LOGINOn their seventh wedding anniversary, Kimberly Williams discovered a divorce agreement in Richard Munoz's nightstand drawer. It was covered in scribbles and cross-outs, as if he'd agonized over the decision time and again. [If I fall in love with someone else during the marriage, I voluntarily give up all my assets and leave with nothing. Here's the list of properties.] He'd originally vowed to walk away penniless for her sake, but in the asset section, he'd crossed things out one by one. First, he struck through the house he planned to give her, then changed the $50 million to $500,000. Finally, in a ruthless scrawl, he added: [Better if Kimberly leaves with nothing. Can't help it. Lotta is pregnant.]
View MoreSetelah pernikahan selama tiga tahun
Aidan merasakan kehampaan yangsangat mendalam, ia merasa seperti siput tanpa cangkang sangat jauh berbeda saat mereka perpacaran dulu. “Aku sudah muak denganmu!” ucapnya kala itu.Alesya yang mendengar pun tidak terkejut sama sekali, terlihat ia juga sudah mulai jenuh atas pernikahan mereka, "Aku tidak ingin cerai!" tolaknya nyaris tanpa ekspresi.
Aidan tampak sangat frustasi. Apa yang didengarnya, padahal Alesya jelas sekali jauh lebih jenuh darinya. Namun kenapa ia menolak? lelaki itu berpikir ini tidak masuk akal. “KAU DENGAR TIDAK!?AKU SUDAH MUAK DAN INGIN CERAI!!!” Aidan lalu meninggikan suaranya agar Alesya mengerti.
“AKU DENGAR!” Alesya tak kalah meninggikan suaranya dari lelaki itu.
Aidan menjadi membisu mendengar bentakan itu jadi ia menunduk kesal, kenapa malah dia yang seolah salah disini? padahal rumah tangganya retak akibat sang isteri.
“Maksudku kita tidak perlu cerai sekarang, dan kau juga tidak perlu menganggap aku ada dirumah ini. Cukup kita menganggap satu sama lain tidak penting.” Alesya memelankan suaranya, lalu perempuan itu membanting pintu rumah dengan kuat, pergi keluar tanpa menghiraukan Aidan.
Aidan yang sedang kalap melemparkan barang-barang yang ada disekitarnya.
Alesya Sedang menunggu seseorang di ruangan rumah sakit. Orang itu akhirnya muncul, lalu mereka berbincang satu sama lain. “Apa sudah dicek bagaimana?" ujarnya kepada pria berseragam putih yaitu dokter Kandungan.
Seolah wajahnya menekuk kebawah dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia seperti tidak ingin membuka mulut. Alesya sudah mengerti apa yang akan diberitahukan pria itu kepadanya, jadi ia tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Dengan sopan ia permisi dan beranjak pergi.
Alesya duduk di persimpangan jalan dekat rambu-rambu lalu lintas. Ia tampak menggelitir jari-jarinya yang kurus sesekali menarik masuk cincin pernikahan mereka. Raut wajahnya seperti benang kusut yang tidak bisa di perbaiki lagi. Ia menengok sekelilingnya tampak pejalan kaki yang lewat melintas. Seperti tidak ada beban dipikiran mereka, seolah Alesya sendiri yang menanggung beban yang berat. Ia terus melamun, seperti tidak ada lagi hal yang dapat ia lakukan. Lalu lamunannya terusik oleh pria yang turun dari mobil, tampak sedang mengelus-ngelus perut istrinya yang tengah hamil tua, mereka berjalan tepat berada di samping Alesya.
Alesya melemparkan senyum sinis kepada kedua orang itu, seakan ia terlihat aneh di saat pasangan tersebut memperhatikannya dan saling berbisik-bisik.
Sudah cukup puas menyendiri, Alesya menapakkan kakinya keaspal. Ia sebenarnya enggan sekali untuk pulang, namun ia tidak mempunyai tujuan lagi. Ia tidak ingin pulang kerumah orang tuanya karena takut dicerca. Sebab demi menikah dengan suaminya sekarang, ia membantah orangtuanya sehingga membuat pembatas antara mereka. Dengan langkah kaki yang berat Alesya kembali kerumah, dengan membawa beberapa kudapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ia berpikiran bahwa Aidan sedang pergi bersama teman-temannya. Tidak ada kejanggalan dihatinya, saat menyantap makanan yang ia beli dengan lahap. Walau Alesya merasa tertekan , ia tetap masih bisa merasakan kelaparan yang hebat hingga tidak bisa menahannya.
Kreees!
“keripik ini enak sekali! Kue ini juga enak.”
Semua terlihat enak dimatanya.Tiba-tiba Aidan keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk di bawah tubuhnya.Alesya mematung, terlihat masih ada sisa makanan melekat dibirnya. Aidan hanya diam ia mengabaikan Alesya dan ingin berganti pakaian.
“Biasanya kau pergi disaat jam seperti ini?”
tanya Alesya dengan tidak meperdulikan pertengkaran mereka tadi sore.Aidan dengan enteng memakan kripik dan juga kue Alesya. “Hari ini mereka tidak datang mejemputku,” kelitnya padahal ia yang tidak ingin pergi karena merasa bersalah telah membentak Alesya. “Mari kita bikin kesepakatan,” usul Aidan yang duduk disofa tepat berhadapan dengan Alesya.
