Mag-log inKaiden datang ke barak setelah makan siang. Anna katanya ingin ke rumah sakit untuk menemui ayahnya, jadi Kaiden memutuskan untuk mengecek ke barak.Ucapan Anna sebelumnya masih terus terngiang-ngiang di kepalanya.‘Aku mencintaimu, Suamiku.’Tiga kata itu terus berputar-putar di pikirannya layaknya kaset rusak.Kaiden rasanya masih tidak percaya. Ia pikir ia akan menunggu lebih lama, tetapi tak disangka Anna akan mengatakannya secepat itu. Ada rasa lega dan kebahagiaan yang membuncah dalam dadanya. Bahkan hanya dengan mengingat suara manis Anna, dada Kaiden terasa bergemuruh hebat.Tanpa sadar sudut bibir Kaiden tertarik ke atas. Tatapan Anna yang penuh kehangatan dan afeksi terbayang-bayang di benaknya. Itu bukan kebohongan atau ucapan semata, tetapi murni datang dari lubuk hati istrinya.Kaiden jadi ingin mendengarnya lagi dan lagi.Ia bersandar ke belakang dan senyumnya melebar melihat langit biru yang cerah dibalik jendela. Ia mendadak sangat merindukan Anna, padahal mereka baru
Matahari pagi menyinari wajah Anna dan Kaiden yang tengah duduk di balkon.Kaiden duduk di kursi, sementara Anna duduk di pangkuannya dengan posisi menyamping. Kepalanya rebah di pundak Kaiden, sementara satu tangan Kaiden memeluk punggungnya dengan lembut.Mereka tengah menikmati pemandangan pagi dari bunga bakung yang baru mekar.Sebuah kopi dan teh tersaji di atas meja bundar kecil. Asapnya masih mengepul. Roti gandum panggang yang harum menjadi pelengkapnya.Rasanya begitu nyaman, damai, dan menenangkan. Waktu seolah terhenti—hanya ada mereka berdua yang tengah menikmati momen bersama.Anna tidak ingin kebersamaan keduanya berakhir, tetapi Kaiden harus pergi ke barak pagi ini.Ia bisa saja meminta Kaiden untuk tinggal. Ia tahu Kaiden tidak akan menolak. Hanya saja, Anna tidak ingin menganggu pekerjaan Kaiden yang sudah menumpuk.Lagi pula, ia juga harus menemui ayahnya hari ini.Ia harus membuat ayahnya mengaku. Itu mungkin satu-satunya jalan yang bisa membuat hukuman ayahnya sedi
Anna kembali ke mansion keesokan paginya.Begitu tiba di kamarnya, Camila memberitahu kalau Kaiden sedang menginap di barak dan tidak pulang ke mansion sejak kemarin. Hari ini, mereka katanya akan mengeksekusi beberapa pemberontak di depan publik.Mendengar kata ‘pemberontak’, Anna otomatis teringat dengan ayahnya. Sudah jelas jika Anna memberitahu Kaiden apa yang terjadi, maka ayahnya akan menerima hukuman yang sama. Tidak peduli kalau Baliant adalah ayah mertuanya sendiri.Kaiden tidak pandang bulu jika itu berkaitan dengan Panthera Kroy.Dan mungkin saja, ayahnya akan menerima siksaan yang lebih keji. Mengingat, dia telah menipu Kaiden dan Pemimpin Shelton.Itu adalah pengkhianatan yang tak termaafkan.Anna terduduk di sisi ranjang dengan jantung berdebar cemas. Stres dan ketakutan. Hatinya bukan batu yang tidak bisa merasakan apa pun untuk ayahnya, tetapi Anna selalu berpegang teguh pada keadilan.Ia mungkin akan dicap sebagai anak durhaka, tetapi Anna tidak peduli. Bagaimana pun
“Jadi benar Anda hamil? Astaga!”Fay tidak bisa berhenti kagum ketika Anna memberitahukan kehamilannya. Dia membungkuk, terus menatap perut Anna yang masih datar.Anna mulai merasa geli saat Fay mengelus perutnya. “Nyonya, apa jenis kelaminnya?” tanyanya, mendongak menatap Anna. Wajahnya berseri-seri.“Belum diketahui, Fay.” Anna tersenyum dan mengisyaratkan Fay untuk berdiri tegak. “Aku baru bisa melihatnya menjelang bulan kelima, tapi Kaiden bersikeras mengatakan bahwa bayi kami pasti laki-laki.”Fay tertawa kecil. “Tentu saja Jenderal Kaiden menginginkan pewaris. Tapi bagaimana kalau anak Anda perempuan?”“Perempuan atau laki-laki, aku yakin Kaiden akan menerimanya,” ucap Anna, mengelus perutnya dengan sayang. “Kaiden sudah menyiapkan nama untuk bayi kami.”Fay menyatukan tangannya di depan dada, ikut merasa senang mendengar ucapan Anna. Tampaknya, Jenderal Kaiden telah berhasil memenangkan hati Anna.Jika dulu Anna bersikeras menolak lamaran Kaiden, bahkan terang-terangan membenc
“Tuan, ini laporan untuk rapat pagi ini.”Vargaz mengangsurkan berkas hasil rapat dengan politisi pagi itu. Namun, Kaiden sama sekali tak merepons. Kepalanya terus tertunduk, menatap dokumen di atas meja.“Tuan?” panggil Vargaz dengan suara lebih keras.Kaisen tersentak, seolah baru tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat kepala dan mengerjap-ngerjap. “Oh. Berkasnya sudah selesai?”Vargaz mengangguk heran. Baru kali ini ia melihat Kaiden tidak fokus. Bahkan saat tidur, Kaiden bisa saja menyadari kehadiran seseorang. Namun sekarang, dia tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang serius.Apakah ini tentang markas Panthera Kroy yang belum mereka temukan?“Apa yang Tuan pikirkan? Apa ini tentang markas itu?” tanya Vargaz hati-hati.Kaiden menggeleng dan mengusap wajahnya. “Tidak, bukan itu. Tapi ini soal Annalise.”“Nyonya Annalise? Ada apa dengan Nyonya, Tuan?”“Aku hanya merasa kalau sikap Anna sangat aneh sejak kemarin,” ucap Kaiden dengan suara pelan. Ia menghela napas, tatapannya tampa
Pagi ini, berkas yang Kaiden minta dari Baliant akhirnya datang.Vargaz sendiri yang membawanya. Katanya, Baliant secara khusus meminta Dokter Marcus untuk mengambil berkas itu di kamarnya.Baliant mengatakan bahwa dia telah menyimpan berkas itu sejak lama. Dia sengaja tidak memberi tahu Kaiden, sebab Kaiden pasti memiliki berkas yang jauh lebih penting.Apalagi tak lama setelah revolusi terjadi, semua hal yang berkaitan dengan Panthera Kroy harus dimusnahkan.Hal itu memang benar.Namun sekarang, situasinya berbeda.Berkas yang Kaiden miliki tidak cukup sebagai jalan untuk menemukan markas Panthera Kroy di dalam Mosirette. Kaiden butuh lebih banyak informasi. Dan informasi sekecil apa pun akan sangat berguna.“Letakkan di sana saja, Vargaz.” Kaiden menunjuk meja sofa di tengah ruang tamu.Vargaz mengangguk patuh dan meletakkan berkasnya di sana. Berkas itu setidaknya memiliki tebal 200 halaman. Kaiden penasaran apa saja isinya.“Baiklah, kau bisa pergi. Lanjutkan latihan prajurit dan
“Camila, apa yang Selena lakukan saat dia harus tampil resmi di gedung pemerintahan?”Pagi itu, setelah mendandani Anna, Camila sibuk memilihkan sepatu hak tinggi yang sesuai.Dia mengeluarkan sepatu berwarna perak penuh glitter, sepatu berwarna putih gading dari kain renda yang elegan, dan sepatu
“Camila, kenapa semua heels-ku diganti?” Anna mengernyit menatap sepatu hak tinggi baru yang Camila susun ke dalam lemari. Desain dan warnanya sama dengan heels sebelumnya, dengan hiasan mutiara, glitter, dan bunga. Namun, bagian dalamnya tidak lagi sakit ketika dikenakan. Malah terasa sangat ny
“Seorang prajurit kelas atas akan mengantar Anda ke perpustakaan utama, Nona.” Camila berkata setelah menata sarapan di atas meja. Anna mengangguk dan memperhatikan penampilannya sejenak. Ia kembali memakai gaun sutra yang ketat membentuk tubuh, juga rambut yang disanggul ke belakang. Camila menam
Anna terbelalak. Bibir Kaiden yang dingin menekan bibirnya. Pandangan mereka bertemu. Rasanya seolah ia baru saja dihempas badai. Itu adalah ciuman tanpa hasrat. Ciuman untuk membungkamnya. Hanya beberapa detik dan Kaiden menarik diri. Ada sesuatu yang tampak berkilat di matanya. Kemudian, dia m







