LOGINIn the fifth year of my marriage to Jordan West, he cheats on me with a blind woman. She's young, pretty, and demure. Jordan scours the best hospitals in the country to treat her eyes. In the end, he fixes his gaze on me and tells me he wants me to donate my corneas to her. "They're just a pair of eyes, Hazel. Please help her. Can you really stand by and watch as she withers away?"
View More"Nadira, aku ada tawaran pekerjaan untuk kamu. Lumayan gajinya gede. Kerja mulai jam 8 malam hingga jam 4 subuh," ucap Lala yang saat ini sedang melipat baju-baju yang tadi sudah di buat berantakan oleh pembeli
"Kerja apa mulai dari jam 08.00 malam hingga jam 04.00 subuh," ucap Nadira yang memandang temannya dan mengerutkan keningnya.
"Ini pekerjaan halal kamu akan bekerja di klub malam yang mana pekerjaan ini bukan jadi wanita menggoda seperti kebanyakan atau juga pelayan di klub namun kamu akan bekerja di bagian kebersihan," ucap Lala menjelaskan.
"Bagaimana kamu tahu bahwa di sana ada pekerjaan untuk aku?* ucap Nadira.
Lala tersenyum memandang Nadira. "Aku itu sudah lama bekerja di sana," ucap Lala yang mengecilkan suaranya.
"Kamu nggak pernah cerita," ucap Nadira yang masih menatap wajah temannya.
Iya aku malas cerita tentang masalah pekerjaan aku ini. Aku mau ngomong karena kebetulan ada pekerjaan untuk kamu. Lumayan di sana gajinya walaupun tukang bersih-bersih, perbulannya dapat tiga juta setengah," ucap Lala menjelaskan. Lala di minta oleh manajer clup mencari pekerja untuk jadi petugas kebersihan.
"Kamu nggak bohong?" tanya Nadira yang membesarkan matanya ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Lala.
"Tentu saja enggak tapi, itu pekerjaannya cukup jorok Dira," ucap Lala.
"Jorok bagaimana?" tanya Nadira.
"Kamu bertugas membersihkan kamar mandi toilet," ucapnya.
"Membersihkan kamar mandi dan toilet aja di gaji tiga juta setengah," ucap Nadira yang sangat tidak percaya ketika mendengar apa yang diucapkan oleh temannya.
"Di sana pekerjaan yang paling tidak ingin diambil orang adalah pembersih toilet. Karena kamu tahu yang namanya di klub malam itu pelanggannya kadang pada jorok-jorok" ucap Lala memberitahu Nadira apa adanya
"Jorok-jorok bagaimana?" tanya Nadira yang fokus dengan apa yang disampaikan temanya.
"Mereka itu hampir rata-rata orang mabuk jadi terkadang mereka masuk kedalam toilet, nggak siram bekas air seninnya. jadi ya bau pesing dan juga terkadang muntah nya juga nggak disiram. Pakai kamar mandi selepas Bab main tinggal gitu aja tanpa menyiramnya terlebih dahulu. pokoknya pekerjaannya Jorok banget makanya jarang ada yang sanggup untuk menjadi bagian pembersih toilet," ucap Lala yang terlihat jijik ketika menjelaskan tentang hal tersebut. Lala menjelaskan bagaimana beratnya menjadi petugas pembersih toilet di sana. Lala tidak ingin Nadira merasa menyesal saat mengambil pekerjaan itu.
"Aku nggak masalah pekerjaannya seperti itu, aku pasti sanggup. Gajinya sangat besar, aku bisa kirim untuk ibu di kampung. Aku bisa ngasih untuk biaya sekolah adik aku, biaya berobat ayah," ucap Nadira yang begitu sangat senang ketika mendengar nominal gaji yang kan didapat nya. Nadira sudah bisa membayangkan bagaimana bahagia nya kedua orang tuanya serta adiknya bila mendapat uang dari kirimnya. Ibunya juga bisa mencari rumah sewa yang lebih bagus dari pada rumah yang saat ini ditempati keluarganya di kampung.
"Kalau begitu bila kamu mau kita akan langsung ke sana pulang dari toko," ucap Lala
Dengan cepat Nadira mengangukan kan kepalanya. "Kamu di sana kerja bagian apa?" tanya Nadira yang memandang lala.
Lala tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Nadira. "Aku disana bekerja menemani para tamu," ucap Lala yang mengecilkan suaranya
Nadira hanya diam ketika mendengar ucapan temennya. Dilihat dari penampilan Lala memang terlihat bahwa Lala begitu sangat berani dalam bergaya namun Nadira tidak pernah menyangka bahwa pekerjaan sampingannya menjadi wanita penghibur .
***
Dira, aku sudah cerita dengan bang Teddy mengenai kamu.
Teddy itu siapa apanya Nadira .
Bang Teddy orang yang bertanggung jawab dengan seluruh pekerja yang ada di sana," ucap Lala menjelaskan. Sebenarnya Lala malas sangat bila disuruh mencarikan pekerja untuk di klab namun karena bang Teddy yang memintanya maka Lala mau membantunya.
Terus apa katanya ucap Nadira penuh harap
Bang tedi meminta agar kamu datang ke krakatau jam 06.00 sore ini terletak lala
Iya aku sudah siap ucap Nadira yang begitu sangat semangat. Ketika sudah selesai merapikan pakaian-pakaian di toko.
Karena kamu baru mau akan bekerja maka kamu harus datang lebih cepat ucaplah Lala.
Nadira Melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya. iya, lokasi tempat kerja nya juga jauh," ucap Nadira
Kamu ikut sama motor aku saja ucap Lala.
Makasih ya Lala, aku sangat senang, karena Lala mau bantu aku" ucap Adelia.
Kalau aku gak antar kamu yang ada kamu gak tau di mana lokasi nya ucap Lala. Yang berjalan menuju ke pintu keluar.
Adelia hanya tersenyum saat mendengar ucapan temannya. Sudah ayo," ucap Adelia setelah mengunci pintu toko.
Lala Tersenyum dan menganggukan kepalanya.
***
Motor yang di Kendari Lala berhenti di tempat hiburan malam. Di jam 6 sore seperti ini Tempat ini masih sangat kosong.
"Apa kamu benar-benar yakin bila di dalam ada orang nya?" Tanya Nadira yang merasa takut untuk masuk ke dalam.
"Tunggu sebentar," ucap Lala yang sedang menghubungi seseorang
"Hallo bang, Lala sudah ada di parkiran membawa orang yang mau kerja," ucap Lala.
"Masuk aja la, langsung ke ruangan Abang," ucap Teddy.
"Oke bang," Jawab Lala yang memutuskan sambungan telepon nya
"Kita masuk Dira, bang Teddy menunggu di dalam," ucap Lala yang kemudian berjalan meninggalkan Nadira yang masih terlihat takut-takut ketika akan masuk ke dalam ruangan
"Gak pernah datang ketempat seperti ini?" Ucap Lala yang memandang Nadira.
"Belum, ini untuk yang pertama," ucap Nadira.
Lala tertawa ngakak mendengar ucapan Nadira. "Aku hanya berpura-pura bertanya aja. Tampang seperti kamu, mana mungkin pernah masuk ke sini," ucap Lala yang tertawa ngakak.
"Aku ini orang kampung, mana mungkin bisa datang ke tempat seperti ini. Aku datang ke sini untuk bekerja," ucap Nadira yang memajukan bibirnya.
"Kamu tahu usah mengatakan itu. Aku sudah tau," ucap Lala yang tertawa.
"La, tunggu," ucap Nadira mempercepat langkah kakinya mengejar Lala.
"Kalau kamu takut sebaiknya kamu membatalkan niat mu," ucap Lala.
Dengan cepat Nadira menggelengkan kepalanya. "Aku nggak takut," ucapnya.
Lala tersenyum dengan memiringkan bibirnya. Lala berjalan dari pintu belakang karena mama mereka para karyawan di sana tidak diperbolehkan untuk Masuk dari pintu depan.
"Kenapa tidak masuk dari pintu depan?" ucap Nadira
"Depan khusus yang bayar, kita masuk ke sini nggak bayar malah cari bayaran," ucap Lala
Nadira menganggukkan kepalanya. Lala berhenti di depan sebuah ruangan. "Ini ruangannya," ucapnya.
Dengan cepat Nadira menggelengkan kepalanya. "Temani aku masuk ke dalam," ucapnya yang memegang tangan Lala. Nadira berharap Lala mau menemaninya untuk bertemu dengan pria tersebut.
Lala menatap Nadira kemudian menganggukkan kepalanya.
"Permisi Bang ini Lala," ucap Lala yang membuka pintu kerja milik Teddy.
"Ya La cantik, masuk," ucap Teddy yang memandang Lala diambang pintu.
"Makasih bang Ted," ucap Lala masuk ke dalam ruangan Teddy yang diikuti Nadira dibelakangnya.
Teddy yang duduk di kursi kerjanya memandang Lala dan kemudian tatapannya berpindah ke Nadira. "La apa yang mau bekerja dia," ucap Teddyi memandang Lala
Lala tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya Bang Teddy," ucapnya.
***
Jordan broke down. Swaying on his feet, he crumpled to his knees before Hazel's gravestone."How could this be? How could this happen?" he mumbled in disbelief. "She's dead…"Tears spilled from his eyes, and the light went out of his eyes. The resentment and iciness from before were nowhere to be found now."Wasn't this what you wanted?" Landon asked. "Hazel gave her corneas to Josie and will never disturb you ever again."Jordan was dazed. He knelt there stiffly, as though his soul had vacated his body. "Why? Why didn't she tell me? She didn't even give me the chance to say my final goodbyes," he muttered to himself, his gaze empty.His thoughts filled with images of Hazel as an overwhelming agony engulfed him. He felt as though he was drowning in an icy lake.Even in death, Hazel would never know that Jordan would lose his mind because of her.Josie's eyes looked so much like Hazel's, but she still wasn't her.He went home and rummaged through the cabinets, looking for a meme
Hazel was dead.Landon obeyed her final wishes and donated her corneas to Josie.Jordan was happy, but at the same time, he felt a little uneasy. However, he couldn't explain why he felt that way.After Josie's surgery, he went looking for Landon. "Where's Hazel?"Landon had promised her that he wouldn't tell Jordan anything. At the time, he still hadn't moved on from Hazel's death yet. His voice was dripping with rage as he shouted, "Just take care of your lover. Hazel has nothing to do with you anymore!"Relentless, Jordan insisted on seeing Hazel.In the end, Landon got pissed and got into a fight with him."Ask Hazel to come out and see me." A huge bruise bloomed on Jordan's face, but he still refused to let Landon leave. In a voice filled with gloating delight, he continued, "She'd mocked Josie for being blind. I bet she never thought that Josie would regain her sight. Why, is she too ashamed to face the public after getting together with you?"Pushed to the brink, Landon
It looked like Jordan had been searching for me for some time.I turned around so that my back was facing him. Feigning a casual tone, I said, "Why have you been lurking around here all day?"His face carried a hint of nervousness. "Why are you always at the hospital? What is going on?""You're always accompanying Josie to the hospital, so why can't I keep Landon company while he's at work?"At the mention of Landon's name, Jordan frowned. "Are you living with him now?""It's none of your business.""Hazel, can't you talk to me properly?" The hostility in his eyes dimmed, and his voice was even tinged with a hint of warmth. I might not be able to hold on any longer, so I couldn't spend any more time talking to him. "If Josie saw you reminiscing about the past with me here, how do you think she'd react?"Jordan became visibly flustered.I reached for my phone and pretended to make a phone call. "Josie, do you want to know what Jordan is doing right now?"As soon as he heard t
I looked at Jordan, finding his words funny. "Jordan, we're already divorced. Therefore, who I get with is none of your business.""I won't allow you to be with him!" He clutched my wrist forcefully.It took a lot of force to shake him off. "You won't allow me? Who are you to decide that?"My words stumped him. He clenched his jaw.I grabbed my minimal luggage and signaled to Landon that I wanted to leave.Jordan clenched his fists, as though he was trying very hard to stop himself from doing something.I didn't want to delve into what made him cause such a scene today.This was a farewell. We weren't going to see each other ever again.The place Landon found for me even came with a small balcony. The balcony was filled with all kinds of flowers, but I turned around to leave."Do you not like it?""I like it." Then, I shook my head. "This place is too nice for someone on death's door to live in. It would be too unfortunate."After going around in circles, I still ended up re












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.