เข้าสู่ระบบAvelyn Right, a super model who always fails in her love relationship. After her divorce from her husband, Avelyn was very frustrated and decided to move to LA to start a new page. She then meets a kind-hearted man who saves her from a car accident. Elvis Taylor falls in love with a young woman who is more suited to be his daughter. But after his wife died, he became lonely and he just wanted to have a wife who could take good care of him. He later married Avelyn Right after saving her from a car accident. After marrying Elvis Taylor, Avelyn meets McLean Kaofax, her new boss at a modeling agency who looks like her first love. Avelyn initially hates McLean for always interrupting her life with too much work, but something unexpected makes Avelyn turn to love McLean, and she is in a dilemma with her feelings for Elvis and their fractured marriage relationship. Who will really be Mr. Right for her?
ดูเพิ่มเติมSelamat datang di cerita baru. Jangan lupa like, komen dan di follow
Selamat Membaca
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu pukul sepuluh malam kudengar. Pasti itu Mas Dani. Dia baru pulang kerja selarut ini? Tidak mengabari pula.
Segera aku hengkang dari kursi dan membuka pintu. Sedikit mengucek mata karena sempat tertidur saat menunggunya pulang. Rambut yang sedikit berantakan kurapikan pula terlebih dahulu.
Dona telah tertidur pulas di kasurnya, sedangkan aku masih menunggu Mas Dani sampai akhirnya ketiduran. Dan akhirnya, pulang juga dia sekarang.
"Hukh, akhirnya pulang juga, selarut ini tanpa kabar pula," gerutuku dalam hati. Sambil melangkahkan kaki hendak meraih gagang pintu.
Tok tok tok!
"Ya sebentar, Mas!" jawabku. Sedikit menaikan nada supaya terdengar olehnya.
Ckrek!
Kubuka pintu dengan cepat. Seokan angin malam begitu terdengar. Sapuan anginnya pun amat terasa dingin dan menembus dengan cepat ke dasar kulit.
Kutengok wajahnya sambil memegangi kedua sikut lengan yang saling bersilangan di bawah dada karena dingin.
"Waalaikum salam," ucapku lebih dulu karena dia malah melongok tanpa ucapan salam. Mata ini sudah amat mengantuk. Namun sengaja memberi jawaban salam supaya dia mengucap salam ketika pulang hendak masuk rumah.
"Eh, Assalammualaikum, Sayang." Mas Dani sedikit malu. Dan barulah mengucap salam.
"Waalaikum salam," jawabku kembali.
Langsung mencium punggung tangannya dengan takzim dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Takutnya si angin memaksa masuk dan membuat Dona yang sudah tertidur pulas menjadi kedinginan.
Blugk!
Segera aku membuka mulut ini. Walaupun rasanya malas sekali. Ngantuk, dingin dan pusing bercampur aduk.
"Akhir-akhir ini kamu sering pulang malam, Mas? Memangnya di kantor sibuk banget?" tanyaku lembut. Menyusuri langkahnya menuju kursi. Berniat ingin bersikap sinis tapi takut ia malah marah dan risi.
Mas Dani menarik nafas. Suara tarikan nafasnya pun sedikit terdengar.
"Em, ya, tadi ada sedikit masalah di kantor."
Jawabannya hanya itu. Kemudian duduk dan membuka dasi. Itupun setelah tas kopernya kubawakan.
Satu persatu Mas Dani membuka sepatu dan kaos kaki yang tercium aroma keringatnya. Padahal setiap hari ganti kaos kaki. Tapi baunya masih saja sedikit tercium. Badannya juga, keringatan sekali, padahal dia 'kan bukan tukang kuli bangunan. Apa karena dinginnya naik kendaraan bermotor membuat dia berkeringat? Hah, memangnya berkendara siang bolong?
"Kok kamu enggak ngabarin, Mas? Nomor kamu juga tidak bisa di hubungi," protesku sedikit kesal.
"Tadi batreinya habis. Karena sibuk jadi lupa untuk mengisi dayanya," alasannya.
Ya sudahlah, yang penting ia sudah pulang. Kekhawatiran dan kecemasanku kini telah sirna.
"Oh, begitu. Kamu mau teh, Mas, atau kopi?" tanyaku kemudian basa-basi. Padahal hati ini kesal sekali. Menunggunya sampai larut sampai ketiduran pula. Tapi wajahnya tanpa ada dosa sama sekali.
"Enggak usah, aku mau langsung tidur saja. Capek," tembalnya.
Mas Dani langsung berdiri menuju kamar mandi. Bersih-bersih badan dan menyuruhku mengambilkan handuk.
"Ini handuknya," ucapku.
Dia langsung masuk ke kamar mandi dan aku langsung menuju kamar tidur. Hendak menyimpan tas, setelah sebelumnya meletakan sepatu pada tempatnya.
Mata ini seperti ingin menutup saja, melihat jam sudah pukul sepuluh, belum lagi besok aku harus bangun pagi-pagi. Memang kalau kantor ada masalah dia juga ikut-ikutan amat sibuk? Mas Dani kan hanya karyawan biasa, itupun baru beberapa bulan dia bekerja.
Kerja di kantor baru karena ia keseringan di pecat.
Ah, aku tak mengerti. Mungkin, ya. Semoga saja apapun itu semuanya baik-baik saja.
Tak lama kemudian.
Mas Dani selesai bersih-bersih. Dia menghampiriku ke kamar dan duduk di ranjang.
Aku fikir dia akan mencumbu atau berbasa-basi denganku, tapi dia malah langsung tidur. Secapek itukah?
Aku mengharap perkataan maaf atau sejenisnya keluar dari mulutnya itu, namun, ah sudahlah. Mungkin dia masih malas karena terlalu capek.
Aku masih di depan cermin. Menyisir rambut amat pelan karena sudah mulai rontok, padahal usiaku baru kepala dua, namun buntutnya sembilan. Ya, tahun ini usiaku genap dua puluh sembilan tahun. Mempunyai satu anak, Dona yang baru berusia tiga tahun.
Aku sekarang jarang pergi ke salon, karena uang dari suami harus benar-benar kuhemat, apalagi untuk masa depan si kecil kelak. Aku tak ingin kelak masa depannya terganggu karena kekurangan biaya.
Mas Dani sekarang berusia tiga puluh tahun. Dulu dia menikahiku karena dia terpincut saat sedang masa-masa orientasi di kampus. Dia senior sedangkan aku juniornya.
Ya, begitulah perjalanan kami. Setelah dia lulus strata satu, mungkin niatnya untuk menikahiku muncul tiba-tiba. Apa dayaku sebagai perempuan. Takut jadi fitnah dan apalah-apalah. Maka dari itu sebelum lulus kuliah aku sudah dinikahi oleh Mas Dani. Dan beberapa bulan setelahnya langsung di bawa ke rumah ini.
Dulu rumah ini masih kami cicil, namun seiring berjalannya waktu, akhirnya rumah ini sukses dan telah resmi menjadi atas nama kami. Atas nama suamiku.
Dulu aku sempat bekerja setelah lulus kuliah, namun karena sifat Mas Dani yang kurang mengenakan setiap melihatku pulang, jadi dengan terpaksa aku resign dari kantor. Katanya dia tak ingin aku menjadi seorang wanita karir. Biar dia saja yang mencari nafkah sendiri. Ya sudahlah, Alhamdulillah kalau begitu.
Setelah beberapa tahun menikah kami tidak percaya kalau kami akan segera di karuniai momongan. Dan Alhamdulillah sampai saat ini aku telah membesarkan putriku selama tiga tahun.
Kupandangi wajah ini di cermin. Terlihat garis-garis halus mulai menyemai di kulit wajahku. Perlahan kuraba dan kuusap, semoga saja sampai raut wajah ini benar-benar menua, aku masih tetap bisa berkumpul dengan anak juga suamiku kini.
Pakaian tidur tipis sudah kupakai. Berniat tampil seksi dan memukau seperti malam-malam biasanya. Membersihkan seluruh badan pun sudah dari tadi. Namun Mas Dani sama sekali tidak melirikku. Dia langsung tidur terlentang dan ngorok pula. Huh, pasti dia capek sekali. Kasihan juga.
Karena IQ suamiku mungkin tidak terlalu bagus jadi dengan berserah hati Mas Dani hanya bisa diterima sebagai karyawan biasa. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, posisinya akan semakin membaik. Aku tidak tahu entah esok atau nanti dia bisa naik jabatan mungkin? Semoga saja prestasinya di kantor selalu meningkat.
Perlahan akupun mulai mendekat ke arah ranjang. Menduduki ranjang dan berbaring di samping Mas Dani.
Kulihat keringatnya keluar banyak sekali, padahal baru saja dia bersih-bersih. Memang tadi dia kerja apa? Bukannya hanya duduk-duduk saja. Hanya otak saja yang memutar sedikit. Aneh.
Biasanya Mas Dani selalu merayu dan mencumbuku sebelum tidur. Ya bukan berarti melakukan hubungan setiap malam. Namun aku dan dia bagaikan teman main saja. Ketawa ketiwi, ngoceh sana ngoceh sini. Makanya, sekarang aku jadi merasa aneh.
Tadi mataku seperti di lem saja. Inginnya terpejam terus. Tapi setelah melihat kondisi Mas Dani yang amat kecapekan, pikiranku malah kemana-mana. Mata ini terus saja melek. Rasa ngantuk kini malah hilang.
Beberapa jam kemudian
Akhirnya setelah beberapa lama tak di sadari mata inipun mulai kembali lengket. Ngantuk sekali dan tertidur sambil tangan sebelah memeluk suami.
***
Pagi harinya, seperti biasa aku menyiapkan sarapan. Kali ini aku menghidangkan nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai temannya.
Dona sedang asyik bermain di lantai yang dialasi tikar permadani. Memain-mainkan boneka pemberian neneknya, Ibu suamiku.
Tiba-tiba Mas Dani menghampiri.
"Wah wangi banget," ucapnya sedikit manja. Memuji-muji masakanku yang hanya memasak nasi goreng tambah telur. Tapi memang itu adalah kesukaan Mas Dani setiap pagi. Tidak bosan-bosannya.
"Iya, yuk sarapan dulu, Mas," ajakku.
Aku segera mengambil Dona dan mendudukkannya di kursi meja makan bersebelahan denganku. Karena dia lebih suka duduk dan sesekali tidak ingin disuapi makan.
Piring dan sendok telah kuberikan pada Mas Dani. Supaya dia cepat makan karena harus berangkat kerja.
"Diandra, aku punya sesuatu buat kamu."
Mas Dani tiba-tiba berkata demikian. Lantas aku terkejut, sesuatu apa? Kalau uang gajihan kan masih beberapa minggu lagi?
Sejenak aku menyimpan sendok yang hendak mengambil teman nasi.
"Ini, aku ada uang lebih buat kamu," katanya sambil memberikan sebuah amplop berwarna coklat kekuning-kuningan. Jelas itu adalah amplop yang biasa di gunakan untuk mewadahi uang.
Jelas aku terkejut.
Sebelum aku menampannya.
"Lho, kamu sudah gajihan, Mas?" tanyaku heran. Ya, memang ini bukan jadwal dia mendapatkan upah dari kantor."Kamu terima saja. Ini adalah bonus dari bos."
Keningku hanya mengernyit heran dan bingung. Hadiah?
"Ayok ambil. Buat nambah-nambah kebutuhan dapur," katanya lagi.
Alasannya memang cukup masuk akal.
Perlahan uang itu Mas Dani simpan di telapak tanganku yang belum mengambil amplop dengan sendirinya.
Mataku menoleh ke arahnya.
Perlahan membuka amplop itu dan kulihat dalamnya.
"Mas, kok ini nominalnya sama dengan upah kamu sebulan?" tanyaku masih amat heran dan penasaran.
Bagaimana tidak penasaran, Mas Dani baru bekerja sekitar empat bulan, karena dia telah resign dari kantornya dulu. Eh sekarang sudah dapat bonus saja. Bukan tidak bersyukur, tapi ...
"Kamu kenapa? Itu namanya rezeki," sambungnya lagi.
"Hm, Alhamdulillah ya, Mas. Bos kamu baik banget. Padahal kamu hanya karyawan biasa. Tapi dia sudah ngasih kamu bonus dalam jangka waktu yang sebentar pula," syukurku namun masih amat heran.
"Ya, aku memang tidak bisa kerja seperti kamu dulu, yang langsung di terima sebagai sekretaris di perusahaan besar. Dengan gaji yang besar pula. Aku sebagai karyawan ya, hanya bisa memberi kamu seminimnya," cutusnya.
Tiba-tiba hatiku merasa tak enak. Aduh, apa ucapanku menyakiti hati Mas Dani?
"Bukan begitu, Mas. Maaf ya. Malah aku senang sekali, kamu kerjanya rajin. Prestasi kamu pasti juga semakin bagus. Ya, kalau aku sedikit heran wajar 'kan? Ya, sudah, yuk lanjutkan makanan kamu. Uangnya aku terima dan kusimpan ya, Mas."
Akhirnya kami pun sarapan bersama. Sesekali kami memanjakan Dona juga mengisenginya. Alhamdulillah, rasanya kebahagiaan ini selalu saja bertambah setiap waktu.
Fikiran ini masih belum berhenti suudzon. Kenapa suamiku bisa mendapat bonus sebesar dan secepat itu? Memang apa yang ia perbuat?
