Ibu yang Cerdik

Ibu yang Cerdik

last updateLast Updated : 2026-05-19
By:  DaralistUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
25Chapters
341views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sarah Dimitri mulai merasa tenang setelah menetap 5 tahun di pinggiran kota. Namun, itu juga awal dari semua masalah ketika putranya mengalami ancaman. Untuk melindungi diri dan juga putranya, Sarah mau tidak mau kembali ke pekerjaan lamanya. Sarah tidak tahu bahwa semakin dia kembali ke masa lalu yang dia hindari, semakin besar pula kemungkinan dia tidak bisa lagi bersembunyi. Terutama ketika identitas ayah dari putranya yang dia tidak ketahui identitasnya di masa lalu, justru membuatnya tidak lagi bisa mendapatkan ketenangan yang dia harapkan.

View More

Chapter 1

001 || Mereka itu Mengenal Ibu

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Pertanyaan itu membuat seorang anak laki-laki dengan perawakan sekitar 10 tahun itu tersentak. Dengan sedikit ragu, dia berbalik.

Anak itu kemudian berbisik lirih dengan kepala tertunduk, “Ibu ….”

Sarah mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Dion bertingkah seperti itu.

“Bukankah seharusnya kau sudah sampai di rumah lebih dulu?” tanya Sarah lebih lanjut.

Sarah kemudian mendekati anaknya dengan membawa keranjang sayur kecil di tangan kirinya. Namun, mata Sarah melebar saat melihat wajah anaknya dari dekat.

“Dion, apa yang terjadi denganmu?!” Sarah menjatuhkan keranjang di tangannya ke tanah.

Dia juga buru-buru memegang wajah putranya itu dengan raut wajah cemas. “Kenapa kamu jadi begini?!”

Setelah Sarah melihat wajah Dion dengan seksama, barulah dia menyadari wajah lesu putranya. Badannya juga basah kuyup, bahkan rambutnya pun masih lembab.

Dion tidak menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi bingung untuk menceritakan semuanya. Dia juga takut ibunya menjadi cemas dan khawatir berlebihan.

Tapi tetap saja, perkataan para preman yang menyiramkan air kotor dan juga memukulnya saat itu mengetahui semua tentang dia dan juga ibunya.

“Dion, kenapa kamu tidak menjawab?” tanya Sarah sekali lagi saat melihat Dion yang masih diam tertunduk, seolah tidak berani melihat ke arahnya.

“Apakah kamu berkelahi dengan teman-temanmu seperti sebelumnya?” tebak Sarah.

Sikap Dion memang pendiam, tapi dia akan menjadi ganas jika orang lain menyinggung ibunya. Sarah sudah beberapa dipanggil pihak sekolah terkait hal itu. Jadi, Sarah pikir ini juga tentang emosi sesaat putranya yang tidak bisa dibujuk.

Lama menjawab, tapi pada akhirnya Dion hanya menggeleng pelan.

Sarah hanya bisa menghela napas pasrah, “Kalau begitu ayo kita pulang dulu. Setelah makan, kau bisa menceritakannya pada ibu.”

Sarah kemudian menggenggam tangan Dion, berniat menariknya untuk pulang. Namun, Dion justru menahan diri, sampai membuat Sarah mengernyit bingung menatapnya.

“Apakah ada sesuatu yang lain?”

Perasaan Sarah menjadi tidak enak. Jika hanya masalah pertarungan anak-anak, Dion sudah sering melakukannya. Tidak akan membuat dia menjadi diam seperti ini.

Sebuah tebakan liar membuat Sarah menjadi waspada, “Dion, apakah itu bukan perkelahian dengan temanmu seperti sebelumnya?”

Dion masih diam tidak menjawab. Bahkan kali ini ada setitik keringat dingin yang membuatnya tidak mau menjawab sama sekali.

“Dion, lihat ibu!” Sarah memberi perintah dengan dingin.

Dion tersentak dan tanpa sadar melihat langsung ke mata ibunya. Wajah khawatir itu masih ada di sana, tapi itu juga diiringi dengan rasa dingin yang familiar baginya.

“Kau mau mengatakannya atau tidak?!”

Cengkeraman Sarah pada pergelangan tangan Dion menguat, membuat Dion merasa sakit.

“Ini bukan perkelahian seperti sebelumnya,” ujar Dion dengan lirih.

Dia juga melirik ibunya dengan takut-takut, “Ada beberapa preman yang menghalangiku saat pulang sekolah tadi. Dia bilang, dia kenal ibu dan ingin bertemu dengan ibu. Tapi … mereka juga melakukan hal-hal ini padaku.”

“Preman yang kenal ibu?” tanya Sarah memastikan.

Dion mengangguk pelan.

Mata Sarah berputar liar, mengingat setiap langkah yang dia lakukan beberapa waktu ini. Namun, sebanyak apapun dia berpikir, dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.

Preman mana yang mengetahui identitasnya yang telah dia ubah selama sepuluh tahun ini?!

Sarah tidak bisa lagi tenang menghadapi ini.

“Ayo kita pulang dan berkemas!”

Sarah menarik tangan Dion, atau lebih tepatnya menyeret Dion sampai anak itu kewalahan mengikuti kecepatan ibunya.

Sarah tidak peduli dengan hal lain. Selama lima tahun terakhir hidupnya telah tenang. Sebelum ketenangan itu, dia selalu berpindah untuk menipu orang-orang yang tengah mencarinya penuh teliti.

Saat dihadapkan pada kenyataan preman yang mengenalnya, jelas bahwa tempat ini tidak lagi aman untuknya maupun putranya.

Dion memperhatikan sang ibu yang memasukkan barang-barang dengan cepat dan teliti ke dalam tas ransel, bukan koper. Kenangan masa kecil yang tidak nyaman itu kembali mengusik Dion. Dia sudah nyaman di sini, kenapa ibunya malah mau pindah lagi?

“Dion, kemasi barangmu juga. Bawalah pakaian dan barang-barang yang diperlukan saja,” titah Sarah sambil melemparkan tas ransel yang pas untuk Dion.

“Ibu, kita mau ke mana lagi?” tanya Dion sambil mengemasi barangnya setelah mendengar perintah itu.

Dulu Dion terbiasa berpindah-pindah, tapi kini dia mulai merasa tidak nyaman saat membayangkan harus beradaptasi di tempat baru.

“Ikut ibu saja. Preman itu jelas sedang menargetkan kita,” balas Sarah sembari mengeluarkan ponsel usang yang tersembunyi di bawah kasurnya.

Dion justru menegang mendengar penjelasannya, “Preman itu menargetkan kita?”

Meski usianya baru sepuluh tahun, Dion sudah bisa menebak apa yang terjadi pada ibunya. Mungkin musuh ibu di pasar yang tidak ingin hidup ibunya tenang. Sebab ibu paling bisa berjualan hingga mendapatkan untung banyak.

Hanya itu yang Dion tahu. Namun, Sarah tidak menjelaskan apapun pada putranya itu.

Mereka berdua tinggal di rumah rusun pinggir kota. Setelah berkemas, bergegas turun dari lantai empat untuk pergi menuju bus tak jauh dari tempat rusun itu berada.

Sayangnya, para preman yang menghadang Dion itu juga memperhitungkan pelarian Sarah. Mereka sengaja mengikuti Dion, tetapi Dion tidak kembali ke rumah dan justru berdiri di pinggir jalan, membuat mereka kesal dan meninggalkannya.

Ketika mereka kembali, saat itulah Sarah baru keluar dari rusun itu sambil membawa ransel dan juga Dion yang dia pegang tangannya.

“Hei, mau ke mana kalian?!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Onigiri
Onigiri
Semangat upヾ(^-^)ノ
2026-03-27 08:08:23
1
0
Papa Buaya
Papa Buaya
Lanjut update dong thor
2026-03-27 03:15:37
1
0
25 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status