LOGINKekuatan dan kekuasaan adalah hal yang utama di Mosirette. Rakyat jelata seperti Annalise York hanya bisa tunduk pada perintah. Ia terpaksa harus menerima lamaran dari Kaiden Hyperion—seorang jenderal kejam yang merupakan tangan kanan pemimpin negara mereka. Demi menuruti permintaan ayahnya, Annalise mau tak mau menjadi istri kedua. Tetapi rupanya, keinginan ayahnya tidak sesederhana itu. Ketika rahasia satu per satu terungkap, Annalise hanya bisa memilih satu pihak untuk didukung.
View MoreKekuatan dan kekuasaan adalah hal yang utama di Mosirette.
Seseorang yang berada di derajat terbawah hanya bisa menunduk menerima perintah. Apa pun yang dikatakan oleh sang Pemimpin Negara, rakyat kecil hanya bisa menganggukkan kepalanya. Seperti halnya yang terjadi pada Annalise York, ketika tawaran perjodohan disodorkan padanya. Helaan napas frustrasi berembus dari mulut Anna. Kepalanya rasanya ingin meledak. Ia merasa sangat bingung dan gelisah memikirkan apa yang akan terjadi satu jam ke depan. Ia ingin menolak lamaran sang jenderal, tetapi di sisi lain, ayahnya yang sakit memintanya untuk menerima pria itu. Ayahnya selalu bijaksana dalam mengambil keputusan. Namun kali ini, Anna pikir ayahnya telah keliru. Apa yang ayahnya lihat dari pria itu? Sang jenderal yang terkenal dengan kekejamannya. Kaiden Hyperion. Rumor yang beredar mengatakan kalau Kaiden adalah pembunuh berdarah dingin yang tidak memiliki belas kasihan. Dia membantai siapa pun yang melanggar perintahnya, sekalipun kedudukan orang itu cukup tinggi di Mosirette. Terlebih lagi, Kaiden adalah tangan kanan dan kesayangan Shelton Damme. Sebagai orang yang menempati posisi tertinggi di Mosirette, Shelton Damme telah menunjuk Kaiden sebagai pemimpin sementara. Shelton melakukan perjalanan ke negeri di seberang lautan dan akan kembali setahun kemudian. Perintah Kaiden sama mutlaknya dengan Shelton. Tidak ada yang boleh membantah pria itu, kecuali dia menginginkan kematian. Mosirette dikelilingi oleh dinding beton yang menjulang—membatasi mereka dari gurun luas yang dihuni oleh kumpulan singa gurun yang kelaparan. Kaiden suka melakukan cara sadis dengan menjadikan para pemberontak sebagai santapan para singa. Anna tidak ingin menerima lamaran pria itu. ‘Ini 2045! Ya Tuhan’, batinnya berteriak. Peperangan yang berlarut-larut telah berakhir, tetapi seseorang bahkan tidak bisa bebas memilih haknya sendiri. Umurnya baru 22 tahun dan ia tidak ingin menikah secepat ini. Tetapi, apakah ia bahkan memiliki pilihan lain? Ia bukan siapa-siapa. Meskipun ayahnya adalah seorang pahlawan perang, harta mereka yang telah habis membuat keluarga York tak ubahnya rakyat jelata. “Nona? Ya Tuhan, Anda belum bersiap?!” Anna menoleh kaget. Fay berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan cemberut sambil menggeleng-geleng. Fay merupakan pelayan lamanya ketika keluarganya masih kaya. Dia sebatang kara dan memilih bertahan bersama Anna, meskipun hanya diberi makan dan tempat tinggal. “Calon suami Anda akan datang dan Anda masih di sini? Apa yang Anda pikirkan?” Fay bergegas mendekat dan menarik Anna untuk masuk ke dalam kamar. “Aku tidak peduli dengan lamaran itu.” Anna menyahut malas. “Lagi pula, aku tidak berniat untuk menerimanya.” “Anda tidak boleh bilang begitu. Lamaran Jenderal Kaiden adalah suatu kehormatan bagi keluarga Nona!” kata Fay dengan decakan pelan. “Bayangkan, Jenderal Kaiden yang hampir setara dengan Pemimpin Shelton Damme, menginginkan Anda sebagai istrinya! Ayah Anda sangat senang dengan hal itu,” jelasnya antusias. Anna meringis. Gadis yang lebih muda empat tahun darinya itu tampak berseri-seri. Ia ingin menjelaskan bahwa semuanya tidak seindah itu, tetapi rasanya percuma saja. “Saya akan mendandani Anda dengan cantik, sampai Jenderal Kaiden tidak bisa melepas pandang dari Anda.” Omong kosong. Anna hanya berdiri pasrah ketika Fay memasangkan dress satin panjang berwarna abu-abu di tubuhnya. Bagian atasnya cukup terbuka dengan potongan berbentuk V, sementara di bagian bawah memiliki belahan di salah satu pahanya. Fay kemudian menyisir rambut sepinggangnya dan memberi riasan tipis. “Selesai!” sahut Fay dengan senyum merekah. “Anda cantik sekali. Jenderal Kaiden pasti akan merasa terpesona.” Sama sekali tidak. Anna memandang refleksinya di cermin. Kaiden sendiri yang mengirim dress-nya, menyuruhnya untuk memakainya saat dia datang. Dia sengaja memilih dress terbuka seperti ini mengetahui selera Anna adalah kebalikannya. “Aku masih tidak mengerti kenapa ayah memintaku menerima lamaran pria kejam itu,” gumam Anna. “Tentu saja karena Tuan Kaiden adalah pria yang sempurna untuk Anda,” kata Fay dengan bangga. Anna meringis frustrasi. Berbicara dengan Fay tidak ada gunanya karena pikirannya sama seperti ayahnya. Mereka hanya mementingkan kedudukan tinggi Kaiden. Anna menatap penampilannya sekali lagi, kemudian memperhatikan lengannya yang diperban. Kaiden telah menyelamatkannya dan hal itulah yang membuat ayahnya menerima lamaran pria itu. Kaiden menyelamatkan semua orang. Itu adalah tugasnya, tetapi kenapa Anna yang dipilih untuk menjadi istri kedua? Kaiden hanya menginginkan anak, istrinya mandul. Ada banyak sekali wanita cantik di ibu kota, dia tinggal menunjuk salah satu dari mereka. Kenapa harus Anna? “Oh, biar saya ganti perbannya,” ucap Fay, membuyarkan lamunan Anna. Anna menggeleng. “Tidak usah, lepas saja perbannya. Lenganku tidak terlalu sakit lagi.” Lukanya sudah kering. Tiga goresan yang memanjang di sepanjang lengannya terlihat begitu kontras dengan kulit pucatnya. Seekor singa hampir menerkamnya saat ia nekat melewati gerbang perbatasan. “Biar saya tutupi lukanya, Nona.” Fay mengambil kotak riasan dan membubuhkan sedikit bedak untuk menutupi warna merah yang meradang. Tepat setelahnya, suara mobil terdengar memasuki halaman. Anna melirik jam dengan panik, tidak menyangka Kaiden akan datang secepat ini. Fay bergegas untuk membuka pintu dan sebuah mobil hitam terlihat dalam pandangan keduanya. Anna pikir akan ada banyak orang yang datang, tetapi hanya satu mobil mewah yang terlihat tanpa pengawalan apa pun. Pintu mobil terbuka. Kaiden keluar dengan seragam lengkap jenderalnya yang berwarna hitam mengkilap—terbuat dari kulit trenggiling asli. Pangkat-pangkat yang tersampir di bahunya telah menjelaskan posisinya yang berbahaya. Anna tidak bisa membayangkan segala hal mengerikan apa yang telah Kaiden lalui untuk sampai di posisi tersebut. “Anda harus menyambutnya dengan baik,”bisik Fay di belakangnya. Menarik napas tajam, Anna berdiri kaku di tempat. Apa pun itu, ia harus menemukan cara untuk menolak lamaran Kaiden. Kaiden adalah seorang jenderal muda yang dipilih secara langsung oleh pemimpin mereka karena kecerdasan dan strateginya yang luar biasa. Bukan seseorang yang mudah ditipu. “Saya akan pergi untuk membuatkan teh,” ucap Fay, melangkah pergi ke dapur dengan cepat. Anna masih tak bergerak di tempatnya. Matanya terpaku pada Kaiden yang tengah memperbaiki posisi pistol di pinggangnya. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya mengangkat wajah dan pandangan mereka bertemu. Mata kelamnya menatap lurus ke arahnya, dalam dan tak terbatas seperti lautan hitam yang mematikan. Senyum separuh kemudian muncul di bibir pria itu. Anna meremat tangannya, merasakan debaran jantungnya meningkat drastis. Seperti predator, Kaiden berjalan lambat ke arahnya. Pandangannya tidak lepas sedetik pun dari wajahnya. Aura dominan dan kejam terpancar jelas dari tubuh Kaiden—kuat dan menindas. Sosok jenderal yang ditakuti dan disegani oleh semua orang. Jumlah orang yang dihabisinya sudah tidak terhitung. Dan pria itu akan menjadi suaminya? “Tidak,” bisik Anna pada dirinya sendiri. “Tidak bisa.” Kaiden baru berumur 29 tahun, tetapi pria itu sangat pintar mengontrol diri. Ada alasan tertentu yang membuat Shelton Damme menjadikannya sebagai pemimpin sementara. Pria itu jelas berbahaya, tetapi setiap orang pasti memiliki kelemahan, bukan? Anna akan mencoba untuk membuat pria itu kesal, sampai dia membatalkan lamarannya sendiri. Kaiden berhenti tepat di depan Anna dan aroma juniper yang tajam menyapu penciumannya. Tubuh pria itu menjulang di hadapannya, Anna harus mendongak untuk bisa menatap matanya. “Annalise York,” ucap pria itu dengan suara rendah, napasnya berembus menyapu wajahnya. “Apa kau hanya akan diam dan tidak menyambut calon suamimu?”“Kita akan bertemu lagi saat pengeboran minyak dimulai di luar sana. Aku akan menghubungi kalian.”“Baik, jenderal!”Gael, Tadeo, Caspian, dan Soren membungkuk hormat sebelum memasuki mobil militer baru yang akan mereka kendarai. Gael membunyikan klakson, lalu membawa mobil keluar dari perbatasan.Kaiden berdiri di dekat gerbang yang menjulang, menatap kepergian keempat mata-matanya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, menyusuri gurun yang tandus dan kering. Debu pasir beterbangan di mana-mana, sementara singa gurun yang tengah tidur di bawah pohon terlihat dari kejauhan.Kaiden menatap gurun tak berujung itu untuk sejenak. Pemandangan yang didominasi warna coklat itu berbanding terbalik dengan tanah hijau yang ia pijak sekarang.Jika bukan karena para pengdahulu yang menemukan wilayah subur ini dan membangun negara baru, mereka mungkin akan beradaptasi dengan tinggal di gurun.Kaiden menghela napas saat angin gurun dari arah Selatan bertiup. Cuaca akan jauh lebih panas dan memb
Anna membalik posisinya menjadi telungkup di atas ranjang. Ia berbaring dengan kaku ketika Kaiden menaikkan gaun tidurnya sampai ke bahu, memperlihatkan celana dalam dan punggung telanjangnya. Tangan Kaiden meraba punggungnya, turun menuju pinggangnya. Jemarinya mengelus lembut memar yang ada di sana, begitu perlahan hingga membuat Anna menggigil di bawah sentuhan tangannya yang hangat. “Biuuhaah au angung ogekan aepnya?” ucap Anna, suaranya teredam di bantal. Kaiden spontan tertawa. “Kau bilang apa?” Anna mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah jengkel. “Bisakah kau langsung mengoleskan salepnya?” “Kenapa? Kau malu aku melihat tubuhmu yang hampir telanjang?” Kaiden menyeringai, tangannya bergerak naik membelai leher Anna. Ia mengumpulkan rambut Anna ke sisi kanan, lalu menunduk untuk berbisik seduktif di telinganya, “Tidak perlu malu, Sayang. Aku sudah mencicipi semuanya dan tahu bagaimana rasa kulitmu.” Tubuh Anna meremang. Ia meremas seprai ketika tangan Kaiden yang be
“Ah itu... mungkin aku hanya berhalusinasi,” ucap Anna dengan suara pelan. “Karena saat keluar kamar, aku tidak melihat siapa pun.”Kaiden menyipitkan matanya tidak percaya, tetapi tak berkomentar. Ia melangkah masuk dan duduk di sisi tempat tidur yang lain, berseberangan dengan Nyonya Brighton.“Mungkin kau kelelahan, Nak,” kata Nyonya Brighton, mengelus punggung tangan Anna dengan lembut.“Kurasa begitu, Nyonya.”“Bagaimana bisa kau jatuh?” tanya Kaiden. Matanya meneliti perban di kepala Anna, juga beberapa memar yang terlihat memerah di kulit susunya.Kaiden tidak mengerti kenapa Anna selalu saja terluka. Jika luka sebelumnya sembuh, maka dia akan kembali mendapat luka yang baru. Luka di tubuhnya sudah seperti milik Kaiden, sebuah penanda bahwa hidup mereka tidak pernah jauh dari bahaya.“Dia terpeleset.” Nyonya Brighton menjawab lebih dulu. “Itu karena Anna pikir dia mendengar suara ketukan dan akhirnya keluar untuk mengecek.”Lagi-lagi, Kaiden terlihat tidak percaya. Meskipun ia
Embusan angin kencang datang dari arah timur, menerbangkan rambut panjang dari keempat pria dewasa yang kini duduk di satu meja panjang.Gael, Tadeo, Caspian, dan Soren.Keempat mata-mata kompeten milik Kaiden.Mereka semua adalah senior prajurit kelas atas yang telah melewati pemberontakan kedua—seangkatan dengan Kaiden.Mereka adalah prajurit tangguh dan terlatih nomor satu di Mosirette. Pengabdian dan kesetiaan mereka tidak ada duanya.Untuk itu, Kaiden telah merekrut mereka secara khusus. Semata-mata demi mengawasi pergerakan sisa anggota Panthera Kroy yang berkeliaran di luar gerbang pembatas.Di tenda dekat gerbang, Kaiden mengadakan pertemuan setelah mendisiplinkan beberapa prajuritnya yang membandel. Mereka berlima harus membahas perihal pemberontak yang semakin serius.Selama beberapa tahun terakhir, tidak ada masalah atau ancaman. Tetapi tiba-tiba saja, semuanya berubah. Laporan terbaru mengatakan bahwa pemberontak yang terlihat di luar gerbang sudah lebih dari 20 orang.Itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews