LOGIN"You'll be a promising slut". That was the last sentence she heard her uncle say as he whisked Skai away from her mother's arms, she could hear her struggling voice as she was trampled upon and Skai, sold to the world. In a world where males are given accolades for portraying evil, Skai makes it her quest to destroy and exact revenge on the two monsters that took away her happiness, even if it means disguising herself and learning the skills of a male to fit in the male world.
View More“Tidak! Tolong! Jangan! Jangan lukai dia! Tolong! Kumohon, kumohon, aku akan melakukan apapun juga!” teriak seorang pria dengan suara ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya berubah menjadi sangat pucat dan dia benar-benar menyedihkan.
Jeritannya semakin menjadi tatkala silaunya cahaya kilat dan guntur yang saling bersusulan menggelegar di angkasa malam ini. Hujan masih turun dengan deras di luar. Lisa segera menghampirinya dan mencoba untuk menenangkan pria itu. “Tenang, tenanglah, ada aku di sini,” ucap Lisa padanya dengan menepuk pelan punggungnya. Namun, tiba-tiba saja, pria itu membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Lisa lalu memeluknya dengan sangat erat. “Tolong, kumohon tolong aku!” Dia berkata lirih. Jantung Lisa berdetak cepat dan darahnya berdesir deras, pria ini memeluknya, dia bahkan belum pernah merasakan hal demikian dari pria yang bukan mahramnya, tetapi entah kenapa rasa empatinya saat ini sangat tinggi membuatnya sangat iba dengan pria ini. “Sabarlah, kamu aman sekarang.” Suara lembut Lisa membuatnya perlahan bisa mengatur ritme napasnya menandakan pria ini sekarang sudah jauh lebih tenang. Namun demikian, pelukannya pada Lisa masih kuat seolah tidak ingin dilepaskan. Tiba-tiba saja, seketika penerangan padam disusul dengan cahaya kilat yang memenuhi ruangan, semakin erat saja pria ini melakukannya, apalagi setelahnya suara petir seolah memecahkan tempat ini. Jantung Lisa kembali berdetak kencang, tubuhnya yang mulai tenang tadi menjadi bergetar hebat kembali, hanya saja kali ini mulut pria itu terkunci rapat. “Tenanglah dulu, aku akan mengambil lilin di belakang.” Lisa berkata menenangkannya. Pria itu menggeleng lalu bersuara lirih menyanyat. “Tolong jangan tinggalkan aku.” Baru saja Lisa ingin membujuknya lagi, kamar ini mendadak terang dengan sinar penerangan dari arah luar masuk melalui celah gorden yang masih terbuka. Banyak pasang mata melihat mereka dalam keadaan seperti ini, yang mana semua orang pasti akan sangat salah paham dengan posisi mereka. Berpelukan di dalam sebuah kamar yang gelap dan hanya berdua saja. “Lisa! Keluar kamu!” Teriak suara dari luar. Lisa benar-benar terkejut, dia ingin segera melepaskan pelukannya, tetapi suara dari luar itu terdengar seperti langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan membuat kegaduhan “Pak Duha! Lihat, ini kelakuan putrimu!” serunya dengan lantang. Lisa terlihat panik, dia berusaha untuk menjelaskan. “Tidak-tidak, ini salah paham ini–” “Kita harus menikahkan mereka!” timpal yang lain lagi. Lisa sangat terkejut dengan pernyataan barusan. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bermaksud untuk menjelaskan pada ayahnya, tetapi ayahnya memandang dirinya dengan tatapan kecewa. “Tidak, kejadiannya tidak seperti yang bapak-bapak pikirkan ini. Ayah ini semua–” “Jangan berkilah kamu! Untungnya kita cepat datang, kalau tidak kalian pasti sudah melakukan hal diluar norma agama!” Seseorang dengan janggut tebal yang berseru pertama kali tadi bicara dengan nada tinggi pada Lisa. “Pak Duha, Bapak salah satu orang yang terhormat di kampung kita ini, jadi lebih baik kita nikahkan mereka saja malam ini!” Mata Lisa mulai berkaca-kaca, bagaimana mungkin dia menikah dengan pria ini?! “Pak, benar seperti yang Bapak ini bilang, kalau tidak mau Lisa mencoreng nama keluarga kita, kita harus menikahkan mereka.” Suara itu sangat dikenal oleh Lisa, dia adalah Ibu Ida, ibu sambungnya. Lisa menjadi sangat terpojok karena hal ini, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan pada mereka. Lisa lalu melihat pria itu, jelas makin tidak ada harapan. Pria itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri di saat yang segenting ini, pandangannya kosong ke arah depan dan wajahnya terlihat jelas seperti orang bodoh. “Bener, Pak! Perbuatan Mbak Lisa ini tidak dibenarkan, lagipula, takutnya kita juga kena imbasnya! Jadi, mending Mbak Lisa dinikahkan saja sama orang itu!” Kali ini suara Yasmin, adik tiri Lisa, ikut menggema di ruangan ini. Lisa benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, ada rasa sesal yang dalam atas perbuatannya sendiri pada pria itu, tetapi dia tahu, segala sesuatu yang sudah digariskan jelas tidak bisa diubah begitu saja. “Ayah, Lisa tidak begitu, Yah, Lisa tahu batasan–” “Halah batasan! Jangan sok suci kamu! Kalau tahu batasan ngapain kamu berduan di kamar dengan dia? Pake peluk-peluk segala. Pak, kita harus menikahkan Lisa malam ini juga, kalau tidak nama baik keluarga kita menjadi taruhannya.” Ida mendesak Duha yang masih diam melihat anaknya. Lisa melihat ke arah Duha dengan tatapan memohon, tetapi sepertinya sang ayah tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah, saya akan menikahkan anak saya malam ini juga dengannya,” putus Duha. Hal ini membuat Lisa tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tahu betul ayahnya ketika memutuskan sesuatu, sulit untuk ditarik kembali. “Ayah …,” lirih Lisa pada Duha, matanya menatap sendu, tetapi pria itu seolah menulikan telinganya. Saat ini yang ada dalam kepalanya adalah menikah dengan pria ini. Pria asing yang bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat! Duha masih tetap tinggal di kamar ini, dia melihat ke arah Lisa dengan tatapan kecewanya, matanya juga melihat tajam ke arah Lisa. “Lisa, ayah tahu kamu tidak akan melakukan apapun, tapi keadaannya cukup berbeda, semua orang bisa dengan jelas melihat kalau kamu dan dia memiliki hubungan tak biasa.” Duha berkata pada putrinya dengan suara yang berat. “Tapi Yah, ayah tahu sendiri dia ini bagaimana, kita tidak tahu asal-usulnya, bahkan hal paling kecil saja tentang namanya dia tidak tahu. ” tunjuk Lisa dengan suara tercekat pada pria itu. Duha hanya mengangguk dan menarik napas berat. “Menikahlah dengannya.” Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya bagai sebuah godam yang memukul hatinya dengan paksa. “Tapi ….” “Ini yang terbaik saat ini.” Ayahnya mengelus pelan pucuk kepala Lisa sebelum akhirnya keluar dari kamar ini, meninggalkan Lisa dan pria asing itu dalam kamar ini. Lisa hanya diam, dia tetap tak kuasa untuk meneteskan air matanya saat Ayahnya keluar dari tempat ini. Sebelum berpesan padanya agar segera bersiap-siap untuk merapikan diri. Tiba-tiba, pria itu menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Lisa. “Jangan menangis,” ucapnya dengan suara husky-nya membuat Lisa terkejut mendengarnya. “Kamu …?” Lisa tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tatapan pria itu sungguh dalam. “Gandha, namaku Gandha,” ujarnya. Lisa mengerutkan keningnya. Pria ini mengatakan siapa namanya? Apa dia tidak salah dengar? Belum sempat dia mendekati pria itu dan bertanya lebih jauh, suara Ida kembali terdengar nyaring di kamar ini. “Lisa! Kamu harus memakai pakaian yang rapi, biar tidak memalukan keluarga kita! Cukup kamu yang berdua-duaan dengan orang gila ini saja yang membuat keluarga kita malu!” hardik Ida. Lisa mematung, otaknya masih mencoba untuk berpikir cepat dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia kembali disadarkan saat tangan Ida menariknya paksa keluar dari tempat itu.SkaiGunshots thundered in the air - a battle between the guards and Giovanni’s men. Pain erupted in my chest, the sounds fading into the background as the car moved away. Tears began to drop until I couldn't control them anymore.It was supposed to be my happiest day. Why must they come?“Why must they be everywhere just to ruin me?” I later turned to Juliano, whose fingers had been flying across the screen. I didn't know who he was calling.Maybe his guards or other securities. He didn't talk, he pulled me closer, my head buried on his chest and his hands draped over me.I sobbed and sniffed, every nerve of my body reacting. A loud familiar sound pierced through - his ringtone.He picked it up “Sir, it was brutal.” The voice on the other end said, in panic, skipping the pleasantries. My heart skipped, breath paused.“Giovanni is shot dead. Tillard sustained major injuries.” The guard said quickly.My lips curved into a smug smirk, as I tried to raise my head a bit, the tears on my
SkaiIt was just like a meeting. The centre light glimmered in the glass table, beautiful enough to draw my attention. Nowadays, little things snatch my focus and I drift away at the slightest chance. Bruno. Juliano. Margo.We sat like we were listening to war orders, like plans before making an attack. And that was exactly what it was.As if we all waited for who to talk first, Margo cleared her throat and straightened a bit in her chair.“The corps still have them in custody. Aver has been arrested too.” Margot's voice was calm, disgust dripping from her words, the venom hiding underneath the surface. You could tell how much she didn't like Aver.“When they get to Carlo, Giovanni would get distracted, finding ways to save his son.”As if planned, we all nodded in agreement.As simple as her statement was, the truth glistened. Giovanni wouldn't bear seeing his son behind bars. Let's see where this goes.She turned to Bruno“Do you have the guys ready?” She asked and he nodded.I ma
Skai“Juliano” I called, struggling to catch up with his pace. Who knows what he'd do, out of anger. He didn't look back. He didn't wait. His fury mounted with each step.“Please wait”, I said, my voice rising a bit, hoping that would make him pause for a minute, but he didn't.Honestly, I was getting scared. He was more than a storm, like a thunderbolt that wanted to strike Zack alive. He deserved it. I didn't weigh their level of cruelty, but killing his mother? That was extreme.In no time, he was downstairs. My pulse throbbed at his expression.“Zack” He raged, chest heaving up and down with undiluted fury. I didn't think nothing in this world would calm him. Not even Margo or Allysia.All the guards around came out, clearly surprised. Everyone expected what would happen next, including me.“Yes, boss” Zack came out of his quarter, all eyes turned to him. He stopped in his tracks. The forced smile on his filthy face faltered, confusion covered his features like balm. His eyes look
SkaiWeeks rolled past, like the time wasted in Giovanni’s house. No attacks. No weird messages. No strange movements from Zack and truth be told, I almost gave up. I almost doubted myself, maybe it was all in my subconsciousness. Maybe Zack was innocent.No matter how I forced myself to believe, something flickered beneath. And I decided to lay low and watch if anything will happen. I didn't have the luxury of time but I worked with the flow.Practically, that was the same thing he did - waiting for me to make the first move, then he kicked start. Like two warriors in the dark.And for a moment - just a fraction of seconds. I almost forgot Juliano was seated next to me. I took a glance and his profile was expressionless.None of us talked, we were just there. Our knuckles meet and I intertwine our hands for self- comfort. Our emotions were mutual. None of us gathered the courage to address it. We loved each other in silence, if that's the correct word to use. Obviously tired of the
~Skai Everything in my head was him, as if he had stolen my senses. I was obsessed, and I couldn't save myself. We stared at each other, like our souls were in deep conversations. I got into my room and glided underneath the sheets, and sleep drifted me away. I didn't know how long until I heard
~Juliano "You'll understand soon” I stood up and pressed a kiss on her forehead. Without saying a word, I turned on my heels and left the room. I didn't know how long I was there, until my phone buzzed. I could stay with her for hours without getting tired. I love watching her fall for my litt
~Skai His soft laughter followed me out of the room. I rushed down the hallway, hands on my chest, my heart beating twice as fast as normal or even more. Like a Disney princess that just danced with her royal prince. I smiled to myself, widely, reminiscing about the moments. If it could be a dream
~Skai Fear washed over me until I looked in the direction and my gaze met furious Bruno. He was with other people from the mercenary—almost unfamiliar. They were ready—ready to attack anyone that came their way. I rushed to Bruno's side; I wasn't expecting help. I've always been my savior. Carlo






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore