MasukWarning 21+ | Explicit sex scenes, vulgar & strong language, strong political & military violence, torture, traumatic war scenes, etc. Mature audiences only! Kekuatan dan kekuasaan adalah hal yang utama di Mosirette. Rakyat jelata seperti Annalise York hanya bisa tunduk pada perintah. Ia terpaksa harus menerima lamaran dari Kaiden Hyperion—seorang jenderal kejam yang merupakan tangan kanan pemimpin negara mereka. Demi menuruti permintaan ayahnya, Annalise mau tak mau menjadi istri kedua. Tetapi rupanya, keinginan ayahnya tidak sesederhana itu. Ketika rahasia satu per satu terungkap, Annalise hanya bisa memilih satu pihak untuk didukung.
Lihat lebih banyakKekuatan dan kekuasaan adalah hal yang utama di Mosirette.
Seseorang yang berada di derajat terbawah hanya bisa menunduk menerima perintah. Apa pun yang dikatakan oleh sang Pemimpin Negara, rakyat kecil hanya bisa menganggukkan kepalanya. Seperti halnya yang terjadi pada Annalise York, ketika tawaran perjodohan disodorkan padanya. Helaan napas frustrasi berembus dari mulut Anna. Kepalanya rasanya ingin meledak. Ia merasa sangat bingung dan gelisah memikirkan apa yang akan terjadi satu jam ke depan. Ia ingin menolak lamaran sang jenderal, tetapi di sisi lain, ayahnya yang sakit memintanya untuk menerima pria itu. Ayahnya selalu bijaksana dalam mengambil keputusan. Namun kali ini, Anna pikir ayahnya telah keliru. Apa yang ayahnya lihat dari pria itu? Sang jenderal yang terkenal dengan kekejamannya. Kaiden Hyperion. Rumor yang beredar mengatakan kalau Kaiden adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak memiliki belas kasihan. Dia membantai siapa pun yang melanggar perintahnya, sekalipun kedudukan orang itu cukup tinggi di Mosirette. Terlebih lagi, Kaiden adalah tangan kanan dan kesayangan Shelton Damme. Sebagai orang yang menempati posisi tertinggi di Mosirette, Shelton Damme telah menunjuk Kaiden sebagai pemimpin sementara. Shelton melakukan perjalanan ke negeri di seberang lautan dan akan kembali setahun kemudian. Perintah Kaiden sama mutlaknya dengan Shelton. Tidak ada yang boleh membantah pria itu, kecuali dia menginginkan kematian. Mosirette dikelilingi oleh dinding beton yang menjulang—membatasi mereka dari gurun luas yang dihuni oleh kumpulan singa gurun yang kelaparan. Kaiden suka melakukan cara sadis dengan menjadikan para pemberontak sebagai santapan para singa. Anna tidak ingin menerima lamaran pria itu. ‘Ini 2045! Ya Tuhan’, batinnya berteriak. Peperangan yang berlarut-larut telah berakhir, tetapi seseorang bahkan tidak bisa bebas memilih haknya sendiri. Umurnya baru 22 tahun dan ia tidak ingin menikah secepat ini. Tetapi, apakah ia bahkan memiliki pilihan lain? Ia bukan siapa-siapa. Meskipun ayahnya adalah seorang pahlawan perang, harta mereka yang telah habis membuat keluarga York tak ubahnya rakyat jelata. “Nona? Ya Tuhan, Anda belum bersiap?!” Anna menoleh kaget. Fay berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan cemberut sambil menggeleng-geleng. Fay merupakan pelayan lamanya ketika keluarganya masih kaya. Dia sebatang kara dan memilih bertahan bersama Anna, meskipun hanya diberi makan dan tempat tinggal. “Calon suami Anda akan datang dan Anda masih di sini? Apa yang Anda pikirkan?” Fay bergegas mendekat dan menarik Anna untuk masuk ke dalam kamar. “Aku tidak peduli dengan lamaran itu.” Anna menyahut malas. “Lagi pula, aku tidak berniat untuk menerimanya.” “Anda tidak boleh bilang begitu. Lamaran Jenderal Kaiden adalah suatu kehormatan bagi keluarga Nona!” kata Fay dengan decakan pelan. “Bayangkan, Jenderal Kaiden yang hampir setara dengan Pemimpin Shelton Damme, menginginkan Anda sebagai istrinya! Ayah Anda sangat senang dengan hal itu,” jelasnya antusias. Anna meringis. Gadis yang lebih muda empat tahun darinya itu tampak berseri-seri. Ia ingin menjelaskan bahwa semuanya tidak seindah itu, tetapi rasanya percuma saja. “Saya akan mendandani Anda dengan cantik, sampai Jenderal Kaiden tidak bisa melepas pandang dari Anda.” Omong kosong. Anna hanya berdiri pasrah ketika Fay memasangkan dress satin panjang berwarna abu-abu di tubuhnya. Bagian atasnya cukup terbuka dengan potongan berbentuk V, sementara di bagian bawah memiliki belahan di salah satu pahanya. Fay kemudian menyisir rambut sepinggangnya dan memberi riasan tipis. “Selesai!” sahut Fay dengan senyum merekah. “Anda cantik sekali. Jenderal Kaiden pasti akan merasa terpesona.” Sama sekali tidak. Anna memandang refleksinya di cermin. Kaiden sendiri yang mengirim dress-nya, menyuruhnya untuk memakainya saat dia datang. Dia sengaja memilih dress terbuka seperti ini mengetahui selera Anna adalah kebalikannya. “Aku masih tidak mengerti kenapa ayah memintaku menerima lamaran pria kejam itu,” gumam Anna. “Tentu saja karena Tuan Kaiden adalah pria yang sempurna untuk Anda,” kata Fay dengan bangga. Anna meringis frustrasi. Berbicara dengan Fay tidak ada gunanya karena pikirannya sama seperti ayahnya. Mereka hanya mementingkan kedudukan tinggi Kaiden. Anna menatap penampilannya sekali lagi, kemudian memperhatikan lengannya yang diperban. Kaiden telah menyelamatkannya dan hal itulah yang membuat ayahnya menerima lamaran pria itu. Kaiden menyelamatkan semua orang. Itu adalah tugasnya, tetapi kenapa Anna yang dipilih untuk menjadi istri kedua? Kaiden hanya menginginkan anak, istrinya mandul. Ada banyak sekali wanita cantik di ibu kota, dia tinggal menunjuk salah satu dari mereka. Kenapa harus Anna? “Oh, biar saya ganti perbannya,” ucap Fay, membuyarkan lamunan Anna. Anna menggeleng. “Tidak usah, lepas saja perbannya. Lenganku tidak terlalu sakit lagi.” Lukanya sudah kering. Tiga goresan yang memanjang di sepanjang lengannya terlihat begitu kontras dengan kulit pucatnya. Seekor singa hampir menerkamnya saat ia nekat melewati gerbang perbatasan. “Biar saya tutupi lukanya, Nona.” Fay mengambil kotak riasan dan membubuhkan sedikit bedak untuk menutupi warna merah yang meradang. Tepat setelahnya, suara mobil terdengar memasuki halaman. Anna melirik jam dengan panik, tidak menyangka Kaiden akan datang secepat ini. Fay bergegas untuk membuka pintu dan sebuah mobil hitam terlihat dalam pandangan keduanya. Anna pikir akan ada banyak orang yang datang, tetapi hanya satu mobil mewah yang terlihat tanpa pengawalan apa pun. Pintu mobil terbuka. Kaiden keluar dengan seragam lengkap jenderalnya yang berwarna hitam mengkilap—terbuat dari kulit trenggiling asli. Pangkat-pangkat yang tersampir di bahunya telah menjelaskan posisinya yang berbahaya. Anna tidak bisa membayangkan segala hal mengerikan apa yang telah Kaiden lalui untuk sampai di posisi tersebut. “Anda harus menyambutnya dengan baik,”bisik Fay di belakangnya. Menarik napas tajam, Anna berdiri kaku di tempat. Apa pun itu, ia harus menemukan cara untuk menolak lamaran Kaiden. Kaiden adalah seorang jenderal muda yang dipilih secara langsung oleh pemimpin mereka karena kecerdasan dan strateginya yang luar biasa. Bukan seseorang yang mudah ditipu. “Saya akan pergi untuk membuatkan teh,” ucap Fay, melangkah pergi ke dapur dengan cepat. Anna masih tak bergerak di tempatnya. Matanya terpaku pada Kaiden yang tengah memperbaiki posisi pistol di pinggangnya. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya mengangkat wajah dan pandangan mereka bertemu. Mata kelamnya menatap lurus ke arahnya, dalam dan tak terbatas seperti lautan hitam yang mematikan. Senyum separuh kemudian muncul di bibir pria itu. Anna meremat tangannya, merasakan debaran jantungnya meningkat drastis. Seperti predator, Kaiden berjalan lambat ke arahnya. Pandangannya tidak lepas sedetik pun dari wajahnya. Aura dominan dan kejam terpancar jelas dari tubuh Kaiden—kuat dan menindas. Sosok jenderal yang ditakuti dan disegani oleh semua orang. Jumlah orang yang dihabisinya sudah tidak terhitung. Dan pria itu akan menjadi suaminya? “Tidak,” bisik Anna pada dirinya sendiri. “Tidak bisa.” Kaiden baru berumur 29 tahun, tetapi pria itu sangat pintar mengontrol diri. Ada alasan tertentu yang membuat Shelton Damme menjadikannya sebagai pemimpin sementara. Pria itu jelas berbahaya, tetapi setiap orang pasti memiliki kelemahan, bukan? Anna akan mencoba untuk membuat pria itu kesal, sampai dia membatalkan lamarannya sendiri. Kaiden berhenti tepat di depan Anna dan aroma juniper yang tajam menyapu penciumannya. Tubuh pria itu menjulang di hadapannya, Anna harus mendongak untuk bisa menatap matanya. “Annalise York,” ucap pria itu dengan suara rendah, napasnya berembus menyapu wajahnya. “Apa kau hanya akan diam dan tidak menyambut calon suamimu?”"Bagaimana?""Semuanya baik, Jenderal." Dokter Chloe menyimpan tensimeternya di atas meja, lalu menatap Kaiden dan Anna. "Tidak ada masalah. Tekanan darah, gula darah, kenaikan berat badan, dan sebagainya normal. Tidak ada infeksi juga. Nyonya Annalise dan bayinya sangat sehat."Kaiden otomatis menghela napas lega. Ia melirik Anna yang mengerucutkan bibirnya, setengah mengejek Kaiden yang kelewat khawatir pagi ini.Padahal, mual dan muntah Anna di pagi hari adalah hal normal. Namun, Kaiden malah berpendapat lain. Mereka langsung pergi ke rumah sakit, meskipun jadwal konsultasi Anna seharusnya dilakukan tiga hari lagi.Kaiden melemparkan senyum tipis dan diam-diam mengelus perut Anna."Baiklah kalau begitu," ucap Kaiden, beralih menatap Dokter Chloe. "Kupikir aku hanya khawatir berlebihan."“Saya bisa mengerti, Jenderal. Apalagi, ini adalah anak pertama Anda dan Nyonya Annalise." Dokter Chloe untuk pertama kalinya tersenyum lembut pada Anna.Hal yang cukup mengejutkan, sebenarnya. Anna
"Bagaimana Dominic? Apa kau merasa kalau Jenderal Kaiden telah mencurigai kita?" Lachey—ayah Lysa—bertanya dengan suara pelan. Di ruang bawah tanah keluarga Proxie, ia, Lysa, dan Dominic berkumpul untuk mendiskusikan beberapa hal. Jam dinding telah menunjukkan pukul 4.35 pagi. Dominic harus pergi ke perbatasan cadangan pada pukul enam, jadi mereka melakukan rapat pagi-pagi sekali. "Aku pikir Jenderal Kaiden memang sedang mencurigai pergerakanku," ucap Dominic, membungkuk ke depan. Suaranya terdengar agak tegang. "Tapi anehnya, mereka belum melakukan apa pun. Jenderal Kaiden bahkan membiarkanku bebas berjaga dan tidak pernah bertanya apa pun padaku." Lachey mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tebal. "Ya, itu memang aneh. Tapi kita tidak akan pernah bisa menebak pergerakan Jenderal Kaiden." "Apa menurut Ayah sendiri, Jenderal Kaiden sudah mulai menyelidiki sesuatu?" tanya Lysa, mengerutkan alisnya. "Dominic tidak tahu lagi apa saja yang dibahas di barak militer, jadi siapa
Anna tidak bisa tidur.Mungkin karena ia tidur siang terlalu lama, jadi sekarang ia tidak mengantuk sama sekali.Di hadapannya, Kaiden sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Dadanya yang tidak dibalut apa pun terlihat naik turun dengan teratur. Tangannya terus memeluk pinggang Anna, meskipun Anna sudah bergeser sedikit untuk memperhatikan wajahnya.Mungkin selain karena tidur terlalu lama, pikirannya yang tidak mau beristirahat juga menjadi penyebab ia terjaga. Ia terus memikirkan berkas itu dan hubungannya dengan ayahnya.Ia sangat bingung.Semua bukti mengarah ke ayahnya, tetapi di sisi lain, ia masih ragu. Satu-satunya yang bisa memastikan ini semua adalah ayahnya sendiri. Namun, jika Anna bertanya, ayahnya bisa saja berbohong.Bagaimana Anna membuktikan ini semua? Bagaimana ia tahu kebenarannya? Apakah ayahnya benar-benar bagian dari Panthera Kroy atau bukan?Stresnya semakin meningkat setiap hari. Dan jika ia tidak segera mengetahui jawabannya, maka Kaiden pasti akan mengetahu
“Kurasa ini saatnya aku memperkenalkanmu pada keluargaku, Sayang. Terutama ibuku.”Anna termangu, tidak tahu harus mengatakan apa. Membicarakan ibu Kaiden otomatis mengingatkannya pada cerita Kaiden. Kematiannya yang tragis telah meninggalkan bekas mendalam di hatinya.“Ibuku pasti akan sangat senang memiliki menantu yang sangat cantik dan pintar sepertimu.” Kaiden tersenyum kecil dan membelai wajah Anna. Jemarinya bergerak turun, lalu ia membungkuk untuk memberi kecupan manis di sudut bibir Anna. “Aku sangat bersemangat ingin membawamu ke sana.”Hati Anna mencelos, tetapi ia tetap menarik sudut bibirnya untuk tersenyum lebar. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyembunyikan sorot matanya yang berkaca-kaca.Kaiden yang menyadari hal itu dengan lembut menangkup dagunya. “Jangan sedih, Sayangku. Ini justru hari yang bahagia.”Anna mengangguk dengan senyum tipis. Kaiden sekali lagi mendaratkan kecupan semanis madu di bibirnya sebelum meraih tangannya.“Ayo berangkat.”“Ya.”Mereka berjalan
“Masuk!”Tubuh Selena didorong dengan kasar ke lorong yang lembab dan bau. Selena jatuh tersungkur ke lantai dan wajahnya mengernyit jijik. Hidungnya berkerut mencium aroma busuk yang menyengat di lorong itu.Ia berdiri dengan cepat, tetapi pintu di belakangnya telah dibanting tertutup. Pandanganny
“Sekarang apa? Jangan bilang kau membuat masalah lagi tanpa sepengetahuan Ibu?” Genevi melontarkan pertanyaan itu dengan was-was. Ia baru akan makan siang ketika Selena datang menemuinya dengan wajah cemas. Genevi hapal benar sikap putrinya yang manja. Jika Selena sudah berekspresi seperti itu, d
Kaiden mencuci tangannya di wastafel setelah makan siang. Para tamu dan warga Don yang menunggu di luar gedung sedang menonton pertunjukan di lapangan. Itu adalah sebuah atraksi militer dengan mempertontonkan kepiawaian para prajurit kelas atas. Mereka membawa beberapa singa gurun terlatih. Kaid
“Camila, apa yang Selena lakukan saat dia harus tampil resmi di gedung pemerintahan?”Pagi itu, setelah mendandani Anna, Camila sibuk memilihkan sepatu hak tinggi yang sesuai.Dia mengeluarkan sepatu berwarna perak penuh glitter, sepatu berwarna putih gading dari kain renda yang elegan, dan sepatu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan