Chapter: 07. Kehidupan Baru Mira dan Putranya6 tahun kemudian. “Ibu, sebenarnya ayah di mana?” Mira yang sedang mencuci piring langsung terdiam mendengar ucapan putranya. Ia menoleh, menatap Kian yang duduk di lantai. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang tinggi. “Sayang, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Mira dengan suara tertahan. Ia mencuci tangannya dan menghampiri Kian. “Ibu sudah bilang kalau ayahmu sedang pergi ke tempat yang jauh. Dia akan kembali kalau waktunya sudah tepat.” Jawaban itu sama sekali tidak bisa menyenangkan hati seorang anak kecil berusia 6 tahun. Kian begitu merindukan sosok ayahnya, tetapi jawaban ibunya selalu sama. Kian menatap ibunya dengan bibir cemberut. “Semua orang di sekolah punya ayah. Cuma Ian yang tidak punya.” Hati Mira mencelos sedih. Ia mengelus kepala anaknya, merasa kebingungan untuk menjelaskan apa lagi. Ia sudah membohongi Kian, mengatakan bahwa ayahnya pasti akan kembali. Padahal kenyataannya, Hayes tidak akan pernah mengakui keberadaan keduanya. Sej
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 06. Positif HamilHayes berdiri diam di ambang pintu kamar Sora. Tatapannya terarah ke sang istri yang tidur meringkuk di tepi kasur. Sora telah menyelamatkan hidupnya pagi tadi. Sesuatu yang tidak pernah Hayes bayangkan akan terjadi. Ia selalu menganggap Sora sebagai gadis licik yang hanya menginginkan hartanya, tetapi apa yang terjadi hari ini berhasil mematahkan asumsinya itu. Sora seharusnya meninggalkannya begitu saja, mengingat sikap Hayes yang selalu kasar. Namun, dia memilih tinggal dan menenangkannya yang hampir kehilangan kesadaran karena kejang. Hayes merasa tersentuh. Ia masih ingat betapa tenang dan hangatnya hatinya saat Sora bersenandung. Itu semua mengingatkannya pada kenangan tentang ibunya. Hayes sadar bahwa Sora adalah gadis yang tulus. Rasa bersalah terasa memukul Hayes. Malam-malam saat ia menyakiti Sora dan memperlakukannya sebagai perempuan tidak berharga—ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Matanya bergerak memperhatikan tubuh Sora yang kecil dan kurus. Dia ter
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 05. Trauma Hayes“Tuan, apakah saya harus membatalkan pertemuan hari ini dan besok?” “Ya, batalkan.” “Baik, Tuan.” Hayes menghela napas dan memutuskan sambungan telepon. Ia meraih seloki di atas meja, lalu menenggak isinya sampai habis. Pikirannya mulai terasa melayang-layang, tetapi kenangan pahit itu masih saja muncul di kepalanya. Hayes menuangkan lebih banyak anggur ke gelasnya, kemudian menenggaknya seperti orang kehausan. Kepalanya mulai terasa pusing, tetapi tetap saja kejadian buruk itu terus bercokol di pikirannya. Bayangan ketika ia menemukan ibunya sekarat... racun yang berceceran di lantai... dan rasa sakit yang terpancar di mata ibunya... Semua itu terus berputar di benaknya. Hayes mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menenangkan diri, tetapi pikirannya tidak mau bekerja sama. Besok adalah peringatan hari kematian ibunya dan di sanalah mimpi buruknya dimulai. Hayes mulai menangis. Pikiran buruk di kepalanya semakin tak tertahankan. Hayes berusaha berdiri untuk men
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 04. RacunMira menghirup napas panjang merasakan angin pagi yang menerpa. Segar dan dingin. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu, ia keluar menjelahi halaman belakang rumah. Kakinya berhenti di dekat kolam ikan koi dan ia duduk di salah satu bangku. Ia harap berdiam di sana bisa menenangkan pikirannya, tetapi rupanya tidak. Pikirannya terus tertuju ke pertemuan kemarin. Dokter Eva—dokter keluarga Hayes telah datang untuk memeriksanya. Mira diperintahkan untuk mengikuti sebuah program kehamilan. Dengan begitu, peluang ia hamil anak laki-laki akan sangat besar. Hayes menginginkan anak laki-laki. Seorang pewaris. Mira menghela napas berat mengingat pria itu Hayes. Suaminya. Rasanya panggilan itu sangat tidak tepat. Hayes sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya, meskipun mereka menikah secara sah. Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal Hayes. Mereka hanya tinggal di bawah satu atap, tanpa adanya obrolan selayaknya suami-istri. Lalu... begitu anaknya lahir, ia harus perg
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 03. Sekadar Pemuas NafsuPernikahan Mira dan Hayes berlangsung singkat tanpa apa pun. Tidak ada pesta atau sesi foto. Setelah penghulu menyatakan bahwa keduanya telah sah menjadi suami-istri, para saksi membubarkan diri. Mira menatap ruangan mewah di sekelilingnya dan menghela napas. Ia tidak mengerti kenapa mereka harus pergi ke gedung semewah ini untuk pernikahan yang berlangsung kurang dari 30 menit. Mungkin memang benar kalau orang kaya suka menghambur-hamburkan uang. Pandangan Mira beralih ke sudut ruangan. Di sana, Katie terlihat sedang bicara dengan seseorang di telepon. Sementara itu, Hayes terlihat bosan menunggu di sofa yang berseberangan dengannya. Mira melirik. Di saat bersamaan, Hayes ikut melirik. Dia lalu menatap Mira terang-terangan, dengan tatapan tidak suka yang sama. Mira cepat-cepat memalingkan muka. Hinaan Hayes sebelumnya kembali terngiang-ngiang. ‘... Bagiku, kau hanyalah wanita miskin tidak tahu diri yang menginginkan hartaku...’ Hayes membencinya. Padahal, bukan Mira
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 02. Calon Suami Kejam dan DinginHayes menelan habis obatnya setelah sarapan. Ia menggerakkan tangannya yang kaku sambil memikirkan kejang yang baru ia alami. Ia pikir kondisinya telah membaik, tetapi setiap kali mimpi buruk itu datang, kejangnya kembali kambuh. Hayes menderita radang otak yang berbeda dari biasanya. Ingatannya sangat parah. Jika ia tidak melihat seseorang dalam kurun waktu sebulan, maka ia akan langsung melupakan wajah orang itu. Sekalipun itu keluarganya, teman dekatnya, atau koleganya. Kenangan tentang orang itu masih tertinggal di pikirannya, tetapi sulit untuk mengingat bagaimana rupanya. Rasanya seperti melihat gambar yang diblur berulang kali. Ketika gejalanya kambuh, maka ia akan mengalami kejang hingga sakit kepala yang tak tertahankan. Terkadang sampai kesadarannya hilang total. Ia sudah berobat sejak umur 20 tahun, tetapi penyakitnya terus menetap. Mulai saat itu, Hayes terus mencatat dan mengumpulkan foto semua orang atau hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya. Hanya den
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 181. Akhir Cerita: Kayson Hyperion25 tahun kemudian. “Kayson, sampai kapan kau akan seperti ini?” “Astaga, Ibu—” “Dengar, umurmu sudah 25 tahun!” Anna berkacak pinggang dan menatap putranya dengan tajam. “Sampai kapan kau akan melajang dan menolak semua gadis yang Ibu perkenalkan?” Kayson menghela napas dan meletakkan berkas di tangannya. Ia mendongak, menatap ibunya yang berdiri di depan meja kerjanya, masih memelototinya. “Ibu, aku sedang bekerja sekarang, jadi—” “Ini yang terakhir.” Anna menyela cepat, merasa kesal dan juga gemas dengan sikap putranya yang kelewat menutup diri. Sudah puluhan gadis yang ia perkenalkan, tetapi Kayson selalu menolak mereka semua. “Gadis ini sangat pintar dan manis, Ibu yakin kau akan menyukainya. Cobalah untuk berkenalan, dan jika gagal, Ibu tidak akan mencampuri hubungan asmaramu lagi. Bagaimana?” Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan. Terlebih lagi, Kayson sudah lelah dengan semua acara kencan buta yang Ibunya selenggarakan. “Ibu serius? Ini yang terakhir?” tanyanya, memast