“Daripada kesepakatan, lebih baik kau memakai pakaianmu terlebih dahulu!” Alesya melempar tubuh setengah telanjang Aidan dengan bantal.
“Kenapa harus malu? kitakan suami isteri!”
Tidak sengaja kata-kata itu keluar dari mulut Aidan, sehingga membuat mereka berdua membatu.“Sudahla lupakan, kesepakatan apa maksudmu?” tanya Alesya sebagai bentuk pengalihan.
“Kita tidak akan cerai untuk sekarang, tapi ada tiga syarat yang harus dipatuhi dengan mutlak.” Aidan mulai menatap perempuan itu serius.
Alesya juga mendengar dengan serius perkataan Aidan, lalu ia bertanya, “Beritahu aku apa syaratnya?” Alesya sungguh tidak sabar mendengar perkataan Aidan selanjutnya.
“Pertama jangan ikut campur urusan pribadi kita, kedua kita boleh mencari pasangan lain, ketiga setelah kita menemukan kebahagiaan masing-masing ayo kita cerai!" imbuhnya tanpa merasa ada beban sedikitpun.
Senyum Alesya tergelincir saat mendengar hal itu, tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak, bukan berarti itu bukan usulan yang bagus, malah itu yang Alesya inginkan. “Baiklah, aku setuju!” terimanya yang tidak ingin dikatain lelaki itu berpikiran sempit.
Lalu kedua orang itu mengenggam tangan mereka satu sama lain.
*****
Salah satu alasan keretakan hubungan mereka disebabkan mereka terlalu muda untuk membina rumah tangga, sifat mereka belum dewasa dan kekakanan. Setiap pertengkaran kecil pasti akan menjadi besar. Serta ketidak pedulian mereka satu sama lain saat menginjak ketiga tahun bersama. Benar saja umur mereka pertama kali menikah ialah 18 tahun setelah tamat SMA. Aidan yang mengusulkan pernikahan tersebut agar mereka selalu bersama-sama.
“Mulai sekarang aku akan tidur dilantai! kau tetap ditempat tidur,” usul Aidan yang disetujui langsung oleh Alesya.
Mereka beralih ketempat tidur masing-masing dan Aidan sudah berganti pakaian tidur.
"Selamat tidur!" Ujar Aidan sembari mematikan lampu.
“Tolong jangan matikan lampu!” sanggah Alesya dengan cepat.
“Kenapa?” jawab lelaki itu bingung.
“Karena ini masih jam delapan malam,” jawabnya melirik kearah jam dinding.
Mereka berdua saling menatap, dan terkekeh sembari menutup mulut menahan tawa yang tidak bisa terbendung. Melihat betapa konyolnya tingkah laku mereka, setelah pertengkaran terjadi.
“Baiklah, kalau begitu apa mau main game?” usul Aidan agar tidak canggung dan kembali seperti biasanya.
"Baiklah, kali ini aku akan mengalahkanmu." Alesya duduk dengan semangat.
Mereka mengambil ponsel masing-masing dan duduk bersampingan. Aidan mencoba memulai permainan, dengan menekan tombol start. Lalu mereka bermain dengan perasaan serius tanpa menghiraukan satu sama lain.
***
Cahaya pagi mulai menembus masuk ke jendela rumah Aidan, lalu terpampang keadaan suami isteri tersebut dalam keadaan tidur terlentang di tempat tidur. Tanpa ada selimut menghiasi tubuh mereka.
Aidan Bangun duluan, ia meregangkan seluruh tubuhnya. Mengingat kejadian tadi malam, saat Alesya mencoba memukulnya dengan tangan karena kalah dalam pertarungan yang membuat lelaki itu tersenyum simpul.
Ia mengambil selimut dari dalam lemari. Lalu menutupi badan Alesya dengan melemparkan selimut tanpa perasaan. Aidan mencoba bertingkah selayaknya, tanpa menggunakan perasaan lagi.
Alesya yang sudah terbangun melihat kesekelilingnya, terlihat Aidan sudah pergi ketempat kerjanya. Ia lalu keruang makan tapi tidak ada satupun tertinggal makanan disana. Ia berpikir dulu mungkin saat mereka saling perhatian Aidan selalu memasakkan makanan atau jika tidak, lelaki itu membeli diluar pasti menyisihkannya untuk Alesya. Namun Alesya tidak perlu berharap itu lagi. Ia menghormati keputusan sang suami karena mungkin dia terlalu muak untuk bersama dengan Alesya. Pada saat itu juga mereka menikah masih muda jadi kemungkinan cinta itu hanya sesaat, dan Alesya menerima itu semua karena tidak juga bisa memberi keturunan untuk Aidan.
Alesya dengan jemarinya yang lincah memotong-motong sayur dan juga ayam, ia membersihkannya lalu memasukan kepanci secara perlahan untuk dijadikan sup. Kebetulan pembantunya sedang pergi, jadi hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Sembari menunggu ia tengah mencari-cari pekerjaan disitus internet dengan teliti. Pandangannya teralihkan dengan pekerjaan dikantor pusat Design grafis. Ia tertarik dengan gaji dan juga posisinya. “Aku akan segera membuat surat lamaran!” Alesya mengretekkan jemarinya dengan semangat membara. Lalu dengan jemarinya yang lincah mencoba mengetik dengan cepat. Hambatan pun datang setelah ia hampir selesai mengisi data-data dirinya, Sup yang dimasaknya pun meluap menimbulkan suara air yang mengganggu.
The damning footage came from the private investigator.After confirming her pregnancy, Lotta had undergone another detailed anatomy scan, and once again, it had revealed supermale syndrome.Frustrated, she'd stormed into the woods near the hospital, lighting up a cigarette and shedding her usual mask of sweet innocence.Moments later, a man appeared in the frame. She stubbed out the cigarette and snapped at him, "This is all your fault—twice now with supermale. What kind of cursed genes run in your family? Listen, I'm keeping this kid no matter what. I need it as leverage to bleed Richard dry."The guy wrapped his arms around her, all sweet-talking. "Babe, don't stress. Once you pop out the kid and we've squeezed him for all he's worth, we'll skip town together. We can dump the kid on him and watch him suffer for the rest of his days."Lotta's expression softened a bit. "Why don't we run a few more of those old scams in the meantime? Richard has cut off my allowance. I need to hu
Kimberly felt utterly speechless.Too drained to engage further, she simply drove away, but in the rearview mirror, his forlorn, defeated figure lingered on the sidewalk.Later, her private investigator reported that Richard had unleashed a brutal beating on Lotta, ultimately causing her to miscarry.Her social media posts about the pregnancy abruptly ceased.Three days later, Kimberly's assistant burst in, wide-eyed with urgency. "Madam, someone's dragging your name through the mud online!"Checking the trends, Kimberly saw the glaring headline dominating the feeds: #HomewreckerKimberly.She tapped in, and there was Lotta facing the camera, sobbing, "After I married Richard, his ex-wife kept coming around to seduce him, and she even drove him to beat me until I lost my baby."Kimberly was painted as the villainous interloper crashing her marriage. To bolster her claims, she posted videos of Richard's verbal tirades and physical assaults.In one clip, he slurred drunkenly, "You
Richard's pupils contracted in disbelief. "What did you say?"He trembled, unable to process the revelation."I said, we once had a child," Kimberly repeated calmly. "The hospital has my records. Feel free to check them yourself.""W-Why didn't you tell me?" Richard shouted, desperation lacing his voice. "If you had, I would have come back to you and fixed everything."She regarded him with cold detachment. "The day I found out, I saw you escorting Lotta to her gynecology appointment. I overheard you promising her in the stairwell that you'd only ever want children with her and that you'd even get a vasectomy to prove it. If my child were destined to grow up without a father's love, why subject them to such a cruel world? I did that to grant your wish and spare my baby from the pain."Richard stood frozen for a few seconds before crumbling under the weight of his emotions.In a blind rage, he lunged at Lotta like a feral beast, his fists raining down on her without mercy. "This i
Upon learning about Jennifer's paralysis, Elmer, who had just secured a piece of land, returned to praise Kimberly, "You did well. Villains like her deserve every bit of punishment they get."She smiled, "This won't affect your family. Don't worry."Just then, Richard's haunting message arrived once again.[Kimberly, let's talk. Come back to me, and I won't pursue the accident involving my mother. I promise I will love you for the rest of my life.]Irritated, she intended to fire back a scathing reply.Elmer embraced her from behind and whispered in her ear, "I've got a brilliant idea to punish them."She didn't quite grasp what he meant, but the very next day, Richard began bombarding her phone with frantic calls."You're ruthless!" he seethed through gritted teeth, his voice cracking with a mix of rage and sobs. "I've humbled myself completely. Don't you care at all? You want me to..."Before he could finish, the line erupted with sounds of uproar, followed by abrupt silence
By then, the store was empty, devoid of customers.Jennifer carefully concealed the sedative in her pocket, glancing around furtively before stepping inside with feigned casualness."Kimberly, dear, I'm stopping by to see how you're doing," she said, forcing a saccharine smile. "Business seems to
Kimberly's barbs struck sharp and resolute, her eyes brimming with finality.Whispers spread among the guests, many recognizing Richard."Isn't that the CEO of the Munoz Group? So shameless, hijacking a wedding for the bride?""Ah, he was secretly married? Just heard he threw a lavish wedding for
Soon, Lotta appeared before Richard, laden with shopping bags. "Richard, I snagged so many new luxury items. For giving me that card, I'll forgive you for ditching me, but no more next time."Grinning ear to ear, she plopped the bags on the sofa and paraded them like prizes. "These are the latest s
"What did you say?" Jennifer screeched.Kimberly calmly pulled out her phone and pressed play on a video.In preparation for her lawsuit against Lotta, she'd hired a private investigator, who had uncovered Lotta's sordid past.And Richard was aware of it all.The onlookers, piecing things togeth


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews