LOGINSusie Chance always claimed to value fairness above all else. Because of that, she ordered a specially designed chip implanted into my body. Whenever her childhood sweetheart suffered bouts of stomach cancer, all his suffering would be transferred onto me. On the day he underwent tumor-removal surgery, I collapsed in agony in the hospital corridor. Meanwhile, Susie gently comforted him in the ward. “So? It didn’t hurt at all, right?” Later, she said she wanted to hold a wedding with her childhood sweetheart, so he could experience being a groom as well. “Even though the one marrying me is Mark, the one I’ll register with in the future will still be you. I told you… I’ve always treated you both equally.” I said nothing, simply returning the wedding ring she had once placed in my hands. However, when the wedding march finally began to play, I boarded a one-way flight far away.
View More“Septian Anggara menjadi salah satu korban tewas dalam penerbangan pesawat Japan Airlines, saya meminta keluarga untuk datang mengidentifikasi mayatnya. Kini jasadnya sudah berada di Rumah Sakit Medika Utama.” Ucap seseorang yang melakukan panggilan telepon.
Mata Akira membulat karena terkejut. Tangannya gemetar hingga benda pipih berbentuk persegi itu terlepas dari genggamannya. Tubuhnya luruh, bertumpu pada kedua lutut. Isak tangis mulai terdengar ke seluruh penjuru rumah. Bagaimana seorang istri bisa kuat menghadapi berita tentang kematian suaminya? Hati Akira begitu sesak, terasa sakit seperti dikoyak ribuan pisau. Mendengar berita yang sangat mengejutkan, layaknya mendengar suara petir di siang bolong, tak ayal membuat dirinya merasa sangat syok. Kabar itu begitu menyakiti hatinya. Akira belum siap untuk menerima kenyataan pahit ini. Anggara adalah suaminya, satu-satunya orang yang menemani semenjak dirinya hidup sebatang kara. Jika memang berita itu adalah sebuah kenyataan, akankah dia bisa menjalani hari-harinya tanpa sosok sang suami? Akira menggelengkan kepala, mencoba untuk menyangkal kabar buruk itu. Mengusap kedua pipi yang sangat basah, hingga baju bagian atas pun ikut basah karena lelehan air matanya sendiri. Akira tidak ingin penantiannya selama ini berakhir dengan kenyataan tragis. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri jika orang yang dimaksud sang penelpon bukanlah suaminya. Tentunya tak akan pernah percaya sampai dia melihat secara langsung tubuh suaminya sendiri. Dengan sisa tenaganya, Akira mencoba bangkit berdiri. Berjalan terseok, mengambil tas dan segera melangkahkan kaki untuk keluar rumah. Sekarang dia harus berada di samping suaminya, meskipun kini Anggara hanya tinggal seonggok daging tanpa nyawa. Kini dia berada di dalam sebuah taksi yang akan membawanya ke sebuah rumah sakit, sesuai dengan yang diucapkan oleh sang penelpon. Selama di perjalanan hanya isak tangis yang keluar dari bibirnya. Wajah Akira terlihat sedikit memutih, menahan rasa sakit pada perutnya yang mendadak kram. Walau bagaimanapun, pikirannya sangat berpengaruh dengan kondisi janin dalam perutnya. Namun Akira mencoba melawan rasa sakit itu. ‘Mas Anggara, kenapa ini semua harus terjadi pada kita? Ketika hidup kita sudah bahagia, dan sebentar lagi kita akan memiliki seorang bayi. Kenapa kamu harus pergi?’ batin Akira pilu, mengelus perut buncit yang terasa mengeras. Kandungannya sudah menginjak usia 7 bulan. Dua bulan lagi buah hatinya dengan Anggara akan lahir ke dunia. Hasil cintanya dengan sang suami. Akira tidak ingin anaknya kelak kehilangan satu sosok yang sangat berarti. Tanpa terasa, kendaraan roda empat itu telah memasuki kawasan rumah sakit. Akira segera melangkah keluar setelah membayar sejumlah uang tanpa menunggu kembalian. Dia terus melangkah terburu-buru menuju ruangan yang akan dituju, sesuai arahan seorang suster. Kini langkahnya telah berada di depan pintu yang bertuliskan kamar mayat di sisi atas pintu. Seluruh tubuhnya gemetar, menahan diri untuk tetap kuat, menghadapi kenyataan pahit yang menunggu di depan mata. Memasuki ruangan yang sangat dingin dengan aura menyeramkan. Hingga seorang perawat laki-laki menunjukkan ke satu mayat yang merupakan jasad suaminya. Mendadak tubuhnya semakin lemah, hingga tak kuasa mencari tumpuan untuk menopang beban tubuhnya. Dia bersandar pada sudut brankar, tangannya mencari pegangan pada sisi ranjang besi yang terasa dingin. Dalam hati, muncul sebuah ketakutan akan harapan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Akira menguatkan dirinya yang mulai rapuh, memandang pada mayat yang seluruh tubuhnya tertutup dengan kain putih. “Apa nyonya mau melihatnya sekarang? Maaf apa ada keluarga yang mendampingi?” Tanya seorang perawat laki-laki yang bertugas di kamar mayat. Tatapannya menelisik pada penampilan wanita dengan perut buncitnya. Akira mengangguk lemah, dia bahkan lupa untuk memberitahukan hal ini pada kedua mertuanya. “Maaf, apa tidak sebaiknya nyonya menunggu hingga keluarga yang lain datang mendampingi?” Tatapan laki-laki itu terlihat sangat iba, merasa kasihan melihat kondisi wanita di hadapannya tampak lesu. Bahkan dia takut jikalau nantinya wanita itu tidak akan kuat, melihat potongan jasad yang terlihat seram dan tak utuh. “Sa—ya bisa, saya hanya ingin memastikan jika jasad ini bukanlah suami saya.” suara Akira terdengar lirih, bibirnya gemetar karena isak tangis. “Baiklah, saya akan membukanya.” Meskipun dengan berat hati, laki-laki itu tetap melakukan tugasnya, sesuai dengan perintah. Dia membuka kain itu perlahan hingga sebatas leher. Sesosok wajah yang nyaris tak dikenali, karena begitu rusak dan bahkan terlihat sangat hancur. Wajahnya penuh dengan luka dan darah yang tampak mengering. Bahkan tulang-tulang di wajahnya hancur tak berbentuk, sudah menyerupai monster. Akira menatap pada wajah yang tampak asing di pandangannya. Dia sangat ingat akan wajah suaminya. “Tidaaakkk! Tidak dia bukan suamiku! Dia bukan mas Anggara!” Teriak Akira tak terkendali. Dia terus menggelengkan kepala dan bergerak mundur sambil menutup mulutnya. Bagaimana mungkin wajah tampan Anggara berubah menjadi sosok yang tampak menyeramkan dan bahkan Akira sendiri tidak mengenalinya. Akira mencoba menyangkal bahwa tubuh yang terbujur kaku itu bukanlah tubuh suaminya. “Kami sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya akurat nyonya. Maaf, beliau tak lain adalah tuan Septian Anggara.” Perawat laki-laki itu mulai menutup wajah mayat itu kembali. Hati Akira bergejolak, dadanya berdebar hebat, namun hanya rasa sakit yang terasa setiap dirinya menarik nafas. Bukan fisiknya yang sakit, namun batinnya begitu terluka. Hingga perutnya merasakan kram yang sangat hebat, karena kondisi Akira yang begitu tegang. Keringat dingin terlihat membanjiri permukaan dahi dan pelipis. Tangannya mencengkeram pada kain dress yang membalut tubuhnya. Bibirnya terlihat pucat, meringis menahan rasa sakit yang begitu hebat pada perutnya yang mengeras. Akira masih ingin melihat jasad itu seluruhnya. Bahkan dia belum melihat badan sang suami seutuhnya, untuk memastikan kenyataan jika jasad itu memang benar milik Anggara. Akan tetapi, tubuhnya terasa lemas, sangat lemas. Sehingga dia tidak mampu menahan berat badannya sendiri. Pandangannya pun terlihat semakin kabur. Hingga ketika Akira hendak melangkah namun kedua kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya. Sebelum tubuhnya mendarat ke lantai, ada sepasang tangan kokoh yang menangkap tubuh lemah Akira. ***Once a rising star in the tech world, she fell from grace almost overnight.She sold her mansion and luxury cars, yet it still wasn’t enough to cover her massive debts.Eventually, her ID was seized by the court, turning her into someone who couldn’t even take a high-speed train.To escape her creditors, Susie stowed away on a deep-sea fishing vessel.In the stinking ship cabin, she worked eighteen hours a day.Her hands were cut and bleeding from the fishing nets, but at least she had food and lodging and could earn a meager wage.Five years slipped away without mercy.The once confident and ambitious woman had been completely eroded by the sea winds.Her skin had darkened, her eyes were dull, and she constantly carried the lingering stench of fish.On a rare day docked for supplies, Susie clutched the few wrinkled dollars she had saved, intending to buy a pack of cigarettes.As she passed a street corner, a familiar figure suddenly appeared in her line of sight.It was me.
Susie’s pupils constricted, and she stared fixedly in that direction.Where was the serious Mark she remembered?His abs were exposed, a cigarette was pinched between his fingers, and he was proudly showing off to the wealthy women around him.“How’s this? I just pretended to have stomach cancer, and I completely played that woman from Chance Corporation.”“No doubt!” one of the wealthy women gushed. “With your body and face, what woman wouldn’t fall for you?”Mark’s vanity was satisfied, and he couldn’t help but chuckle softly.“Even though I took all those medicines to fake being sick, I didn’t suffer at all. Jason endured all the side effects for me.”“Oh wow, that’s some skill,” another wealthy woman flattered.“But you partied so hard, and when you were with Susie, you were also with us. Didn’t she ever suspect anything?”Hearing this, Mark sneered. “That has a lot to do with how stupid she is. She knew a normal person couldn’t survive late-stage stomach cancer surgery an
“Ah!”Susie writhed in pain on the operating table. “Stop… please stop!”It was only for less than ten seconds, but Susie could no longer bear it.Her face was pale as paper, tears and mucus smearing across it.When the pain finally ceased, Susie didn’t even have the strength to speak. She curled up on the table, gasping for breath.Even she had lost control of her lower body.“Just ten seconds,” Susie murmured to herself, trembling. “This kind of unbearable torture… I… I actually made Jason endure it for hours…”After experiencing everything herself, Susie finally understood the reason I had left.She staggered to her feet, ignoring the mess, and hurried home.Seeing the empty house, Susie suddenly slapped herself in a frenzy.“I’m such a beast… worse than any beast!” she screamed into the air. “Jason, I’m sorry… I really… I’ve failed you!”Tears blurred her vision.In the end, the chip that was meant to protect me had become a tool to hurt me.She kneeled on the floor, c
“Don’t you find it ridiculous to say something like that now?”The busy tone after the call ended echoed in her ears. Susie gripped her phone, her hands trembling slightly.She sat dazed on the couch as Mr. Solace’s sarcastic words replayed over and over in her mind.Outside the window, dusk slowly fell.Looking at the empty living room, Susie suddenly realized that perhaps I really wouldn’t be coming back this time.Susie slowly picked up the ring, and a cold, unmistakably real sensation spread through her fingertips.She recalled when she proposed on the beach seven years ago, and how I smiled so happily when I wore that ring.And now, it had become the only trace I left behind.“How did it turn out like this…” Susie murmured to herself. “Jason, did I really… completely break your heart?”…“Miss Chance, are you sure you want to do this?” the researcher asked with concern. “The empathic connection will synchronize all of the other party’s sensations, including—”“Cut the n












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.