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: 180. Kisah Mereka Baru DimulaiAnna tertidur cukup lama setelah sarapan.Ketika ia membuka mata, bukan Fay yang berada di kursi samping tempat tidurnya, melainkan Kaiden.Kaiden menunduk menatapnya dengan tatapan lembut, penuh kasih. Wajahnya masih sangat pucat, membuat luka-luka di kulitnya tampak menonjol. Warnanya merah meradang, beberapa sudah mulai berubah menjadi ungu.Meskipun begitu, tatapan dan ekspresinya yang teduh seolah memudarkan semua luka mengerikan itu.Kaiden tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Anna dengan lembut. Gerakannya begitu halus dan hati-hati, seolah dia takut akan menyakiti sang istri. “Bagaimana perasaanmu, Sayangku?”“Aku merasa lebih baik. Jauh lebih baik setelah melihat wajah tampan suamiku ini,” jawab Anna, tersenyum manis.Senyum Kaiden melebar. Wajahnya terlihat dua kali lipat lebih menawan. Ia menunduk, dan mengecup lembut puncak hidung Anna. “Bagaimana bisa kau baru bangun dan sudah menggoda suamimu?”Anna tersipu dan mencoba memalingkan muka, tetapi Kaiden tida
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: 179. Sampai Mereka MenuaRasanya seperti tenggelam di laut yang dingin. Seluruh tubuhnya membeku, ia tidak bisa bergerak. Ia ingin menyerah dan menyerahkan hidupnya. Namun, sebuah tangan terasa menariknya ke permukaan.Sayup-sayup, Anna bisa mendengar suara riuh dari kejauhan. Kemudian, suara itu lenyap dan berubah menjadi suara lembut yang familier.Fay?Anna mencoba membuka matanya yang terasa berat. Rasanya seolah kelopak matanya telah direkatkan menggunakan lem. Samar-samar, ada sesuatu yang terasa berdenyut, menusuk-nusuk bagian belakang kepalanya.Tanpa sadar, ia mengerang dan mencoba untuk memijat kepalanya, tetapi tangannya tidak bisa digerakkan.“Nyonya! Anda akhirnya sadar!”Suara Fay terdengar nyaring di atasnya.Anna mengerjap-ngerjap, berusaha membersihkan pandangannya yang terasa berkabut. Sekali lagi ia mencoba menggerakkan tangannya untuk mengucek mata, tetapi tubuhnya terlalu lemas.“Nyonya, apa Anda bisa mendengar saya?” tanya Fay, nadanya khawatir. Setelah beberapa saat, wajahnya akhirnya
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: 178. Bantuan DatangTidak ada tanda-tanda kalau bantuan akan segera datang. Sejauh mata memandang, hanya ada gurun tak berujung yang terlihat. Anna hanya bisa melihat tembok pembatas Mosirette dari kejauhan. Ukurannya sangat kecil, yang menandakan kalau jaraknya sangat jauh. Ia tidak mungkin bisa menempuh jarak sejauh itu dalam keadaan seperti ini. Kaiden terluka dan tak sadarkan diri. Denyut nadinya sangat lemah, meskipun darah di punggung, perut, bahu, dan sudut mulutnya telah berhenti mengalir. Anna hanya bisa membebat luka Kaiden seadanya menggunakan robekan bagian bawah pakaiannya. Jika dibiarkan seperti itu terus, lukanya bisa mengalami infeksi, apalagi dengan keadaan gurun yang anginnya terus bertiup. Debu pasir dan kuman akan memperparah luka Kaiden dalam waktu semalam. Ia harus mencari bantuan terdekat. Tetapi di mana? Anna memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan sambil memikirkan jalan keluar yang bisa ia tempuh. Di sampingnya, tubuh Kaiden ia sandarkan ke batang pohon ag
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: 177. Kehancuran Panthera KroyKaiden membeku di tempat, untuk sesaat merasa syok. Sampai kemudian, alarm keras yang berbunyi menyadarkannya dari posisinya. 5 menit. Mereka hanya memiliki waktu lima menit untuk keluar dari bunker itu sampai seluruh bom yang dipasang meledak. “Kaiden, ayo!” Anna sudah berlari ke arahnya dengan membawa pistol milik Baliant. Kaiden segera berdiri dan meraih tangan Anna. Mereka berlari keluar menuju lorong, hanya untuk berpapasan dengan tiga pemberontak. Wajah mereka semua terlihat panik mendengar alarm peringatan yang berbunyi keras. Kaiden tanpa basa-basi melumpuhkan dua pemberontak yang berada di barisan paling depan. Satu lagi berusaha menembak Kaiden, tetapi Anna lebih gesit membidik kepalanya. Mereka bertiga langsung tumbang ke lantai lorong dengan bunyi gedebuk keras. “Ke sana!” Kaiden kembali menarik tangan Anna menuju lorong yang lain. Alarm terus menghitung mundur, membuat adrenalin mereka berpacu tak terkendali. “Mungkin akan lebih banyak pemberontak yang muncul m
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 176. Bom Waktu“Ka-kaiden?”Anna berbisik rapuh, matanya melebar tidak percaya.Segaris senyum menyakitkan terbentuk di bibir Kaiden. “Ya, ini aku, Sayangku,” ucapnya dengan suara tercekat.Hatinya terasa dicabik-cabik melihat betapa ringkihnya tubuh sang istri. Berat badannya tampak turun drastis dan pipinya yang pucat terlihat sangat tirus. Air mata tanpa bisa ditahan menetes ke wajah Kaiden, merasa bersalah karena datang terlalu lama. “Maaf, aku datang terlambat.”Anna menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin mengatakan bahwa Kaiden tidak terlambat, tetapi tangis lebih dulu mengambil alih. Ia hanya bisa terisak keras saat Kaiden meraihnya dan merengkuhnya ke dalam dekapan.“Maafkan aku, maafkan aku,” bisik Kaiden berulang kali, suaranya pecah. Ia menciumi rambut Anna dalam-dalam dan menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar hebat, dibanjiri perasaan lega dan juga sesak.“Jangan minta maaf.” Anna berbisik parau. Kepalanya bersandar di dada Kaiden, merasakan debaran jantung suaminya
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 149. Ending: Parade Musim Panas Alderson dan Kehamilan Bella“Awas! Itu ada di mana-mana! Sebaiknya tepikan sepedamu di tempat lain!”Musim panas telah tiba. Kehangatan, liburan, dan piknik yang dirindukan oleh semua orang ada di depan mata. Tetapi, saat itu pula tanaman tumbleweed memulai perjalanannya untuk mencari mangsa. Bella tidak tahu sudah berapa kali ia memberi peringatan pada anak-anak yang tengah bersepeda.Tanaman itu menggelinding seperti bola di sepanjang jalan yang berdebu. Setiap kali angin bertiup kencang, ada saja tanaman tumbleweed penuh duri yang melintas. Bukan hanya satu, tetapi tiga sampai empat sekaligus. Anak-anak mulai berteriak saat kulit atau ban sepeda mereka tertusuk.“Sayang, biarkan saja mereka. Mereka sendiri yang ingin bersepeda ke sana,” kata Damian seraya membelokkan mobilnya ke jalan utama.Bella menoleh dengan tatapan tajam dan Damian mengatupkan bibirnya. “Tetap saja, mereka hanya anak-anak!” protes Bella.Damian menghela napas dan mengangguk mengiyakan. “Baiklah, baiklah. Terserahmu saja, Sayang,” ucapny
Last Updated: 2025-05-27
Chapter: 148. Lembaran Baru, Rangkuman Hidup“Apa kau sungguh ingin meninggalkan desa kita dan pergi bekerja di kota saat dewasa nanti?”“Ya, aku tidak ingin makan tumis jamur liar terus. Aku ingin sering makan daging dan membelikan apa pun untuk Ibuku,” jawab Bella, menatap Damian dengan senyum kecil.Bibir Damian mengerucut dan ia tampak merenung untuk sejenak. “Ayah juga pernah bilang ingin pergi ke Pennsyl, tapi aku belum tahu apa itu sungguhan,” katanya kemudian.“Berarti kita akan sama-sama meninggalkan desa. Apa kau pikir desa kita akan berubah?”“Entahlah. Saat kita tumbuh dewasa, mungkin desa kita sudah berubah menjadi kota.”Bella mengangguk setuju. “Mungkin.”Kenyataannya tidak begitu. Desa mereka telah menghilang.Bella tersenyum sendu mengingat kenangan masa lalunya. Bella dan Damian kecil yang penuh dengan mimpi dan harapan. Mereka tidak pernah mengira bahwa masa depan akan menjadikan mereka sebagai budak dan mafia.Hidup terus berjalan. Orang-orang pergi dan berdatangan. Tempat yang mereka kira takkan berubah pun k
Last Updated: 2025-05-26
Chapter: 147. Rencana Bulan MaduBella menatap suaminya, napasnya masih terengah-engah setelah ciuman panjang mereka. Rasa alkohol yang pahit tertinggal di mulutnya.Senyum tipis merekah di bibir Damian, tetapi matanya terasa membakar seluruh tubuh Bella. Mereka telah melakukannya beberapa kali sebelum pernikahan, tetapi malam ini, Damian tampak berbeda.Ini bukan efek alkohol atau minuman apa pun. Mereka tenggelam dalam gairah dan hanya ada satu hal yang dapat meredakan gejolak itu.Damian membungkuk dan menciumi rahang hingga leher Bella yang terbaring telentang di atas kasur. Bibirnya yang lembap meninggalkan jejak basah di kulit Bella, membuat gadis itu tanpa sadar mendesah. Tangan Bella bergerak turun untuk mengusap pinggang Damian.“Ya, sentuh aku di sana, Sayang,” gumam Damian serak. Suaranya rendah, menggoda.Bella menggerakkan tangannya semakin ke bawah dan napas Damian memberat. Damian memiliki pinggang yang ramping, padat, dan berotot, sementara bahu dan pundaknya lebar.Tubuhnya atletis, terbentuk dengan
Last Updated: 2025-05-13
Chapter: 146. Hari Pernikahan (3)“Dagingnya matang sempurna, itu terlihat enak.”“Kau mau?”“Tidak, aku hanya ingin memasukkannya ke dalam mulutku, brengsek!”“Sama saja kau mau, dasar bajingan!”“Memangnya aku tadi bilang apa?”“Heh! Mulutmu bau telur busuk!”Bella menggeleng-geleng mendengar percakapan heboh dari para anggota organisasi. Mereka tidak pernah menggunakan filter saat berada di mansion. Semua umpatan dan kata-kata kotor diucapkan secara gamblang.Di luar, mereka mungkin menunjukkan kesopanan dan sikap manis yang tidak ada duanya. Tetapi di wilayah mereka sendiri, semuanya serba transparan.Malam ini, setelah acara resepsi usai, mereka mengadakan perayaan kecil dengan membakar daging di halaman samping mansion. Hanya keluarga Damian dan anggota organisasi yang tinggal, sisanya sudah pulang sejak jam 5 sore.Bella duduk di salah satu bangku sambil menikmati anggurnya. Ia hanya minum sedikit, tidak sampai segelas. Di sisi lain, Damian entah sudah menghabiskan berapa botol anggur.Dia ikut membakar daging
Last Updated: 2025-05-11
Chapter: 145. Hari Pernikahan (2)“Kuenya sangat enak. Ibu sendiri 'kan yang membuatnya bersama yang lain?”Helena mengangguk, dan memberikan sepotong kue lagi ke dalam piring Bella. “Iya, kami membuatnya bersama-sama. Ibu senang kau menyukainya, Sayang. Damian juga sudah mencobanya?”“Sudah, Ibu. Dia menghabiskan tiga potong sebelum pergi ke sana.” Bella mengedikkan kepalanya ke seberang ruangan, tempat di mana Damian sedang bicara dengan rekan bisnis Martinez. “Ibu sudah makan?”“Sudah. Jangan khawatirkan, Ibu, ya.” Helena tersenyum simpul. Jemarinya dengan lembut merapikan leher gaun Bella yang terlipat, kemudian ia menatap wajah putrinya lekat-lekat.Terlihat jelas bahwa Helena masih tidak menyangka bahwa putri satu-satunya yang ia miliki telah menikah. Helena tidak bisa berhenti mengucap rasa syukur. Setiap kali ia menatap Bella cukup lama, rasanya air matanya akan tumpah.Itu semua adalah air mata kebahagiaan.Seorang ibu yang sepanjang hidupnya membesarkan anaknya dalam keadaan menyedihkan, bahkan menyeretnya k
Last Updated: 2025-05-09
Chapter: 144. Hari Pernikahan (1)“Damian?”“Hm?”“Damian?”“Ya?”“Vergara?”“Apa?!” Damian menoleh sepenuhnya dengan wajah jengkel. Ia tidak mengerti kenapa Bella sejak tadi hanya terus memanggilnya tanpa mengatakan apa-apa.Bella cengengesan. “Kau marah?”“Tidak. Tapi kenapa kau terus memanggil?”“Aku ingin tahu apa...” Bella memainkan tangannya dan terlihat ragu-ragu sejenak. “Apa kau mau menemaniku mencari jamur liar di hutan?”Damian mengernyit. Tangannya yang tengah membilas badan kuda mendadak terhenti. Ia menatap Bella dengan saksama. “Apa ayahmu masih belum pulang?”Bella menunduk, menatap air sungai yang telah keruh. Mereka hampir selesai memandikan kuda ayah Damian dan berniat pulang. “Iya. Ibu tidak punya uang untuk membeli gandum.”Terdengar helaan napas berat, kemudian Damian menyahut pelan, “Baiklah. Aku akan menemanimu.”Bella langsung mengangkat kepalanya. “Benarkah? Tapi apa ayahmu tidak marah?”“Tidak akan. Kau tunggu di sini, aku akan membawa pulang kuda ini dulu.”Bella mengangguk patuh dan keluar
Last Updated: 2025-05-07
Chapter: 96. Malam yang PanjangPagi harinya, mereka telah meninggalkan resort.Pak Surya datang kembali menjemput keduanya. Duduk di jok belakang, Arsen tidak berhenti bertanya apakah Layla baik-baik saja, semata-mata karena apa yang terjadi semalam.Arsen terlihat begitu khawatir, dan Layla malah ingin tertawa.Rasanya tidak sesakit yang Layla bayangkan. Apalagi dengan sentuhan Arsen yang lembut. Alih-alih sakit, ia justru merasa malu.“Kau ingin makan apa pagi ini?” tanya Layla saat mobil mulai berbelok masuk ke kompleks perumahan mereka.Arsen awalnya ingin memesan makanan, tetapi Layla menolak. Ia ingin memasak sendiri untuk Arsen. Mulai hari ini, ia akan menganggap kalau keduanya baru memulai hubungan sebagai suami-istri yang sesungguhnya.Tanpa kontrak itu.Memikirkannya kembali sungguh terasa seperti mimpi. Ketakutan yang selama ini bersarang di hatinya akhirnya menghilang, seperti burung-burung yang terbebas dari sangkarnya.Ketika ia menatap suaminya, hanya ada perasaan tenang yang tertinggal di dadanya. L
Last Updated: 2025-10-30
Chapter: 95. Malam Pertama“Kalau kau merasa tidak nyaman, kita bisa pulang ke rumah.”“Tidak, tempat ini nyaman. Aku suka,” ujar Layla, menoleh dengan senyum tipis. Detik itu, sebuah kecupan mendarat di pelipisnya. Layla tidak tahu sudah berapa kali Arsen mengecupnya malam ini. Rasanya di setiap kesempatan, dia akan menunduk dan mengecupi wajahnya sampai Layla merasa geli. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya dipenuhi bunga yang mekar.Malam ini, sesuai ucapan Arsen, mereka menginap di resort yang baru dibangun. Tempatnya akan diresmikan dalam seminggu. Untuk itu, Arsen ingin memperkenalkan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh resort itu.Selain desain tiap ruangannya yang elegan dan mewah, resort itu juga memiliki fasilitas lengkap seperti kolam renang besar, pusat kebugaran, pusat olahraga air, restoran, spa dan juga arena bermain untuk anak. “Aku senang jika kau menyukainya,” gumam Arsen di belakangnya. Dia berdiri sangat dekat, panas tubuhnya terasa menembus gaun tidur tipis yang Layla k
Last Updated: 2025-10-14
Chapter: 94. Ungkapan Perasaan ArsenOlivia mendekat ke arahnya dengan cepat. Tatapannya sinis. Dia tidak berbasa-basi dan langsung menyembur Layla dengan cemoohan dan umpatan, “Pasti sekarang kau merasa di atas angin karena Arsen berpihak padamu dan kami sudah putus hubungan, bukan? Dasar wanita jalang.”Layla menghela napas kasar. “Kau berselingkuh darinya. Dan itulah alasan kenapa Arsen putus denganmu. Kenapa kau malah bersikap seolah aku yang bersalah, padahal jelas-jelas itu salahmu sendiri?” ujar Layla acuh tak acuh. Suasana hatinya berubah drastis dalam sekejap. Ia tidak sedang berminat untuk berdebat.Olivia mendecih. “Memangnya kenapa aku bisa berselingkuh dari Arsen? Itu karena kau merebut Arsen dariku.” Suara Olivia sama sekali tidak terdengar bersalah atau menyesal.Layla menatapnya dengan tidak percaya. Dari semua orang yang ditemuinya, Olivia-lah yang memiliki muka paling tebal. Ia tidak menyangka setelah semua kebusukannya terbongkar, Olivia masih saja mencoba menyalahkannya.“Aku tahu berbohong itu sangat
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: 93. Kehadiran Olivia“... untuk memperhatikan lebih jauh kinerja para karyawan dan tunjangan yang sesuai...”Di atas panggung, penyambutan Arsen telah memasuki inti pembahasan. Seluruh atensi tertuju padanya. Suaranya setenang laut di belakang mereka, tetapi semua orang diam mendengarkan.Layla duduk di kursi depan panggung seraya memperhatikan suaminya. Arsen sebagai seorang direktur dan seorang suami memiliki sisi yang sungguh berbanding terbalik. Selalu seperti ini.Direktur Arsen Sergio adalah pria yang penuh wibawa. Kharismanya tak terbantahkan. Meskipun masih muda, aura kepemimpinan terpancar kuat dari tubuhnya. Mata hitamnya menatap tegas ke arah para karyawan.Pria yang dingin, kaku, dan workaholic itu sedang mengambil alih.Tetapi ketika pandangan Arsen terarah padanya, Layla bisa melihat kehangatan dan kasih sayang itu. Senyum kecil terbit di bibir Arsen, membuat Layla otomatis ikut tersenyum.“Pandangan kak Arsen saat menatap Kakak memang beda, ya,” bisik Kiran di sampingnya. Setelah berkelilin
Last Updated: 2025-10-12
Chapter: 92. Kesungguhan ArsenLayla tidak bisa tidur semalaman memikirkan ucapan Arsen.Layla tahu—ia tahu ini yang ia inginkan sejak lama. Tetapi mengingat Arsen baru putus dari Olivia, ia merasa ragu itu hanya kemarahan sesaat Arsen.Meskipun, keseriusan yang terpancar di mata Arsen... afeksinya... harapan dan keinginannya... semuanya terlihat jelas dalam pandangan Layla.Tetap saja, ada sepercik keraguan yang timbul di hatinya.Jadi, Layla belum memberi jawaban. Ia meminta waktu selama beberapa hari, sampai mungkin pikiran Arsen jernih dari segala amarah. Jika dia tidak menyesali ucapannya tentang kontrak itu, maka Layla tidak akan menyimpan keraguan lagi.Lebih dari apa pun, Layla ingin Arsen terus berada di sisinya. Hanya jika Arsen benar-benar menginginkannya, tanpa ada keterpaksaan.“Kak Layla? Kakak dari tadi melamun terus?!”Suara melengking Kiran berhasil menyentak Layla dari lamunannya. Ia menoleh terkejut, dan Kiran menatapnya khawatir.“Kakak tidak apa-apa?”Layla menggeleng. “Tidak, maaf. Aku—agak me
Last Updated: 2025-09-28
Chapter: 91. Di Tengah Kontrak dan PerasaanAngin sepoi-sepoi berembus menerpa wajah Arsen yang termenung di dekat jendela. Pandangannya terarah ke jalanan yang padat di bawah sana, tetapi pikirannya melanglang buana.Ia merasa pusing.Ia belum berani bicara pada Layla. Mereka sarapan bersama pagi tadi, mengobrol seperti biasa, tetapi seolah ada ketegangan tak terlihat yang membentang di antara keduanya.Helaan napas panjang berembus keluar dari mulutnya. Arsen beranjak dari tempatnya ketika pintu ruangannya terbuka.Olivia melangkah masuk dengan terburu-buru. “Arsen, kau tidak mungkin serius—”“Kau seharusnya sudah berada di kantor cabang sekarang,” sela Arsen, sama sekali tidak menatap Olivia. Ia duduk di kursinya, lalu membuka laptopnya.Olivia memutari meja dan mencoba menyentuh Arsen, tetapi Arsen menepis tangannya. Olivia mundur dengan terkejut.“Arsen, tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan apa yang terjadi semalam. Aku mabuk dan aku tidak sadar! Sungguh! Kali ini saja, tolong maafkan aku!” suara Olivia terdengar p
Last Updated: 2025-09-26