LOGINIn my past life, my marriage was ruined by a so-called “male best friend.” On our wedding anniversary, he taunted me in front of everyone. “Javier is one lucky guy. Last night I noticed Sophie’s bust has gotten even fuller. It’s so smooth and supple.” Sophie Santos completely disregarded my dignity. She laughed and said they were just close friends who even showered together. I punched him. The very next day, I handed her the divorce papers. She accused me of overreacting and forced me to kneel and apologize to him. I stormed out in anger. However, I never expected the bridge we were overseeing to suddenly collapse. It caused massive casualties. In the end, I was sent to prison for ten years. On visiting day, he actually showed up too. “Thanks a lot, Javier. You signed off on the project. So naturally you’re the one who’s going to serve time.” I glared at him with bloodshot eyes. He leaned close to the microphone. His voice was as soft as a venomous snake flickering its tongue. “Don’t worry, I’ve got everything sorted out in there… just take your time suffering.” Three months later, I was beaten to death by a prison bully on the cold concrete floor. When I opened my eyes again, I was back on the day of the anniversary. At that moment, my female best friend kicked the door open and straddled my crotch. “Don’t mind me, Sophie. We grew up naked together. “I know his… measurements from every stage of his life.”
View MoreDi restoran, Grace sedang berbincang dan asik melempar canda dengan sahabatnya. Sesekali, bahkan sahabatnya itu menggoda Grace yang kini tengah mengandung lima bulan.
"Lihatlah dia selalu berlari seperti itu," ucap Grace tiba-tiba begitu melihat Gustav, sang suami, sedang berlari menuju tempat mereka.
Grace akhirnya melambaikan tangannya ke arah sang suami.
Anehnya, Gustav yang melihatnya dari kejauhan justru terlihat panik. Pria itu tampak merogoh saku celananya, lalu meraih gawainya seperti hendak menghubungi seseorang.
Ponsel Grace yang ia letakkan di atas meja di hadapannya pun bergetar, Grace tersenyum lembut dan hendak meraihnya.
Sayangnya, tangan Clara--sang sahabat--rupanya lebih dulu meraihnya.
Grace terkejut. Namun, itu tak lama. Dalam persahabatan mereka yang tanpa privasi itu, sudah biasa untuk saling memegang barang-barang penting mereka.
Seketika, Grace pun tersenyum. Namun, Clara berbeda. Perempuan itu terlihat sangat serius. Tidak ada secuil pun senyuman yang terlihat. Manik matanya terlihat penuh kekhawatiran.
Clara kemudian menerima panggilan masuk dari Gustav.
"Aku akan mengatakan semuanya sekarang, aku sudah lelah dengan semua kebohongan ini," ucap Clara yang terlihat sendu, kemudian segera ia mengakhiri panggilan itu.
Gustav yang mendengar ucapan Clara dari sambungan telepon pun menjadi panik dan segera berlari masuk ke dalam restoran.
Tampak, Clara meletakkan ponsel milik Grace ke tempat semula.
Ia kemudian menarik napas panjang. "Grace, aku ingin mengatakan sebuah kejujuran."
Grace pun tersenyum lembut. Dia masih berpikiran positif pada sahabatnya.
"Ada apa? Katakan saja," ucapnya yang sangat lembut.
"Maafkan aku, diriku hamil. Dan anak ini adalah anaknya Gustav."
Clara terlihat menunduk setelahnya. Sontak, Grace pun tersenyum mendengar pengakuan itu yang tampak seperti sebuah lelucon. Mana mungkin sahabatnya setega itu? Ia mendongakkan kepalanya menatap ke atas sembari menertawakan ucapan Clara yang ia anggap lucu.
"Tidak ada yang lucu di sini, aku serius dengan ucapanku," ucap Clara mempertegas bicaranya.
Seketika tawa Grace tak lagi terdengar. Ia kemudian menatap Clara lekat.
"Grace, ayo kita pulang!" Gustav yang telah sampai--tampak panik, seolah gagal mencegah Clara berbicara.
Dia hendak menarik tangan istrinya, namun Grace menepisnya.
"Sayang, dia mengatakan hal aneh dan tidak masuk akal," ucapnya yang tetap menatap Clara tak percaya.
"Sudah jangan dengarkan dia, ayo kita pulang." Gustav terus membujuk Grace untuk pulang, tetapi Grace masih enggan dan penasaran akan kebenaran ucapan Clara.
Matanya menatap nanar dua orang penting di hidupnya ini.
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Aku sudah memberikanmu waktu untuk mengatakannya, tapi kenapa kau tidak melakukannya?" ucap Clara yang mulai jengah akan Gustav.
Gustav memijat kepalanya pening. Pria itu mendadak kesal mendengar ucapan perempuan itu.
"Diam kau!" amuk Gustav dengan nada meninggi.
Melihat itu semua, Grace justru menampar pipinya sendiri--seolah berharap ini hanyalah sebuah mimpi.
"Tidak sakit," ucapnya dengan deraian air mata.
Ia kembali menampar pipi yang satunya lagi.
"Ini bukan mimpi, Gustav!" teriak Grace dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Hal itu menyita perhatian seluruh pengunjung restoran.
Mereka menatap ke arah tiga orang yang sedang berdebat.
Sebagai pria berego tinggi, Gustav sontak malu karena seluruh pandangan mata tertuju padanya. Dengan cepat, ia menarik paksa Grace yang sedang menangis kecewa.
"Ayo kita pulang," ucap Gustav sembari menarik paksa istrinya, tak peduli dengan Clara yang seorang diri.
Grace terus menangis, seolah air matanya tak menginginkan untuk berhenti. Kecewa? Jangan ditanya lagi. Jelas, ia merasa kecewa dengan pengakuan menjijikkan itu.
********
Selama di dalam mobil, Grace hanya diam tanpa sepatah kata.
Pengakuan sahabatnya telah menghancurkan hidupnya. Bukan hanya persahabatannya yang hancur, tetapi pernikahannya juga!
Gustav yang memandang sekilas ke arah istrinya--benar-benar menyesal atas apa yang terjadi.
Di sisi lain, ia tak ingin kehilangan istrinya yang selama ini ia cintai dan kasihi setulus hati. Namun, kebodohannya sendirilah yang membuatnya harus menanggung semua ini.
Ia hanya bisa melirik istrinya tanpa berani mengatakan sesuatu.
Sesampainya di rumah, Grace masih saja diam. Perempuan itu tampak melihat sekeliling rumah yang awalnya hangat, bagaikan ruang kosong.
"Kumohon maafkan aku," ucap Gustav menghentikan kehinangan di antara keduanya. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia memohon dengan tulus.
Sungguh, ia menyesal dengan apa yang telah terjadi.
Hanya saja, Grace masih diam dengan hati yang berkecamuk. Tanpa minat untuk sekedar menatap suaminya, ia pun menghela napas panjang.
"Gustav," lirih Grace, "lebih baik, pergilah. Jangan pernah temui aku maupun anak ini. Lagi pula, kau juga tidak terlalu menginginkan anak ini, kan?"
"Pergilah, ini adalah wujud dari hukumanku untukmu," putus Grace.
"Tapi sayang…." Rasanya berat dan sakit, Gustav tak menyangka jika harus seperti ini.
"Kumohon Gustav. Atau, kalau tidak, aku akan bunuh diri. Dan itu artinya, dua nyawa ada di tanganmu.”
Sayangnya, Grace tetap pada pendiriannya. Perempuan itu bahkan mengancam bunuh diri untuk menunjukkan kekecewaannya yang teramat dalam. Dia tidak lagi menyembunyikan rasa sakit hati yang sedari tadi dirasakan.
Gustav menahan rasa sakit di dadanya. "Baiklah, tapi maafkan aku. Aku khilaf, dan asal kau tahu hatiku tetap untukmu. Tak ada yang berubah dengan hatiku, sampai kapan pun," ungkapnya dengan mata yang sudah tak lagi bisa menahan air matanya.
Grace pun kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Dulu, mungkin ia sempat terperdaya oleh sejuta kata-kata manisnya, namun kini jangan harap. Grace berjanji tidak akan pernah mau melihatnya lagi.
****
Sementara Gustav yang tak ada pilihan lain, melangkah pergi meninggalkan rumah yang ia bangun bersama wanita yang selama ini ia cintai.
Dengan berat hati, ia terpaksa meninggalkan rumah yang memiliki segudang kenangan indah.
Dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, diam-diam pria itu meneteskan air mata--memikirkan hidupnya tanpa Grace.
Bahkan, ketika tiba depan rumahnya, Gustav mengetuk pintu dengan lemas.
"Gustav, mana istrimu? Kenapa kau hanya sendiri? Kenapa dengan wajahmu? Apa ada masalah?" Sang ibu yang ternyata membuka pintunya--langsung memberondong pertanyaan pada putra semata wayangnya.
Tanpa menjawab, Gustav langsung masuk ke dalam--membuat ibunya bertanya-tanya karena tidak biasanya putranya seperti itu.
Gustav langsung berjalan ke dalam, seketika ia mengambil gelas dan menuangkan air putih lalu ia minum sekali teguk.
Ia pun lalu duduk dan meletakkan gelas bekas minumnya secara kasar. Ayahnya yang baru saja pulang dari kantor pun melihat sikap putranya yang tidak biasa itu segera menghampirinya, sementara sang ibu hanya menyaksikannya.
"Ada apa? Tak biasanya kau menjadi seorang pemarah." Jack pun dibuat heran oleh putranya yang tiba-tiba menjadi kasar.
Sementara Gustav hanya diam, seperti malas untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Pikirannya yang sedang kalut membuatnya menjadi pemarah.
Melihat tidak ada Grace di samping putranya, mendadak Jack curiga bila Gustav tiba-tiba menjadi pemarah karena ada masalah dengan istrinya.
Namun, ia tak yakin karena selama ini hubungan mereka selalu tampak harmonis.
"Kenapa kau datang tidak bersama istrimu? Bukankah aku tidak menyukai itu? Kenapa kau melanggarnya?" Berbagai pertanyaan pun ia layangkan kepada putranya.
Gustav hanya diam menunduk, tak berani untuk menjawab. Membuat ayahnya marah karena Gustav hanya diam.
"Jawab!" bentak Jack yang tak lagi bisa menahan amarahnya.
"Semuanya sudah berakhir, Pa."
The USB drive was crushed underfoot.Yohan picked up the pile of shards and laughed maniacally. “Javier, what do you have to fight me with? Your only bargaining chip is gone. You’re finished.”Suddenly, the sound of police sirens echoed from outside the factory.Sophie’s face paled. “What’s going on?”Yohan also panicked. “Weren’t we supposed to have everything under control?”I let out a cold laugh. “Sophie, did you really think I’d come here unprepared? I called the police long ago. You’d better get ready to face the consequences of the law.”The police rushed into the factory and subdued Sophie, Yohan, and their lackeys.I hurried over to my father and helped him to his feet. “Dad, are you okay?”My father gave a weak smile. “I’m fine, Yohan. You did the right thing.”As I watched Sophie’s back while she was led away to the police car, I felt a mix of emotions.I rushed my father to the hospital. After that, I immediately handed over the evidence of Yohan’s embezzlement an
Laughter echoed from the other end of the line. “In that case, we’ll see what happens.”Less than ten minutes after hanging up, I received a call from my assistant.“Mr. Tate, we’ve all been fired.”I clenched my fists and reassured him. “I’m dealing with some issues here. Please try to calm the others down. Once this is resolved, I’ll compensate you all.”My assistant breathed a sigh of relief. “Mr. Tate, we believe in you. Is there a problem with the project?”“Yes, but I’ll definitely resolve it.”My assistant quickly offered. “I can help.”I thought for a moment. “I think the mayor is scheduled to inspect the project the day after tomorrow. Could you help me…”I have not even had a chance to relax after making all the arrangements when Sophie sent another video.As soon as I opened the video, I saw my father lying in a pile of filth. His hospital gown was even covered with messy footprints.My eyes widened in fury as I dialed her number.“Sophie! What on earth are you tr
Sophie remained silent. Yohan gave her a gentle nudge from behind.“Javier, as long as you come back, I can pretend nothing ever happened.”Nothing ever happened?She thinks a casual remark like that would make me drop the matter?That was nothing but a pipe dream.She looked me over several times. “As long as you’re willing to come back, we can go back to the way things were.“Haven’t you always wanted a child? I’ll give you some. A boy and a girl, how about that?”“Enough!”I interrupted her loudly.I did want children. But every time I brought it up, she brushed me off with a look of disgust.Since we had reached a point where she was using children as a bargaining chip, all I felt was revulsion.“Children with your blood? I find that disgusting!”Sophie was instantly enraged. “Disgusting? Who’s the one who’s disgusting? Isn’t it disgusting that you sold yourself to Cassy for money?”Smack!A slap, accompanied by a rush of air, landed on her face.“If that mouth of yo
In the high-speed collision, Sophie’s car slammed into a tree by the roadside and flipped over.The body was severely dented. The tires had fallen off and the car was twisted beyond recognition.Meanwhile, the car that had struck Sophie’s vehicle only suffered a slight dent.Yohan had not expected things to turn out like that. His face went pale, and he was at a loss.The driver’s door opened, and a woman stepped out.It was Cassy.She rubbed her shoulder while she spoke.“Good thing I made it in time.”Seeing my pitiful state, Cassy turned to the trunk to fetch her tools.She quickly pulled me out.“Weren’t we supposed to wait for each other?“You went off on your own. Now look at the mess you’re in.”Fighting off waves of dizziness, I managed to open my mouth.“Thanks. You got here just in time…”Right after I said that, I passed out.Yohan, who was standing nearby, seemed to finally snap out of it. Not daring to confront Cassy head-on, he rushed forward to check on So


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.