LOGINShe supposed to be a healer. A pawn. A broken heart waiting to be crushed. Valkyrie has always seen herself as an unworthy omega—kept alive by Luna Dowager's hand solely to save her only son, Alpha Ragnor. A prophecy claimed that only a hybrid werewolf from the hidden X Village could cure his madness syndrome. But the late Alpha’s hunt for a cure turned into a massacre, wiping out the villagers, leaving only baby Valkyrie alive. Adopted by the Luna to ensure her son’s cure, Valkyrie grew into her role, unaware that fate would entwine her with Alpha Ragnor in ways that would shatter everything. When the prophecy was fulfilled, Valkyrie became his mate—a cruel twist of destiny that tore Alpha Ragnor between love and duty. Fearing his mother’s wrath and uncertain how to protect her, Ragnor rejected her, unaware that rejection would spiral into a painful chain of events. Now hunted by fate, love, and madness, Valkyrie must grapple with her heart as another Alpha captures her attention, threatening her bond with Ragnor and sparking a deadly rivalry. As war brews on the horizon and secrets claw their way into the light, Ragnor’s descent into madness takes a dark and devastating path. Who will survive this twisted fate? And how far will love and madness go to claim what they desire?
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
ValkyrieSeveral months had passed, and the pack had begun to heal. The scars of war, betrayal, and loss remained, but they no longer defined us. Ragnor and I had dedicated ourselves to rebuilding—training warriors, strengthening alliances, and ensuring that no remnants of the darkness' influence remained.Yet, even as we rebuilt, I knew the darkness hadn’t disappeared. It still lingered, waiting for an opportunity to strike back. But I had come to understand something vital. Darkness and light would always exist. The world had never been about one triumphing over the other—it had always been about balance. And we stood in the middle, neither bound by one nor fully belonging to the other.And that… that was our greatest strength.One Year LaterDespite the uncertainties that still loomed, life moved forward.And today, as I held my son in my arms, I knew with every fiber of my being—no darkness, no past, no lingering curse could steal this moment from me.He was beautiful.His t
Valkyrie My voice broke as my wolf stepped forward, her silver fur gleaming under the dim light, eyes glowing with the fire of our shared soul. She let out a soft, knowing whimper before bounding toward me. The moment she pressed against me, I felt whole again, as if a part of me that had been lost was finally back where it belonged. "I thought—I thought I lost you forever." Genna nuzzled against me, her warmth seeping into my skin. 'You fought for me. You never gave up on me.' I swallowed hard, my throat thick with emotion. "Neither did you." Behind me, Ragnor let out a breath of relief, his strong hand resting on my shoulder. "Looks like fate isn’t done with you yet." The Dark Queen crossed her arms, watching us with something unreadable in her expression. "Consider it a parting gift. A second chance, if you will." I stood, wiping at my eyes before turning to her. "Why help me?" Her smirk returned, but there was something almost… fond in the way s
Valkyrie A soft breeze brushed against my skin, warm and comforting, unlike anything I had ever felt before. The scent of wildflowers filled the air, and as I opened my eyes, I was met with an endless expanse of golden light. The sky stretched endlessly above me, not blue, not dark—just a vast, peaceful glow that seemed to pulse with life. I sat up slowly, my body strangely light, as if the crushing weight of pain and exhaustion had been stripped away. My hands roamed over myself, expecting wounds, expecting the lingering sting of death—but there was nothing. No pain. No darkness. Was I… dead? "You finally woke up." "Who… are you?" My own voice sounded distant, fragile. A gentle voice welcomed me, drawing my attention. I turned to find a woman clad in flowing white robes, her presence radiating a soft, ethereal glow that blended seamlessly with the world around us. Her hair shimmered like spun silver, cascading in waves that caught the light, and her eyes—va
Valkyrie "Dark… Queen?" I murmured, barely believing what I was seeing. "Hello again, Little Creature," she mused, her voice wasn’t loud, yet it echoed through the vast hall as if the walls themselves whispered her words back. The King’s growl rumbled deep in his chest. His eyes blazed with fury. "Get back to where you belong, or you will regret this!" He lifted a hand, summoning a crackling wave of energy. It surged forward, the force so strong it made the air tremble. But she didn’t flinch. With a flick of her wrist, the shockwave shattered midair, dissolving into nothing. The effortless display of power made my stomach twist. She laughed with a mocking sound. "Weak." The king’s snarl ripped through the space between them. "What have you done?" "Nothing." The queen’s voice was laced with amusement, yet there was something deeper—something cold and calculated. Fury overtook him. His body twisted, bones cracking, shadows surging as he shifted midair. Mu
ValkyriePhanos exhaled sharply and stepped back.“Enough for tonight. Go rest.”I blinked. “What?”“You heard me.” His voice was firm, leaving no room for argument. “Tomorrow, we ride to the central camp. We need more warriors.”I hesitated. “Phanos, I—”He turned away before I could finish. “You
Valkyrie My body was still trembling, still remembering Phanos’ touch, even as I tried to bury the mistake beneath layers of regret. "I'm sorry..." I rasped, tears blurring my vision as I watched him take a step away from me. His body went rigid. I saw the shift in his expression—the way his fe
Valkyrie Phanos claimed me. There was no hesitation, no restraint left in him. The moment I surrendered, something inside him snapped—something raw, primal, unstoppable. His mouth devoured mine, his kiss so fierce and consuming that I forgot everything else. Ragnor. The war. The pain. Nothin
Valkyrie The words settled between us. I swallowed hard, feeling the weight of his confession press against my ribs. I wanted to say something—anything—but my thoughts tangled with everything unspoken. Phanos’ red eyes never wavered, burning into me as if he were trying to strip me bare, to






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews