LOGINMelody Blackthorne, a thirty-nine year old graphic designer and Mother of two, flees her married life in Denver to build a new life. A salty coastal life where nostalgia meets motherhood. She encounters a kind stranger, Gage along the coast of Emerald Isle whilst hiding from her husband Gage. An inherited cottage, positive memories, strength and determination propel Melody forward as she navigates hurricanes and a divorce.
View MorePagi itu suasana Cafe Love tampak ramai, dari kejauhan tampak seorang gadis sedang asik melayani pesanan para tamu.
Ketika sedang asik memberikan pesanan para tamu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya.
Sontak saja tepukan itu membuat gadis itu terkejut.
"Kamu baik-baik saja nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Saya baik-baik saja Ibu," balas gadis itu.
"Nak, bisakah kita bicara berdua saja?" tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan memohon.
"Sebentar ya, Ibu. Saya harus izin dahulu kepada pemilik Cafe ini," balas gadis itu dengan senyum mengembang.
"Baiklah nak. Ibu akan menunggu di luar Cafe," ujar wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu pun pergi.
"Aku harus minta izin dahulu," ujar gadis itu.
Gadis itu pun pergi.
Setelah gadis itu pergi, tak lama kemudian keluar dua orang gadis yang sangat membenci gadis itu.
"Mel. Aku benci banget sama dia," ujar Celine.
"Aku juga sangat membencinya Cel," ujar Melani.
"Bagaimana kalau kita jadikan dia sebagai penebus hutang?" tanya Celine.
"Kamu benar Mel. Aku setuju," balas Melani.
"Kapan kita lancarkan rencananya?" tanya Celine.
"Bagaimana kalau besok?" tanya Melani.
"Aku setuju. Membayangkan kehidupan Allena yang hancur pasti akan sangat menyenangkan," balas Celine.
"Kau benar. Ayo lanjutkan pekerjaan kita," ujar Melani.
"Ayo," ujar Celine.
Melani dan Celine pun pergi.
***
Setelah meminta izin kepada pemilik Cafe, Allena pun menemui wanita paruh baya itu."Ibu. Anda ingin berbicara apa padaku?" tanya Allena.
"Duduklah dulu nak," balas wanita paruh baya itu.
"Baiklah Ibu," ujar Allena.
Allena pun duduk disebelah wanita paruh baya itu.
"Nak, sudah berapa lama kamu bekerja di Cafe Love?" tanya wanita paruh baya itu.
"Baru dua minggu. Ibu," balas Allena.
Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Kamu baru bekerja dua minggu tapi sudah membuat para pelanggan Cafe ini sangat suka dengan pelayananmu bahkan, Cafe ini menjadi sangat ramai karena dirimu nak," ujar wanita paruh baya itu.
"Saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Cafe Love ini. Saya sangat bersyukur bisa diterima bekerja di Cafe ini," ujar Allena Maura Mahardian.
"Kamu luar biasa nak. Nama kamu siapa nak?" tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum menatap Allena."Nama saya Allena Maura. Ibu," balas Allena Maura Mahardian."Nama yang sangat indah nak," ujar wanita paruh baya itu.
"Terimakasih Ibu," ujar Allena Maura Mahardian.
Allena Maura Mahardian merasakan kehangatan saat berada dekat dengan wanita paruh baya dihadapannya.
"Ibu, bolehkah aku memelukmu?" tanya Allena Maura Mahardian.
Wanita paruh baya itu tersenyum sangat lembut.
"Silahkan nak," balas wanita paruh baya itu.
"Terimakasih Ibu," ujar Allena Maura Mahardian.
Allena Maura Mahardian pun memeluk erat wanita paruh baya itu, tubuhnya merasa sangat nyaman dan penuh dengan kehangatan.
***
Ya Allah...
Aku merasakan debaran detak jantung yang begitu kencang saat diriku memeluknya.Aku merasakan kehangatan dan kenyamanan saat memeluknya.~ Allena Maura Mahardian ~***Ya Allah...Perasaan seperti apa ini?Mengapa aku merasakan jantungku berpacu dengan kencang saat gadis ini memelukku.Aku seperti merasakan pelukan dari anak kandungku sendiri.Jika saja kejadian kecelakaan itu tidak terjadi, aku pasti akan melihat pertumbuhan anak-anakku.~ Mrs. M ~***Tak terasa, air mata mengalir deras di wajah manis milik Allena Maura Mahardian."Kamu menangis nak?" tanya wanita paruh baya itu.
Allena tersadar dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum.
"Kamu baik-baik saja nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ya Ibu. Aku baik-baik saja," balas Allena Maura Mahardian.
"Tapi tadi Ibu melihatmu menangis," ujar wanita paruh baya itu.
"Aku hanya terbawa suasana saja," ujar Allena Maura Mahardian.
"Baiklah nak. Ibu pamit dulu ya," ujar wanita paruh baya, "Suami Ibu sudah menjemput. Assalamulaikum nak,".
"Waalaikumsalam," ujar Allena Mutiara Shafna sambil tersenyum tulus menatap kepergian wanita paruh baya itu.
Setelah kepergian wanita paruh baya itu, Allena pun kembali bekerja.
***
Saat sedang asik membuat pesanan para tamu, Allena dikejutkan dengan kehadiran Celine dan Melani.Brakk!
Celine dan Melani menggebrak meja membuat Allena terkejut.
"Hei anak baru. Enak banget ya baru dua minggu kerja malah enak-enakkan mengobrol dengan wanita tua diluar Cafe," ujar Celine.
"Benar Cel. Bagaimana kalau kita laporkan kepada atasan?" tanya Melani.
"Aku setuju Mel. Biar dia tahu rasa dan dipecat oleh atasan," balas Celine.
Dari kejauhan manager Cafe Love melihat pertengkaran ketiga gadis itu, ia merasa sangat marah dan kesal.
Pria itu langsung mendekati Melani dan Celine.
"Ada apa ini?" tanya pria itu, "Mengapa kalian ribut-ribut,".
"Pak ... gadis yang baru bekerja dua minggu ini sudah berani mengobrol bersama wanita tua di luar Cafe," balas Celine dan Melani.
Pria itu menatap tajam Allena.
"Apa benar yang dikatakan oleh mereka Allena?" tanya pria itu tajam.
"Benar Pak," balas Allena dengan raut wajah ketakutan.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara tepukan tangan yang dilakukan oleh pria itu.
"Wah bagus sekali ya. Baru dua minggu bekerja saja kau sudah melakukan pelanggaran," ujar pria itu.
"Tapi saya sudah izin. Pak," lirih Allena.
"Diam!" teriak pria itu, "Aku tidak ingin mendengarkan perkataan dari gadis yang telah mempermainkan pekerjaan,".
Allena sangat terkejut mendengar suara lantang pria dihadapannya.
Celine dan Melani tersenyum menyeringai.
"Akhirnya Allena kena marah," bisik Celine.
"Benar Cel. Aku sangat bahagia," ujar Melani.
Celine dan Melani tersenyum sinis.
***
"Sekarang ikut saya menghadap atasan," ujar pria itu tegas."Baiklah," ujar Allena.
Allena pun pergi bersama dengan pria itu.
Setelah kepergian Allena dan pria itu. Celine dan Melani melompat kesenangan.
"Akhirnya gadis itu kena marah sama Pak Manager," ujar Celine.
"Benar Cel. Aku sangat bahagia mendengarnya. Dia pasti akan dipecat dan kita tidak perlu lagi menjadikan dia sebagai penebus hutang," ujar Melani.
"Tapi Mel. Jika gadis itu dipecat hutang kita tidak akan lunas," ujar Celine.
"Benar juga ya. Hutang kita senilai dua puluh milyar. Bagaimana caranya kita akan bayar," ujar Melani.
"Tentu saja, gaji kita saja hanya sepuluh juta," ujar Celine.
"Aku jadi bingung Cel," ujar Melani.
"Kita jalankan saja rencana pertama kita," ujar Celine.
"Jika itu jalan keluarnya maka aku setuju. Kita jadikan saja Allena sebagai penebus hutang," ujar Melani.
"Dia pasti akan hidup menderita dan penuh dengan siksaan," ujar Celine.
Tak lama kemudian datanglah dua orang gadis yang menjadi musuh dari Celine dan Melani.
"Kalian jahat ya sama Allena. Padahal ia orangnya baik dan ramah," ujar gadis dengan pakaian kemeja berwarna biru.
"Hei Alya. Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan kami," ujar Celine dan Melani.
"Alya sebaiknya kita pergi saja," ujar gadis dengan pakaian kemeja berwarna putih.
"Kau benar," ujar Alya.
Tak lama kemudian, kedua gadis yang menjadi musuh Celine dan Melani pun pergi.
The gravel crunches beneath the tires of the Rav four like breaking glass, a sound that causes Melody Blackthorne’s heart to hammer against her ribs. She cuts the engine, but her fingers remain glued, curled tight around the steering wheel until her knuckles turn the color of the white waves crashing ahead of her. For close to two thousand miles, she had checked her rearview mirror every sixty seconds, waiting for the sleek, silver glint of Blaze’s Mercedes to appear like a shark in the wake. She’s thirty-nine years old, and currently a fugitive from her own life, hiding on the sandy outskirts of Emerald Isle, North Carolina. “Mom, are we here?” seven-year-old Mia already unbuckling her seatbelt, hazel eyes wide as she peers at the freshly stained white and blue cedar shingled cottage, then over at the beach. “Wait one moment, darling. Let’s make sure it’s safe first before we unbuckle and get out. Ok.” Melody whispers, her voice cracking. She takes a shuddering breath, trying to f
Melody awakens in her grandmother’s old room, glancing at the walls, some white shiplap, and some pastel blue. A new bed, queen size, white wicker frame bearing chic linens of white and light blue; she melts into the pillow top mattress. The faint roar of ocean waves brings fragile peace. The sound of Leo and Mia giggling in the kitchen reaches her ears, bringing joy to her stressed mind. Her bare feet hit the hardwood flooring. Melody approaches her children calmly, a hug and kiss to each on their forehead. “Good morning, babies.” Then her eyes dart around the windows and doors, making sure they are undisturbed. She bought a new phone, one that shouldn’t be traceable. At least for now. This was her grandmother’s vacation home; they visited year around, and for summer until she finished college. Melody runs her finger along a light oak piece of furniture which has been here since childhood. She pictures her grandmother and parents, flooding in happy memories being loved, hugged, and
Melody looks around to see if Blaze is anywhere in sight.She looks at Gage and the children, “Excuse me for a moment.” She steps away from the table and leans against the wooden fence, a few feet away, peering at the ocean. Melody gripping her phone, whilst shaking calls her lawyer to discuss the details of the mystery envelope. Flipping through the stack of papers, “Yes, he is suing for custody. I filed reports in Dallas for the abusive behavior. I want a restraining order. The children need to stay with me. Also, anything acquired after Monday is separate; my grandmother’s cottage, my new vehicle, it’s all mine.” A pause while she listens. “Ok, great, thank you.” She ends the call, glances at the blue sky resting above the roaring aquamarine waves, listening to them crash and splash, she faces Gage and her children, Melody resumes her place at the table. She looks at Gage, Jet, and the kids. “I’m sorry, kiddos. Are y’all finished with your ice cream. Do you want to ride some more
Mia, finds courage to step away from her sudden fear and releases the loving grasp from her mother’s side. She glances around the shop, and focuses back on her mother. They look around the shop, wooden walls, and clothing racks make up most of the store, upbeat music is playing, and the air is a comfortable cool. Swimsuits, wetsuits, snorkel, surfing and boating accessories, catch Leo’s attention. “Mom, do we need wet suits to surf. I like this one.” Leo points a blue and green suit. “Ok, it’s possible, do you think the water is cold and the air outside is cold. You can two can pick out wetsuits.”Mia finds a full body, pink and purple suit, with matching flippers. “Mom, I’ll have this one and these can help me swim, if we aren’t doing a surfing lesson.” “Mia, what a great idea, and maybe we can go snorkeling as well. I’ll pick one out too. Leo get some flippers too, and a snorkel mask.” Melody mentions with hope for fun moments. “Awesome, thanks, Mom.” The kids gather a wetsui


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.