LOGINWilliam dan Nozela merupakan sahabat sejak kecil, mereka dibesarkan ilingkungan yang sama namun harus terpisah saat mereka masuk SMA karena William ikut kedua orang tuanya ke luar negeri. William dan Nozela kembali bertemu saat memasuki perkuliahaan. Hingga suatu saat ada kejadian tak terduga dimana Nozela melihat sang sahabat tengah menonton film terlarang. Membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tak sepantasnya. Akankah mereka bertahan meski sudah memiliki pasangan? Atau mereka rela meninggalkan pasangan mereka?
View More"Kak Liam lama banget sih kak, Luna udah laper nih." Gerutu Luna.
"Sabar elah, baru juga lima menit matiin teleponnya."
Brigita Nozela, gadis cantik yang memiliki rambut sebatas bahu saat ini sedang duduk disofa bersama seorang gadis remaja yang kini tengah mengerucutkan bibirnya karena kelaparan menunggu sang kakak.
Aluna kembali menidurkan kepalanya di paha Nozela, dia kembali menonton film itu meski perutnya terasa lapar. Nozela sebenarnya merasa kasihan pada Luna, tapi dari pada terjadi kebakaran dapur di rumah mewah ini lebih baik dia menunggu William saja.
"Nih makan."
Aluna membuka mulutnya saat Nozela menyuapinya keripik kentang, mereka lebih cocok menjadi kakak adik jika dibandingkan dengan William.
"Kenapa yang jadi pacar kak Liam bukan kak Ojel aja sih, kenapa harus nenek lampir itu."
Uhuk..uhuk
Aluna segera bangkit dari posisi tidurannya lalu mengambil segelas jus dan memberikannya pada Nozela.
"Minum dulu kak."
Nozela dengan cepat menenggak jus itu. Setelah merasa baikan, dia meletakkan kembali gelasnya ke meja.
"Lun, jangan asal ngomong ya. Gue sama abang lo udah sahabatan dari jaman lo belum dicetak, enak aja main suruh kita pacaran."
Aluna meringis kecil. "Tapi Luna lebih suka kak Ojel dari pada kak Clarissa, dia itu judes banget nggak kaya kak Ojel."
Seketika Nozela merasa kepalanya mulai membesar karena dipuji adik dari sahabatnya. Dia mengibaskan rambut sebahunya kebelakang dengan gaya centilnya.
"Gue emang sebaik itu dek Luna."
Luna mencebikkan bibirnya melihat kepedan Nozela yang dianggapnya sebagai kakak kedua itu.
"Minusnya jomblo aja sih. Hahaha."
Nozela menatap Luna tajam. "Berani banget lo ngatain gue jomblo ya bocah kemarin sore."
"Hahaha, ampun kak. Geli. Hahaha."
Luna tertawa terbahak-bahak saat Nozela mengelitiki perutnya. Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi William sudah berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum melihat dua gadis beda generasi itu saling bercanda.
"Ehem."
Nozela menghentikan gelitikannya pada perut Lun saat mendegar suara deheman dari belakang. Dia tersenyum saat melihat William datang membawa dua kantong kresek makanan pesanan mereka.
"Ya Tuhan, Luna hampir aja mati kelaparan."
William mencubit bibir adiknya sebelum meletakkan bawaannya ke atas meja.
"Mulutnya." Ucap William.
Nozela mengambil martabak manis pesanannya, dia tersenyum saat aroma manis dan wangi dari martabak itu menguar saat dia membuka bungkusnya.
"Kak Ojel sisain, Luna juga mau." Ucap Luna.
"Belum juga gue makan." Ucap Nozela.
Nozela mengambil satu potong lalu memakannya, dia melirik William yang hanya diam saja sambil memainkan ponselnya. Dengan iseng, Nozela mengarahkan martabak itu ke mulut William.
William menggigitnya dengan ukuran besar membuat Nozela membelakan matanya."Tck, gede banget gigitnya." Decak Nozela.
William meletakkan ponselnya, dia menahan tangan Nozela lalu berusaha memakan lagi martabak di tangan Nozela.
"Liam awas. Woyyyy tangan gue kena ludah lo anjir."
Luna tertawa melihat kakaknya yang berebut martabak, sebuah ide muncul dikepalanya. Dia mengambil ponselnya lalu memfoto kedua orang itu.
"Bagi dikit Jel."
"Lepasin dulu Liam."
William melepaskan tangan Nozela, dia menatap wajah cantik sahabatnya yang nampak memerah.
Brigita Nozela, gadis cantik berambut lurus sebahu merupakan mahasiswa semester dua jurusan manajemen di salah satu universitas bergengsi di kota Jakarta Selatan. Nozela atau yang biasa dipanggil Ojel itu memiliki mata yang tajam, dia memiliki sahabat bernama Thalia dan William.William merupakan sahabatnya sejak kecil, namun saat menginjak sekolah menengah hingga sekolah menengah akhir, William pindah ke luar negeri mengikuti orang tuanya dan baru kembali ke tanah air saat memasuki jenjang perkuliahan. Nozela sendiri merupakan anak tunggal, sedangkan William memilki adik perempuan yang baru SMA kelas 10.
Sedangkan bersama Thalia, dia berteman sejak masuk kuliah. Kebetulan mereka berada dijurusan yang sama dan Nozela yang mudah bergaul langsung mengajak Thalia berteman.
"Belepotan banget."
William mengambil tissue kemudian mengelap mulut adiknya yang sedikit kotor, dia tersenyum saat melihat Aluna makan dengan lahap.
"Oh iya."
William menoleh ke arah Nozela saat gadis itu berbicara.
"Malam ini gue jadi nginep disini." sambung Nozela.
"Oke nggak papa. Tapi sebenernya misalnya lo nggak jadi nginep juga nggak papa Jel, takut lo ada acara apa gitu."
Nozela menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, gue free malam ini."
Willian menganggukkan kepalanya, dia menatap tangan Nozela yang masih memgang martabak kemudian meraihnya lalu memakannya.
"Liam." protes Nozela.
William hanya tersenyum sambil menyeka mulutnya.
Disamping mereka, ada Aluna yang sejak tadi memperhatikan keduanya sambil tersenyum. Dia merasa senang diatas rasa sedihnya karena harus ditinggal kedua orang tuanya yang sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Cocok banget sih, sayang cuma sahabatan doang." gumam Aluna.
Pukul sepuluh malam, ketiga orang itu masuk ke kamar masing-masing, Aluna yang sudah mengeluh mengantuk mengajak Nozela pergi ke kamar untuk istirahat.
"Luna tidur dulu ya kak, selamat malam."
"Malam Lun."
Nozela tidur terlentang sambil melihat ke arah plafon kamar Aluna, matanya mengedip-ngedip karena rasa kantuk tak kunjung datang.
"Lun, lo udah tidur?" tanya Nozela.
Tak ada jawaban.
Nozela menoleh ke samping dan tak lama mendengar suara dengkuran halus dari Aluna, dia menghela nafas pajang saat tahu Aluna sudah tidur.
"Kok gue nggak bisa tidur ya?"
Nozela menyibak selimutnya lalu bangkit dari ranjang, dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja nakas kemudian melangkah pelan keluar dari kamar Aluna.
Klek.
"Belum tidur?"
"Astaga."
Nozela berjengit terkejut saat suara William tiba-tiba terdengar dibelakang tubuhnya, dia lekas berbalik badan dan mendapati William sedang menahan tawanya.
"Lo ngagetin tahu."
Plak.
Nozela memukul lengan William saking kesalnya, hampir saja jantungnya berpindah tempat karena ulah sahabatnya.
"Sorry Jel. Lo kenapa keluar? Nggak bisa tidur?"
Nozela mengangguk sebagai jawaban. "Lebih tepatnya belum ngantuk sih?"
"Mau ikut gue?"
Nozela mengerutkan keningnya. "Kemana?"
Greb.
Nozela menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh William, dan tak lama setelah itu William menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
"Liam mau ajak gue kemana sih?" batin Nozela.
Nozela berdecak pinggang didepan ranjangnya, dihadpannya sudah ada beberapa dress yang dia letakkan diatas ranjang. Dia menatap tiga dress barunya yang sama sekali belum pernah dipakainya, semua dress itu terlihat bagus dan cocok dia gunakan untuk dinner bersama orang tuanya nanti."Gue pakai yang mana ya?"Tok..Tok.."Masuk."Pintu kamar Nozela terbuka, Tiara masuk dan seketika terkejut karena Nozela belum siap-siap. Dia lekas menghampiri Nozela yang hanya diam mematung didekat ranjang."Kamu kenapa belum siap-siap Jel, udah jam berapa ini nanti kita telat loh." ucap Tiara."Ojel bingung mau pakai dress yang mana mah, semuanya bagus."Nozela menoleh ke arah mamanya dengan wajah memelas, hal yang tidak dia sukai saat pergi ke acara formal ya seperti ini. Dia kesulitan memilih pakaian yang bahkan hanya untuk dipakainya sendiri.Tiara menghela nafas pelan, dia lekas mengamil satu per satu dress Nozela lalu menempelkannya ke tubuh
Nozela duduk diujung sofa sambil menatap Thalia dan Leon bergantian, dia kemudian menghela nafas palna lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Nozela memijit pangkal hidungnya, kepalanya yang sebenarnya masih pusing akibat efek alkohol yang dia minum seketika bertambah pusing karena melihat kehadiran Leon di rumahnya.Bukan tanpa alasan, Nozela sudah tak ingin bicara atau berurusan lagi dengan mantan kekasihnya. Dia sedang dalam masa percobaan untuk move on, namun dengan tidak tahu dirinya Leon masih terus mengejarnya padahal dia selalu memberikan penolakan.Seperti sekarang ini, Leon justru datang ke rumahnya dengan alasan menjenguknya yang sedang sakit. Dia tidak sakit, hanya saja William tadi pagi mengirim pesan ke Thalia menggunakan ponselnya dan Thalia pasti mengira dia benar sakit."Wajah kamu masih pucet Jel, mau ke dokter aja?" tanya Leon."Nggak perlu, gue udah nggak papa kok." jawab Nozela seadanya.Thalia menelan ludahnya kasar, diliha
"Nggak akan gue biarin cewek gatel itu deketin William terus. Awas aja kalau sampai yang diomongin Thalia itu bener, habis kamu Nozela."Setelah jam kuliah selesai, Clarissa buru-buru keluar dari kelas, sepulang dari kampus dia akan langsung pergi ke apartemen William untuk memastikan dugaannya salah. Dia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian meninggalkan area kampus. Meski Thalia tak begitu dekat dengan William namun tak menutup kemungkinan bahwa Thalia mengetahui apa saja yang mereka lakukan.Sejak petemuan terakhirnya dengan Thalia tadi dia selalu merasa tidak tenang. Bagaimana bisa tenang kalau dia terus kepikiran William dan Nozela.Dengan tangan yang mencengkeram setir dengan kuat, Clarissa semakin menambah laju mobilnya. Dia belum bisa tenang jika belum melihat dengan mata kepalanya sendiri. Beberapa menit kemudian dia sampai di basement apartemen William, dia segera turun lalu masuk ke dalam lift."Semoga William ada disana." gumam Clarissa.
"Thalia, tunggu."Thalia menghentikan langkahnya saat Leon memanggilnya, dia menoleh ke belakang dan terlihat Leon berjalan cepat menghampirinya."Ada apa Le?" tanya Thalia."Lo tahu kemana Nozela? Kenapa dia nggak masuk hari ini?""Gue cuma dikasih tahu kalo dia nggak enak badan.""Apa? Jadi Ojel sakit?"Thalia menganggukkan kepalanya pelan. "Iya.""Lo mau kesana nggak? Gue mau jenguk Nozela juga."Pegangan tangan Thalia pada tas semakin erat, dia tak suka mendengar Leon masih sangat perhatian pada sahabatnya. Bukan karena cemburu, namun dia tak suka karena Leon terlalu plin plan dan statusnya yang kini sudah menjadi mantan kekasih.Dia menatap Leon tajam dengan rahang yang mengetat, dia tak akan membiarkan sahabatnya sakit hati lagi dengan ulah Leon. Secepatnya dia akan memberitahu Nozela yang sebenarnya sebeluh sahabanya itu luluh lalu kembali bersama Leon."Gue nggak tahu, lihat nanti."Leon mengangguk.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore