تسجيل الدخولCkit.
William menghentikan mobilnya dibasement apartemen Archen, dia menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang sudah menujukkan pukul sepuluh malam. Dia pun lekas keluar dari mobil kemudian berjalan menuju lift.
"Pasti mereka marah." gumam William.
Bagiamana tidak marah karena waktu janjian mereka melesat satu jam dari yang sudah mereka janjikan. Pikir William.
Saat menunggu pintu lift terbuka, salah satu lift disebelah William terbuka.
"Sialan
William terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sedikit pusing. Dia mendesis pelan dan saat hendak mengangkat tanganya, dia tersadar jika ada sesuatu yang menindihnya. Dia menoleh kesamping dimana Clarissa sedang tidur dilengannya dengan pulas.Perlahan William menarik tangannya agar tidak membangunkan Clarissa, dia bangkit dari tidurnya lalu mengambil segelas air diatas nakas dan meminumnya. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas lalu menyalakannya. Matanya terbelak saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari kedua sahabatnya."Tumben mereka spam telepon."William mencoba mengingat-ingat kejadain tadi, namun dia hanya ingat saat datang ke apartemen kekasihya lalu minum hingga dia kehilangan kesadaran. Dia menghela nafas panjang saat ponslenya dalam mode silent.Ting.Ponsel dalam gengamannya berdenting, dia melihat sebuah pesan masuk dari sahabatnya.Lego: (send pict) ini akibat lo abaikan telepon kita.W
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan ponselnya ke saku celana, dia menatap Lego lalu menganggukkan kepalanya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Lego mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemen miliknya."Lo yakin kita pergi tanpa William?" tanya Lego."Mau gimana lagi, dia aja nggak angkat telepon gue." jawab Archen."Lagi sama ceweknya kali, biasanya kan Clarissa suka gitu."Archen mengangguk mengiyakan. "Dia selalu ngelarang-larang Liam pergi sama kita."Lego tetawa pelan, dia sangat menyayangkan sikap William yang sangat bucin dengan kekasihnya hingga tak memiliki banyak waktu untuk mereka. Mereka bedua bukan sekali dua kali meraskan ini, maka dari itu mereka kerap mengeje
Drrtt...ddrrttt...Thalia menoleh saat ponselnya bergetar disebelahnya, dia menatap layar ponselnya yang terdapat nama Leon."Ngapain dia telepon gue?"Dengan cepat Thalia mengangkat panggilan dari Leon."Halo.""Lo dimana?""Gue di kost, ada apa?""Bisa ketemu?"Thalia terdiam, untuk apa Leon mengajaknya bertemu di jam sekarang."Gue jemput sekarang."Tut."Eh Le, Leon."Thalia menatap layar ponsel yang panggilannya sudah terputus, dia menghela nafas panajng karena tiba-tiba Leon hendak menjemput tanpa persetujuannya. Dia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam."Ngapain dia mau ketemu gue? Apa mau bahas masalah Ojel lagi?"Thalia mulai bertanya-tanya untuk apa Leon mengajaknya bertemu, terakhir kali mereka membahas masalah dia dan Nozela. Dan saat di perpustakaan tadi dia bahkan tidak tahu apa yang dibahasnya dengan Nozela.Waktu semakin
Plak!"Aw, sakit Jel. Lo main tangan mulu dari tadi." ucap William sambil mengelus keningnya yang baru saja ditabok Nozela."Masih mending gue cuma nabok kening lo ya, bukan mulut lo.""Tapi gue beneran Jel." ucap William berubah serius.William menatap kedua bola mata Nozela dengan intens tanpa berkedip sama sekali, beberapa kali tatapanya mengarah ke bibir sahabatnya yang memerah. Perlahan William mencondongkan tubuhnya ke depan hingga mereka berdekatan.Jantung Nozela berdetak dua kali lebih cepat, ditatap William seperti ini membuatnya semakin gugup dan takut. Dengan jarak sedekat ini dia bisa merasakan hembusan nafas William mengenai wajahnya. Nozela semakin deg-degan saat tangan William meraih tangannya dan mengelus punggung tangannya."William nggak beneran kan?" batin Nozela takut.Nozela takut pasalnya bibirnya masih bengkak, jika William melakukannya lagi, dia tak bisa membayngkan akan seperti apa bentuk bibirnya.Waj
Leon terdiam sambil menatap lurus kedepan, satu tangannya berada didagunya, hembusan nafas kasar terus keluar dari hidung mancungnya. Perasaannya gelisah sejak meninggalkan kampus tadi, dia tak bisa terus seperti in, merasakan ketidaknyamanan karena hubungannya yang sudah berkakhir meski dia belum menyetujui untuk putus dengan Nozela.Cahaya matahari sore menembus kaca mobilnya dan sedikit menyilaukan mata, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang kacau balau saat ini. Tangan kirinya mengenggam setir mobil dengan kencang hingga urat-uratnya terlihat jelas."Aku udah cantik belum, Le?"Hening....Clarie yang duduk dikursi sebelah Leon seketika menoleh, dia mengerutkan keningnya saat Leon hanya diam saja tanpa merespon dirinya. Dia memasukkan kembali alat makeupnya lalu mneyentuh lengan Leon.Leon terkejut, dia menoleh dan mendapati Clarie sedang menatapnya dengan tatapan bingungnya."Ada apa Clarie?""Kamu ngelamun
"Kamu kenapa cemberut terus dari tadi?""Nggak papa."Clarissa menolehkan wajahnya ke samping lalu menatap keluar jendela. Sambil bersedekap dada dia terus mengerucutkan bibirnya bahkan sejak tadi dia terkesan cuek dengan William.Sambil fokus pada jalanan didepannya, William meraih tangan Clarissa lalu mengenggamnya erat."Kenapa, coba cerita sama aku." ucap William lembut.Clarissa tersenyum tipis selama beberapa detik, namun setelahnya dia berdehem pelan untuk meredakan senyumnya lalu menoleh ke arah William."Janji nggak marah?"Willim menoleh ke arah kekasihnya lalu mengangguk sambil tersenyum."Iya sayang, janji.""Ada apa? Kayanya serius banget."Sebelum bercerita, Clarissa menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia kembali memasang wajah sendu dan dengan bibir mengerucut."Sebenarnya aku tadi didorong Nozela."Ckit!William menghentikan mobilnya secara mendadak saking







