Short
Ela Afundou com o Amor

Ela Afundou com o Amor

By:  Nove em ChamasCompleted
Language: Portuguese
goodnovel4goodnovel
11Chapters
2.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Agatha Diniz era apenas uma bolsista pobre, apadrinhada por Manfredo Borges. Mas ela buscava mais do que caridade — ela queria adrenalina. Mergulhou com um grupo de homens no mar e, entre beijos e toques, começou a sangrar. A corrente arrastou o sangue e um tubarão apareceu. Fui eu quem a salvei, arriscando a vida para tirá-la da água. Disse apenas que ela devia procurar um médico. Ela sorriu, concordou, e, no minuto seguinte, correu até Manfredo, chorando, dizendo que eu havia manchado sua honra. Na fúria, ele me jogou viva dentro de um tubarão gigante ainda consciente. Enquanto eu gritava e socava o ventre da criatura, pescadores horrorizados imploravam: — Senhor, por favor! A sua esposa vai morrer! Ele apenas riu, abraçado à garota: — Dizem que dá pra viver um mês dentro de um peixe. Ela não ama tanto os tubarões? Que vire parte da pesquisa. Na escuridão, com o corpo preso e a alma dilacerada, acariciei minha barriga. Sussurrei ao meu bebê: — Filho, a mamãe não vai conseguir te proteger. Um mês depois, Manfredo voltou. Mas encontrou, na areia… apenas um esqueleto, embranquecido pelo sal e pelo tempo.

View More

Chapter 1

capítulo 1

Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, menatap bus antar-kota yang sesekali lewat menuju pusat keramaian.

"Lihat itu si Satrio," bisik Bu Darmo pada tetangga sebelahnya saat mereka berpapasan di pasar desa. "Anak kuli tani saja gayanya mau kuliah di kota. Paling-paling cuma jadi gelandangan di sana. Harusnya dia tahu diri, orang tuanya saja makan susah, kok mau sok-sokan gaya orang kaya."

Satrio mendengar itu. Ia meremas tali karung di pundaknya hingga ujung jarinya terasa perih, namun ia tidak menoleh. Hinaan bukan hal baru baginya. Teman-teman sebayanya yang memilih merantau menjadi buruh kasar sering mengejeknya saat nongkrong di pos ronda.

"Kuliah itu buat orang yang punya duit, Rio! Lo mau makan apa di Jakarta? Makan buku? Mending ikut gue ke pelabuhan, jelas dapet duitnya," ujar salah satu temannya sambil tertawa meremehkan.

Malam itu, di dalam rumah berdinding bambu yang hanya diterangi lampu temaram, Satrio duduk di hadapan kedua orang tuanya. Di atas meja kayu yang sudah reot, terdapat sebuah amplop kumal berisi uang hasil tabungan bertahun-tahun ayahnya sebagai kuli panggul dan ibunya yang berjualan jamu keliling.

"Bapak dan Ibu cuma punya ini, Rio," suara ayahnya berat, penuh kelelahan namun ada binar kebanggaan. "Ibu tidak ingin kamu seperti kami. Kamu pintar, gurumu bilang kamu anak paling tekun. Pergilah ke kota, kejar mimpimu jadi ahli komputer itu."

Ibu Satrio mengusap kepala putranya dengan tangan yang kasar karena kerja keras. "Jangan dengerin apa kata orang, Nak. Mereka bisa menghina kemiskinan kita, tapi mereka tidak bisa mencuri semangatmu. Ibu akan selalu mendoakanmu di setiap sujud Ibu."

Air mata Satrio hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan pengorbanan ini sia-sia. Dengan hanya membawa satu tas ransel berisi beberapa potong pakaian dan laptop bekas yang ia beli dari hasil kerja serabutan, Satrio melangkah keluar dari desa.

Saat kakinya menginjak terminal bus yang bising dan asing, ia tidak merasa takut. Ia hanyalah pemuda desa yang lapar akan keberhasilan. Ia tidak peduli jika dunia memandangnya sebelah mata karena penampilannya yang bersahaja. Ia punya kegigihan yang tidak dimiliki orang lain.

Setibanya di kota, Satrio berhasil menembus gerbang Universitas Nasional (UNAS), kampus impian yang selama ini hanya ia lihat di brosur kumal. Namun, euforia itu segera berbenturan dengan kenyataan pahit. Di hari pertama orientasi, Satrio berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang tampil modis dengan ponsel terbaru dan kendaraan mewah. Sementara itu, Satrio hanya mengenakan kemeja putih lusuh yang kerahnya sudah mulai menguning dan sepatu kets yang solnya hampir lepas.

"Lihat tuh, anak baru dari planet mana? Bajunya bau matahari banget," bisik seorang mahasiswi sambil menutup hidung saat Satrio lewat.

Tak ada seorang pun yang mau duduk di sebelahnya di kantin. Tak ada grup seangkatan yang mengajaknya bergabung. Satrio menjadi sosok yang "tak terlihat" sekaligus sasaran empuk pandangan sebelah mata. Saat kerja kelompok, ia seringkali dikucilkan karena dianggap tidak akan sanggup iuran untuk sekadar nongkrong di kafe mahal.

Namun, Satrio tidak membiarkan hatinya patah. Setiap kali rasa rendah diri menghampiri, ia teringat wajah ibunya yang memeras jamu dan punggung ayahnya yang membungkuk memikul padi.

"Kalian boleh nggak lihat aku sekarang, tapi kalian bakal liat namaku di daftar lulusan terbaik nanti," batinnya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sering melorot.

Hidup di kota ternyata jauh lebih mahal dari dugaannya. Kiriman uang dari desa yang dikirim ibunya hanya cukup untuk membayar uang kuliah semesteran. Untuk bertahan hidup, Satrio membuang rasa malunya jauh-jauh. Di siang hari, ia adalah mahasiswa IT yang tekun di barisan kursi paling depan. Di malam hari, ia berubah menjadi buruh cuci piring di sebuah warung tenda pinggir jalan atau buruh angkut di pasar induk hingga dini hari.

Terkadang, ia hanya makan satu kali sehari dengan menu nasi putih dan kecap agar bisa membayar biaya kosan petak yang sempit dan pengap. Di kamar itulah, dalam kelelahan yang luar biasa, Satrio tetap menyalakan komputer bekasnya, belajar bahasa pemrograman secara otodidak hingga matanya merah.

Tiga tahun kemudian, kegigihan itu membuahkan hasil, indeks prestasinya selalu sempurna. Dosen-dosen mulai mengenali namanya bukan karena penampilannya yang sederhana, melainkan karena logikanya yang tajam dalam memecahkan algoritma rumit. Hingga akhirnya, berkat rekomendasi salah satu dekan yang kagum pada kerja kerasnya, membawanya menjadi mahasiswa tingkat akhir yang berhasil mendapatkan kesempatan emas: program magang di Shine Group, sebuah perusahaan elektronik dan properti raksasa di pusat kota. 

Satrio tetaplah Satrio yang polos dan jujur, sampai akhirnya takdir membawanya ke lantai 9, tepat di hadapan seorang pria bernama Aizar, sosok berpengaruh dari keluarga miliarder yang membuat banyak wanita tak bisa menahan godaan tatkala melihat pesona dalam dirinya. Pertemuan itulah akan mengubah garis hidup Satrio dan mengakhiri masa-masa penghinaannya selamanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status