Mag-log inSeumur hidupnya, Casy tidak pernah punya pacar karena ayah, kakak, dan kakeknya mengusir semua pria yang mendekat. Sampai dia sadar, Pria yang tidak bisa diancam siapa pun hanyalah Ryan Callister. Masalahnya? Ryan adalah pria dingin yang sejak kecil hanya melihatnya sebagai bocah merepotkan. Dengan keberanian impulsifnya, Casy nekat menghadang Ryan dan berkata: "Om... nikah yuk. Atau bunting dulu juga boleh." ujar Casy, dan Ryan hanya bisa geleng-geleng keheranan. Mengkhawatirkan kesehatan mentalnya. Dan dari situlah semuanya dimulai! Perburuan paling kacau, paling memalukan, dan paling manis dalam hidup Casy untuk menaklukkan gunung es bernama Ryan Callister.
view moreDi usianya yang ke-20, Casyena Lexton merasa dunia ini tidak adil. Di saat teman-temannya sibuk memamerkan kemesraan dengan pasangan, prestasi tertingginya hanyalah menamatkan level tersulit di game ponselnya. Bukan karena ia tidak laku, tapi karena tiga Titan di hidupnya!
Kakek Marcus, Ayah Edward, dan Kakaknya Darren, adalah mimpi buruk bagi pria mana pun. Mereka menyapu bersih setiap lelaki yang mencoba mendekati Casy dengan ancaman yang membuat nyali lawan ciut seketika.
"Kalian licik! Mana ada pria yang setara dengan kalian! Sampai tua pun aku tidak akan pernah punya pasangan!" teriak Casy frustrasi sore itu.
"Ya, tunggu saja sampai ada yang mampu! Daripada memilih sembarangan?" sahut ayahnya dingin, sama sekali tidak merasa bersalah.
Mendengar itu Casy hanya menghela nafas, dia tidak akan pernah menang berdebat dengan mereka. Casy menatap para Titan yang lanjut mengobrol dengan asyik tentang bisnis. Membuat hatinya semakin terasa terbakar karena setelah mereka mengekang, mereka mengabaikannya.
Namun, pencerahan itu datang secara tak terduga di sebuah pesta mewah malam ini. Dari sudut ruangan, Casy terpaku melihat Ryan Callister—pria yang usianya terpaut lima belas tahun di atasnya, dia sedang berdebat sengit dengan ayah dan kakaknya tentang pekerjaan.
Ryan bukan orang asing. Dia adalah teman dekat kakaknya, sosok yang sudah Casy kenal sejak ia masih kecil. Hubungan keluarga mereka begitu erat, bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri. Namun, malam ini Casy melihatnya dengan cara yang berbeda.
Suara Ryan terdengar lantang, tatapannya setajam elang, dan yang paling krusial. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun saat berhadapan dengan para Titan yang selama ini membuat pria lain lari terbirit-birit.
Pikiran itu menyambar Casy bagai petir. Selama ini dia mencari di tempat yang salah! Ryan Callister adalah pria yang sempurna. Dia tampan, berkuasa, single, dan satu-satunya orang yang punya nyali untuk berdiri sejajar dengan keluarganya.
Ditambah lagi, Casy ingat curhatan Tante Venna, ibu Ryan, yang sudah putus asa menjodohkan putranya yang terus-menerus melajang.
"Ini saatnya! Om Ryan ada pangeran yang tepat untukmu Casyena!" bisik Casy pada dirinya sendiri.
Setelah menyingkirkan urat malunya, Casy mengejar Ryan yang sedang berjalan menyendiri menuju lorong sepi. Jantungnya berdebar kencang bagai drum saat ia melesat dan menghadang langkah pria itu dengan kedua tangan mungilnya.
Ryan berhenti mendadak. Tatapannya dingin, menatap Casy dari atas ke bawah dengan raut penuh tanya. "Casy, ada perlu?"
Seketika, otak Casy mendadak kosong. Semua kalimat elegan yang sempat disusunnya menguap begitu saja. Yang keluar dari mulutnya justru sebuah bom yang akan dicatat sebagai momen paling memalukan dalam sejarah hidupnya.
"Umm... Om! Nikah yuk!" serunya lantang tanpa filter.
Ryan mengerutkan kening, wajahnya menegang. "Apa?"
"Atau... kalau Om mau hamilin aku dulu juga boleh! Asalkan ujungnya menikah!" lanjut Casy semakin ngawur, saking paniknya.
Seketika itu juga, udara di lorong terasa membeku. Ryan memandangnya dengan ekspresi campuran antara jijik, tidak percaya, dan keraguan akan kesehatan mental gadis di depannya ini.
"Otakmu konslet?" sahut Ryan pendek. Dengan gerakan mudah, ia menepis lengan Casy dan berjalan pergi begitu saja.
"Tunangan dulu juga boleh! Om! Woi, Ryan!" teriak Casy histeris, tapi Ryan terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.
