LOGINKiara nunca pensó que una llamada le cambiaria la vida por completo. A su corta edad quedó embarazada y no de un tipo cualquiera. Martiniano Ferguson: Millonario y Famoso es el padre de su bebé, pero es un mujeriego que tiene su propia familia y una hija llamada Sabrina. Kiara enfrentará la cruda realidad de la vida; Criar a su bebé sin dinero y sin su padre.
View More“Bastian, ahhh … lebih cepat lagi–”
Aku menajamkan pendengaran begitu tiba di depan pintu kamar Bastian, calon suamiku. Suara-suara aneh dari dalam sana membuat bulu di tubuh ini meremang.
“Bas–oh ....”
Aku tidak tahan lagi, tubuhku mendadak bergetar hebat karena mendengar suara-suara itu. Suara-suara khas sepasang manusia yang tengah mengarungi lautan kenikmatan.
Brak!
Kudorong pintu ruangan itu dengan kuat hingga dua orang yang tengah bergumul di atas sofa sontak terperanjat.
Sepasang manusia tidak tahu malu itu kompak menoleh ke arahku.
Si lelaki langsung loncat menarik diri dari atas tubuh wanitanya dengan gelagapan. Disambarnya bantal sofa untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sementara wanitanya bukan melakukan hal sama, melainkan dengan tidak tahu malu melemparkan senyum penuh kemenangan padaku.
Raut puas sangat kentara di sana–aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia bahkan membusungkan dadanya seolah ingin menunjukkan padaku jika tubuhnya baru saja dinikmati calon suamiku.
“Ta-Tari? K-kenapa kamu tidak bilang mau ke sini?” Lelaki berusia sekitar 25 tahun dengan tubuh polos itu bertanya dengan gagap.
Tidak bilang katanya? Bukankah ia sendiri yang minta dibawakan pudding buah buatanku?
“I-ini … tidak seperti yang kamu pikirkan, Tari. Aku bisa jelaskan semuanya,” lanjut lelaki itu. Wajahnya pucat. Beberapa kali ia menelan ludah, terlihat dari gerakan jakunnya. Ia ingin mendekat, tetapi mungkin malu tubuhnya tak berpenutup.
Aku yang masih belum percaya dengan penglihatan ini, mematung sempurna. Lidahku kelu hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kuedarkan pandangan pada lelaki dan wanita yang sangat kukenali itu. Juga pakaian yang terserak tak beraturan di lantai. Rasa nyeri tetiba menjalari hati mendapati kenyataan ini.
“Kalian–” Suaraku tercekat di kerongkongan. Sesuatu yang kukenal dengan gemuruh tengah terjadi di dalam dada pasca beberapa saat terpaku dalam kekagetan dan ketidakpercayaan.
Gemuruh itu terekspresikan dengan gerakan dada yang naik-turun dengan cepat, hingga terasa ingin meledak.
“Jadi begini perbuatan kalian di belakangku!?” Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulutku setelah kukuatkan hati. “Sudah berapa kali kalian melakukannya?”
“Tari, ayolah, Sayang. Aku sudah bilang ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu hanya salah paham.” Lelaki yang masih menutupi tubuhnya dengan bantal sofa, berusaha mendekat. Ucapannya tidak lagi gagap. Bahkan wajahnya dipasang memelas.
“Apanya yang salah paham? Kamu kira aku buta?” Suaraku meninggi dengan sendirinya. Terang saja, tangan lelaki yang baru saja dipakai menjamah tubuh perempuan itu berusaha meraih tanganku. Kutepis dengan kasar hingga pudding buah yang kubawa ikut terjatuh dan berhamburan di lantai.
Bastian menatap makanan kesukaannya yang sudah terserak mengotori lantai kamarnya. Kemudian mengalihkan pandangan ke wajahku. Tatapan tajam kudapati di sana. Secepat itu mimik wajahnya berubah. Padahal sebelumnya raut memelas penuh penyesalan yang ia suguhkan.
“Kamu—”
“Pernikahan kita batal!” potongku akhirnya dengan tegas dan tanpa keraguan. Aku seolah wanita tegar yang tidak terpengaruh sama sekali dengan kenyataan menjijikan itu. Padahal kuucapkan kalimat itu dengan hati hancur dan mata mendadak panas. Sesuatu mendesak ingin keluar seiring gemuruh dalam dada yang berubah menjadi sayatan sembilu. Tapi aku tidak mau terlihat lemah di depan dua orang menjijikkan ini.
Bastian terlihat menggelengkan kepala. Wajahnya kembali memelas.
“Tari, jangan sembarangan bicara. Ayolah, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya sedang khilaf.”
Khilaf katanya? Cuih, menjijikkan!
“Pernikahan kita akan tetap berlangsung apa pun yang terjadi. Ingatlah, persiapannya sudah hampir selesai, kan? Ingat juga bagaimana perasaan nenekku dan ayahmu jika kita batal menikah.”
Aku memejamkan mata sebentar. Rasa sakit dan marah semakin bergumul dalam dada. Terbayang wajah ayah dan Nenek Widya jika pernikahan ini batal, tapi aku sudah tidak sudi lagi melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang ternyata sudah menikmati tubuh wanita lain. Terlebih wanita itu orang dekatku.
“Ayahku dan nenekmu pasti mengerti keputusanku. Aku tetap membatalkan pernikahan ini, Bastian Hanggara!” Suaraku kali ini menggelegar memenuhi ruangan itu. Kutatap tajam wajah tampan yang biasanya kupuja, tetapi kali ini sangat menjijikkan. Wajah tampan yang seketika berubah merah padam.
“Apa kau tidak memikirkan perasaan semua orang, Mentari Baskara? Seenak jidatmu membatalkan pernikahan. Apa kau tahu berapa banyak keluargaku sudah menggelontorkan uang untuk persiapan pernikahan ini?”
Memikirkan perasaan semua orang katanya?
“Seharusnya kau yang memikirkan perasaan semua orang sebelum berbuat hal menjijikkan dengan sundal itu!” teriakku akhirnya tidak bisa menahan diri. Gemuruh dalam dada tak bisa lagi dikendalikan. Tubuhku gemetar menahan segala rasa yang sulit kudeskripsikan.
Calon suami sempurna yang kupuja karena ia sangat sopan memperlakukanku, ternyata tak lebih binatang yang suka menikmati sesuatu yang tidak halal.
“Mentari, tutup mulutmu! Sudah kubilang ini hanya sebuah kekhilafan. Dan jangan memanggil Novita dengan sebutan buruk!” Bastian balas memakiku.
“Lalu, sebutan apa yang pantas untuk perempuan yang menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki yang bukan muhrim, hah?” Aku membalas. “Pada laki-laki yang seharusnya menikahi kakaknya sendiri?”
“Sudah, cukup! Ini hanya salah paham.” Bastian menghela napas. Lalu mengibaskan tangan. “Kamu terlalu berlebihan, Mentari. Hal seperti ini saja dibesar-besarkan!”
—Mamá, cálmate—, dijo Asher riendo mientras yo chocaba contra él y lo rodeaba con los brazos.Lo apreté más fuerte mientras las lágrimas empezaban a caerme por la cara. Mis hijos habían crecido.—Estoy muy orgullosa de ti, cariño—, le dije mientras me separaba de él y le acariciaba la cara.—Gracias, mamá—, respondió, inclinándose para besarme la mejilla.Le sonreí antes de volverme hacia Caín y abrazarlo también.—No llores mamá—, susurró mientras me rodeaba con sus brazos.—No puedo evitarlo. Pronto me dejarás—, repliqué, haciendo que cayeran más lágrimas.Cain suspiró mientras me atraía hacia él de nuevo.
ALANNA—¿Tenemos todo? ¿Cámara, llaves, bolso, niños? —. pregunté, corriendo frenéticamente por la casa.—Mamá, tranquila. Tu teléfono y tus cámaras, las tres, están en tu bolso, que llevas al hombro. Papá tiene las llaves y el resto de los niños están en la furgoneta esperándote. Tenemos que irnos antes de que nos perdamos la ceremonia—, dijo mi hija de quince años, Kaysie, mientras aparecía en la puerta riéndose ligeramente de mí.—Estoy haciendo el ridículo, ¿verdad? le pregunté avergonzado mientras me unía a ella en la puerta.—Sólo un poco—, admitió, rodeándome la cintura con el brazo mientras caminábamos por la casa hacia l
Ocho horas después de llegar al hospital, llevaron a Alanna en silla de ruedas a la sala de partos y yo seguía a su lado. Me quedé a su lado con su mano entre las mías, susurrándole palabras de elogio mientras le secaba el sudor de la frente. Me dedicaba pequeñas sonrisas de agradecimiento entre contracción y contracción. Me apretó la mano con más fuerza cuando el médico le dijo que sólo tenía que empujar una vez más. Sus uñas se clavaron en mi mano y apreté los dientes por el dolor, pero todos los pensamientos sobre el dolor se me fueron de la cabeza cuando oí los gritos de mi bebé por primera vez.—Enhorabuena, tiene una hija—, me dijo el médico mientras me entregaba las tijeras para cortar el cordón umbilical.Se me llenaron los ojos de lágrimas cuando cogí las tijeras del m&
—Te quiero siempre, cariño, pero te quiero más embarazada.Se rió, sacudiendo la cabeza mientras sus ojos empezaban a cerrarse. Supongo que el bebé por fin se había calmado lo suficiente como para que Alanna pudiera dormir.—Tienes que llegar antes a casa—, murmuró contra mi hombro mientras luchaba contra el sueño que intentaba apoderarse de su cuerpo.—¿Por qué es eso niña? — pregunté con una ligera risita.—Porque Bean no me deja dormir si no estás en casa—, respondió justo antes de perder la lucha contra su cuerpo.Sonreí, inclinándome para besarle la frente mientras apoyaba la mano en su vientre hinchado. Aunque odiaba el hecho de que Alanna no durmiera tanto como debería, me encantaba que el bebé no la dejara dormir












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ratings
reviewsMore