LOGIN***WARNING*** This book has a mature content, and it's dedicated for audience above the age of 18 years old. ************** After her heart broke into a thousand pieces came an unexpected change of luck. She decided to change her life, forget about romance and focus on writing a criminal novel. While doing research for her book, she started gazing at the darkness slowly uncovering dangerous secrets. Since she couldn't see the risk, while sitting in her apartment she became more and more daring. Little did she know, that the most dangerous creature was right beside her, an irresistible and incredibly handsome Devil…
View MoreLangit dini hari di atas Dinasti Langya masih menggantungkan warna abu-abu, seperti kain sutra lusuh yang diseret ke ufuk timur.
Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Tianlu, tempat Sekte Cahaya Abadi berdiri selama seribu tahun —dengan atap lengkung hijau zamrud, pilar kayu cendana berukir naga, dan lentera merah yang biasanya menyala hangat menyambut para tamu dari dunia persilatan. Kini, tak ada lagi lentera. Yang ada hanya bara. Wu Teng terbangun dengan rasa sakit yang mengoyak dada. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya dipenuhi abu. Lelaki itu terbaring di atas ubin batu yang retak dan hangus. Aroma kayu terbakar bercampur darah menyesakkan setiap helaan napasnya. Ia mencoba bangkit. Pandangannya kabur. Api masih menjilati Aula Utama —tempat para tetua biasa bermeditasi dan mengajarkan Kitab Cahaya Fajar. Suara kayu runtuh berderak, seperti tulang yang dipatahkan tanpa belas kasihan. “Apa yang… terjadi?” desisnya lirih. Pria bertubuh kekar itu memaksakan diri duduk. Jubah putihnya, yang biasanya bersih dan sederhana, kini koyak dan ternoda merah gelap. Tangannya gemetar. Saat ia mengangkat telapak tangannya ke depan mata, jantungnya berhenti sejenak. Darah. Bukan sedikit. Seluruh jemarinya berlumuran darah yang belum kering. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu berdiri goyah. Di sekelilingnya terhampar tubuh-tubuh tak bernyawa —murid-murid junior yang dulu menyapanya dengan senyum polos, saudara seperguruan yang pernah berlatih pedang bersamanya di bawah hujan bunga persik. Langkahnya terseret pelan. Di hadapannya, pintu Aula Utama runtuh dengan dentuman berat. Api memercik dan menerangi wajahnya yang pucat. Ingatan Wu Teng kosong. Seperti sumur tua yang airnya mengering. Ia hanya ingat pertemuan malam sebelumnya —gurunya memanggilnya secara pribadi. Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan tentang Aliansi Delapan Sekte Besar. Tentang ketegangan di Jianghu yang kian tak terkendali. Lalu gelap. Pria itu meraih dadanya. Rasa sakit luar biasa menjalar dari pusar ke tulang belakang, seperti ada sesuatu yang menggeliat di dalam meridiannya. Energi dalamnya, qi yang selama ini dilatih dengan tekun melalui Teknik Nafas Cahaya Abadi, terasa kacau. Tidak harmonis. Tidak suci. Ia memaksa diri melangkah ke tengah aula. Di sana, di antara sisa tiang yang hangus dan altar leluhur yang hancur, terbaring sesosok tubuh berjubah emas pucat. “Guru…” suara Wu Teng pecah. Ketua Sekte Cahaya Abadi —Liu Qingshan, lelaki sepuh dengan alis putih panjang dan tatapan setajam pedang surgawi— terbaring tak bergerak. Dadanya tertembus luka dalam. Darah menghitam di sekitar pakaian kebesarannya. Wu Teng berlutut. Lelaki itu menyentuh bahu sang guru dengan tangan gemetar. “Guru, bangunlah. Ini muridmu…” Tak ada jawaban. Di tangan kanan sang ketua, sesuatu berkilau di tengah bara merah. Sebuah fragmen giok hitam —seukuran dua jari, dengan ukiran simbol asing yang tak dikenali Wu Teng. Pria itu mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat. Pernahkah ia melihat benda ini sebelumnya? Saat jemarinya mendekat untuk mengambil fragmen itu, angin keras menyibak asap. “Berani sekali kau masih menyentuh jasadnya!” Suara lantang bergema dari pintu gerbang sekte yang kini tinggal rangka. Wu Teng menoleh. Dari kabut dan cahaya bara, muncul barisan pendekar berpakaian beragam warna —hijau giok, biru laut, hitam pekat— dengan lambang sekte masing-masing tersemat di dada. Aliansi Delapan Sekte Besar. Di depan mereka berdiri seorang lelaki tua dengan rambut disanggul tinggi, jubah abu-abu berbordir awan perak berkibar tertiup angin. Tatapannya tajam dan dingin. Tetua Han dari Sekte Pedang Awan. Lelaki sepuh itu melangkah maju. Sepasang pedang tipis terselip di punggungnya. Wajahnya tegas seperti tebing yang tak pernah digoyahkan badai. “Wu Teng,” ucapnya berat. “Kau benar-benar tak tahu malu.” Pria muda itu terdiam. Tangannya masih menggenggam fragmen giok hitam yang kini terasa hangat. “Apa maksud Tetua?” tanyanya lirih. Tetua Han tertawa pendek, tanpa humor. “Semua orang di Jianghu tahu engkau satu-satunya murid yang menguasai teknik pedang terlarang itu. Bayangan Sunyi. Sekarang seluruh Sekte Cahaya Abadi musnah, dan engkau berdiri di tengah darah mereka. Apakah masih perlu penjelasan?” Wu Teng menggertakkan gigi. “Aku tidak melakukan ini.” “Tidak?” balas Tetua Han, suaranya naik satu nada. “Lalu siapa? Arwah leluhurmu?” Beberapa pendekar di belakangnya mencabut senjata. Suara logam keluar dari sarung terdengar serempak, seperti nyanyian kematian. Wu Teng bangkit perlahan. Lelaki itu menatap tubuh-tubuh di sekitarnya. Hatinya tercabik. Ia sendiri tak mengerti mengapa tangannya berlumuran darah. Mengapa ingatannya kosong. Mengapa qi dalam tubuhnya terasa asing. “Beri aku waktu,” ucapnya, mencoba menahan amarah dan kepanikan. “Aku akan mencari tahu kebenarannya.” “Waktu?” Tetua Han melangkah mendekat. “Ratusan nyawa telah hilang. Ketua sektemu terbaring mati. Engkau ingin waktu?” Pria bertubuh kekar itu menunduk. “Guru tidak mungkin kubunuh. Aku adalah muridnya.” “Justru murid yang paling dipercayalah yang paling mudah menusuk dari belakang,” sahut Tetua Han dingin. Angin gunung bertiup lebih kencang. Bara beterbangan. Dalam sekejap, seorang pendekar dari barisan aliansi melompat ke depan. “Pengkhianat! Mati kau!” Pedangnya menyabet lurus ke arah leher Wu Teng. Tubuh Wu Teng bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Tanpa sadar, ia memutar langkah. Gerakannya ringan, nyaris tak terlihat. Serangan itu hanya mengenai bayangan yang tertinggal sepersekian napas sebelumnya. Pendekar penyerang terhuyung. Matanya membelalak. “Apa—?” Wu Teng sendiri tertegun. Teknik itu mengalir begitu alami dari tubuhnya. Teknik Pedang Bayangan Sunyi —jurus yang selama ini hanya ia latih diam-diam, dilarang oleh sekte karena dianggap terlalu gelap dan berbahaya. Tetua Han menyipitkan mata. “Kau lihat sendiri!” serunya kepada yang lain. “Teknik sesat itu!” Wu Teng mundur dua langkah. “Aku tidak bermaksud menyerang—” “Diam!” bentak Tetua Han. Lelaki sepuh itu meloncat ke depan, mendarat ringan beberapa zhang dari Wu Teng. “Hanya teknik terlarangmu yang mampu membantai sekte sebesar ini dalam satu malam!” Seketika qi di udara berubah. Tetua Han mencabut dua pedangnya sekaligus. Kilatan perak menembus asap, membentuk lengkungan seperti sayap burung bangau. “Aku, Han Yulian, atas nama Aliansi Delapan Sekte Besar, menjatuhkan hukuman mati kepadamu!” Wu Teng merasakan napasnya menebal. Lelaki berumur tiga puluh tahun itu menoleh ke arah jasad gurunya sekali lagi. Hatinya berteriak ingin menjelaskan. Namun kenyataan tak memberi ruang bagi kata-kata. Dari sudut matanya, ia melihat sesuatu. Di pergelangan tangannya, di antara darah yang mengering, ada pola hitam aneh. Seperti akar pohon yang merambat di bawah kulit. Garis-garis gelap itu berdenyut halus, mengikuti detak jantungnya. “Apa ini…” bisiknya. Belum sempat ia memahami, serangan Tetua Han tiba. Dua pedang itu bergerak seperti kilat yang menyilang. Jurus “Awan Membelah Langit” dilepaskan tanpa ragu. Udara teriris, meninggalkan jejak tekanan yang membuat batu di lantai retak. ***I dreamt about attending someone's funeral. There were a lot of people without faces, they were all wearing black, mourning clothes, silently waiting for the burial. I passed them by and walked to the coffin. I was terrified, but something was pushing me forward, an unknown force told me to open the coffin lid. I gazed inside and burst into tears. I saw Hiro lying inside it. My chest was torn by agonizing pain, I couldn't breathe. My mind kept telling me it wasn't true, so I clenched my teeth and looked inside the coffin once more and I saw… myself. There was my body, lying, without the last ounce of life left. It was an empty shell. I flinched, but strangely the view didn't surprise me too much. Perhaps, I was aware that after you get shot, you die… I used to think that stories where one lover sacrifices himself for the sake of another are nothing more than a romantic fantasy. After some thinking, I always laughed at myself for writing such cliché ending in
Tsuchida Kosuke never made it to Police station. He used his connections to run away from police van, he must have planned it, just in case, before the meeting. He was now being chased across Japan, and the arrest warrant was sent all over the world. However, since he went into hiding, not even people from TK were able to find him… so far.There were no traces of Kaisei either. People from TK found out that he sold his all of the companies he owned a week before the board of directors meeting. It looked like he was preparing to leave. Perhaps, both Kosuke and him arranged that disappearance beforehand. That only made me more worried.It had been 3 months since Kosuke disappeared. I was restless. I could feel safe only when I was with Hiro, when I could hold his hand, or sleep in his arms. Whenever he wasn't around I constantly looked over my shoulder, even though Hiro set few of his best bodyguards to protect me.Hiro constantly traveled around to keep th
The election supposed to be made by a secret ballot. Every member of the board was given a specially prepared card to write the name of the candidate they vote for. Then the cards were collected and passed to Okada, so that he could read them loud. He stepped on the platform with his hands shaking, I bet it was a long time since he was that uncertain of his own position. He unfolded the first vote…“A vote for the current Chairman, Tsuchida Kosuke… Second vote for… Mr. Chairman… the third vote for, Mr. Tsuchida Kosuke as well…” he announced slightly relieved.I glanced at Hiro, he clenched his fist, but his facial expression remained unchanged. On the other hand, I was already breathing heavily and kept digging my nails into poor Melisa's hand. I guess, I was panicking for the both of us.“The forth vote is for… Tsuchida Hiro…” Okada squeezed out reluctantly, then unfolded another vote, &ld
Melisa led me to some conference room with a big screen and a remote control lying on the table. We were alone there, it looked like we were the only bystanders who were about to observe the board of directors meeting...I thought that Kaisei would be here as well, but he wasn't. It was relieving, I still wasn't certain how to react at his presence knowing he was the murderer's loyal dog.Melisa turned the screen on and soon we were able to see all nine people sitting at the conference table along with Okada, acting as a meeting clerk, standing beside the current Chairman. Hiro was sitting on the right side from Kosuke, he looked composed, but I could bet he was boiling inside being this close to his nemesis…“Are you nervous?” Melisa asked me suddenly.“Yes… a lot… but I have faith in Hiro,” I smiled.Okada walked on the platform and started the meeting, greeting everyone.“Let me present t
I stood in the kitchen wondering if I should make myself a lemon balm tea… or open a bottle of wine. It wa
I heard loud and annoying sound of alarm clock. Tom quickly turned it off and hugged me tight, making me unable to move.“Shouldn't you be get up? You set the alarm yourself after all…” I chuckled.“Hush… Are you always that talkative at 5 A.M.?”
I froze while looking at his face. He eyed me up while smirking and said, “Hello new neighbor.”
I finally started to write, or at least I really wanted to. I’d opened the text editor on my freshly new laptop and&h
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore