LOGINBraston thought Molly was just a call girl when she entered his office in disguise. She had no idea what to do, even though she was a virgin, she faced that mobster just to rob him and save her family from imminent death. but ended up taking much more than a ring and keeping her identity secret, she stole much more than a ring from that mobster, and he will only find out when he is with a child whose kidnapped for revenge. However, Molly will never let it go and will do everything to get her son back without even knowing that she is in a fight, not only with a mafia man, but with her son's father.
View More"Allah tidak akan menguji hambanya, di luar batas kemampuan hambanya."
"Cinta itu hadir karena terbiasa ...."Tujuh tahun berlalu ....Hari ini, Mihran sudah membuktikan pada Pak Taher, Papa Amaliya, jika ia bisa sukses dan membahagiakan anak istrinya. Mihran kini dikenal sebagai seorang pengusaha sukses dibidang advertising. Perusahaan periklanan yang dirintisnya telah banyak menangani klien besar dan menggunakan bintang iklan terkenal.Amaliya pun kini sukses berkarir sebagai seorang desainer baju pengantin dan pemilik salon kecantikan terkenal. Seketika Mihran dan Amaliya menjadi pasangan muda yang sukses dan harmonis hingga menjadi banyak panutan pasangan muda.Suatu hari, Mihran dan Amaliya pun diundang di sebuah acara TV yang mengisahkan perjalanan cinta dan kesuksesan mereka. Semua yang mengenal keduanya bangga, terlebih Oma Siska dan kedua orangtua Amaliya."Hore! Alia bangga sama Mama dan Papa, Oma. Coba Alia ikut, kan bisa masuk TV juga," ujar gadis polos berusia 8 tahun itu membuat gelak tawa Oma buyut serta Oma dan Opanya."Nanti kalau Alia sudah besar, Alia juga mau masuk TV jadi artis terkenal!" kata Alia, membuat Pak Taher syok."Alia, cucu Opa nggak boleh ada yang jadi artis!" kata Pak Taher, membuat cucu cantiknya itu memasang wajah kesal."Ah,Opa nggak asyik! Nggak gaul!" cecar gadis itu kemudian berlari ke kamarnya.Ibu Arumi pun dibuat tertawa terpingkal melihatnya, sedangkan Pak Taher hanya bisa menarik nafas panjang menahan kesalnya pada sang cucu yang menggemaskan itu.****Eliza Says :"Amaliya, Mihran, kenapa kita ditakdirkan bertemu lagi? Sudah cukup jauh aku melangkah pergi meninggalkan semua kenangan tentang kita, tetapi akhirnya takdir membawaku kembali bersama kalian. Cinta ini, membuatku harus menjauh dari kehidupan kalian. Aku bahagia, melihat kalian sudah bahagia, walau luka ini harus kurasakan .... "Eliza Rifdatul Anam, sahabat keduanya yang memilih melarikan diri ke Amerika setelah mereka sama-sama lulus dari SMA atau lebih tepatnya sejak Eliza mengetahui jika kedua sahabatnya itu mengingkari janji persahabatan mereka. Amaliya dan Mihran memutuskan menjadi sepasang kekasih, tanpa Mihran sadari jika Eliza, sahabatnya yang lain juga menaruh hati padanya.Eliza says :"Mihran, kamu adalah cinta pertamaku. Aku sangat mencintaimu dari dulu, hingga saat ini. Namun, kekuatan cinta kamu dan Amaliya begitu besar hingga membuat kamu mampu mengkhianati janji persahabatan kita."Janji persahabatan itu memang telah terkhianati saat Amaliya dan Mihran memutuskan menjadi sepasang kekasih. Dulu, saat ketiganya memutuskan menjadi sahabat, mereka pernah berikrar, agar tidak ada yang akan saling jatuh cinta. Namun, cinta tak pernah salah. Takdir yang membuat Amaliya dan Mihran saling mencintai.Flashback Mihran, Amaliya dan Eliza"Mihran, gimana kalau Eliza tahu?" kata Amaliya di sebuah sudut halaman sekolahnya, sesaat setelah mereka dinyatakan lulus."Kita kan udah lulus. Jadi semua perjanjian itu batal!" jawab Mihran sambil mengenggam tangan Amaliya erat."Perjanjian apa yang batal, Mihran?" tanya Eliza yang tiba-tiba hadir ditengah keduanya.Amaliya hendak melepaskan genggaman tangan Mihran karena menjaga perasaan Eliza, tetapi Mihran kembali mengenggamnya lebih erat."El, aku sama Amaliya sudah jadian," jawab Mihran tegas.Sesaat hening, Eliza mencoba tersenyum dan menghapus bulir bening itu."Aku nggak apa-apa kok. Selamat ya, aku juga bahagia kalau kalian bahagia," ujar Eliza sambil memeluk erat Amaliya.Mihran dan Amaliya juga Eliza saling berpelukan. Pelukan hangat seorang sahabat.Eliza pun ijin ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi sekolahlah, ia meluahkan semuanya. Eliza menangis sejadi-jadinya. Hancur, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Namun, ia harus berusaha tegar dihadapan kedua sahabatnya itu."Mihran, kamu cinta sejatiku. Tetapi kenapa kamu lebih memilih Amaliya?"Eliza pun semakin terisak. Namun, ia mencoba menghapus airmatanya dan kembali berkumpul bersama Mihran dan Amaliya.Sejak hari itu, Eliza pun menghilang dan memutuskan meninggalkan Jakarta demi menghapus rasa cintanya untuk Mihran Ghazzal, sahabat yang dicintai tetapi mencintai sahabatnya yang lain.****"Eliza, kamu nggak usah nangis. Papa nggak apa-apa kok. Sebaiknya kamu pulang ke rumah saja. Kasian, kamu pasti capek. Dari Amerika, langsung ke sini. Pulanglah dulu, istirahat ya, El," bujuk Pak Riswan, Papa Eliza yang kini terbaring lemah karena penyakit jantungnya."Eliza mau di sini aja sama Papa," jawab Eliza sambil menyeka airmatanya."Kali ini, nurutlah sama Papa!" perintah Papa Eliza, Eliza pun akhirnya menurut dan ia pulang ke rumah Papanya.Dalam perjalanan, pikiran Eliza terus menerawang pada masalalu. Ya, masa di mana ada kebahagiaan. Kenangan persahabatannya bersama Mihran, jauh sebelum rasa cinta itu menghancurkan persahabatannya dengan Amaliya dan Mihran.Eliza pun memutuskan menyambangi sebuah cafe di mana dulu ia dan Amaliya juga Mihran sering hangout bareng. Sungguh, Eliza merindukan masa-masa itu. Kini, ia ada di pelataran cafe itu. Tidak terlalu banyak yang berubah saat ia masuk ke dalam cafe. Namun, saat ia melihat Amaliya dan Mihran duduk di sebuah sudut meja, Eliza memilih bergegas pergi.Tiba-tiba, saat hendak keluar, ia bertabrakan dengan seorang pelayan."E-e, maaf, Mbak, saya buru-buru .... " ujar Eliza, kemudian bergegas pergi dan masuk ke dalam mobilnya.Amaliya pun melihat, ia merasa melihat Eliza, sahabat yang sangat dirindukannya."Eliza?" batin Amaliya.Ia mencoba keluar, tetapi Mihran menghalanginya."Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Mihran yang bingung saat melihat istrinya itu berlari seolah melihat sesuatu."Kayaknya tadi itu Eliza deh, Sayang.""Kamu pasti kangen banget, jadi seolah yang terlihat itu Eliza. Udah, Yuk, kita lanjut lagi makannya," bujuk Mihran, merangkul Amaliya dan melanjutkan makannya.Di dalam mobil, Eliza hanya bisa menangis dan terus menangis. Ia menyesal, kenapa harus kembali ke cafe itu dan melihat kemesraan Amaliya dan Mihran."Mihran, sejauh mana pun aku pergi, kenapa Allah membawaku kembali ke sini, mempertemukan kita Kembali."bersambung ....Chapter 93: Closing.Molly and Braston continued their journey to New Orleans. They had their moments of peace, and during their stay, Braston showed her his favorite place, where he creates perfumes, with the master perfumer who taught him how to craft fragrances."So, he’s the one who taught you how to create fragrances?" Molly asked, surprised, as they walked through the luxurious boutique, a truly charming place."Yes, when I arrived here, I couldn’t handle people, not even those I liked, except you. When I met you, I think it was because you were the most innocent and pure thing my hands had ever touched," Braston said nostalgically. "But Chief Pierre taught me how to look at people and imagine what scent would be perfect for them, and then refine it. You were my peach, but it’s been a while since you entered my life, and everything has taken on a different scent. You changed everything. I’m happy to be by your side," he confessed, looking around. Molly, on the other hand, felt u
Chapter 92: Cave‘No…’ he muttered with a grunt, wanting to curse loudly but holding himself back. ‘What the hell do you want? Weren’t you sleeping?’ he asked, clearly annoyed. ‘I was, but I saw you leaving… Everyone left with their partners and it’s just the two of us. Let’s go out together?’ she asked, as he unceremoniously removed her from his back. ‘Go back home!’ he stated, not even looking her in the eyes. ‘And what about what happened at the hotel?’ she insisted, quickening her pace to stay by his side. ‘Nothing happened! I was drunk, woke up the same way I fell asleep, except without my shirt and with my car vomited in. That’s because this little thing, who doesn’t know how to drink, ruined everything.’ He spoke with irritation, but without raising his tone. ‘When are you going to stop treating me like a child? Are you blind?’ Laysa asked indignantly. ‘I treat women like women. I treat children like children. And you need to stop thinking you’re a woman,’ he grumbled, ir
Cap.91: What Happened to Matheus"Matheus had moved in with Mariana, returning to his old house in Russia. He didn’t understand why she chose this destination, the same city where his mother had lived."Why are we here?" he asked, confused."My family lives here, and this is our country. Besides, it's been a long time since you visited your mother's grave, right?" she replied, her tone apprehensive.Matheus had only visited that place once after becoming an adult. His last memory of being there was when he was nine. Now, being back made his heart tighten. Life seemed so unfair, and all of this because of the greed of a cruel man."To think my mother was his woman... And that, in the end, he traded her, reduced her to a mistress. I always judged her, thought she was greedy for wanting a rich man. I remember well... One time, I even yelled at her, just days before she was murdered," he said, his voice choking, as his knees touched the snow-covered ground in front of his mother’s grave.
Cap.90: Beware of him, not me.Cassius hadn't realized that he had held Laysa in his arms the entire night. She had completely passed out, and both of them were drunk. In the morning, no one remembered anything. Cassius was the first to wake up and, to his surprise, found Laysa’s arms wrapped around him, resting peacefully on his chest. For a moment, a faint smile appeared on his face as he gazed at her serene, smiling expression.However, as his eyes traveled down her body, he noticed her shirt was lifted, revealing part of her backside. His conscience weighed heavily on him, and his expression shifted to concern. Discreetly, he pulled her shirt down to cover her better. He sighed in relief when he saw that she was still wearing her underwear. "Thank God nothing happened," he thought. Then, he checked his own clothes and felt even more relieved to see he still had his pants on."Supposedly, she doesn't remember sleeping on top of me. If I move her slowly, she won't notice. Damn it...
"He pushed me?" Laysa murmured to herself, confused. "But there's only one man who would do that..." she said, while Molly fought Braston and Layane practically assaulted Frederick's chest.Laysa didn't waste time."I knew it! Cassius!" she exclaimed, ripping off his mask and throwing herself at him
Cap. 66 – Let's Go Home“Well, from what I heard, they already got in and are just waiting for us to step out so they can start shooting,” Madock commented, grabbing the machine gun.“And we only have one machine gun and a pistol,” Braston observed, frowning.“True, but there are a lot of them. Do
"Whether it is or not, it’s none of your business," she muttered, curling up in the bathtub."You went to my private office, dressed like that, and now you're embarrassed to see me without clothes? You weren’t even wearing a bra. Do you know how disturbing it was to have you like that in my hands and
**Chapter 30 - Repressed Desire**Braston woke up lying on his stomach, burying his face in the soft padding, wishing he could go back to sleep. But he quickly realized that getting up was impossible. Half of Molly's body rested on his back; he could feel her body pressing against his skin while her






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.