LOGINElang, seorang yang berprofesi sebagai pelayan biasa di sebuah restoran, tiba-tiba saja diculik oleh orang yang tidak diketahui dan dipukuli secara brutal. Setelah tidak berdaya, dia dilempar ke tengah jalan di saat hujan turun deras. Saat dirinya merasa akan mati akibat rasa sakit di tubuhnya, terutama di bagian punggungnya yang semakin menjadi-jadi, ternyata dia diselamatkan oleh salah seorang pebisnis terkaya di negeri itu. Yang lebih mengejutkan lagi, dia diberitahu jika dia kemungkinan besar adalah pewaris ilmu raja naga yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
View More“Bos, kami sudah membawa pelayan itu di depan!”
Seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah sofa dengan nyaman sambil menghisap rokok premium pun menyeringai, “Bawa tikus got itu masuk!”
“Baik, Bos.”
Hanya dalam enam detik, seseorang yang tadi diberikan perintah berjalan masuk kembali.
Namun, kali ini dia tidak sendirian. Tapi, ada seorang pria lain dengan seragam hitam yang sama seperti dirinya ikut bersama dengannya untuk membantunya menyeret seorang pria lain.
Tangan pria itu diikat dengan kuat, sedang matanya ditutup dengan kain hitam pekat. Dia pun dipaksa duduk di lantai, tepat di depan seorang pria dengan ekspresi wajah sedingin es.
Pria yang terikat itu meronta, berusaha melepaskan diri. Sayangnya, usahanya hanya berakhir dengan kegagalan. Tubuhnya yang kurus tidak mampu melawan dua orang yang memegangnya dan menekannya dengan kuat agar tidak bisa bergerak.
Pada akhirnya dia terpaksa membuang keinginannya untuk membebaskan diri dan diam dengan putus asa.
Siapa orang-orang ini? Mengapa menculikku? Apa aku telah menyinggung seseorang? pikir pria yang memakai kemeja putih tapi telah ternoda di banyak bagian.
Sementara itu, pria dingin yang dipanggil “Bos” itu mengamati pria terikat dengan seksama sebelum akhirnya mendengus kesal, “Benar-benar kaum rendahan ternyata!”
Begitu mendengar suara dari orang yang mungkin telah melakukan penculikan terhadapnya, pria dengan tangan terikat itu kembali memberontak.
“Biarkan dia bicara!” suara dominan kembali memberi perintah.
Pria lain di dalam ruangan itu segera melepaskan plester yang menutupi mulut pria itu.
Setelah mulutnya bebas, dia pun segera berbicara, “Siapa Anda? Apa salah saya?”
Sebuah suara tawa yang cukup mengerikan pun meledak hingga membuat nyali pria yang matanya masih ditutup dengan kain hitam itu sedikit agak menciut.
“Siapa aku? Kau … tidak berhak tahu, tapi kau … pelayan rendahan sepertimu telah berani mengganggu.”
“Benar-benar punya nyali!” tambah pria itu dengan nada meremehkan.
Elang Viscala, si pelayan muda di Restoran De Crushy berusia dua puluh lima tahun menelan ludah dengan gugup.
Dia mencoba mengingat-ingat tentang kemungkinan dirinya bersinggungan dengan pria berbahaya. Tapi, dia tetap tidak dapat menemukan apapun.
Selama ini, dia hidup dalam aturan. Dia tidak pernah berusaha menonjol ataupun menyinggung orang lain. Dia lebih senang menjauhkan diri dari setiap masalah karena sadar bahwa hidupnya sudah cukup sulit.
Jadi, bagaimana mungkin dia memiliki masalah dengan orang yang mungkin mafia atau gangster ini?
Elang berpikir orang yang melakukan sebuah penculikan seperti ini untuk membuat perhitungan dengan seseorang hanyalah orang yang memiliki latar belakang seperti orang-orang yang berkuasa atau justru sangat berbahaya.
Orang biasa tentu akan memilih mendatanginya dan memukulnya atau setidaknya mengajaknya bicara secara langsung.
“Apa yang sudah saya lakukan?” Elang bertanya dengan penuh keberanian.
Pria berbahaya itu dengan sangat cepat langsung mendekati Elang dan mencengkram rahangnya kuat-kuat, “Masih berani kau bertanya, hah?”
“Saya bertanya karena memang benar-benar tidak tahu,” kata Elang dengan menahan rasa sakit.
Pria itu semakin mencengkram rahang Elang sampai meninggalkan bekas. Dia lalu mendorong Elang dan berkata, “Ruangan privat nomor 8.”
Elang tersentak mendengar nomor ruangan privat itu. Dia pun menegakkan badannya.
“Bagaimana? Kau sudah ingat apa yang sudah kau lakukan?” pria yang dipikir Elang mafia itu bertanya dengan nada sinis.
“Ada apa dengan ruangan nomor 8 itu? Apa hubungan semua ini dengan ruangan itu?” Elang malah semakin tidak mengerti.
Pria mafia itu memberengut marah.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Brengsek! Kau sudah menggodanya dan bahkan berani duduk di sana, menemaninya makan. Kau pikir kau siapa, hah?"
Elang mengerutkan kening, mencoba berpikir keras. Dia jelas tidak pernah melakukan apa yang sedang dituduhkan kepadanya. Dia memang benar duduk di sana, tapi jelas bukan untuk menggoda wanita yang disebutkan oleh orang itu.
Dia pun merasa harus segera memperbaiki keadaan, “Memang benar saya duduk di dalam ruangan itu tapi itu karena nona itu yang meminta."
Pria itu terdiam dan Elang tidak tahu apakah dia percaya pada penjelasannya atau tidak.
Tapi, tidak lama setelah itu dia malah mendengar pria itu mengumpat, “Brengsek!”
“Hajar dia!” pria itu kembali memerintah.
Mulut Elang ditutup lagi. Setelahnya, dia hanya bisa menerima pukulan-pukulan keras yang bertubi-tubi tanpa bisa melawan.
Sebetulnya Elang bukanlah orang yang lemah. Dia memiliki kemampuan bela diri yang lumayan.
Hanya saja saat dia dihajar oleh orang-orang yang kemungkinan besar adalah anak buah dari pria misterius itu, dia dalam keadaan terikat dengan mata tertutup. Semua orang juga pasti mengalami kesulitan jika dihadapkan dengan situasi seperti itu.
Setelah dihajar habis-habisan, Elang berpikir dirinya akan mati. Dia bisa merasakan tubuhnya diseret ke luar dengan kasar dan dibawa ke dalam mobil, lalu dilempar ke jalanan.
Dia tidak tahu waktu. Siang atau malam, dia tidak bisa menebaknya. Tapi, yang dia tahu hanya beberapa saat tubuhnya menyentuh aspal yang keras, hujan mulai turun.
Beberapa menit berlalu, dia tiba-tiba merasa punggungnya sangat panas sampai rasanya seperti terbakar. Dia menjerit sebisa mungkin meski tetap tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Setelah menahan sakit yang teramat sangat, perlahan kesadarannya pun mulai menipis dan pada akhirnya dia terkulai lemas tak berdaya.
Elang tidak tahu berapa lama dia menutup mata dalam keadaan kehilangan kesadaran.
Namun, saat dia merasa kesadarannya mulai kembali, sayup-sayup dia mendengar ada yang berbicara di dekatnya.
“Tuan, kapan dia akan bangun?” seseorang di sisi kanan Elang bertanya.
“Seharusnya sebentar lagi. Dia sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, dia akan baik-baik saja,” sahut seseorang di bagian kiri.
Elang yang sudah sadar tapi masih memejamkan mata itu mulai mengira jika dirinya kemungkinan besar sedang berada di rumah sakit.
Tapi siapa mereka? Apa mereka yang membawaku ke rumah sakit? Elang bertanya-tanya.
“Apa dia akan baik-baik saja, Tuan? Anda lihat kemarin, bukan? Beliau ….”
“Dia keturunan pewaris ilmu Raja Naga, dia tentu akan baik-baik saja, Yandra. Jangan khawatir!” jawab pria di bagian kiri Elang dengan nada tenang.
Kepala Elang langsung berdenyut.
Apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang ini? Pewaris ilmu Raja naga? Apa maksudnya? Elang membatin.
Oh, dia berniat untuk berpura-pura tidur dan mendengarkan semuanya lebih lanjut, tapi ternyata dia tidak bisa sanggup melakukannya.
Elang pun segera membuka mata. Dia menoleh ke arah kanan.
Seorang pria dengan tampilan setelan jas rapi memekik kaget, “Tuan, Anda sudah bangun.”
Elang mengernyit dan menoleh ke arah kirinya dan menemukan pria yang memakai kacamata yang jelas juga tidak dia kenal, “Tunggu sebentar, saya akan segera memanggil dokter.”
Tetapi sebelum pria itu sempat berjalan, Elang menyentuh lengan pria itu dan bertanya dengan mata melotot, “Kenapa kau mengatakan aku pewaris ilmu raja naga? Apa maksudmu?”
Daiva Gunawan menggertakkan giginya karena kesal setelah dipaksa pergi dari rumah kekasihnya. Tapi, dia berjanji tidak akan menyerah begitu saja. “Kita lihat saja nanti. Aku pasti akan tahu siapa wanita yang dibawa oleh Cakra ke dalam rumah itu.” Daiva hampir menjambak rambutnya sendiri.Daiva menggeram marah. Dia benar-benar tidak terima kekasihnya bersama dengan orang lain. Terlebih lagi dia tidak tahu bagaimana rupa wanita itu. Jika wanita itu lebih baik darinya, Daiva pasti akan tersingkir. Sementara itu, Rendra yang telah lega karena telah berhasil menyelamatkan Daiva Gunawan akhirnya masuk kembali ke dalam area rumah. Rendra memeriksa kondisi Elang Viscala yang ternyata masih pingsan. Sedangkan Cakra Buana tampak sedang menikmati anggur merahnya sembari menatap tubuh Elang terkulai di atas kursi. “Apa yang terjadi di depan tadi, Rendra?” Cakra bertanya pada Rendra tanpa menoleh ke arah pengawal pribadi kepercayaannya itu. “Nona Daiva datang ke sini, Tuan Muda.”Cakra so
“Ayolah! Aku sangat yakin kalian itu tidak bodoh. Kalian juga tahu kalau calon ayah mertuaku lebih mengerikan daripada Cakra Buana.”Mendengar hal itu, kedua satpam itu pun langsung gemetar hebat.Mereka tentunya tahu bagaimana reputasi dari seorang anggota keluarga Buana yang lain. Tidak ada satupun di antara mereka yang memiliki sifat lembut ataupun murah hati. Semuanya sama-sama mengerikan.Maka dari itu, pada akhirnya kedua satpam itu pun menghela napas panjang. Tidak ada di antara mereka yang mau kehilangan pekerjaan mereka sehingga mereka pun akhirnya membukakan pintu itu untuk Daiva Gunawan.Daiva tersenyum puas. Gadis muda itu akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya lalu masuk ke dalam halaman rumah itu.Daiva lebih terkejut lagi ketika melihat lebih banyak pengawal yang berjaga-jaga di depan pintu masuk rumah itu. “Ada apa sebenarnya? Apa jangan-jangan dugaanku memang benar?” Daiva berujar ketika masih berada di dalam mobilnya. Dia jelas mulai curiga.Gadis cantik itu me
Yandra pun menjadi berpikir serius. Pria muda itu mencoba untuk menemukan kemungkinan yang paling mendekati.Sebelumnya jelas sekali Cakra Buana memang memiliki masalah dengan Elang. Bahkan, pria itu tak segan-segan mengirimkan orang untuk membunuhnya. Namun, belakangan Elang juga memiliki masalah dengan Zayyan Setahu. Elang pernah menyinggungnya tapi kemudian pria itu berubah pikiran dan malah berniat untuk mengajak Elang bekerja sama. Akan tetapi, Elang menolak kerjasama itu karena memang hanya menguntungkan pihak Zayyan.Elang tidak salah dalam hal ini tapi tenang saja Zayyan tidak melepaskannya begitu saja dan malah membuat Elang berulang kali menghadapi orang-orangnya. “Saya pikir ini kemungkinan besar ulah dari Cakra Buana, Tuan.” Yandra akhirnya memberikan jawaban. Yasa mengerutkan kening, nampak bingung dengan jawaban yang berbeda dari yang dia pikirkan. Dia memang cenderung berpikir bahwa orang yang menculik Elang adalah Zayyan Setahu sebab pria itulah yang paling beramb
“Baik, Tuan.”Yandra bergegas untuk pergi ke unit apartemen milik Elang yang terletak di lantai yang sama dengannya.Yasa kembali berganti baju dengan baju biasa dan kemudian keluar dari kamarnya. Dia tak berpikir bahwa Elang mungkin mengalami masalah.Dia hanya berharap bahwa Elang ada di suatu tempat dan sedang berkultivasi. Sementara Yandra yang sudah membuka pintu apartemen Elang memeriksa seluruh ruangan di dalam unit apartemen tersebut. Akan tetapi, Yandra tidak menemukan apapun di dalam sana. Lampu unit apartemen itu bahkan juga masih padam. Dia juga tak menemukan jejak-jejak Elang. Kemungkinan besar Elang memang belum masuk ke dalam apartemennya. Yandra terburu-buru keluar dari apartemen Elang dan segera menemui Yasa untuk melaporkan hal tersebut.Yasa seketika menoleh ke arahnya ketika pintu ruang tamu terbuka. “Bagaimana, Yandra? Apa ada tanda-tanda dia kembali?”“Tuan Elang tidak ada di dalam apartemennya, Tuan. Tidak ada tanda-tanda bahwa beliau telah masuk ke dalam ap
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews