LOGINRuang rapat utama di lantai puncak gedung Perusahaan Respati terasa tenang meskipun penuh konsentrasi. Meja panjang dari kayu jati mengilap dikelilingi jajaran manajemen inti dari dua perusahaan besar yaitu Respati Grup dan Lady A Kosmetika. Di ujung meja, Banyu Respati duduk dengan sikap tegas namun ramah, sesekali melirik ke seberang tempat duduk Arthalita Yudono, wanita yang pernah menjadi pendamping hidupnya selama tujuh tahun. Namun, kini hanya menyisakan rasa hormat dan persahabatan profesional.Setelah pembahasan mendalam mengenai rencana pengembangan pasar, strategi pemasaran, dan spesifikasi produk, tiba pada puncak pertemuan. Dokumen perjanjian kerja sama telah disiapkan rapi di atas meja. Banyu dan Artha masing-masing mengambil pena, lalu menandatangani lembar demi lembar dengan keyakinan penuh.Selesai menandatangani, keduanya berdiri bersamaan. Banyu mengulurkan tangannya, disambut erat oleh Artha.“Kuharap proyek baru ini bisa saling menguntungkan, Tha!” ucap Banyu deng
"Jadi, bagaimana kondisi kesehatanku sekarang, Dok?" tanya Banyu dengan senyuman penuh karisma.Dokter Laura pun menjawab dengan tenang seusai membaca hasil pemeriksaan laboratorium sampel darah Banyu, "Sangat bagus. Ginjal yang dicangkokkan ke tubuhmu berfungsi dengan baik seperti yang diharapkan. Ini kontrol kesehatan terakhir Anda, Pak. Kembali lagi tiga bulan lagi untuk memastikan segala sesuatunya tetap normal!""Terima kasih atas segala pertolongan Anda, Dokter Laura. Ngomong-ngomong, apa boleh saya mentraktir makan malam nanti?" ujar Banyu mencoba untuk mendekati dokter yang terkenal masih single hingga detik ini tersebut."Tentu, kirimkan saja alamat restorannya. Apa jam tujuh malam oke?" sahut Dokter Laura ringan."Sempurna, kutunggu di Restoran King Prawn jam tujuh malam, Dok!" balas Banyu sebelum.berpamitan meninggalkan ruang periksa pasien.Sejak hari itu, hubungan keduanya perlahan berubah. Batas antara dokter dan pasien mulai luntur seiring dengan seringnya mereka berkom
Ratna yang saat itu belum merasa curiga sedikit pun, menganggap hal itu hanya masalah kecil dan kebetulan saja. Dia pun menuruti saran Pietra. Masuk ke dapur yang sangat asing baginya, dia berusaha mengolah apa yang ada di sana. Hasilnya sederhana saja yaitu mie instan rebus, telur ceplok, dan beberapa potong sosis goreng. Makanan yang sangat sederhana bagi ukuran rumah sebesar ini. Malahan dengan tidak tahu diri, dia tidak menyiapkan makanan untuk Pietra sama sekali.Namun, hari berganti minggu, dan kondisi itu tidak berubah. Tidak ada pelayan yang datang kembali. Ruangan kamar tidur yang luas mulai berantakan, debu menumpuk di sudut-sudut yang tinggi, dan berbau apek.Selain itu menu makanannya tetap berputar pada hal yang sama yaitu mie instan, telur, nuget, atau sosis. Ratna yang sudah terbiasa dilayani, dimanjakan, dan hidup bersih rapi sejak dulu, kini mulai merasa muak dan tidak kuat lagi menahan situasi buruk yang tak terduga ini.Suatu sore, ketika Pietra sedang duduk santai
Di tengah hiruk-pikuk malam kota Bangkok yang selalu dipenuhi nyanyian bising, di balik deretan lampu neon berwarna-warni yang menyala terang, berdiri sebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal di kalangan pengunjung asing maupun lokal. Di sanalah Ratna Kirana kini menghabiskan hari-harinya yang kelam.Wajah yang dulu sering menghiasi layar kaca televisi sebagai aktris sinetron dan film.layar lebar populer, kini tampil dengan riasan lebih tebal, pakaian yang seksi hingga sangat terbuka, dan senyuman manis yang dipaksakan demi setiap lembar uang yang didapatnya dari klien hidung belang. Dulu, memang sudah ada kabar tersembunyi bahwa Ratna tidak sepenuhnya bersih. Di balik kemewahan dan popularitasnya, dia juga bersedia melayani tamu istimewa dengan bayaran tinggi. Istilah yang biasa disebut dunia hiburan sebagai open BO. Namun, saat itu masih terselubung rapi. Kini, setelah serangkaian kejadian pahit, Ratna sudah melepaskan semua topeng itu. Di negeri Thailand ini, dia hidup ter
Matahari pagi menyelinap lewat celah kaca jendela ruang rawat, menerangi wajah Banyu yang tampak lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Sudah empat bulan dia menjalani perawatan intensif pasca operasi cangkok ginjal. Hari ini, akhirnya dia diperbolehkan pulang. Dokter Laura Gallinavera masuk ke ruangan dengan senyum tenang, membawa selembar catatan medis di tangannya.“Selamat, Pak Banyu. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan ginjal barumu berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuh,” ujar Dokter Laura sambil berdiri di samping tempat tidur pasien.Banyu mengangguk lega, tangannya meremas ujung selimut. “Terima kasih banyak, Dokter. Tanpa kesabaran dan perhatian Anda selama ini, saya tidak tahu apakah bisa bernapas sampai hari ini.”Dokter Laura tersenyum lembut. “Ini juga kerja kerasmu sendiri yang menjaga pola makan dan istirahat sesuai anjuran. Tapi ingat, pemulihan tidak berhenti saat kamu keluar dari pintu rumah sakit. Ada satu hal yang harus kam
Lima hari masa isolasi ketat telah berlalu dengan penuh kesabaran dan doa. Kini, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat nyata pada diri Banyu Respati. Meski tubuhnya masih terasa sangat lemah dan gerakannya harus tetap hati-hati. Namun, ada perubahan besar yang dia rasakan di dalam dirinya. Rasa berat, pegal, dan lelah yang dulu seolah menempel di badannya perlahan menghilang berganti kesegaran baru. Napasnya terasa lebih lega, tekanan darah lebih stabil, dan secara keseluruhan Banyu sadar betul bahwa tubuhnya mulai menerima organ baru itu dengan sangat baik. Ginjal yang sehat kini bekerja diam-diam tapi mantap, menyaring cairan dan racun dengan sempurna. Itu sesuatu yang sudah lama dia rindukan.Sesuai keputusan tim medis, Banyu pun dipindahkan dari ruang rawat intensif menuju kamar rawat VIP yang jauh lebih luas, nyaman, dan lengkap fasilitasnya. Di sini aturan penjagaan sudah dilonggarkan, pintu ruangan kini terbuka bagi siapa saja yang ingin menjenguk, tentu saja tetap menjaga kebe
Bunyi air kloset terdengar nyaring dari dalam bilik toilet. Artha yang telah selesai berkemih membuka pintu dan ingin mencuci tangan di wastafel. Namun, dia terkejut setengah mati karena ada dua laki-laki berpakaian waiter brdiri di hadapannya memblokir jalan keluar."Kalian mau apa di sini?! Ini t
"Selamat datang, Nona Arthalita!" sambut serempak selusin pelayan wanita membungkukkan punggung mereka di sepanjang pintu teras depan kediaman megah keluarga Yudono yang bak istana.Ada getaran puas di dada Artha, telah lama dia menjalani kehidupan mengenaskan seperti babu di rumah keluarga Respati
"Geo, kamu pulang ke rumah kakek nenek ya. Mereka juga sayang kamu seperti Mama. Jangan takut, sekarang kita aman dan nggak akan berkekurangan lagi!" bujuk Artha kepada anaknya yang nampaknya masih belum bisa menerima kenyataan ayah dan ibunya berpisah.Bocah itu pun mengusap air matanya. "Mama lek
"Artha, apa kau sudah siap ikut bersama kami?" tanya Ervan, kakak sulungnya dengan tatapan penuh kebencian tertuju ke Banyu, Nyonya Diana, dan Ratna."Iya. Ayo pergi sekarang!" sahut Artha yakin. Hatinya dibanjiri kelegaan melihat kedua kakaknya tiba tepat waktu menjemputnya keluar dari lembah nest







