LOGINNaomi Ruth Sandoval always believed that emotional attachments is a burden. Isipin palang niyang makihalubilo sa iba'y napapagod na siya. She is near surviving the highschool life by being alone until February of her last school year, things is about to change when she was offered a fortune cookie by an old man - which lead her to this uncanny encounter with Hunter Lin, a chinito guy who is completely an opposite of her - a ray of happiness and positivity.
View More“Om Kayden enak banget. Aku jadi ketagihan.”
Amelia menjilat ujung jarinya dengan manja. Wajahnya berseri penuh kenakalan. Kayden hanya menatap datar. Lalu menyentil keras dahinya. “Tangannya biasa aja, bisa nggak? Kalau mau lagi, ya ambil,” omelnya. Sarapannya kali ini sedikit ramai, karena adanya Amelia yang menginap semalam. Kayden Ferdinand. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan, mapan dan mempesona. Tidak sedikit wanita yang menginginkannya. Tapi tak satupun berhasil menarik perhatiannya. Dan terkadang, Amelia pun jahil menggoda duda anak satu itu. Hanya sekedar candaan. “Hehe. Aku muji, loh. Dessert buatan Om kan selalu enak,” ucap Amelia. Lidahnya pandai berkelit. “Ya lagian. Tingkah sama omonganmu bikin salah paham tau! Nggak bosen-bosen ya godain Papa aku,” celetuk seseorang di sampingnya. Dia adalah Karina, Putri semata wayang Kayden yang sebaya dengan Amelia. Sejak kecil, Amelia sering datang bermain ke rumahnya. Makan bersama dan menginap. Walau sempat terpisah saat remaja. Hubungan mereka masih sangat baik sampai sekarang. Amelia tersenyum nakal. Menangkup wajahnya dengan satu tangan. Sambil mengedipkan sebelah mata pada Kayden. “Duda ganteng kayak Om Kayden, rugi banget kalau nggak digodain,” katanya dengan centil. Kayden mendengus. Sambil memutar bola matanya. Malas menanggapi. “Cepat beresin makan kalian. Piringnya mau dicuci,” ujarnya datar. Kemudian bangkit. Membawa piring kotornya. Begitu Kayden pergi, Karina menyenggol bahu Amelia. “Hayo, Papa marah tuh,” bisiknya. “Nggak, Karina. Papa kamu cuma malu karena terpesona sama kecantikanku,” balas Amelia sambil menyibak rambutnya penuh percaya diri. Seketika Karina menepuk jidat. “Astaga. Dosa apa aku punya sahabat kayak gini,” gerutunya. Sangat jengkel mendengar ocehan Amelia. Karina akhirnya berdiri, menyodorkan piring kotor padanya. “Beresin sana. Aku mau mandi.” Lalu pergi lebih dulu ke kamarnya. Amelia hanya terkekeh puas, tanpa rasa malu. Namun dia tetap tahu diri. Amelia segera membereskan piring kotor di meja makan. Kemudian membawanya ke dapur. Di sana, Kayden tengah sibuk mencuci piring. “Om, aku mau bikin kopi boleh?” tanya Amelia sambil memberikan piring kotor yang dia bawa. “Buat sendiri. Gulanya di lemari atas,” sahut Kayden singkat. Tanpa mengalihkan pandangan. Amelia mengangguk. Mulai membuat kopi seperti di rumahnya sendiri. Dan saat membuka lemari bagian atas, Amelia terpaksa berjinjit. Toples gula yang dia cari sangat jauh di dalam sana. Ujung jarinya sulit menjangkau. Kayden di sampingnya menyadari hal itu. Dan langsung mematikan keran. Berjalan menghampirinya. “Kalau nggak bisa tuh minta tolong.” Amelia menoleh ke sumber suara. Dan saat berbalik, nyaris bertabrakan dengannya. Tak menyangka Kayden sudah ada di belakangnya. Jarak mereka sangat dekat. Sehingga Amelia bisa mencium aroma parfum samar di pakaiannya. Tubuh Amelia membeku. Sambil diam-diam menelan ludah. “Om tinggi banget ya kalau dari deket. Muka aku cuma sejajar dada, nih,” katanya asal ceplos. Tanpa sadar, tangannya menekan-nekan dada bidang Kayden. Kayden hanya mendengus kecil. Lalu mengambil toples gula itu dan meletakkannya di atas kepala Amelia. “Kamu yang terlalu pendek, bocah,” ejeknya. Amelia mendelik tajam. “Aku udah dewasa tau!” balasnya tidak terima. “Jadi udah legal dinikahin.” Wajahnya langsung berubah menjadi senyuman usil. Kayden mengernyit, urat lehernya menegang. Hendak berbicara, suara bel di depan pintu menyela obrolan. Akhirnya Kayden mundur. Berbalik dan melangkah pergi. Amelia hanya cekikikan. Mencoba menggoda Kayden yang berwajah datar itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Namun, Amelia merasa penasaran pada tamu yang datang sepagi ini. Diam-diam, dia mengikuti Kayden. Di pintu depan, terlihat seorang wanita dewasa dengan pakaian cukup seksi. Sebelumnya, Amelia pernah melihatnya beberapa kali datang. Tapi sepertinya Kayden tidak menyambut kedatangannya. “Udah berapa kali aku bilang. Jangan kesini lagi, Anya. Apa kamu nggak paham maksudnya?!” desis Kayden terlihat kesal. Wanita bernama Anya itu malah menyodorkan paperbag yang dia bawa. “Jangan marah. Aku cuma mau kasih kamu oleh-oleh. Lagian kamu juga masih single, kan? Kita bisa saling kenal dulu,” bujuknya. Amelia mengintip dari balik tembok. ‘Wah. Bebal banget ya tuh Tante-tante,’ pikirnya. Tidak sadar dirinya pun begitu. Seketika otak jahil Amelia berjalan. Sebuah ide untuk menolong Kayden muncul di kepalanya. Dengan langkah percaya diri, Amelia mendekat lalu tiba-tiba merangkul lengan Kayden. “Ada siapa, Mas? Kok nggak diajak masuk?” Sontak Kayden menoleh dengan sebelah alis terangkat. Terlihat keheranan. Sementara Anya, langsung mendelik tajam padanya. “Kamu siapa? Kenapa ada di rumah Mas Kayden?” Amelia tersenyum lebar, berlagak seperti Nyonya rumah. “Saya Istrinya. Memang kamu siapa?” ucapnya dengan angkuh. Anya langsung melotot kaget. Menutup mulutnya tak percaya. Lalu menoleh pada Kayden. “K-kayden. Dia bener Istri kamu?” tanyanya memastikan. Kayden hendak menjawab. Namun Amelia tak memberinya kesempatan. “Ya bener, dong. Kamu mau godain Suamiku ya? Pergi sana! Dasar pelakor!” usirnya dengan garang. Merasa kesal dan malu, Anya akhirnya pergi dengan perasaan kecewa. Amelia dan Kayden pun kembali masuk ke rumah. Begitu pintu tertutup, Amelia tidak bisa menahan tawanya. “Lucu banget. Mulai sekarang dia nggak bakal gangguin Om lagi. Nggak usah berterima kasih—“ Namun tawa itu mendadak terhenti ketika Kayden tiba-tiba menarik tangan Amelia. Kemudian menyudutkannya ke balik pintu. Mengungkung di antara kedua tangan. Tatapan Kayden begitu dalam. Matanya menyipit tajam. “Kamu ini bener-bener nakal ya, Amelia,” desisnya. Nafasnya sedikit tersendat. Seolah menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.10 Years Later “Ah! Ang sakit sa balakang!” Napahawak sa balakang si Cynthia matapos pulutan ang mga nagkalat na mga lapis at papel sa sahig ng classroom. “Mind over matter. Mind over matter.” Ngumisi si Naomi na nilapag ang plastic box na may mga laruan sa lamesa. “Huwag mo masyadong isipin at tiyak hindi mo mararamdaman.” “Twenty-six pa lang ako pero feel ko sixty years na ako.” She smiled as she arranged the Brailled storybooks for her visually impaired students. “Ahhh… hindi ka maka-relate kasi baby face ka.” “Ewan ko sa’yo.” Natatawang nilingon niya ang mga estudyante niya nang hapong iyon na mga hearing-impaired. She motioned with her hands,
🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠 HINDI MAGKAMAYAW ANG mga estuyanteng sa hallway sa panunukso kay Naomi nang dumaan sila sa hallway. Nakagapos ang mga kamay niya ng pulang lubid na ang dulo'y hila-hila ng isang Kupido. Ang isang kasamahan naman nito'y nakasunod sa kaniya – nagbabantay sakaling tumakas siya. Parang may krimen naman siyang ginawa kung makagapos at makabantay ang mga 'to. "Uyyyyy~ Wedding Booth 'to si girl for sure!" "Kainggit! Bakit hindi pa ako dinadampot?" "Sure na ba? Sure na bang walang gumasto sa akin para sa Dating Booth?" "Sino kaya groom niya?"
🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠 KINAUMAGAHAN ay tahimik na nilingon ni Naomi ang grupo nila Hunter sa likuran. Maingay ang mga itong nagkukuwentuhan at nagtatawanan kasama ang iilan nilang kaklase. Napabuntong-hininga siya.'Ang mahal pala no'ng bola na sinira ko. 5,200! Tapos, basta-basta ko lang binutas.'Tinitigan niya ang nakangiting si Hunter.'Siya dapat ang magalit ng husto. Hindi ako.' 'At kelan ka pa nakonsensiya?'saad ng utak niya. 'Eh kasi naman, aksidente lang naman talaga ang nangyari.' 'Hindi sinasadya? Nakapag-absent ka nga ng dalawang-araw dahil lumubo mukha mo.'Pamimilit pa ng utak niya. 'Oo nga 'no?' 'Wag kang marupok! Di dahil gwapo siya, bibigay ka na!' 'Gwapo?' 'Eyses~ deny ka pa. Lakas nga nang tibok ng puso kapag malapit siya, e!' Naalala niya ang s-ina-ign language ni Hope no'ng isang gabi:&nb
🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠 Agad umalsa ang inis sa dibdib ni Naomi nang makita ang chinitong kaklase"Ano'ng ginagawa mo rito?"Lumabas siya. Napa-sign of the cross si Lumen sa kapangahasan ng anak na lumabas na ganoon ang itsura."Diyos ko, Naomi!"Mabilis nitong hinubad ang apron na suot at pinulupot sa beywang ng anak para takpan ang ibabang bahagi nito. Siya ang natatakot sa kinabukasan ng anak kung ganito ito humarap sa mga tao."Naomi... nako!!! Mahiya ka!" Pero ito pinansin ni Naomi. Hinawi pa niya ang apron at naglakad papalapit sa gate. "Naomi! Hoy!"Paimpit na dabog ni Lumen sa may pintuan at nahila nito ang buhok pataas sa inis.&
🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠 Nakayukong pumasok si Naomi sa maingay nilang classroom at umupo sa upuang kaharap mismo ang lamesa ng guro nila. Noon pa may
🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠🥠 "AH, gano'n!Ngayon kasalanan ko na naman kung bakit tayo naputulan ng kuryente? Kung di ka sana nag-walwal kahapon at kompletong dini-
reviews