Casy berdiri mematung. Pipinya terasa panas membara, merah padam sampai ke telinga. Dia baru saja ditolak mentah-mentah dan dianggap gila oleh pria impiannya. Misi Sang Wanita Gila untuk menaklukkan Sang Gunung Es dimulai dengan kegagalan spektakuler.
Namun, di balik rasa malu yang membakar, tekadnya justru semakin kuat. Ryan Callister mungkin adalah gunung es yang sulit ditembus, tapi Casyena Lexton adalah api yang tidak akan padam walau diguyur seember air.
"Aku pasti akan mendapatkanmu! Bersiaplah, Om!" gumamnya dengan mata berapi-api.
Casy terbangun dengan perasaan bingung, matanya berkedip-kedip menatap langit-langit kamar yang asing. Dalam sekejap, ingatannya kembali pada malam sebelumnya, kecelakaan di dapur, tangannya yang terluka, dan... oh tidak, dia tertidur di mansion Ryan!Dengan panik, ia melompat dari tempat tidur. Rambutnya acak-acakan, piyama yang dikenakannya yang entah bagaimana sudah berganti, terlihat berantakan. Ia buru-buru keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh.Dan di sana, di ruang makan yang terang benderang, Ryan sudah duduk rapi dengan kemeja putih dan celana hitam, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi. Sangat kontras dengan penampilan Casy yang seperti baru bangun dari kubur."Kamu sudah bangun?" sapa Ryan tanpa mengalihkan pandang dari korannya.Casy merasa ingin menghilang. "A-Aku... maaf tentang semalam..."Ryan akhirnya menatapnya, matanya sedikit menyipit. "Tanganmu sudah lebih baik?"Casy mengangguk cepat, lalu matany
Di bangku taman kampus, Casy masih terisak-isak. Air matanya mengalir deras, membasahi jaket Leon yang masih terpasang di bahunya. Leon duduk di sampingnya dengan sabar, sesekali menepuk punggungnya dengan lembut."Sudah, jangan terlalu disedihkan." bisik Leon, suaranya tenang seperti embun pagi. "Dia tidak layak mendapat air matamu."Tapi Casy semakin menjadi-jadi, tangisnya makin keras. "Aku merasa begitu bodoh! Selama ini mengejar-ngejar dia, padahal... padahal..."Leon menghela napas, lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku. "Ini," ujarnya sambil menyeka pelan pipi Casy yang basah. "Kau tahu, ada banyak bintang di langit yang lebih layak untuk diperjuangkan daripada satu bulan yang tak pernah memantulkan cahaya untukmu."Casy mengangkat wajahnya yang merah dan bengkak. "Apa maksudmu?"Leon tersenyum kecil. "Maksudku, kenapa harus fokus pada satu orang yang membuatmu menangis, ketika ada yang lain yang mungkin bisa membuatmu tersenyum?"M
Casy duduk termenung di bangku kuliah, matanya kosong menatap ke depan. Semua penjelasan dosen tentang teori psikologi perkembangan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Pikirannya masih tertambat pada kejadian Tadi pagi.Ding-dong!Bel berbunyi menandakan kelas berakhir.Dengan langkah gontai, Casy keluar dari ruang kelas. Kelly yang berjalan di sampingnya mencoba menghiburnya. "Casy, kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu terlihat...""Leon!" seru Kelly tiba-tiba, memotong kalimatnya sendiri.Leon berdiri tegak di ujung koridor, mengenakan kemeja putih sederhana yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Matanya langsung menemukan Casy."Hai!" Sapa Leon membalas Kelly lalu matanya beralih menatap Casy. "Casy bisa bicara sebentar?" pinta Leon dengan sopan.Kelly mengangguk pengertian. "Tentu. Casy, kalian berdua jangan khawatir, mengobrol lah dengan nyaman." Dia melepaskan pegangan pada tas Casy dan memberikan senyum
"Casy, tetap di sini!" geram Darren, suaranya menggema penuh otoritas siap mendorong Ryan keluar dari apartemen.Casy terpaku di ambang pintu, wajahnya memucat. "Tunggu, Kakak…"BAM! Pintu terkunci dengan keras, memutuskan protesnya. Dari balik kayu yang tebal, Casy mendengar suara tarik-menarik dan gerutuan yang membuat jantungnya berdebar kencang.Di koridor yang sepi, Darren mendorong Ryan dengan kasar hingga tubuh pria itu membentur dinding. Suara benturan keras bergema di lorong yang sunyi"Dengar baik-baik, Ryan." desis Darren dengan suara rendah namun penuh ancaman. Matanya membara seperti bara api. "Ini adalah peringatan terakhir untukmu! Aku tidak perduli meskipun harus berhadapan dengan mu sekalipun!."Ryan tetap diam, menerima perlakukan Darren. Dalam hatinya, ia menyadari semua ini adalah konsekuensi dari kelengahannya menjaga jarak. "Aku tidak takut dengan ancaman mu, tapi ini semua memang tidak seperti--""DIAM!" bentak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu