LOGINDi hari pernikahan, Selina harus menerima kenyataan pahit saat Raka–calon suaminya membatalkan pernikahan. Kehancuran Selina semakin menjadi-jadi saat dia tahu kalau calon suaminya tengah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Di tengah kekalutan, Elvano datang sebagai penyelamat. Pria itu dengan sukarela menjadi pengganti. Pernikahan memang berjalan lancar, tapi tidak dengan sesudahnya. Disaat Selina mulai menerima Elvano, sosok masalalu Elvano datang. Lantas apa yang akan mereka lakukan? Apakah Selina akan bertahan atau memilih untuk mundur?
View MoreBeberapa menit lagi acara pernikahan akan dimulai. Suara MC dari depan juga terdengar sampai ke dalam ruangan. Seharusnya hari ini Selina berbahagia karena dia sudah sangat rapi dan siap menuju tempat akad. Akan tetapi, sayangnya, sampai detik ini calon suaminya belum juga menampakkan diri. Seharusnya pria itu bersama keluarganya sudah datang sejak tadi, sudah duduk di kursi meja akad.
Gina—bridesmaid Selina masuk ke dalam ruangan. Diantara yang lain, Gina lah yang paling dekat dengan Selina karena mereka satu kantor. Selain itu ada Rachel yang stay menunggu di depan. Gina berjalan dengan was-was menghampiri Selina. Wanita itu terlihat sedang menelepon seseorang. “Acara udah mau dimulai, di mana Raka? Apa dia masih diperjalanan?” Gina bertanya, tangannya menyentuh pundak Selina. Sentuhan dan pertanyaan itu sempat mengagetkan Selina yang sedang fokus menelepon. Selina yang tidak tahu di mana keberadaan Raka menggelengkan kepalanya lemah. Dari telinga, tangannya terkulai lemas ke atas pangkuan. Sudah puluhan kali Selina menelepon, mengirim pesan, tetapi tidak ada satupun yang dibalas atau diangkat. Sebetulnya ke mana pria itu? kalau memang dia terjebak macet, bukankah seharusnya mengabari? Bukannya hilang seperti ini. “Sel?” “Gue takut, Gin.” Gina menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia mengetahui maksud kata takut yang Selina ucapkan. Sebetulnya Gina juga takut, takut kalau pikiran negatifnya benar-benar terjadi. Pasalnya belum lama ini Selina pernah datang ke rumahnya dengan kondisi menangis tersedu-sedu, alasannya karena dia bertengkar dengan Raka dan pria itu mengancam akan membatalkan pernikahan. Sambil menenangkan, Gina meminta Selina terus menghubungi Raka. Namun nada panggilan masih tetap sama, yaitu tidak aktif. Selina menatap Gina lewat pantulan cermin. “Apa di depan tamu udah banyak, Gin?” “Sangat banyak. Mereka udah nunggu acara dimulai,” jawab Gina. Kefrustasian semakin Selina rasakan. Wanita itu berdiri, berjalan mondar-mandir sambil meremas ponselnya. Ini hari bahagianya, tidak mungkin ‘kan Raka benar-benar kabur dan membatalkan acara ini? Kalau itu sampai terjadi, yang akan malu dirinya bersama keluarga. Mata Selina mulai berkaca-kaca saat dia kembali berusaha menghubungi calon suaminya itu. Karena ponsel Raka tidak aktif, Selina mencoba menelepon kedua orang pria itu. salah satu ponsel mereka aktif, tetapi sialnya panggilan Selina tidak digubris. Di saat Selina tengah berusaha menghubungi Tiar—ibunya Raka, Farah datang ke dalam ruangan. Wanita itu dengan langkah buru-buru mendekati Selina yang sedang berdiri dan sibuk dengan ponselnya. “Di mana Raka? Kenapa dia dan keluarganya belum juga datang? Sel, acara sebentar lagi dimulai, MC udah mengalihkan beberapa kali, dan tamu udah sangat banyak.” Kedua mata Selina memejam mendengar informasi yang diberikan oleh sang mama. Informasinya hampir sama seperti apa yang Gina bilang. Karena ingin melihat langsung, Selina ke luar dari dalam ruangan. Di depan, dia bertemu para bridesmaidnya yang sudah menunggu. Selina mengabaikan tatapan para sahabatnya itu, dia memilih mengintip suasana di depan. Benar saja, tamu sudah berdatangan. Dengan langkah lemas Selina kembali masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di kursi. Di sisa-sisa harapan, Selina kembali menelepon Raka dan juga Tiar. Kalau sampai Raka benar-benar menghilang, Selina tidak tahu harus bagaimana. Ternyata ancaman beberapa hari yang lalu akan benar-benar pria itu lakukan. Kali ini Selina tak bisa menahan air matanya lagi. Farah berjongkok, meraih kedua tangan Selina. “Kamu kenapa nangis? Ada apa ini sebenarnya? Raka baik-baik aja, ‘kan? Dia lagi diperjalanan, ‘kan?” Dengan suara pelan dan bergetar Selina menjawab, “Aku nggak tau, Mah, Raka ngga ada kabar sampai detik ini. Nomornya nggak aktif. Nomor tante Tiar aktif, tapi panggilanku nggak diangkat sama beliau. Aku juga bingung, Mama.” Di tengah kekalutan Selina, suara pintu terbuka lalu ditutup kencang terdengar. Membuat ketiga orang yang ada di dalam ruangan terpanjat kaget. Ketiganya kompak menoleh. Mendapati sosok Alvian, seketika ketiga wanita itu diam membisu. Kalau sampai Alvian tahu ini, dia pasti akan sangat murka. “Selina, acara ini mau dibawa ke mana sebenarnya hah?! Acara udah harus dimulai sekarang, dan Raka belum juga datang? Dia niat nikahin kamu apa engga?!” bentakan langsung Alvian layangkan kepada sang putri. Sejak di depan tadi dia sudah menahan malu pada koleganya yang bertanya soal kelangsungan acara. “Jangan bentak-benak Selina!” sahut Farah tak terima. Alvian tidak menghiraukan, pria itu mendekatkan dirinya pada Selina. “Jawab pertanyaan Ayah, di mana posisi Raka sekarang? Kamu jangan bikin Ayah malu ya, Selina.” Selina yang sudah pasrah dengan keadaan menggelengkan kepalanya. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan karena memang Selina tidak tahu keberadaan Raka di mana. “Apa maksud kamu geleng kepala? Selina, kamu jangan main-main sama Ayah! Ayah ngga mau malu ya hari ini.” “Raka nggak bisa dihubungi, Yah, pesanku juga nggak ada yang dibalas sama dia. Aku benar-benar ngga tau sekarang dia ada di mana.” Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Selina buka suara. “Maksud kamu … dia kabur?” Alvian sontak mengusap kasar wajahnya. “Ini yang Ayah takutkan sejak kemarin. Akhirnya kejadian juga, ‘kan? Udah berkali-kali Ayah bilang kalau Raka itu bukan laki-laki baik, dia itu nggak serius sama kamu! Tapi apa? dengan bodohnya kamu tetap pilih pertahanin dia daripada dengarkan Ayah! Kalau udah begini gimana Ayah tanya?” sambungnya. Kepala Selina merunduk. Berkali-kali memang dia disakiti dan dikecewakan, berkali-kali juga Selina membela Raka di depan sang ayah. Tapi endingnya tetap dia yang dikhianati. Keributan di dalam tidak bisa terhindarkan karena Alvian terus menyalahkan Selina. Sementara itu, di luar ruangan, ada sosok Elvano—bos dari Selina. Pria itu memaksa untuk masuk ke dalam ruangan untuk menemui Selina dan keluarga, tetapi langkahnya dihentikan oleh para bridesmaid. Elvano menghela napas. “Izinin saya masuk, saya mau bertemu dengan Selina.” “Nggak bisa, Mas, nggak boleh ada yang masuk sesuai intruksi pak Alvian tadi,” jawab salah satu bridesmaid tersebut. “Tapi acara ini nggak akan pernah dimulai sampai kapanpun kalau saya ngga masuk.” Rachel yang kebetulan kenal dengan Elvano maju. “Pak, maaf. Tapi kenapa Bapak bisa bicara begitu?” “Sampai kapanpun Raka nggak akan datang ke sini. Maka dari itu izinkan saya masuk,” jawab Elvano, menatap lekat Rachel. Tidak bisa membantah, akhirnya Rachel memberi izin atasannya untuk masuk ke dalam. Saat Elvano masuk, terdengar maki-makian yang ditujukan kepada Selina. Saking tegangnya situasi di dalam ruangan, mereka semua tak menyadari kedatangannya. “Ayah nggak mau malu ya, Selina. Ayah nggak mau tau kalau kamu harus tetap menikah hari ini!” “Gimana aku bisa menikah kalau Raka nggak datang, Ayah?” “Saya siap menggantikan Raka.” Semua yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah depan, tepatnya ke arah sumber suara. Selina terkejut melihat kemunculan atasannya itu. Setahu Selina, Elvano tidak bisa datang hari ini karena laki-laki itu harus menghadiri acara lain. Mata Alvian memicing, menatap Elvano. “Siapa kamu?” “Saya Elvano Luca Aderald, atasannya Selina di kantor,” jawab Elvano. Elvano mengulurkan tangan, namun diabaikan oleh Alvian. Ditariknya kembali tangan Elvano, lalu dia melirik Selina yang tengah menangis. “Saya serius ingin menggantikan Raka supaya pernikahan ini tetap berlangsung. Karena mau ditunggu sampai kapanpun Raka nggak akan datang,” sambungnya. Dengan berlinang air mata dan suara bergetar, Selina bertanya, “Kenapa Bapak seyakin itu kalau calon suami saya nggak bakal datang?” Raka menatap Selina, lalu beralih menatap kedua orang tua wanita itu. “Karena Raka menikah dengan sepupu saya hari ini.” ***Sejak jam enam pagi Selina sudah bangun, dan setengah tujuh dia sudah mandi. Akan tetapi masih pakai baju yang semalam, kemeja milik Elvano. Sejak beberapa menit Selina berdiri di balkon sambil menatap lurus ke depan. Ini baru hari pertama dirinya menajdi istri Elvano, istri yang tidak direstui oleh Ibunya. Sejak tadi Selina bertanya-tanya, apakah dia akan sanggup menjalani ini seumur hidup?Elvano yang baru selesai mandi menatap punggung istrinya. Bisa dipastikan kalau otak wanita itu sedang penuh saat ini. Elvano menghela napas, lalu dia berjalan mendekati Selina. “Udah siap? Ayo kita turun ke bawah buat sarapan. Semalam kamu udah ngga makan malam, saya kabulkan. Tapi untuk pagi ini kita harus turun. setelah itu kita akan ke mall, cari baju buat kamu. Pulang dari mall baru kita berkemas.”“Bapak kalau mau sarapan, sarapan aja. Saya ngga mau, lagipula saya ngga lapar. Saya ngga mau buat suasana pagi di meja makan berubah ngga enak,” jawab Selina tanpa membalikkan tubuhnya. Percayalah
“Turun.”Selina terkesikap, wanita itu menatap ke depan dan sekeliling dari dalam mobil. Saking asiknya melamun selama diperjalanan, Selina sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di rumah. akan tetapi, keraguan menyelimuti Selina. Haruskah dia turun lalu masuk? Sepertinya tidak semudah itu untuk masuk. Mengingat di dalam rumah itu ada Laras.“Kamu dengar saya ngga? Ayo turun.” Suara Elvano kembali terdengar memecah keheningan. Selina memberanikan diri menatap pria di sampjngnya. Elvano yang ditatap lekat oleh istrinya menaikan sebelah alis.“Saya … saya ngga bisa tinggal di sini, saya mau kembali ke kost aja, Pak.”Sabuk pengaman yang sudah terlepas, memudahkan Elvano untuk memajukan tubuhnya ke arah Selina. “Saya ini suami kamu sekarang. Jadi ngga ada istilah pisah rumah atau apapun itu. Ini rumah kamu juga sekarang, jadi turunlah.”Elvano memundurkan tubuhnya, lalu dia keluar lebih dulu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba untuk sabar. Pintu penumpang dibuka oleh Elvano, lalu
“Saya terima nikah dan kawinnya Selina Aurora Adzkiya binti Alvian Putra Wicaksana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”“Bagaimana para saksi?”“Saya ngga setuju.”Semuanya menoleh, menatap ke arah belakang. Termasuk Elvano. Dari suara, dia sudah mengenali itu siapa. Elvano menatap Laras yang berjalan ke arahnya dengan langkah pelan namun pasti. Sedikit lagi, ya sedikit lagi. Sedikit Elvano resmi menjadi suami Selina. Akan tetapi semua harus sedikit berantakan karena ulah sang mama.Laras maju, berdiri di samping Elvano. Wanita itu tak memperdulikan tatapan suami dan Ayahnya yang terlihat kaget. Ya, bagaimana tidak kaget, pasalnya tadi Laras tidak jalan bareng mereka. Dan sebetulnya Laras enggan untuk datang ke acara ini. Akan tetapi, dia harus menyelamatkan putranya, menyelamatkan masa depan sang anak satu-satunya.“Mah,” tegur Elvano.“Apa? Mana bisa kamu menikah tanpa restu dari orang tua, El? Di sini Mama ngga setuju kamu menikah dengan Selina. Sampai sini kamu paham? Lebih b
Untuk memastikan ucapan Elvano, Selina mengikuti laki-laki itu ke acara pernikahan sepupunya setelah mengganti gaun pengantinnya. Di dalam hatinya, Selina masih berharap Raka tidak akan mengkhianatinya. Namun, harapan itu pupus saat Selina tiba di gedung pernikahan. Di depan gedung tertulis nama Raka yang bersanding dengan nama perempuan lain. Sampai detik itu, Selina masih berharap itu bukan Raka calon suaminya. Mungkin, ada orang lain yang memiliki nama yang sama persis seperti Raka. Selina menatap pelaminan yang ada di depan matanya. Pelaminan itu masih kosong, belum ada pengantinnya. Selina bisa mendengar suara heboh dan bisik-bisik dari arah belakang. Pengantin akan menuju ke pelaminan. Selina berbalik, dan di sana dia melihat kedua mempelai yang sedang berjalan ke pelaminan. “R-Raka …” Elvano tidak berbohong. Mempelai pria yang ada di depan sana adalah Raka. Pemilik nama yang ada di depan gedung benar calon suami Selina. Selina menunduk kala merasakan tangannya digenggam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews