LOGINAmigos' Love Story (Series)- Standalone book His Cupcake (Book One) Carlos Gonzales + Cassandra Johanson Cassandra Johanson, a girl who likes to write romance stories. She was on cloud nine when her new published novel became 'top picked' books but not too long until she found out something real about the book. The reality freak her out at the moment she found out the main character that she created from her own imagination was real and the guy was standing in front of her, proudly introducing himself. Carlos Gonzales, a successful businessman in the hotel industry, known as a serious, less of sense of humor & grumpy man. Unexpectedly found out that someone made him as the main character in the novel. He bought the book due to his curiosity but immediately got hooked up with it. The girl behind the book caught his attention. He came out with a plan to know more about her, but it wasn't easy as opposite personalities often need time to get along. *** "Damn, we should make it to one week. We shouldn't talk right now." I knew she purposely did that to piss me off. I smooch her lips without any warning. "This plump lip of yours," I said in between my gritted teeth after the kiss, "talked too much," and I continued while my eyes can't tear off from her lips that were slightly parted. "That's our first kiss," she whispered. "Yes, that was our first kiss. Should we make the second one?" I whispered back. *The picture doesn't belong to me. Credit to the original owner.
View More"Ekhem."
Suara bas terdengar menyapa telinga, membuat wanita yang ada di sana dengan pakaian seksi dan terlihat tak nyaman, bergidik ngeri meski ekspresi itu sebisa mungkin ia sembunyikan.
Tangannya meremas tali tas yang tersampir di pundak. Menatap ujung heels yang saat itu ia gunakan, benar-benar tak berani mengadukan pandang dengan pria yang ada di hadapannya.
"Kemarilah," perintah si pria.
Wanita yang sedari tadi terlihat enggan berada di sana, berjalan ragu pada pria yang duduk di sofa. Melangkah dengan hati yang cemas dan takut, tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti rencana yang ia buat sendiri.
Sepuluh menit yang lalu, kaki yang gemetar terus saja dirasakan Tata saat ia berdiri di salah satu pintu kamar yang ada dalam hotel berbintang di bilangan Jakarta. Meski sangat enggan berada di sana ia benar-benar tak punya pilihan lain untuk saat ini, atau lebih tepatnya hanya cara ini yang bisa ia ambil.
Renata Windari wanita yang kerap kali memanggil Tata, duduk di sofa berbeda dari pria yang baru menenggak anggur dalam gelas krisral. Matanya masih belum berani menatap dengan tegas pria yang menjadi pembeli pertama dan ia sangat berharap jika ini pelanggan terakhirnya karena Tata benar-benar tak mau melakukan berulang kali hal gila itu lagi.
"Siapa namamu?"
Tata menegakkan pinggang saat suara bas itu terdengar kembali. Duduk formal seperti sedang diwawancarai perusahaan besar. Berdeham sebentar dan menumpu tangan di atas paha, lebih tepatnya untuk menahan baju dress mini yang terangkat saat mulai ia duduk di sofa.
"Windi. Nama saya Windi, Pak," ucapnya cepat meski kegugupan hampir menelannya tanpa sisa.
Senyum miring itu tersungging dari bibir pria yang bangun dan menghampiri Tata. Ia berjalan mendekati wanita yang terlihat menunduk tak mau menatapnya.
"Saya Aufan Zaccth, kamu boleh panggil saya Mas Auf." Aufan, pria itu menjulurkan tangannya pada Tata yang refleks mendongak dengan raut wajah takut dan ragu. Beberapa detik barulah jabatan itu disambut, ia bisa merasakan tangan dingin milik wanita yang menamai dirinya dengan sebutan Windi.
Aufan mulai duduk di sebelah Tata yang sedikit menggeser posisinya. Hal itu justru membuat Aufan heran dan merasa lucu, entah karena ekspresi Tata yang seperti anak sekolah baru kenal seks atau karena ia merasa ada sesuatu yang menarik dari dalam diri wanita itu. Entahlah.
"Jadi, kamu temen Mizi?" tanya Aufan santai. Saat ini ia sedang memakai setelan jas mahal dengan beberapa barang bermerek yang menempel di tubuhnya seperti: jam tangan dan sepatu yang setara dengan harga satu buah mobil sport. Namun, hal itu bisa ia sombongkan hanya pada orang-orang yang mengerti fashion karena Tata bahkan tidak mengerti hal-hal berbau limited edition dan barang branded.
"Iya," jawab Tata setelah membuang napasnya pelan.
"Hei, jangan takut." Dengan gerakan cepat Aufan menarik pinggang yang bisa ia pastikan begitu ramping. "Kamu takut sama aku?" sambungnya dengan suara rendah.
"Maaf, Mas." Tata kembali menunduk saat mengucapkannya.
Bukan merasa kesal dengan sikap Tata yang terlihat enggan disentuh, Aufan malah gemas sendiri dengan hal itu. Ia bahkan sempat berpikir apa yang kurang darinya? Lalu pikiran sombongnya menjawab dengan tegas, tidak ada yang kurang karena ia merasa hampir sempurna menjadi manusia.
Terlahir dari keluarga kaya raya yang harmonis, memiliki mata bulat dengan lensa yang gelap, hidung mancung, memiliki bulu alis tebal yang hampir bertaut, bibir seksi dengan rahang tegas ditambah lekung pipi di sebelah kiri yang akan muncul saat ia menampilkan senyum tipis. Ah, jangan lupa karir yang sangat bagus. Lalu baru yang kurang?
Wanita? Aufan tak pernah merasa kekurangan wanita selama ini.
"Duduk di sini, Win," perintah Aufan sambil menepuk sebelah pahanya dan hal itu membuat Tata sedikit terkejut. "Cepet, duduk dipangkuan saya," tandas Aufan, kali ini benar-benar terdengar seperti perintah yang tak boleh ditolak.
Tata hanya mengangguk patuh dan perlahan menempatkan bokongnya pada paha kekar pria itu. Mati-matian ia menahan gejolak ingin lari dari tempat itu bahkan berulang kali gemetar saat merasakan napas panas yang menerpa kulit lehernya.
"Jangan takut, kita hanya melakukan seks bukan mau berperang. Kamu sudah pernah melakukannya, kan?"
Tata mengangguk cepat meski hati terasa sakit saat bibir pria itu terus mengecupi bahunya. Suara itu seperti bisikkan ghaib yang membuat sekujur tubuhnya merinding dan mengundang air mata yang sebisa mungkin ia tahan agar tidak mengambil alih perasaannya.
Tangannya bergemetar dengan tubuh yang sedikit menegang saat Aufan dengan santai melingkarkan tangan pada pinggang yang terbungkus kain ketat, menelusuri lekukan tubuh molek yang terjiplak lewat bahan hitam itu.
"Saya enggak suka BDSM, kamu tenang aja." Aufan menggantungnya dan tangan yang sedari tadi menggerayangi tubuh wanita dipangkuannya, kini berpindah pada tangan Tata yang bertumpu di atas paha. "Tapi, kamu harus tahu kalau saya tipe pria yang punya batas kesabaran tipis, kamu mengerti maksud saya, kan?"
Tata tak buru-buru menjawab hanya kembali memejamkan mata, menahan air yang tidak ingin keluar dari tempatnya. Merasa ada sesuatu yang menggumpal di tenggorokkan saat mendengar ucapan pria yang membeli tubuhnya. Ia takut, tetapi untuk lari dan pergi ia benar-benar tidak bisa karena ada alasan kuat mengapa ia berada di sana saat ini.
"Mas?" Suara Tata hampir tak terdengar karena begitu takut hanya untuk mengeluarkan sebuah kata.
Cassandra POV"Yes."That one simple word from him almost crashed my world. Tears started to brim in my eyes. I can't look into his eyes, so I stare blankly on the grass underneath my feet. I chanted quietly in my head to warn myself not to drop single tears in front of him.
One year laterCarlos POV"Carlos, this is not the way to your home," she noticed that I drove the car to a different path.
Cassandra POVMy mind kept thinking about all my activities with Carlos for the last few weeks. I really saw his effort to make me forget my awful past. Just as he promised, he wanted to create many memories with me and turn my scary thought about the darkness into something beautiful.I was brought back to reality with a quick peck on my lips. I looked at him with
Carlos POV"Come in," I opened the bedroom door and gestured her to enter."You don't have to work tonight?" She asked while entering the room and headed to the bed."Why shoul
Cassandra POV
Cassandra POV
Carlos POV
Cassandra POV












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore