LOGINEvery day, my son and husband finish all the house chores before I even get home. But only because they're bringing my husband's first love, Sally Sullivan, back for Thanksgiving, I pour boiling water on my son's face. I also kick both my son and husband out when it's 104°F outside. Desperate to save our son, my husband sprawls across the front porch, begging me to open the door. "Wanda, open the door! We need to save our son! I only invited Sally over because she saved you once back then. I didn't mean anything else by it!" "Mom, it hurts!" my son cries. "Mom, can't you kiss me? Mom…" Meanwhile, I'm slouching on the couch, snacking away as I watch TV. In the end, my husband can't take it anymore and brings me to the Bad Mom Court for trial. The moment my memories are extracted, the entire court bursts into tears.
View MoreGemerlap lampu diskotik berpendar menyilaukan mata. Dentum musik DJ menghentak cepat diikuti debar jantung yang mulai naik. Seorang wanita cantik bernama Aria hampir terkapar di sofa paling dekat dengan area lantai dansa yang ada di kelab malam itu.
Rambut panjang wanita cantik itu jatuh terurai menutupi paras cantiknya. Tampak jelas pipinya merona merah efek dari alkohol yang baru dia tengguk. Ya, dia terlihat payah dalam hal meminum alkohol.
“Pria sialan! Mati saja kau!” Suara Aria meracau cukup keras, tetapi disinilah tempat semua orang melepas penat yang mereka bawa dari dunia luar. Pengunjung lain yang berpasangan di kelab malam itu sekilas melirik Aria yang duduk seorang diri, lalu berakhir tidak peduli.
Aria menertawakan dirinya yang begitu bodoh. Dia merasa seperti pecundang yang lemah. Wanita cantik itu baru saja mendapatkan pengkhianatan luar biasa dari kekasih dan sahabat baiknya. Terdengar konyol, tetapi itu fakta yang dia dapatkan.
Aria yang selama ini terlalu polos, ditipu habis-habisan oleh dua orang yang sangat berarti di hidupnya. Kekasih dan sahabat baiknya tega menusuknya dari belakang. Bayangkan saja dia harus mendapatkan kenyataan pahit kekasihnya berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri.
“Pergilah kalian ke neraka!” racau Aria lagi seraya terus menenggak minuman beralkohol tinggi. Kepala yang terasa pecah, hanya bisa diatasi dengan dirinya yang minum alkohol. Tidak peduli dengan apa pun.
Rasa marah dan dendam bersemayam di dalam dirinya. Andai saja dalam kondisi mabuk seperti ini ada kekasih dan sahabatnya, sudah dipastikan botol vodka yang ada di depan Aria sudah terlempar ke kepala kekasih dan sahabat baiknya itu.
Ari mengatur napasnya, dan berhenti sejenak minumdi kala rasa pusing mulai mendominasi dirinya. Wanita cantik itu berusaha keras mengumpulkan fokusnya, menatap satu per satu wajah pengunjung dengan mata memincing.
“Ah, tidak ada waktu untuk memikirkan sampah seperti mereka, Aria. Lebih baik kau fokus pada tujuan utamamu,” gumam Aria, dengan senyuman samar di wajahnya serta menunjukkan tekad kuat dalam menjalankan aksinya. “Tunggu, sepertinya itu pria yang aku beli,” lanjutnya dengan sorot mata menatap sosok pria tampan yang baru saja muncul.
Aria bangkit berdiri, dan berjalan dengan susah payah menghampiri pria tampan yang baru saja muncul. “Hey, akhirnya aku menemukanmu,” ucapnya meracau mabuk.
Pria tampan itu mengerutkan keningnya, menatap Aria dengan tatapan dingin tersirat penuh ketegasan. Namun, dia tetap memilih diam membiarkan Aria menyelesaikan ucapan padanya.
“Aku sudah dari tadi menunggumu. Maaf, aku tadi minum sebentar.” Aria dengan berani, berjinjit dan melingkarkan tangannya keleher pria tampan itu. “Aku sudah berdiskusi pada temanku untuk bayaranmu, dan aku setuju,” lanjutnya berbisik serak sensual.
Pria tampan itu semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aria. “Kau—”
“Ssssst, jangan banyak bertanya. Aku sudah tidak sabar!” Aria dengan berani melumat bibir pria tampan itu, hingga sang pria tampan membeku terkejut. Detik selanjutnya, dia langsung menarik tangan pria tampan itu, membawa pergi meninggalkan kelab malam.
Hotel yang tak jauh dari kelab malam itu menjadi saksi di mana Aria telah bertindak gila. Wanita cantik itu membawa seorang pria ke dalam sebuah kamar hotel cukup bagus.
“Ini pertama kalinya untukku, tolong main dengan pelan,” ucap Aria seraya melingkarkan tangannya ke leher pria tampan itu lagi di kala tiba di dalam kamar hotel. “Aku sudah setuju dengan bayaranmu, jadi kau harus setuju dengan aturanku.”
Pria tampan itu tersenyum samar mendnegar apa yang dikatakan Aria. “Ah, maksudmu kau belum pernah merasakan seks hebat?” bisiknya serak, dan sensual.
Aria mengangguk dengan tatapan sayu akibat mabuk yang masih menguasainya. “Ya, aku belum pernah. Aku ingin melampiaskan semua sakitku malam ini. Tolong puaskan aku, dan pastikan kau harus buang spermamu di dalam rahimku,” bisiknya lagi menuntut.
Pria tampan itu menarik dagu Aria, mendekatkan bibir wanita itu ke bibirnya. “Kenapa kau ingin aku membuang spermaku di rahimmu, hm?”
“Karena itu adalah perintah! Segera lakukan yang aku mau!” Aria langsung menyambar bibir pria tampan itu, dan dengan liarnya dia mulai melucuti pakaian sang pria tampan.
Pria tampan itu awalnya diam tak merespon di kala Aria mencium bibirnya dengan liar. Namun, dia adalah pria normal. Pun wanita di depannya itu memiliki paras yang luar biasa cantik. Detik itu juga yang dilakukannya adalah membalas ciuman Aria dengan tak kalah liar.
“Akh!” Aria mendesah di kala ciuman pria tampan yang dia bayar menemani malamnya itu ternyata sangat hebat dalam berciuman.
Perlahan, tubuh Aria mulai terbaring di ranjang empuk hotel, dan satu per satu kini helaian benang di tubuhnya telah dilucuti dengan pria tampan itu. Pemanasan semakin menggelora, membuat Aria menggila merasakan sentuhan dahsyat itu pertama kalinya.
“Aku akan pelan,” bisik pria tampan itu, dan mulai menyatukan miliknya ke dalam milik Aria, dengan perlahan.
Aria menjerit kesakitan dan pria tampan itu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Dia merasakan sakit di bagian bawahnya, tetapi karena kepandaian pria tampan itu dalam permainan, rasa sakit yang dirasakan mulai memudar dan digantikan dengan rasa nikmat.
Malam panjang membuat Aria sadar bahwa dirinya telah melewati batas berbahaya. Dia membayar seorang gigolo tampan dari salah satu orang yang dia percayai. Namun, sepertinya dia tak sadar bahwa malapetaka semua dimulai dari sini.
Keesokan hari, Aria terbangun dalam keadaan tubuh polosnya terbalut oleh selimut tebal. Dia mengerjap beberapa kali, merasakan sakit di inti tubuh bagian bawahnya. Dia menoleh ke samping menatap punggung kokoh seorang pria. Ingatannya lansung mengingat dirinya membayar seorang gigolo.
Aria menghela napas dalam, dan langsung menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Dia melirik ke layar ponsel dan ada banyak panggilan tak terjawab dari orang yang dia minta untuk mencarikan gigolo. Pun ada satu pesan masuk. Dia segera membuka pesan itu dan membaca singkat.
{Aria, maaf sekali. Gigolo yang aku pesan ternyata tadi malam tidak jadi datang, karena ada urusan pribadi. Sebagai permintaan maaf, dia ingin menjadwalkan ulang bertemu denganmu. Apa kau mau? Jika kau setuju, segera beri tahu aku.}
Bagai tersambar petir, raut wajah Aria berubah, dan pancaran matanya berkilat terkejut membaca pesan singkat dari orang yang dia percayai mecarikan gigolo untuknya. Tangannya sampai gemetar memegang ponselnya. Tatapannya melirik ke samping, melihat pria yang tadi malam menghabiskan malam dengannya tidur di sampingnya. Detik itu juga, jantung Aria seakan ingin berhenti berdetak.
J–jika bukan dia gigolo yang aku bayar? Lalu, dia siapa? gumam Aria dalam hati, dengan raut wajah yang menunjukkan jelas kegelisahan bercapur ketakutan di dalam dirinya.
Sally started shifting her whole body toward the back of the car, forcefully pressing my upper body toward the front. After the crash, the front half of the car was already hanging over the cliff. With Sally deliberately exerting force on the vehicle, it was sure to fall. In that critical moment, I yanked my trapped hands free and grabbed her arm with all my strength. I was practically latched onto her when she had no choice but to drag me out of the car. But Sally wasn't an idiot either. The moment she noticed that I had climbed out of the vehicle and that police and ambulance sirens were approaching from afar, she immediately started her performance. She pulled me into her arms to make it look like she was protecting me, so that everyone would believe that she truly was trying to save me. By then, no matter how I tried to explain the truth, no one would believe me if I said that Sally was actually trying to kill me.Hugging me from behind, she leaned toward my ear and whis
Before Sally could even speak, the judge granted Bruce's request. The screen thus lit up with the scene of the crash, a piece of memory they'd first extracted from my mind.I had been cruising steadily on the expressway when my brakes suddenly failed. No matter how hard I pressed the brake pedal, nothing happened. The speedometer shot past a hundred as my car lunged straight toward the vehicle ahead. I slammed the horn repeatedly. The moment I did, the car in front suddenly braked. I had no choice but to swerve my car to the side to avoid hitting it. As a result, my car crashed into the guardrail. From the sheer momentum, the vehicle lurched forward until it skidded to a stop right at the edge of a cliff. My mind instantly went blank. I turned my head toward Bruce and Sean, who were a safe distance away, desperately calling for help. But they were frozen in shock, too terrified to move. The sturdy vehicle shook like a leaf in the wind. Just then, Sally appeared like a knig
The screen went dark again before switching to another memory.Now, my memory of the Grahams trying to wash my feet appeared on screen.From the crack of the bedroom door, I saw them slipping something into the boiling water as they prepared the foot bath. "I collected a whole month's worth of my classmates' dead skin. If Mom soaks her feet in this, she won't be able to go out tomorrow. Then, Sally can go to the amusement park with us!"Bruce flicked his son's forehead. "No doubt, you're Wanda's son—sneaky as hell. But what if she doesn't soak her feet?"Sean contemplated this for a while. "Then, I'll pretend to spill it over her head. If she accidentally drinks it, she'll definitely have diarrhea. No matter what, we cannot miss Sally's birthday tomorrow."I closed my eyes and inhaled deeply. Then, I went back to bed and gulped down more fever medicine. Moments later, Bruce and Sean entered with the basin of water.Since the impression of me pouring the water on them was stil
As the screen faded to black, the audience members exchanged bewildered looks. "What's going on? So all of that was staged by the Grahams from the start?""No way. How could this all be an act? They were actually scalded! If it were me, I'd have screamed even louder.""So what if it was an act? They probably had no choice. Wanda refused to leave with nothing, so they had to go that far. She's just so wicked that they couldn't stand her a moment longer."The live stream chat echoed the crowd's speculations. Even knowing it was staged, they still believed that Bruce and Sean must've had their reasons. I sneered, arms folded across my chest. "You bunch of blind idiots. Dealing with you all is such a waste of my time."The screen flickered, and the playback of my memories resumed. This time, it was clear that Bruce and Sean weren't satisfied with how the tea incident turned out. Perhaps they thought it wasn't strong enough evidence for a court proceeding. Thus, they decided to
The moment those words left my mouth, a high heel flew straight at me. I wasn't fast enough to dodge it. Blood gushed from my forehead, blurring my vision. The roar of insults from the audience, however, was crystal clear. "Rot in hell, you bitch! She saved your life, and this is how you act?"
The Grahams still wanted to say something, but I quickly hung up. Bruce wasn't ready to give up. While comforting a weak, bedridden Sean, he called me several times more, only for me to reject every single one. Eventually, I got annoyed and sent him a voice message. "Bruce, stop pestering me a
Bruce and Sean exchanged a glance. Defiance instantly filled their eyes. It was as if they were trying to pierce a hole through me with their glares alone. But I held their gazes, unfazed. My stance made it clear that I wouldn't agree to their suggestion unless they licked my feet. Eventually, t
Hearing this, Sally flinched. Flanked by Bruce and Sean, she clutched Bruce's arm and put on a false, gentle smile. "Bruce, Wanda is family. Can't you clear up this misunderstanding? There's no need to make a scene for my sake. I feel terrible. Don't you agree, Sean?"Her words made Sean falter.


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.