Home / Fantasi / Elang, si Dewa Medis / 62. Apa Kalian Bodoh?

Share

62. Apa Kalian Bodoh?

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2025-12-27 06:23:41

Cakra yang semula menampilkan ekspresi masam itu tiba-tiba saja tersenyum miring.

“Wah! Dia benar-benar datang di waktu yang tepat.”

Pandu menelan ludah, seolah tahu apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Sementara Rendra hanya bisa menahan napas.

“Apa Anda ingin menemuinya di sini, Tuan?”

“Tidak. Hotel Sky Line. Pesan semua kamar di satu lantai,” Cakra memerintah dengan nada dingin.

“Baik, Tuan,” sahut Pandu.

Pria itu langsung ke luar dari kamar Cakra sementara Rendra langsung berkata, “Saya akan menyiapkan beberapa pengawal, Tuan.”

“Hm.”

Daiva gemetar di saat sang asisten pribadi Pandu mengantarnya ke Hotel Sky Line. Tidak perlu bertanya, dia tahu apa yang akan terjadi kepadanya.

Dia menunggu di dalam kamar mewah itu dengan begitu gugup.

“Tahan saja, Daiva! Lagipula, dia bisa memberimu banyak uang dan … karir modelmu juga bisa semakin naik berkat dia,” ujar Daiva pada dirinya sendiri.

Maka, gadis itu pun hanya bisa diam. Dia telah berganti kostum sesuai dengan keinginan Cakra.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Elang, si Dewa Medis   69. Cepat Pergi dari Sini!

    Satpam bernama Harris itu mendengus kesal, “Heh, Bocah. Berhenti bermain-main! Aku bisa menendangmu kalau aku sudah tidak tahan lagi.“Ayo! Cepat pergi dari sini!” usir Harris.Elang menatap dengan tangan mengepal.“Aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk bercanda denganmu,” kata Harris yang hendak pergi dari hadapan Elang tanpa mengetahui Elang yang mulai terlihat marah.Tapi, Elang tidak mau menyerah begitu saja dan dengan cepat berkata, “Pak, saya tidak ingin mengajak Anda bercanda. Saya sungguh-sungguh ingin membeli gedung di area ini karena saya berniat untuk membangun sebuah-”Harris yang terlihat jengkel itu pun menoleh ke arah pemuda kurus yang terlihat berantakan itu. “Anak muda, kau pikir berapa harga gedung di kawasan elit ini? Di kawasan C saja harganya mencapai 20 miliar rupiah. Kau pikir … itu jumlah uang yang sedikit? Bahkan … aku sangat yakin satu juta rupiah pun kau tak memilikinya.”Dia tertawa mengejek lalu menggelengkan kepalanya seakan menganggap Elang adalah

  • Elang, si Dewa Medis   68. Saya Bukan Pengemis!

    Rendra yang kebingungan pun langsung balik bertanya, “Apa maksudmu? Bukankah Gilang telah menolaknya?”“Apa … dia sekarang berubah pikiran?” Rendra menambahkan.Arman mendesah pelan dan kemudian mulai menjelaskan, “Ah, begini. Yang menolak tawaran itu adalah Gilang. Saya … sebenarnya sangat ingin mengambil tawaran itu. Jadi … bisakah kita memulai kerjasama itu lagi?”Tentu saja hal ini membuat Rendra semakin bingung.“Tunggu dulu. Aku benar-benar bingung. Gilang itu adalah bos kalian. Apa-”“Sekarang tidak lagi, Tuan. Gilang sudah mundur dari pimpinan kelompok kami dan saat ini sayalah yang menjadi ketuanya,” Arman menjelaskan dengan tidak sabar seakan-akan dia tidak ingin membalas masalah Gilang.Hal itu dipahami oleh rendra dengan begitu baik dan pria itu mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada temannya itu. Akan tetapi, dia berpikir bahwa masalah internal kelompok bukanlah urusannya. Dj memiliki urusan sendiri dan harus segera diselesaikan. “Bagaimana, Tuan? Apakah

  • Elang, si Dewa Medis   67. Gunakan Otakmu Sedikit Saja!

    Gilang terkejut mendengar nada suara yang dipenuhi oleh ejekan yang dilontarkan oleh Arman.Dia seperti sedang dihantam oleh pukulan yang besar yang sulit untuk dihadapi dan dia tangkis. Semuanya terjadi secara tiba-tiba tanpa sebuah peringatan. Sekalipun dia tidak pernah mengira bahwa Arman akan mengkhianatinya seperti itu. Dia berpikir bahwa dia dan Arman akan menjadi teman sejati yang hanya akan dipisahkan oleh kematian. Namun, rupanya uang telah membutakan hati Arman sepenuhnya. Pria muda itu bahkan tidak lagi menganggapnya sebagai seorang teman melainkan seorang lawan yang telah membuatnya rugi. “Kenapa kau diam saja, Gilang?” Arman kembali bertanya pada Gilang yang terlihat agak linglung. Melihat ekspresi Gilang, Arman sontak tertawa sinis, “Oh, sepertinya kau masih mengira bahwa dirimu itu adalah seorang pemimpin kelompok The Black Knight yang akan didengarkan oleh semua anggota kelompok ini.”Gilang hanya menatap kosong ke arah temannya itu, tidak lagi mengenali Arman. Dia

  • Elang, si Dewa Medis   66. Kau Sangat Keterlaluan!

    Arman sontak girang luar biasa mendengar tawaran Rendra yang begitu menggiurkan itu.Sepuluh kali lipat itu artinya mereka akan mendapatkan uang sekitar sepuluh miliar rupiah.Jumlah itu tentu saja luar biasa banyak untuk mereka. Matanya pun berbinar-binar memikirkan mereka akan mendapatkan uang sebanyak itu.Arman pun sangat yakin bahwa bosnya tidak akan mungkin membiarkan uang sebanyak sepuluh miliar itu lewat begitu saja dari dirinya.Sebab, dia pun tahu bahwa Gilang adalah seorang pecinta uang dan rela melakukan apapun demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Akan tetapi, ternyata jawaban Gilang di luar dugaan Arman.Dengan tegas Gilang berkata, “Simpan saja uang kamu. Aku tidak akan mengerjakan hal itu.”Dagu Rendra hampir terjatuh dari tempatnya. Dia telah mengenal Gilang cukup lama dan tahu bahwa pemuda itu tergila-gila pada uang. Dia akan melakukan apapun demi uang. Tapi, jawaban Gilang kali ini membuatnya sedikit agak bingung apakah dia sedang berbicara dengan orang yang sama

  • Elang, si Dewa Medis   65. Aku Tidak Mau!

    Namun, kenyataan telah menamparnya dengan keras.Elang Viscala, pria muda yang kurus, dianggapnya sangat lemah dan mudah ditindas itu ternyata benar-benar sangat kuat. Dia yang bahkan memiliki ilmu bela diri yang tinggi pun dengan mudah bisa dikalahkan olehnya.Sungguh dia luar biasa terhina atas kekalahan yang diterimanya. Diam-diam dia bersumpah akan mengalahkan pemuda itu entah kapan. Dia tahu saat ini dia jelas memiliki kemampuan yang jauh lebih rendah daripada Elang, tapi dia yakin dalam beberapa bulan setelah dia berlatih keras dia pasti akan sanggup menjatuhkan lawannya itu.Dan kali ini dia hanya harus menerima kekalahannya meskipun begitu pahit. Usai Elang meninggalkan area itu, Gilang dengan susah payah duduk lalu disusul oleh Arman yang juga terluka sama parahnya dengannya. “Bos, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” Arman bertanya dengan kening mengerut.Arman yang melihat Gilang kebingungan itu pun kembali menambahkan, “Kita sudah menerima uang dari Rendra. Kita

  • Elang, si Dewa Medis   64. Persetan denganmu!

    Gilang pun tertawa lagi. “Aku juga tidak percaya rasanya. Pemuda itu kurus banget. Angin besar pun bisa meniupnya dengan mudah. Fiuuhhhh.”Pria muda itu mempraktekkan hal itu layaknya sedang meniup sesuatu. Para anak buahnya juga ikut tertawa bersamanya. Mereka semua terus menertawakan penampilan Elang di foto yang dikirimkan oleh Rendra itu.Beberapa saat berlalu, akhirnya mereka melihat Elang keluar dari apartemen. Gilang dan Arman langsung berhenti tertawa. Kedua orang itu saling lempar pandang lalu menatap Elang dengan tak percaya.Elang memang sangat kurus, bahkan jauh lebih kurus dari di foto yang Gilang terima. Dia hanya mengenakan pakaian sederhana dan tidak terlihat seperti orang yang bisa melawan mereka.Gilang dan Arman saling menatap, benar-benar merasa sangat dipermainkan oleh Rendra. Tapi mereka tidak bisa mundur sekarang, mereka harus melakukan tugas mereka karena mereka telah menerima upah yang begitu besar.Gilang mengambil napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status