ログインWe had been married for three years, and together, our income was decent at twenty-six grand a month. Yet, we barely had two hundred bucks in savings. My husband was a nice guy, lending practically his entire wages to our next-door widow and her daughter. He covered their expenses when the daughter needed money for school, when the widow needed a little time at the spa, and when they wanted to give their home a new facelift. The moment my father fell ill and needed surgery, I went next door to ask for the money back. However, my neighbors slammed the door in my face. “Your husband chose to give us the money. Why should we pay you back?” Enraged, I sought help from my husband, only to be criticized. “I felt bad for them. Why did you demand payment when they are already struggling? What’s wrong with you?” I smirked. That night, I decided to do a good deed by spending my entire paycheck to help a broke college hunk. The next day, our power was cut off for unpaid bills, and my husband lost an unfinished document he hadn’t saved. Putting his finger up my nose, he gave me a piece of his mind. “Where’s your money? Why didn’t you pay the bills?” I replied with the most innocent look on my face, “I helped a struggling college student. His life was falling apart because he had to deal with a sick mom and a deadbeat dad. His needs should come before the utility bills.”
もっと見るDia seorang pemuda yang tampan, gagah serta baik hati, di umur lima belas tahun, di usia segitu seharusnya bersenang-senang tetapi tidak dengan pemuda itu. Dia harus bekerja keras membanting tulang untuk mendapat sesuap nasi.
Hidupnya yang sebatang kara membuat dia harus bekerja keras, ayahnya pergi entah kemana sedangkan ibunya sudah meninggal semenjak dia berumur lima tahun. Dia di asuh oleh tante yang kejam, setiap hari ada saja makian terhadapnya.
"Aditttttt!"teriak Tantenya."Cepat kesini!"perintahnya lagi sambil berkacak pinggang.
"Iya,Tan,"jawab pemuda itu sambil berlari.
"Bersihkan semua ini!"perintah Tante itu di ikuti anggukan kepalanya lalu pemuda itu mengambil sapu dan menyapu bekas makanan tantenya itu.
Ya, Adit namanya nama panjangnya Aditya Pratama seharusnya duduk di bangku SMA, tapi karena tidak ada biaya dia harus berhenti sekolah.
Adit mempunyai sahabat yang baik bernama Nalendra Prasetya atau sering di panggil dengan sebutan Endra. Kehidupan sahabatnya itu berbeda dengan Adit, Endra dari keluarga berkecukupan karena ayahnya seorang direktur di perusahaan ternama di kota itu.
Endra sahabat baik dari SD sampai SMP, keluarganya selalu menyambut hangat kehadiran Adit dan selalu di beri kasih sayang.
Adit mempunyai seorang Tante yang di panggil Tante Desi. Tante Desi suka barang mewah, ia tidak sungkan meminta uang kepada Adit untuk membeli barang itu bila tidak di penuhi cambuklah berbicara.
Pernah Tante Desi menginginkan sebuah tas yang mahal harganya lalu dia meminta uang kepada Adit, tetapi pemuda itu tidak mempunyai uang, wanita itu mencambuk hingga berkali-kali sehingga luka itu membekas.
Gaya hidup Tante Desi membuat hidup Adit berantakan juga membuat pemuda itu putus sekolah. Adit hanya pasrah dan diam menerima perlakuan seperti itu,dia hanya berdoa supaya tantenya bisa menjadi baik.
Hingga dia terjerat hutang oleh reinternir yang kejam dia bernama Tante Elsa, ia pengusaha sukses tetapi wanita itu meminjamkan uang dengan bunga yang sangat tinggi.
Setiap orang yang meminjam pasti terkena bunga yang sangat tinggi dan bila tidak bisa mengembalikan atau membayar pasti ada yang di bawa untuk jaminan, tetapi bila sudah lunas maka barang itu akan di kembalikan.
Tante Elsa berumur tiga puluh tahun tetapi belum menikah karena dia trauma dengan kekasihnya yang meninggalkannya degan wanita lain.
Tok
Tok
Tok
"Buka!"teriak bodyguard Tante Elsa
Tante Desi yang sedang melihat televisi menjadi keget ketika ketukan pintu yang kasar itu. Wanita itu pun lari menuju pintu belakang dan membuka pintu belakang tetapi naas bagi Tante Desi, Tante Elsa sudah menghadang di pintu belakang.
"Mau kemana kamu! cepat bayar hutangmu!" perintah Tante Elsa yang berjalan maju.
"Ti-ti-tidak, ke-ke-kemana Tan-Tante,"balas Tante Desi sambil mundur ke belakang."Beri saya waktu dua hari untuk mencari uang itu.
"Ok, baiklah,"jawab Tante Elsa sambil berkeliling mencari barang yang nantinya akan ia sita lalu Tante Elsa pun pergi.
Tante Desi pun bernapas lega karena masih was-was tapi dia bingung harus mencari uang di mana padahal wanita itu tidak bekerja sama sekali. Tante Desi mempunyai hutang sebesar lima juta kepada Tante Elsa.
Sore telah datang di sambut dengan mentari yang hampir tenggelam serta burung-burung pulang ke sarangnya begitu pula dengan Adit yang pulang ke rumah.
Saat itu juga Adit melihat mobil mewah milik Tante Elsa yang sedang menagih di tempat lain. Tante Elsa melihat sekilas pemuda itu yang berjalan berlawanan.
Tante Desi sangatlah senang melihat Adit dari kejahuan.
"Aditttt!" teriak Tante Desi lalu Adit berlari menuju wanita itu.
"A-ada apa Tan," jawab Adit gugup
"Dalam dua hari kamu harus mendapatkan uang lima juta!"perintah Tante Desi
"Ta-ta-tapi --?"belum menyempurnakan kalimatnya Tante Desi langsung memotongnya.
"Tidak ada tapi-tapian! Pokonya kamu harus mendapatkan uang itu!"perintah Tante Desi.
Tanpa ada jawaban Adit pun undur diri, dia berpikir bagaimana mendapatkan sejumlah uang itu. Lima juta tidaklah sedikit bagi pemuda itu, ingin meminjam sahabat tetapi tidak enak hati.
Adit terus berpikir bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu, hingga di tidak bisa berkonsentrasi melakukan apa saja misalnya, mencuci piring, mencuci baju serta membersihkan rumah, setelah semua selesai pemuda itu rebahan di atas ranjang dan akhirnya ia tertidur.
Malam pun telah menutup dengan sendirinya,. Mentari tampak sangat gagah menyinari bumi, bunga bermekaran sedangkan burung bernyanyi riang.
Tapi tidak dengan Adit dari pagi dia melakukan kegiatan di pagi hari. Lalu bergegas untuk bekerja lebih giat hari ini karena permintaan dari Tante Desi.
Siang pun berjalan dengan sendirinya, mentari yang gagah itu berada di tengah-tengah bumi sehingga bisa merasakan panas di tubuhnya,
begitu juga dengan Adit dia belum juga istirahat karena ingin memenuhi permintaan Tante Desi tak ada.
Siang pun bergulir mentari pun condong ke barat sore pun telah tiba tapi saat itu awan hitam menutupi matahari hujan mulai turun tetapi Adit tetap bekerja hanya untuk memenuhi permintaan tantenya itu.
Uang yang di kumpulan oleh Adit masih kurang banyak sehingga harus tetap bekerja walau hujan datang, dia memanggul beras, Bawang putih, bawang merah, kentang 1 sak.
Itu pun uangnya masih kurang sehingga harus tetep bekerja tanpa kenal lelah. Sore berganti senja dan senja pun berganti malam tak ada sinar rembulan dan kemerlip cahaya bintang semua masih tertutup awan, walaupun begitu dia tetap semangat.
Malam telah larut hujan pun berhenti tinggal menyisakan dingin yang merasuk ke dalam kulit, Adit masih tetap bekerja uang yang dia peroleh serasa cukup dan besuk lagi untuk mencari sisanya.
Tok
Tok
Tok
"Tante ini Adit,"ucap pemuda itu yang mengigil kedinginan.
Tante Desi membuka pintu,"Mana uangnya!"pinta wanita itu seraya tangan di atas lalu Adit memberikan semua uang yang ada di kantong celananya.
"Apa cuma segini?"teriak Tante Desi sambil berkacak pinggang.
"I--iya Tante, saya cuma dapat segini,"balasnya sambil menunduk.
"Banyak juga! Cepat masuk sana dan beres-beres rumah,"ucap Tante Desi seraya mengibas-ngibaskan uang itu untuk kipas angin.
Adit menjadi heran kenapa sikap Tante Desi mulai berubah yang dahulu wanita itu selalu menyuruh pemuda itu untuk tidur di luar rumah karena uang kurang, tetapi saat ini tidak dia di perbolehkan masuk ke rumah.
Adit pun berganti mandi lalu berganti pakaian setelah itu pemuda itu membersihkan semua rumah hingga bersih dan mengkilap. Selesai , bersih-bersih Adit langsung di kamar dan rebahan di kamar sambil mendengarkan sebuah lagu dari Sheila on 7 yang berjudul Seberapa pantaskah, itu grup band favorit nya
Later, I heard that Roddy ended up in the cheapest rental in the slum, barely scraping by on odd jobs. He became a shell of the man he once was. After getting rid of Roddy, Lorelei and Natasha didn’t quite end up with the rosy life they had imagined. Lorelei wouldn’t come down on her standards, but her blind dates got worse, either too old or not wealthy enough. Eventually, Lorelei’s reputation took a hit. Natasha used the last bit of money she squeezed out of Roddy to start a small business. However, she was scammed out of every dime. Shouts and screams often echoed from Apartment 302. The mother and daughter were constantly at each other’s throats, each blaming the other for their miserable lives.Ultimately, they fell behind on their bills and lost the apartment. The apartment was likely foreclosed or auctioned off. Without a roof over their heads, the mother and daughter had to move somewhere further and were never heard from again. Good was not always rewarded, and jus
The other day, the doorbell rang. I walked to the door and looked through the peephole to find the last person I expected to see. It was Roddy. He seemed to have aged a decade in mere months. Roddy’s hair was greasy and matted, his chin covered in stubble. He wore the wrinkled T-shirt I had once bought him, and the dark shadows under his eyes betrayed his exhaustion.I furrowed my brows, not wanting to open the door. “Laurel! Laurel, I know you’re in there! Open up! Please, open the door!” His voice, thick with sobs, echoed through the door. The frantic banging on the door was becoming a public nuisance. Drawing a deep breath, I opened the door while keeping the metal grill shut as my eyes met his indifferently. “What do you want?” His eyes sparkled like he spotted his last hope. “Laurel, I-I’m so sorry!” He blurted in tears, “I know I was wrong! It was a moment of weakness. I was a monster! “Lorelei and Natasha are the worst! They bled me dry over the last few m
The updates came from my former neighbors and some of Roddy’s colleagues I was still in touch with. Apparently, Roddy jumped straight into the arms of the widow and moved into Apartment 302 the moment the ink dried on the divorce papers. Lorelei kept Roddy pretty sweet for a while, fussing over him. Natasha was all smiles around him, too. However, things went sour soon enough. As Roddy was now living in Apartment 302, Lorelei felt entitled to charge him a fortune for living expenses. Natasha kept finding ways to ask Roddy for money, whether it was for a new bag, clothes, or a trip. If things didn’t go her way, she would sulk at Roddy. By the second week, Lorelei had gained control of Roddy’s wages by taking hold of his bank account for ‘safekeeping’. I heard that Roddy even had to beg Lorelei for the smallest expenses, like a phone bill. Nine times out of ten, he’d be lectured for being reckless with money, and she would give him little or nothing at all.Because Roddy
I retrieved my phone and opened a message before turning the screen to face Roddy. It was a bank alert of a deposit I received this morning. “A transfer of $500,000 has been deposited into your account ending in XXX. Remark: Advance project bonus and loan for your dad’s treatment. Let me know if you need more.”The sender was Trevor Wright. Roddy’s eyes widened as he stared at the amount. He looked like he had seen a ghost. “Trevor Wright? Is that your boss?” “That’s right.” I put my phone away. “Mr. Wright learned about my situation and offered an advance and a loan. My dad’s surgery is already paid for.” Color drained from Roddy’s face. “Your threats mean nothing to me, Roddy. “Sign the papers, or I’ll see you in court.” I slid the document across the table toward him. “Just so you know, if you don’t cooperate, I’ll file a suit against you for unauthorized use of our joint assets.” I paused, my voice icier. “I’ll also be pursuing the recovery of the money you gav






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.