Lalu setelah beberapa lama aku baru menyadari. Mas Dani memakai jam tangan agak mewah, ya meskipun tidak begitu mahal, tapi kapan ia membelinya? Kemarin rasanya aku belum melihat arloji itu?
Apa kutanya saja? Tapi ... ah sudahlah, biar kutanya nanti. Lebih baik aku lanjut makan saja. Semoga prasangka di dalam hati ini benar-benar salah.
–––
The halls were full and bustling with Royale High School students. Avelyn walked as usual down the hallway, ignoring the scornful stares of her friends. Isn't that normal? Avelyn thought sarcastically. For almost three years, she had always received the same gaze from them. So this is no longer a problem for her. But is she sure that this is not a problem? A student suddenly blocked her way. He looked at her body with an impolite look, then suddenly gripped her chin with a painful grip. "Let me go!" Avelyn hissed sarcastically. As far as she knew she had never had any business with the dark curly-haired student. But she knew what his name was, Hudson. That boy had never bothered her, at least as long as she was with Michael. Only a fool would dare to deal with Michael. Unfortunately not anymore. Avelyn wasn't part of Michael anymore, ever since she slapped the man for her lecherous act. Their relationship was practically broken. Michael didn't come to her often in class anymore to d
Avelyn hesitated to ring the bell in front of her. But this is the only chance she has so she can be free from Michael who has been looking for her since five days ago. Her flight from that man was not time to stop. She had to keep moving in order to avoid Michael's hired spies whom he had seen in the various places he had been. This morning when she came out of her rented apartment on the outskirts of LA, she saw a man with glasses standing reading a newspaper across the street, right in front of her apartment window. Of course she wouldn't be as paranoid as it if the man she saw this morning was not the same as the man she saw yesterday while having lunch at a Japanese restaurant. Without any hesitation, Avelyn was sure that this man was the spy Michael sent to find her. But to hell with that guy. After she was sure that her position was known, she just walked out of the apartment, speeding fast right in front of the man using her sports car which she happened to be able to rely o
Elvis Taylor is an old man with a gloomy face who has not been touched by happiness during his life. Since his wife and child died, Elvis has continued to make himself like a robot who has absolutely no thought for his own health. Now at the age of fifty-three, Elvis looked so pale, his cheekbones protruded horribly because of his thin body. Her eyeballs, once brilliant green, had faded to a cloudy green from looking at the computer too much. Elvis's pale skin looked wrinkled here and there because of the effects of the hard drugs he had been consuming. Although he never considered his heart disease to be a serious disease, he occasionally took medication to survive. He needs to endure until he finds the right person to replace him. There are thousands of employees who survive from the business he started. If he dies, then who will be responsible for them? It's not easy running a business in the life of the family troubles that have haunted him for the past twenty five years or so. E
There is no worse day than today. Avelyn felt so bad he felt like crying. Really she hates being in the silence without anyone who will hold it. Rebecca here couldn’t help calm her down. And she also didn't want to keep bothering Rebecca just to hear all her sad story. She was an adult, married, but her heart and mind felt completely immature. Until now she hasn't even tried to fix the problem with Elvis. Her ego is really too high just to just contact Elvis, then invite the man to talk nicely. And because of that now Avelyn was sad. All day, after she came home from McDonalds feeling annoyed with Tobbie, she just stayed home without doing anything. Many times Magda knocked on her door, reminding her to eat, but she always refused on the grounds that she was full. But that's exactly what happened. She is full of the problems that have befallen her. This impulsive marriage in fact tortured her and made her heart waver. It is undeniable that her recent closeness with Lean has influence
"The results are very good, and the user also satisfied. You will definitely get a contract extension from Cartier." Lean couldn't hide his happy face when a few minutes ago he got a report from Cartier's representative if they really liked the theme proposed to them, as well as liked the model used
The photo shoot at the Desert Botanical Garden went off without a hitch the next day. After spending a night without arguing because Lean was cooperative with Avelyn's rules, the next morning they were able to continue the journey with a brighter heart. All the way to Phoenix, Avelyn looks more aliv
It was only an hour later that Avelyn woke up from her uncomfortable sleep because she was sleeping on her stomach. The remaining tears that had been dripping on the white sheet on her bed, now looked dry and there was nothing left there from her tears. It's just that Avelyn's eyes now look swollen
Lean smiled faintly as he felt Avelyn's body next to him. That naive woman was not as tough as he thought. Still she will give in to her ego and decide to sleep next to him because that woman must be just as tired as himself. But it was funny to think of Avelyn who was now next to him. Did he ever t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น