LOGINArthalita Yudono dicampakkan oleh suaminya setelah pria itu menjadi seorang pebisnis sukses. Banyu Respati membawa pulang selingkuhannya dan meminta Arthalita menanda tangani surat cerai sekaligus mengusir istri beserta putranya keluar dari rumah keluarga Respati. "Enyah dari rumahku, Artha. Ini cek untuk kompensasi perceraian kita, mungkin kau butuh untuk menghidupi Geovan!" Banyu mengulurkan selembar cek bertuliskan nominal seratus juta rupiah. Namun, Arthalita menepis itu dan menggandeng tangan putranya. Rahim yang membawa janin anak keduanya berkontraksi hebat setelah berkelahi dengan suaminya. Dia berkata tanpa membalik badannya, "Aku tak butuh uangmu, Mas. Jangan pernah mencari aku dan Geo lagi di kemudian hari!" Hari itu Arthalita meninggalkan kediaman Respati dan membawa dendam yang tidak akan padam sebelum dia membalas mantan suaminya yang tak tahu diuntung itu. Sederet mobil sedan mewah berhenti di depan halaman, mereka menjemput wanita yang baru saja diceraikan oleh Banyu. Mertua dan selingkuhan Banyu berdiri di teras lalu Nyonya Diana Respati bertanya penasaran, "Mobil mewah milik siapa yang menjemput Artha?"
View More"Wow ... kue buatan Mama bagus sekali!" sorak Geovan sambil bertepuk tangan dengan wajah dipenuhi senyuman.
Arthalita Yudono sedang menghias sponge cake dengan butter cream warna pink menggunakan pipping bag. Dia tersenyum gembira mendengar pujian putranya. "Iya dong, Sayang. Ini 'kan buat merayakan ulang tahun pernikahan papa dan mama. Semoga papa bisa pulang cepat dari kantor hari ini!" jawabnya. Seusai menyelesaikan dekorasi kue susun tiga itu, Artha melanjutkan acara masak-masak berbagai hidangan istimewa kesukaan keluarga kecilnya ditemani Geovan di dapur. Detik demi detik bergulir hingga langit di luar rumah terlihat mulai gelap. Meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai sajian yang dibuat sendiri oleh Artha. Di rumah itu tidak ada pembantu rumah tangga, semua pekerjaan bersih-bersih, belanja, memasak, mencuci dilakukan sendiri oleh Artha setiap harinya. Namun, segalanya bisa terselesaikan dan rumah terlihat bersih terawat. Pukul 19.00 WIB, Geovan yang masih berusia enam tahun sudah mulai rewel karena lapar dan di meja penuh berbagai makanan lezat menggugah selera. Dia merengek sambil berkata, "Mama ... kapan papa pulang? Geo sudah lapar, apa nggak boleh kucomot sedikit saja makanan di meja?" "Sabar ya, Nak. Seharusnya papa kamu sudah ada di jalan pulang ke rumah. Papa tadi bilang ke mama lewat telepon kalau dia akan tiba tepat waktu bersama nenek juga. Tadi nenek kamu ada arisan di rumah teman dekatnya lalu minta dijemput sama papa sekalian!" hibur Artha seraya membelai kepala Geovan. Bocah itu pun mengangguk patuh meskipun bibirnya mencebik. Dia memegangi perutnya yang sudah berkeriut-keriut kelaparan. Tak biasanya dia terlambat makan sampai lebih dari jam tujuh malam. Hari ini spesial untuk mama dan papanya, dia tak ingin nakal dengan merusak suasana gembira. Akhirnya, pukul 20.15 WIB pintu teras depan dibuka dari luar. Suara itu membuat Geovan yang telah menanti-nanti kepulangan papanya sejak tadi melonjak kegirangan di atas kursinya. "Ma, itu pasti papa!" serunya penuh semangat. "Iya, Nak. Yuk kita sambut papa dan juga nenek!" sahut Artha sambil membawa confetti boom bersama Geovan. "Darrr!" "Darrr!" Serpihan kertas berkilauan warna warni berhamburan di udara menyambut kedatangan Banyu Respati yang melangkah masuk ke ruang makan. Namun, raut wajah pria itu sepertinya tak senang. "Hey, apa-apaan ini?!" tukas Banyu tajam sembari menoleh ke arah istrinya. "Happy anniversary ketujuh, Mas!" ucap Artha yang tersenyum gembira seraya maju mendekat ingin memberikan pelukan ke suaminya. Tanpa disangka tangan suaminya menepis dan mendorong bahu Artha sampai-sampai dia terhuyung ke belakang nyaris jatuh bila Geovan tidak menahannya. Dari belakang Banyu muncul Nyonya Diana Respati bersama seorang wanita tinggi semampai yang berparas cantik. Artha belum pernah mengenal wanita muda itu sebelumnya. Dia pun tak mengerti alasan kedatangan tamu tersebut malam-malam begini. 'Apa dia kerabat Mas Banyu atau koleganya ya? Mungkin diundang untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan kami!' batin Artha tetap berpikir positif. "Ckckck ... apa-apaan ini kok masak banyak banget sih, Tha? Sudah kayak mau arisan aja hidangannya semeja penuh begini. Dasar menantu boros!" omel Nyonya Diana tak setuju saat melihat isi meja makan penuh makanan mewah. "Ma, ini untuk perayaan anniversary pernikahan kami yang ketujuh. Semua aku sendiri kok yang memasaknya, nggak ada yang beli dari luar!" jawab Artha dengan wajah pucat pasi karena takut mertuanya mengamuk. Banyu tanpa mempedulikan perdebatan istri dan ibunya melangkah ke meja makan lalu menarik kursi kosong seraya berkata, "Ratna, duduk di sini dulu ya, kita makan bareng. Eman-eman kalau makanannya terbuang percuma!" Wanita yang dipanggil dengan sebutan nama Ratna itu melenggang ringan di atas sepatu high heels seraya melemparkan tatapan sinis merendahkan ke arah Artha. Dia menempatkan bokongnya di kursi yang ditarikkan oleh Banyu dan mengucap terima kasih singkat bernada elegan. "Istri kamu pintar masak, Mas. Wah, lihat ... masakannya sekelas koki restoran mahal lho. Coba kucicipin ya!" ujar Ratna lalu meraih sendok perak di samping piringnya. Dia menyendok sepotong daging ayam fillet goreng tepung dengan saus mentega kesukaan Geovan lalu mengunyah penuh penghayatan. "Mmm ... enak nih!" tukasnya. "Kamu makan yang banyak kalau memang suka, Ratna!" sahut Banyu. Kemudian dia mengambilkan lebih banyak potongan daging ayam itu ke piring wanita itu dengan penuh perhatian. Geovan mulai menangis, dia memeluk kaki mamanya yang mematung menatap suaminya memperlakukan wanita lain di hadapannya dengan mesra. "Ma, Geo lapar. Kok malah tante itu sih yang makan?!" tanya bocah itu dengan polosnya seakan-akan tak terima setelah penantiannya berjam-jam menahan keinginan untuk makan duluan tadi sampai sekarang kelaparan. "Sabar ya, Nak. Ya sudah, kita duduk juga lalu Mama ambilkan makanan kesukaan kamu, Sayang!" Artha berusaha menghibur putranya yang kecewa atas kelakuan papa dan tamu tak diundang itu. Dia pun duduk di seberang Banyu lalu mulai mengambilkan nasi serta berbagai lauk ke piring putranya. Sementara napsu makannya telah lenyap meski tak dipungkiri perutnya pun keroncongan. Hidangan istimewa yang seharusnya nikmat terasa hambar di lidahnya. Sesekali Artha melirik ke arah suaminya yang berbicara dengan nada penuh kehangatan dan sesekali mengambilkan makanan ke piring Ratna lagi. Perhatian Banyu tercurah seluruhnya ke wanita lain, bukan dirinya yang telah mendampingi dalam suka duka selama tujuh tahun terakhir. Nyonya Diana Respati pun berdehem keras lalu bertanya kepada putranya, "Banyu, kapan kamu mau bilang ke Artha tentang Ratna?" Pertanyaan itu menggantung dalam keheningan di meja makan. Artha menatap Banyu dan Ratna bergantian dengan kening berkerut tak paham dengan maksud mama mertuanya. Dia juga menunggu penjelasan suaminya dengan situasi janggal yang terjadi malam ini di rumah mereka. Tiba-tiba suara Geovan memecah kesunyian. "Mama, kue ulang tahun pernikahan yang tadi, apa sudah bisa dipotong?" "Umm ... oke, biar Mama bawa ke meja makan. Sebentar ya!" jawab Artha dengan pikiran yang sulit untuk tetap positif. Dia menahan diri sekuat-kuatnya untuk tidak menangis. Segala jerih lelahnya mempersiapkan perayaan kecil anniversary pernikahan seolah sia-sia. Dengan meja dorong beroda empat, Artha membawa kue susun tiga yang terlihat cantik sekaligus lezat dengan dekorasi cherry merah di atas butter cream berwarna putih pink. Ada boneka sepasang pengantin yang sedang berdiri berpegangan tangan melambangkan dia dan Banyu di puncak kue teratas. Lilin merah berbentuk angka 7 tertancap di susunan paling bawah kue itu. "Banyu, apa bisa aku pinjam korek gas sebentar untuk menyalakan lilinnya?" tanya Artha dengan hati teriris-iris. Suaminya justru sedang duduk merangkul bahu wanita lain di hadapannya. Sementara dia merayakan ulang tahun pernikahan dengan dada sesak oleh air mata. Pria itu menoleh perlahan dengan acuh tak acuh merogoh saku kemeja lalu mengeluarkan korek gas miliknya. "Nih, kasih ke mama kamu, Geo!" ucap Banyu tanpa repot-repot bangkit berdiri dari tempatnya. "Lho, Mas ... siapa dong yang tiup lilinnya? Kamu nggak ikut berdiri di sana?" tanya Ratna dengan sengaja. Senyuman menghina terukir di bibir merahnya seraya melirik ke arah Artha.Ruangan kerja yang luas dan mewah itu terasa begitu pengap dan menekan. Suara bantingan kertas dan lembaran laporan keuangan yang berserakan di atas meja kerja eksekutif menjadi saksi bisu amarah yang meledak-ledak.Banyu Respati berdiri mematung, matanya melotot menatap layar komputer dan dokumen di hadapannya dengan tatapan tak percaya bercampur murka yang luar biasa. Di hadapannya, Novita, sekretaris pribadinya, berdiri gemetar dengan kedua tangan saling bertaut di depan perut. Wajah wanita muda itu pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya."Jadi maksud kamu apa, Nov?! Jelaskan padaku!" bentak Banyu, suaranya menggelegar memantul di dinding ruangan ber-AC itu. "Kenapa tiba-tiba kontrak sewa lapak di Grand Intan Berlian, Kartika Royal Plaza, dan Millenium Paradiso Mall dibatalkan sepihak? Mereka bilang tidak mau perpanjang kontrak?!"&nb
"Pengawal, tendang pria ini keluar daei restoran!" titah Calvin dengan suara menggelegar.Segera dua pria kekar bersetelan jas hitam mencekal bahu dan lengan Banyu lalu menyeretnya sampai pintu keluar restoran. Pria itu tak mampu berkutik lagi. Bahkan, penjaga keamanan restoran memasang badan tak memberikan Banyu akses untuk masuk lagi."Pak, silakan cari restoran lain saja. Anda tidak diperkenankan datang ke mari lagi!" sergah petugas sekuriti berseragam itu kepada Banyu.Dengan hembusan napas kasar dia pun bergegas naik ke mobil lalu tancap gas meninggalkan parkiran."Sialan! Berani-beraninya Artha mempermalukanku di tempat umum, hmm. Apa hubungannya dengan Calvin Indrajaya? Kenapa pria itu begitu protektif sama Artha, padahal setahuku selama ini mereka nggak pernah terlibat sesuatu yang dekat ... atau jangan-jangan memang benar yang dibilang Ratna, sudah sejak lama Artha ada main sama pria l
Suasana di dalam Restoran Selendang Mayang begitu tenang dan berkelas. Musik klasik mengalun lembut menyelimuti ruangan yang dihiasi ornamen ukiran kayu jati dan tirai sutra berwarna merah marun. Aroma rempah-rempah khas masakan Melayu yang mahal bercampur dengan wangi dupa kayu cendana, menciptakan atmosfer eksklusif yang jarang bisa dinikmati sembarang orang.Arthalita Yudono duduk dengan anggun di sebuah meja sudut yang strategis. Dia mengenakan setelan blazer warna navy blue yang dipadukan dengan kemeja putih, penampilan yang sederhana. Namun, memancarkan aura karismatik yang kuat. Tangannya yang lentik memegang gelas tinggi berisi Es Teh Bunga Seruni, minuman favoritnya yang menyegarkan.Dia sudah menunggu selama lima belas menit. Akan tetapi, Calvin Indrajaya, konglomerat muda yang mengundangnya makan siang untuk membahas proyek kerja sama, mengirim pesan singkat bahwa ia terjebak macet parah di kawasan Sudirman akibat jam makan siang.
"Terima kasih, Pak Hotman. Akhirnya, kami bisa keluar dari kantor polisi!" ucap Banyu lega. Sudah 2 x 24 jam dia dan Ratna harus menjadi tahanan sementara padahal dia tidak melakukan apa pun yang berkaitan dengan kejahatan."Sama-sama, Pak Banyu. Menurut saya hanya sedikit kesalah pahaman saja kejadian di kapal pesiar itu. Next time lebih hati-hati saja, pesan saya untuk Nona Ratna Kirana!" Pengacara kondang itu melirik ke arah pasangan Banyu penuh arti.Ratna pun membungkukkan badan dan berkata, "Iya, Pak Pengacara. Saya akan lebih hati-hati lain kali. Maaf merepotkan!" Sekembalinya mereka dari kantor polisi, Banyu yang mengemudikan mobilnya untuk mengantar pulang Ratna ke rumah berbicara serius, "Na, jujur aku nggak ngerti apa hubungan Artha dengan Pak Calvin Indrajaya sampai-sampai pria itu membelanya mati-matian. Lebih baik kalau bertemu lagi dengan Artha, kamu hindarin konflik deh. Lagian aku sudah dalam proses perceraian sama dia. Sehabis semua beres, kita bisa menikah!" "Wah,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews