LOGIN"Your insecurity is my temptation," I groaned, lowering my head and kissing every one of her exquisite curves. Araceli Serrano — innocent, sheltered, and trapped under the mercy of a cruel stepmother and a venomous stepsister — had no control over her own life. So when she was suddenly handed over in marriage to Matvei Orlov… a man she had never seen, never spoken to, never even dared to imagine — fear became her only companion. He was darkness where she was light. Power where she was powerless. Danger where she had only ever known silence. Thrown into his ruthless world, her insecurities and fragile naivety clashed violently with the cold man she now belonged to. But somewhere between his dominance and her fear… something began to shift. Because the more his dark world tried to swallow her whole, the more it awakened a confidence in her no one had ever seen before. Matvei Orlov — a powerful mafia king, feared, obeyed, and never questioned — was a man carved from ice. Cold. Cruel. Proud to the bone. So when he chose to marry a mere commoner, Araceli Serrano, it wasn’t out of love… It was revenge. A calculated move meant to spite his father and prove that no one — not even blood — could dictate his choices. To him, she was nothing more than a pawn. Soft. Powerless. Easy to control. But Matvei had ruled empires, not innocence. What he never saw coming was this —trying to tame someone so untouched by his dark world… might be the very thing that would drag the mighty Matvei Orlov to his knees.
View More"Kok sepi," gumamku sendiri.
Tak biasanya kondisi rumah tampak lengang begini. Biasanya ibu selalu ada di teras mengurus tanamannya setiap aku pulang kerja.
Bik Sum, juga tak tampak batang hidungnya. Wangi masakannya juga belum tercium. Padahal, biasanya kalau aku pulang kerja, wangi masakan Bik Sum, selalu menggugah seleraku.
"Astagfirullah, lupa kalau ini masih jam 2." Kutepuk sendiri jidatku.
Aku lupa, kalau hari ini aku pulang lebih cepat dari sekolah tempatku mengajar. Biasanya, setelah jam pelajaran berakhir. Aku mengajar les beberapa siswa yang masih belum mengerti materi pelajaran yang kuberikan di kelas. Tapi hari ini, mereka pada libur les, karena ingin melaksanakan tugas kelompok di rumah salah satu siswa.
Kucoba membuka pintu depan, ternyata dikunci. Huft, mana nggak bawa kunci cadangan lagi. Coba ke belakang ah, siapa tau, Bik Sum sama Ibu lagi di dapur. Kalau jam segini, Bapak biasanya masih di kantor desa.
Sambil mengelus perutku yang membuncit, aku jalan lagi dari samping rumah, mau ke arah belakang. Belum lagi aku sampai di belakang rumah, aku mendengar suara aneh dari kamar Ibu. Jendelanya ditutup, jadi aku tak bisa melihat ke dalam.
Kucoba menempelkan telingaku ke jendela kamar. Supaya bisa lebih jelas mendengar, suara apa itu.
Dahiku mengernyit, seperti suara ranjang yang bergoyang. Aku hafal suaranya, karena suara itu sangat khas. Kalau aku sedang bermesraan dengan Mas Bima, suara itu juga terdengar dari ranjang kami. Apalagi aku juga mendengar suara lenguhan-lenguhan nikmat dari dalam sana.
Apa Bapak udah pulang? Hmm, dasar lah. Udah tua juga. Aku jadi mengulum senyum sendiri. Malu juga, kok jadi nguping pergulatan orangtuaku.
Cepat aku berjalan ke belakang lagi. Ada orang, berarti pintu belakang nggak dikunci. Biasanya begitu sih. Kalau ada orang di rumah, tapi nggak ada yang di depan. Hanya pintu depan aja yang dikunci.
Benar saja, pintu belakang nggak dikunci. Aku masuk dengan mengendap-ngendap. Takut mengganggu pertarungan sengit Bapak sama Ibu. Bik Sum juga nggak ada. Kemana dia? Apa disuruh Ibu ke warung? Biar nggak ganggu.
Pintu kamarku juga kubuka pelan sekali, jangan sampai suaranya terdengar sama Bapak Ibu. Sampai di dalam kamar, kuletakkan tasku di atas nakas. Pinggangku pegel sekali. Usia kandunganku sudah tujuh bulan, sudah mulai terasa berat. Rebahan sejenak mungkin akan meredakan rasa pegal di pinggangku.
"Loh, itukan jaket sama baju kerja Mas Bima? Apa Mas Bima udah pulang?" gumamku saat melihat baju kerja suamiku sudah di sangkutkan di belakang pintu kamar.
Mas Bima biasanya pulang sore dari kebun. Tapi ini masih jam 2. Dia juga nggak ngabari aku kalau pulang cepat. Biasanya kalau Mas Bima pulang cepat, dia akan menelepon aku, sekalian jemput aku di sekolah.
Entah kenapa perasaanku jadi tak karuan. Apalagi teringat suara dari kamar Ibu. Tidak tidak, Divya, jangan berpikiran negatif tentang suami dan ibumu.
Aku ingin keluar lagi dari kamarku. Seperti tadi, aku juga membuka pintu kamarku sangat hati-hati. Baru lagi pintu kamarku terbuka sedikit. Alangkah terkejutnya aku, melihat Mas Bima keluar dari kamar ibuku hanya dengan memakai celana kolor saja. Cepat aku tutup lagi pintu kamarku, tapi tidak terlalu rapat.
Ya Allah, apa ini? Aku rasanya kehilangan kekuatan, bahkan untuk menopang tubuhku sendiri. Aku limbung, cepat aku bersandar ke dinding kamarku. Adrenalinku benar-benar terpacu, bahkan lebih ngeri dari melihat hantu.
Mas Bima belum menyadari, kalau aku ada di rumah. Aku mengintipnya dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dia langsung ke dapur, sudah menjadi kebiasannya. Setiap habis bercinta, dia akan minum segelas air putih. Aku kembali bersandar di dinding kamarku.
Saking syoknya, aku bahkan tak bisa berkata apa-apa. Aku ingin tak berpikiran buruk. Tapi bagaimana bisa? Apa yang dilakukan Mas Bima di kamar Ibu? Sakit, sakit sekali dada ini. Kupukuli dadaku sekuat tenaga, dadaku terasa sangat sesak. Sabar Divya, bisa jadi semua tak seperti yang kamu pikirkan.
"Bim, kamu nanti jemput Divya?" Kudengar suara Ibu.
"Iya Bu. Sebentar lagi aja. Jam segini dia belum pulang. Masih bisa …." Mas Bima berkata sangat lembut. Padahal biasanya, Mas Bima sama Ibu sangat jarang berkomunikasi.
"Ah kamu. Apa masih sanggup?"
"Mau coba. Satu ronde lagi."
"Nanti Bik Sum keburu pulang."
"Dia pasti lama. Perempuan kalau sudah disuruh beli baju, pasti butuh waktu berjam-jam."
Menjijikkan sekali mendengar perbincangan mereka yang penuh nafsu itu.
Perlahan aku buka lagi pintu kamarku. Mataku tak mampu berkedip melihat pemandangan menjijikkan di depan mataku. Pintu kamarku memang langsung ke arah dapur, jadi aku bisa melihat dengan jelas, apa yang Mas Bima dan Ibu lakukan.
Ibuku hanya memakai lingeri merah, terlihat tanpa dalaman apapun. Mas Bima dengan rakusnya melahap dada ibuku sambil meremas bokongnya. Dadaku bergemuruh melihat permainan mereka.
Kukepalkan tanganku, untuk mengumpulkan segenap tenagaku. Perutku terasa sangat tegang. Mungkin anakku di dalam sana, juga bisa merasakan, apa yang kurasakan saat ini.
Aku harus kuat, perlahan aku langkahkan kakiku. Mereka terlalu asik dengan perbuatan binalnya, hingga tak menyadari kehadiranku. Kuambil vas bunga yang ada di meja makan. Kuangkat, lalu kulemparkan ke arah mereka.
PLETAK
Tepat sasaran. Vas bunga itu mengenai kepala Mas Bima. Sontak dia menghentikan aktifitasnya.
"Divya." Ibu dan Mas Bima sangat terkejut melihatku.
Ibu cepat merapikan lingerienya. Buat apa juga dirapikan, bahkan memakai lingerie saja pun dia sudah terlihat telanjang di mataku. Tak ada gunanya lingerie itu menempel di badannya.
"Tega kalian!" kataku dengan bibir bergetar, menahan marah juga sakit di hatiku.
"Divya, maaf Mas khilaf." Mas Bima mendekatiku, berusaha memegang tanganku, tapi segera kutepis dengan kasar. Tak sudi aku dipegang oleh tangannya yang kotor.
Tangan yang sudah menjelahi setiap ceruk tubuh ibuku dengan liar. Jijik, aku jijik bila harus disentuhnya.
"Divya, kamu tenang ya." Ibu juga berusaha membujukku.
Aku menatap tajam pada Ibu. Sungguh, aku sangat tak menyangka, ibuku sendiri sanggup berbuat sehina ini. Apalagi kepadaku, anaknya sendiri.
Sedikitpun tak terlintas di benakku, akan ada perselingkuhan antara suami dan ibuku. Tak ada gelagat yang mencurigakan selama ini, bahkan Mas Bima dan Ibu terlihat kaku dan menjaga jarak kalau di depanku dan Bapak.
Kuakui ibuku masih terlihat cantik dan seksi di usianya yang masih empat puluh dua tahun. Tubuhnya begitu terawat. Ibu memang rajin melakukan perawatan tubuh ke salon, juga luluran di rumah dibantu Bik Sum. Bahkan Ibu juga ikut club fitnes. Wajar kalau tubuhnya tetap seksi. Ibu menikah dengan Bapak di saat usianya masih delapan belas tahun, sedangkan Bapak berusia empat puluh tahun. Sebab itu Ibu masih terlihat muda meski memiliki anak yang sudah menikah.
