Culik Aku, Mas Gery!

Culik Aku, Mas Gery!

last updateLast Updated : 2026-05-29
By:  Kak WinaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
10Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hanya demi mendapat sebuah kontrak bisnis dengan pengusaha muda yang dikenal playboy, bernama Gery, Raka tega menjadikan istrinya sebagai umpan. Namun siapa sangka, Ana, istri Raka justru terlibat skandal hubungan dengan Gery. Karena ternyata Gery bukan seperti yang dikenal banyak orang. Dia adalah....

View More

Chapter 1

Bab 1

Gelas kristal di atas meja makan memantulkan cahaya lampu gantung yang dingin. Ana menatap bayangannya sendiri di sana, dengan riasan yang sedikit terlalu tebal atas permintaan ibu mertuanya. 

Di sampingnya, Raka sibuk dengan tabletnya, jemarinya bergerak lincah memeriksa grafik pertumbuhan saham Adiguna Group.

​Bagi Raka, hidup adalah papan catur. Dan bagi Ana, hidup adalah menjadi pion paling berguna di papan itu.

​"Pak Gery akan hadir di gala malam ini, Ana," suara Raka memecah keheningan. Nadanya datar, seolah sedang membicarakan cuaca, padahal itu adalah instruksi yang tidak bisa dibantah.

​Ana meletakkan garpunya dengan perlahan. Dia lalu menanggapi ucapan suaminya. 

"Raka, aku baru saja menyelesaikan audit di kantor cabang. Bisakah kita…" Ucapan Ana terputus oleh seruan mertuanya. 

​"Bisakah apa, Sayang?Raka sedang membangun kerajaan untuk masa depan kalian. Tugasmu adalah memastikan pintunya terbuka. Kamu tahu betapa sulitnya posisi kita jika proyek ini jatuh ke tangan orang lain,” ujar bu Dewi dengan tajam. Ibu mertua Ana tersebut menyambar dari ujung meja. Wanita itu menyeduh tehnya dengan anggun, tapi tatapannya setajam belati.

​"Aku hanya merasa lelah, Bu," bisik Ana.

Bu ​Dewi meletakkan cangkirnya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Dia sengaja melakukan semua itu untuk memberi teguran keras pada Ana. 

 "Lelah adalah kemewahan yang tidak kita miliki. Ingat, Ana, kamu bukan sekadar istri. Kamu adalah wajah dari kesuksesan Raka. Temui pak Gery, gunakan pesonamu, dan bawa pulang kontrak itu. Bukankah itu alasan kami menerimamu di keluarga ini?" tegas Bu Dewi pada menantunya. 

​Raka bahkan tidak mendongak dari layarnya. Dia hanya menggeser sebuah map berwarna hitam ke arah Ana. 

Suasana ruang tengah malam itu terasa semakin mencekam, bukan karena suara guntur di luar, melainkan karena keheningan yang tajam di antara Raka dan Ana.

​Raka minum kopinya yang sudah mendingin, matanya tak lepas dari map itu. Dia berdehem, memecah kesunyian dengan suara yang sengaja dilembutkan. Sebuah nada yang Ana tahu persis mengandung maksud tersembunyi.

Sementara mertuanya memilih kembali ke kamarnya. Dia tidak mau mendengar perdebatan antara Raka dan Ana. 

​"Sudahlah Ana, kamu mau kan temui pak Gery malam ini?" tanya Raka tanpa menoleh.

​Ana, yang sedari tadi ingin cepat menghabiskan makanannya, menghentikan gerakannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

 "Kenapa tidak kau bawa ke kantor besok?" tanya Ana. 

​Raka memutar kursi, menatap istrinya dengan tatapan memohon yang dipaksakan.

 "Tanda tangan Pak Gery itu kuncinya, Sayang. Minggu depan dia akan berangkat ke luar negeri selama sebulan. Kalau kita tidak dapat tanda tangannya malam ini, proyek ini akan menguap. Kita butuh investasi itu untuk menambal lubang di vendor,”

​Ana berbalik, menatap suaminya dengan dahi berkerut. Dia tidak habis pikir dengan rencana suaminya.

 "Malam ini? Ini sudah jam sembilan, Raka. Kenapa kau tidak menemuinya sendiri? Bukankah kalian sudah sering bertemu di lapangan?" protes Ana.

​Raka bangkit dari kursi, melangkah perlahan mendekati Ana. Dia meletakkan tangannya di bahu Ana, tapi Ana merasa sentuhan itu terasa berat dan membebani.

​"Pak Gery itu pria yang keras kepala, Na. Dia egois dan merasa paling hebat. Dan dia juga dikenal playboy. Kalau aku yang datang, dia akan memberikan seribu satu alasan untuk menunda. Dia bosan melihat wajahku yang penuh angka dan data. Tapi kalau kau yang datang... ceritanya akan beda,” ujar Raka dengan nada merayu.

 "Maksudmu apa? Dia itu laki-laki, Raka. Dan aku istrimu. Tidak pantas seorang wanita mendatangi klien laki-laki di jam seperti ini ke hotel atau kantor pribadinya!” seru ​Ana sambil melepaskan tangan Raka dari bahunya.

​Tawa kecil keluar dari mulut Raka, tawa yang terdengar hambar dan meremehkan. Dia kembali mengambil map hitam itu dan menimang-nimangnya.

​"Jangan naif, Ana. Di dunia bisnis, pesona adalah mata uang yang sah. Pak Gery punya kelemahan pada wanita cantik dan cerdas sepertimu. Kau hanya perlu duduk di sana, tersenyum sedikit lebih lama, mungkin sedikit sentuhan di lengannya saat kau menyerahkan pulpen... dia akan tunduk. Dia akan menandatangani apa saja yang kau minta,” lanjut Raka.

​Darah Ana terasa mendidih. Dia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak habis. 

"Sentuhan? Rayuan? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan, Raka? Kau memintaku menjual harga diriku hanya demi selembar tanda tangan?" bentak Ana dengan nada yang lebih tinggi.

​"Ini bukan soal menjual diri! Ini soal diplomasi! Apa bedanya dengan marketing yang memakai baju ketat di pameran otomotif? Kau melakukannya untuk masa depan kita, untuk rumah ini, untuk gaya hidup yang kau nikmati sekarang!" balas Raka, emosinya mulai tersulut karena penolakan Ana.

​Ana menatap suaminya dengan pandangan yang asing. Pria di depannya bukan lagi sosok yang dulu berjanji akan melindunginya, melainkan seorang oportunis yang melihat segala hal sebagai angka, termasuk istrinya sendiri.

​"Gaya hidup? Aku lebih baik hidup di rumah petak daripada harus menjadi ladang bisnis bagimu. Kau tidak sedang memintaku membantu bisnis kita, Raka. Kau sedang mencoba mengumpankanku pada serigala hanya agar kau bisa memenangkan kontrak." suara Ana bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ditahan.

​Ana melangkah maju, menunjuk map hitam itu dengan jari yang gemetar. Ana tetap mengelak permintaan suaminya.

​"Jika tanda tangan itu begitu penting hingga kau rela menggadaikan martabat istrimu, maka ambillah sendiri. Pergi ke sana dan jadilah laki-laki. Jangan bersembunyi di balik punggungku dan memintaku melakukan hal menjijikkan itu!” Tegas Ana dengan nada yang semakin tinggi.

​Raka terdiam, wajahnya mengeras. Ketegangan di antara mereka kini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan retakan besar yang mungkin tidak akan pernah bisa direkatkan kembali.

Malam itu, Ana menyadari bahwa dalam permainan bisnis Raka, dia hanyalah salah satu aset yang siap dikorbankan demi keuntungan maksimal.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status