itu jatuh di ruang makan seperti gelombang yang perlahan menyapu keheningan.Beberapa orang yang duduk di meja saling melirik. Tidak semua dari mereka mengetahui cerita itu secara lengkap. Namun cara Edward menyampaikannya membuat kisah itu terasa jauh lebih besar dari sekadar rumor.Di sisi lain meja, Alianne sedikit tersentak. Gerakan mengunyahnya berhenti. Potongan kue yang masih berada di mulutnya seolah tiba-tiba kehilangan rasa. Matanya sedikit membesar, seolah baru menyadari sesuatu yang baru saja ia dengar.Pipi dan bibirnya masih kotor dipenuhi krim dan remahan kue. Pemandangan itu membuat kontras yang aneh dengan suasana serius yang sedang dibangun Edward."Dan kini..." Edward melanjutkan.
"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi.." Edward tersenyum hangat, tidak menyadari kekacauan kecil yang diciptakan oleh Alianne dan Caelum. "Silakan menikmati jamuan hidangan dari kami!" Edward merentangkan kedua tangannya dengan dramatis sambil terus tersenyum, mempersilakan semua orang untuk menyantap makanan yang tersaji di depan mereka.Gerakan itu seperti sebuah sinyal tak terlihat. Para tamu yang duduk di sepanjang meja panjang segera bersiap. Hampir semua orang melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan.Mula-mula, mereka semua mengambil celemek masing-masing. Kain pelindung itu diangkat dengan rapi, lalu bagian talinya diikatkan di belakang leher mereka. Beberapa orang menarik simpulnya lebih erat, memastikan kain itu benar-benar menutupi bagian depan pakaian mereka.Di kalangan bangsawan, makan malam bukan sekadar makan. Itu adalah ritual. Sebuah pertunjukan etiket. Tidak ada yang ingin pakaian mahal mereka ternodai saus atau remah makanan.Setelah itu, tangan-tangan terlatih m
"Yang Mulia, apa kau yakin di desa selanjutnya, kita akan didukung?" tanya Mariana yang duduk di dalam kereta kencana. Napasnya terdengar tidak teratur.Sejak meninggalkan desa sebelumnya, rasa takut yang menyelimuti dirinya belum juga hilang. Bayangan wajah-wajah rakyat yang memandang mereka dengan kebencian terus terlintas di benaknya.Tangannya yang berada di atas pangkuan gemetar pelan.Dia berusaha menenangkan diri, tetapi semakin mengingat apa yang terjadi sebelumnya, semakin sulit baginya untuk mengendalikan kepanikan yang muncul.Di hadapannya, Leon duduk dengan rahang mengeras.Wajahnya tampak tenang pada pandangan pertama, tetapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.Leon mengepalkan tangannya. Dengan kesal, dia memukul jendela bagian dalam kereta kencana. Suara benturan itu membuat Mariana tersentak."Sial! Tidak ada jaminan desa selanjutnya belum didatangi oleh Yang Mulia Ratu maupun Lady Elyana. Dua wanita busuk itu... Aku benar-benar tidak bisa membaca taktik m
"Apa lagi yang Yang Mulia Raja tuliskan dalam surat itu, Ayah?" tanya Elyana dengan penasaran. Rasa ingin tahunya semakin besar saat melangkahkan kaki memasuki ruang kerja sang ayah. Edward yang berdiri di dekat jendela mengangkat surat di tangannya."Yang Mulia mengatakan bahwa mereka semua sudah bersiap untuk melakukan pencitraan," jawab Edward, mengangkat surat di tangannya. "Sama seperti yang kau lakukan sebelumnya. Ini untuk menguatkan reputasi kita kepada masyarakat. Dan Yang Mulia sudah memberikan arahan serta pembagian wilayah desa mana yang akan kita kunjungi."Elyana mendengarkan dengan saksama. Sebenarnya, dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi cepat atau lambat. Namun, mengetahui bahwa Raja Aldren sendiri telah menyusun pembagian wilayah membuat kegiatan ini terasa jauh lebih serius daripada yang dibayangkannya.Edward mengulurkan surat ke arah Elyana.Elyana dengan senang hati menerimanya.Pandangan matanya segera menelusuri tulisan tangan Aldren yang rapi dan t
Mata Mariana membulat, keterkejutannya tidak bisa disembunyikan lagi. Langkah kakinya sempat terhenti sepersekian detik, meski tangan Leon masih menariknya untuk terus berjalan."Apa itu artinya... Tuan Tabib adalah satu-satunya tabib yang melayani keluarga Gabriellion sejak lama? Selain
"Uhuk! Uhuk!"Batuk Nico kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya. Tubuh renta itu sedikit membungkuk, tangannya mengepal di depan mulut untuk menahan suara batuk yang tak terkendali. Bahunya bergetar, napasnya tersendat, seolah setiap hembusan udara menjadi perjuangan tersendiri."Yang Mulia..."
"Te- tentu saja tidak, Yang Mulia!" jawab Mariana. Suaranya bergetar, tidak mampu menyembunyikan kepanikan yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan, terutama saat ia menyadari tatapan Leon yang menembus dirinya tanpa ampun.Melalui p
Edward mengerutkan alisnya, garis-garis halus di dahinya semakin dalam. Tatapannya tertuju pada Elyana, menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan putrinya. "Kenapa kau mengambil kesimpulan sejauh itu? Yang Mulia Raja hanya dekat dengan seorang gadis. Bisa saja ada hal-hal yang membuat keputus












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan