Beranda / Fantasi / Elang, si Dewa Medis / 63. Aku Ingin Elang Ditangkap!

Share

63. Aku Ingin Elang Ditangkap!

Penulis: Zila Aicha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 17:17:44

Anak buah yang tersisa itu tidak berani menjawab, hanya menunduk dalam diam dan berharap bosnya akan berbaik hati kepadanya.

Namun, harapannya menjadi debu begitu Cakra berkata, “Kalau kau tidak ada gunanya untukku, mati saja kau!”

Sebelum pria yang berharap akan diampuni oleh bosnya itu mendongak, dia telah mendengar suara letusan tembak yang ternyata berasal dari senjata Cakra yang diarahkan kepadanya.

Seketika dia pun kehilangan nyawanya.

“Singkirkan mayat menjijikkan ini dari sini!” Cakra memerintah pada pengawalnya.

Dia menatap mayat anak buahnya itu dengan tatapan terganggu, seolah mayat itu adalah sampah yang tidak berharga yang harus disingkirkan.

Setelah itu dia lanjut berkata, “Rendra.”

Rendra mengangguk patuh, “Ya, Tuan?”

"Aku ingin Elang ditangkap. Sekarang juga!" Cakra memerintahkan dengan nada yang tidak bisa ditolak.

"Baik, Tuan," jawab Rendra, lalu dia mulai mengatur beberapa pengawal yang memiliki kemampuan yang jauh lebih bagus dibandingkan pengawal-pengawal sebelumn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Elang, si Dewa Medis   74. Berubah Menjadi Kaya?

    Gadis cantik yang mengenakan blazer berwarna merah dan juga sepatu yang warnanya sama itu tertawa keci menanggapi semua perkataan sepasang kekasih itu.Lora Armani yang berusia 23 tahun itu pun kemudian menanggapi dengan senyuman yang merekah di bibirnya, “Tapi … sayangnya itu benar, Nona. Mobil itu merupakan salah satu mobil yang dimiliki oleh Elang. Dia … baru membelinya beberapa hari yang lalu.”Elang mengernyitkan dahi.Yasa baru membeli mobil itu dan sekarang meminjamkannya kepadaku? Apa dia tidak salah? pikir Elang bingung.Tapi rupanya Yasa memang tidak meminjamkan mobil itu kepadanya.Lora dengan santai menjelaskan, “Kalau kalian tidak percaya. Aku bisa menunjukkan dokumen resmi mobil ini yang atas nama kekasihku yang tercinta ini.”Elang terkejut luar biasa dan kini memahami bahwa Yasa memang sengaja membelikan mobil itu untuknya.“Itu … bagaimana bisa?” Bryan menata tak percaya sembari mengagumi betapa mewah dan kerennya mobil itu.Bahkan setelah dia melihat seorang sopir pr

  • Elang, si Dewa Medis   73. Tidak Mungkin!

    “Oh, Sayang. Kamu ini … benar-benar sangat baik sekali.” Lora berkata dengan penuh kelembutan dan sedikit nada manja. “Aku benar-benar beruntung sekali memilikimu, Sayang,” lanjut Lora dengan senyuman manis menghiasi bibir mungilnya yang merah merona.Bryan yang melihatnya menjadi begitu sangat iri. Terlebih lagi gadis yang berdiri dekat Elang itu benar terlihat begitu sangat mulus seperti seorang artis yang memiliki perawatan yang bagus. Sarah jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita itu. Bryan benar-benar merasa kesal.Dia bahkan mulai terheran-heran mengapa gadis secantik dan semudah itu bisa dekat dengan Elang.“Nona, kau ini ….”Lora sontak memutar arah pandangnya dan menatap dengan tatapan penuh tanya ke arah Bryan yang telah terpesona kepadanya dan juga Sarah yang wajahnya sudah tertekuk karena kesal.“Sayang, siapa mereka ini? Apa … mereka teman-temanmu, Sayang?” Lora bertanya tanpa melepaskan tangannya dari tangan Elang.Bryan melirik ke arah tangan putih Lora dan s

  • Elang, si Dewa Medis   72. Siapa Pria Miskin Ini?

    Mata Sarah yang begitu cantik itu melebar dengan sempurna begitu mendengar cara Elan menjelaskan hubungan mereka berdua dulu.Sedangkan orang yang dipikir Elang merupakan kekasih Sarah itu sontak menoleh ke arah Elang yang sedang berdiri dengan begitu santainya.Pria yang berpenampilan begitu rapi lengkap dengan dasinya yang menghiasi setelan jas mewahnya itu pun menghardik Elang, “Heh, jangan mengada-ngada! Wanita cantik seperti Sarah ini tidak akan mungkin mau berpacaran denganmu. Dasar miskin!”Elang tertawa kecil menanggapi itu, “Faktanya kami memang pernah bersama walaupun hanya sebentar. Kalau kau tidak percaya aku bahkan memiliki buktinya.”“Lang, cukup!” Sarah berteriak dengan wajah merah. Wajahnya yang memerah itu bukan menandakan bahwa dirinya sedang begitu malu, tapi justru sebaliknya wanita cantik itu terlihat sangat marah setelah Elang mengatakan hal yang menurutnya amat memalukan itu.“Kenapa, Sarah? Kamu tidak mau mengakui hubungan kita di depan kekasih barumu ini ya?

  • Elang, si Dewa Medis   71. Tidak Perlu, Nona!

    Karena Harris masih terdiam saja, Elang pun kembali berbicara, “Oh, jadi memang itu diperlukan ya.”“Baiklah, itu sama sekali tidak masalah,” Elang berkata dengan nada santai. Dia lalu berkata, “Lora.”Lora, sang asisten cantik yang memang menunggu dengan tidak sabar untuk menjalankan tugas pertamanya itu pun menyahut, “Ya, Tuan. Apa yang Anda perlukan?”Harris yang mendengar bagaimana cara gadis cantik itu berbicara kepada pemuda yang dia anggap miskin itu semakin bingung. Hanya dalam satu kalimat saja dia langsung mengerti bahwa gadis itu terlihat sedang berbicara dengan sopan kepada bosnya. Jadi, pemuda yang terlihat lusuh ini adalah orang kaya? Tapi, mengapa dia berpenampilan seperti orang miskin seperti itu? Harris berkata dalam hati. Lora yang menyadari ekspresi aneh Harris itupun segera berkata, “Tuan, jika Anda tidak keberatan maka saya akan menunjukkan-”“Tidak perlu, Nona. Itu … sama sekali tidak perlu,” Andrew buru-buru berkata untuk mengambil tugas Harris.“Maafkan kam

  • Elang, si Dewa Medis   70. Bukankah Itu Pengemis Tadi?

    Yandra tidak berlama-lama mengerjakan tugasnya itu dan lelaki itu hanya membutuhkan waktu sebanyak tiga menit saja untuk memberikan instruksi bagi dua orang yang akan dikirim ke Green Rose untuk menemani Elang.Setelahnya pria itu kembali ke ruangan Yasa dan siap berbicara dengan tuannya lagi.“Tuan, saya telah mengerjakan perintah anda,” Yandra melapor. Yasa yang sedang menandatangani sejumlah dokumen itu mengangguk lalu segera meletakkan penanya. “Yandra, bagaimana perkembangan Cakra Buana? Apa dia masih mengganggu Elang?” Yasa bertanya. Yandra yang ditanya tentang masalah itu pun segera mengerutkan kening. “Tuan, Tuan Elang masih diganggu oleh Cakra Buana, tapi … sejauh ini dia masih belum membutuhkan bantuan kita. Dia bisa mengatasinya dengan mudah.”Yasa manggut-manggut. Dia pun mulai berpikir dengan serius. Selama ini dia hanya meminta beberapa anak buahnya yang dikirimkannya untuk mengawasi Elang. Hal itu dikarenakan dia tahu bahwa kemampuan Elang sudah begitu meningkat pe

  • Elang, si Dewa Medis   69. Cepat Pergi dari Sini!

    Satpam bernama Harris itu mendengus kesal, “Heh, Bocah. Berhenti bermain-main! Aku bisa menendangmu kalau aku sudah tidak tahan lagi.“Ayo! Cepat pergi dari sini!” usir Harris.Elang menatap dengan tangan mengepal.“Aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk bercanda denganmu,” kata Harris yang hendak pergi dari hadapan Elang tanpa mengetahui Elang yang mulai terlihat marah.Tapi, Elang tidak mau menyerah begitu saja dan dengan cepat berkata, “Pak, saya tidak ingin mengajak Anda bercanda. Saya sungguh-sungguh ingin membeli gedung di area ini karena saya berniat untuk membangun sebuah-”Harris yang terlihat jengkel itu pun menoleh ke arah pemuda kurus yang terlihat berantakan itu. “Anak muda, kau pikir berapa harga gedung di kawasan elit ini? Di kawasan C saja harganya mencapai 20 miliar rupiah. Kau pikir … itu jumlah uang yang sedikit? Bahkan … aku sangat yakin satu juta rupiah pun kau tak memilikinya.”Dia tertawa mengejek lalu menggelengkan kepalanya seakan menganggap Elang adalah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status