Short
In Court, They Lost More Than the Case

In Court, They Lost More Than the Case

By:  Perfect TimingCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
11Chapters
3.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Every day, my son and husband finish all the house chores before I even get home. But only because they're bringing my husband's first love, Sally Sullivan, back for Thanksgiving, I pour boiling water on my son's face. I also kick both my son and husband out when it's 104°F outside. Desperate to save our son, my husband sprawls across the front porch, begging me to open the door. "Wanda, open the door! We need to save our son! I only invited Sally over because she saved you once back then. I didn't mean anything else by it!" "Mom, it hurts!" my son cries. "Mom, can't you kiss me? Mom…" Meanwhile, I'm slouching on the couch, snacking away as I watch TV. In the end, my husband can't take it anymore and brings me to the Bad Mom Court for trial. The moment my memories are extracted, the entire court bursts into tears.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Sebuah kelab malam yang megah, suasana dipenuhi dengan cahaya berwarna-warni yang berkilauan, menciptakan atmosfer yang penuh energi dan kegembiraan. Musik berdentum keras dari sistem suara canggih, menggetarkan lantai dan membuat setiap orang bergerak mengikuti irama.

Gemerlap lampu diskotik berpendar menyilaukan mata. Dentum musik DJ menghentak cepat diikuti debar jantung yang mulai naik. Seorang wanita cantik bernama Aria hampir terkapar di sofa paling dekat dengan area lantai dansa yang ada di kelab malam itu.

Rambut panjang wanita cantik itu jatuh terurai menutupi paras cantiknya. Tampak jelas pipinya merona merah efek dari alkohol yang baru dia tengguk. Ya, dia terlihat payah dalam hal meminum alkohol.

“Pria sialan! Mati saja kau!” Suara Aria meracau cukup keras, tetapi disinilah tempat semua orang melepas penat yang mereka bawa dari dunia luar. Pengunjung lain yang berpasangan di kelab malam itu sekilas melirik Aria yang duduk seorang diri, lalu berakhir tidak peduli.

Aria menertawakan dirinya yang begitu bodoh. Dia merasa seperti pecundang yang lemah. Wanita cantik itu baru saja mendapatkan pengkhianatan luar biasa dari kekasih dan sahabat baiknya. Terdengar konyol, tetapi itu fakta yang dia dapatkan.

Aria yang selama ini terlalu polos, ditipu habis-habisan oleh dua orang yang sangat berarti di hidupnya. Kekasih dan sahabat baiknya tega menusuknya dari belakang. Bayangkan saja dia harus mendapatkan kenyataan pahit kekasihnya berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri.

“Pergilah kalian ke neraka!” racau Aria lagi seraya terus menenggak minuman beralkohol tinggi. Kepala yang terasa pecah, hanya bisa diatasi dengan dirinya yang minum alkohol. Tidak peduli dengan apa pun.

Rasa marah dan dendam bersemayam di dalam dirinya. Andai saja dalam kondisi mabuk seperti ini ada kekasih dan sahabatnya, sudah dipastikan botol vodka yang ada di depan Aria sudah terlempar ke kepala kekasih dan sahabat baiknya itu.

Ari mengatur napasnya, dan berhenti sejenak minumdi kala rasa pusing mulai mendominasi dirinya. Wanita cantik itu berusaha keras mengumpulkan fokusnya, menatap satu per satu wajah pengunjung dengan mata memincing.

“Ah, tidak ada waktu untuk memikirkan sampah seperti mereka, Aria. Lebih baik kau fokus pada tujuan utamamu,” gumam Aria, dengan senyuman samar di wajahnya serta menunjukkan tekad kuat dalam menjalankan aksinya. “Tunggu, sepertinya itu pria yang aku beli,” lanjutnya dengan sorot mata menatap sosok pria tampan yang baru saja muncul.

Aria bangkit berdiri, dan berjalan dengan susah payah menghampiri pria tampan yang baru saja muncul. “Hey, akhirnya aku menemukanmu,” ucapnya meracau mabuk.

Pria tampan itu mengerutkan keningnya, menatap Aria dengan tatapan dingin tersirat penuh ketegasan. Namun, dia tetap memilih diam membiarkan Aria menyelesaikan ucapan padanya.

“Aku sudah dari tadi menunggumu. Maaf, aku tadi minum sebentar.” Aria dengan berani, berjinjit dan melingkarkan tangannya keleher pria tampan itu. “Aku sudah berdiskusi pada temanku untuk bayaranmu, dan aku setuju,” lanjutnya berbisik serak sensual.

Pria tampan itu semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aria. “Kau—”  

“Ssssst, jangan banyak bertanya. Aku sudah tidak sabar!” Aria dengan berani melumat bibir pria tampan itu, hingga sang pria tampan membeku terkejut. Detik selanjutnya, dia langsung menarik tangan pria tampan itu, membawa pergi meninggalkan kelab malam.

Hotel yang tak jauh dari kelab malam itu menjadi saksi di mana Aria telah bertindak gila. Wanita cantik itu membawa seorang pria ke dalam sebuah kamar hotel cukup bagus.    

“Ini pertama kalinya untukku, tolong main dengan pelan,” ucap Aria seraya melingkarkan tangannya ke leher pria tampan itu lagi di kala tiba di dalam kamar hotel. “Aku sudah setuju dengan bayaranmu, jadi kau harus setuju dengan aturanku.”

Pria tampan itu tersenyum samar mendnegar apa yang dikatakan Aria. “Ah, maksudmu kau belum pernah merasakan seks hebat?” bisiknya serak, dan sensual.

Aria mengangguk dengan tatapan sayu akibat mabuk yang masih menguasainya. “Ya, aku belum pernah. Aku ingin melampiaskan semua sakitku malam ini. Tolong puaskan aku, dan pastikan kau harus buang spermamu di dalam rahimku,” bisiknya lagi menuntut.

Pria tampan itu menarik dagu Aria, mendekatkan bibir wanita itu ke bibirnya. “Kenapa kau ingin aku membuang spermaku di rahimmu, hm?”

“Karena itu adalah perintah! Segera lakukan yang aku mau!” Aria langsung menyambar bibir pria tampan itu, dan dengan liarnya dia mulai melucuti pakaian sang pria tampan.

Pria tampan itu awalnya diam tak merespon di kala Aria mencium bibirnya dengan liar. Namun, dia adalah pria normal. Pun wanita di depannya itu memiliki paras yang luar biasa cantik. Detik itu juga yang dilakukannya adalah membalas ciuman Aria dengan tak kalah liar.

“Akh!” Aria mendesah di kala ciuman pria tampan yang dia bayar menemani malamnya itu ternyata sangat hebat dalam berciuman.

Perlahan, tubuh Aria mulai terbaring di ranjang empuk hotel, dan satu per satu kini helaian benang di tubuhnya telah dilucuti dengan pria tampan itu. Pemanasan semakin menggelora, membuat Aria menggila merasakan sentuhan dahsyat itu pertama kalinya.

“Aku akan pelan,” bisik pria tampan itu, dan mulai menyatukan miliknya ke dalam milik Aria, dengan perlahan.

Aria menjerit kesakitan dan pria tampan itu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Dia merasakan sakit di bagian bawahnya, tetapi karena kepandaian pria tampan itu dalam permainan, rasa sakit yang dirasakan mulai memudar dan digantikan dengan rasa nikmat.

Malam panjang membuat Aria sadar bahwa dirinya telah melewati batas berbahaya. Dia membayar seorang gigolo tampan dari salah satu orang yang dia percayai. Namun, sepertinya dia tak sadar bahwa malapetaka semua dimulai dari sini.

Keesokan hari, Aria terbangun dalam keadaan tubuh polosnya terbalut oleh selimut tebal. Dia mengerjap beberapa kali, merasakan sakit di inti tubuh bagian bawahnya. Dia menoleh ke samping menatap punggung kokoh seorang pria. Ingatannya lansung mengingat dirinya membayar seorang gigolo.

Aria menghela napas dalam, dan langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Dia melirik ke layar ponsel dan ada banyak panggilan tak terjawab dari orang yang dia minta untuk mencarikan gigolo. Pun ada satu pesan masuk. Dia segera membuka pesan itu dan membaca singkat.

{Aria, maaf sekali. Gigolo yang aku pesan ternyata tadi malam tidak jadi datang, karena ada urusan pribadi. Sebagai permintaan maaf, dia ingin menjadwalkan ulang bertemu denganmu. Apa kau mau? Jika kau setuju, segera beri tahu aku.}

Bagai tersambar petir, raut wajah Aria berubah, dan pancaran matanya berkilat terkejut membaca pesan singkat dari orang yang dia percayai mecarikan gigolo untuknya. Tangannya sampai gemetar memegang ponselnya. Tatapannya melirik ke samping, melihat pria yang tadi malam menghabiskan malam dengannya tidur di sampingnya. Detik itu juga, jantung Aria seakan ingin berhenti berdetak.

J–jika bukan dia gigolo yang aku bayar? Lalu, dia siapa? gumam Aria dalam hati, dengan raut wajah yang menunjukkan jelas kegelisahan bercapur ketakutan di dalam dirinya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status