Tapi … kenapa ibu tega menjadi pelakor di rumah tanggaku? Rasanya aku hampir gila memikirkan semua ini.
Rasanya gemuruh di dadaku tak.mau berhenti. Aku berusaha untuk tak mengeluarkan air mataku. Aku tak mau terlihat lemah. Lihat saja, akan aku bongkar perselingkuhan kalian.
Ya Allah, perutku semakin tegang. Sakit sekali rasanya.
"AAAAAAAAAA!" Aku menjerit sekuat tenagaku. Air mata ku deras mengalir, tak bisa kubendung lagi seberapa kuat pun aku menahan.
Aku lempari mereka berdua dengan benda apa saja yang ada di dekatku. Ibu dan Mas Bima, berusaha mengelak dari amukanku.
"Auhhh. Ya Allah." Perutku sangat sakit.
Kupegangi perutku, keringat dingin mulai membasahi wajahku, berbaur dengan air mata yang tak henti mengalir. Aku duduk di kursi yang masih tersisa, setelah beberapa kursi kulemparkan ke arah Ibu dan Mas Bima. Sambil meringis memegangi perutku.
"Divya, sabar. Jangan emosi begini, kamu sedang hamil," kata Ibu.
Aku semakin melotot pada Ibu. Segampang itu dia bicara. Tidakkah dia merasa sakit yang kurasakan di hatiku? Katanya, seorang ibu akan merasa sakit bila anak perempuannya disakiti oleh suaminya sendiri. Lalu … bagaimana dengan ibuku?
★★★KARTIKA DEKA★★★
Araceli.The heavy leather of the punching bag groaned as my fists collided with it in full force. One after the other. Fast. Ruthless. Every single punch forced a ragged grunt out of my chest.Not far beside me, Vladimir sat in his baby stroller. He wasn't crying. Instead, his tiny feet kicked with excitement, and he cooed softly, watching my frantic movements with pure joy in his bright green eyes.I didn't stop. I kept throwing blows, my knuckles burning under the tight hand wraps. My mind was still spiraling out of control from what Kira had told me last night. I hadn't slept a wink. Every time I tried to close my eyes, Matvei’s face appeared in my dreams. My hatred for him had reached an entirely new level. Waking up this morning, the rage was still a thick, suffocating knot in my throat. By the time evening rolled around, I had no choice but to pour every ounce of my frustration and anger into the leather bag.Over the past few months, Kira had trained me fiercely. After giving
Matvei.“It’s the Ndrangheta,” I said, my knuckles white against the steering wheel. “They are getting bold. They think because I’m mourning, I’m weak. They think the fire burned out my eyes.”“They are using our own logistics partners to map our movements,” Geal muttered, looking out the dark window. “If they know where we meet, they know where we sleep, Matvei. This goes deep. We need to findout how long that wire has been live.”“We will,” I snapped. “The old man stutters in the morning, and the Japanese sprout wires in the afternoon. It’s too much noise for a single day. Someone is pushing all their chips into the center of the table.”We pulled into the mansion courtyard, the gravel flying beneath the brakes. I didn't even turn off the engine before throwing the door open. I walked straight down to the warehouse basement, the cold air hitting my face as we descended the concrete steps.Kira was already down there, her jacket tossed onto a crate, her sleeves rolled up to her elbo
Araceli.She went silent for a second. A distinct flicker of hesitation crossed her features before she finally forced the name out. “Grace Moretti.”“What?” I exclaimed. “How dare he?”I growled the words, the anger vibrating at the very edge of my voice. Suddenly, Vladimir burst into a bright, playful round of laughter. I glanced down at him with a volatile mixture of hurt, confusion, and wonder. Kira, on the other hand, had a look of clear amusement on her face. It was obvious she loved the dark, unpredictable character Vladimir was already developing.“Araceli, I think you need to calm down,” Kira explained, her voice dropping to a low murmur. “I only overheard it from the other guards after I dropped off my reports. One of them said the Morettis scampered out of the house like rats when Don Matvei came back home today. So, I’m not entirely sure of it.”My chest was already slamming hard against my ribs. The mere thought of him going back to the girl who had always wanted him made
Araceli.The cold porcelain of the sink was the only thing keeping me grounded.Vladimir kept smacking his wet lips together, kicking his small legs straight up into the air. He was a ball of pure energy, entirely unaware of the storm raging outside this safehouse. Looking down at him, his tiny, playful habits made the tight, frozen knot in my chest soften just a fraction. I pulled his small, warm body tighter against my ribs, inhaling the clean, sweet scent of his skin. He was the only piece of peace I had left in this world.“Ouch!”I yelped, flinching as a sharp sting shot through my chest. I pulled Vladimir back, staring down at him with my jaw dropped in utter disbelief. The little monster had reached out and tightly pinched my nipple with his tiny, surprisingly strong fingers.He didn't cry. He didn't even look startled. He just stared right back up at me, a slow, completely mischievous smile spreading across his little pink lips.“You knew exactly what you did, you mischievous b






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.