Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!

Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!

last update최신 업데이트 : 2026-05-09
에:  Dara Tresna Anjasmara방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 평가 순위. 2 리뷰
15챕터
286조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Usai kehilangan bayinya yang lahir prematur, Nadia justru dihina "longgar" dan diabaikan di ranjang oleh suaminya yang tak lagi mau menyentuhnya. Di tengah duka dan dahaga batin itu, suatu malam ia tak sengaja memergoki Bagas—kakak iparnya yang juga...tak puas dengan istrinya. Nadia tau kalau itu adalah salah. Tapi, jika milik Bagas sebesar itu, apakah miliknya yang dicap 'rusak' oleh suaminya sendiri justru akan terasa pas? 

더 보기

1화

1. Udahan, Mas?

“Mas... ah....”

Rintihan Nadia tertahan di balik bantal, jemarinya mencengkeram sprei kuat-kuat. Tubuhnya menegang, menuntut pelepasan yang sudah di ambang mata.

Namun, belum juga badai itu pecah, ia merasakan berat tubuh suaminya mendadak limbung di atasnya.

“Udah ya,” Rumi mendesah panjang, napasnya memburu cepat sebelum akhirnya hening.

Kepuasan itu datang terlalu pagi bagi sang istri.

“Mas? Kenapa...?” Nadia terperanjat saat merasakan suaminya langsung menarik diri begitu saja. Padahal, miliknya masih berdenyut hebat, terasa kosong dan perih karena gantung tak berujung.

“Aku udah bilang, aku capek. Kalau aku capek, aku nggak bisa lama-lama,” ucap Rumi datar, nyaris tanpa rasa bersalah.

“Tapi, Mas... aku belum—”

“Lagian punya kamu longgar banget, becek, nggak enak,” potong Rumi tajam, telak menghujam jantung Nadia.

Kalimat itu seketika membungkam mulut Nadia.

Matanya panas, ia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat ia harus bertaruh nyawa melahirkan bayi prematur mereka yang akhirnya meninggal dunia.

Prosedur medis yang darurat dan trauma fisik yang hebat meninggalkan bekas yang belum pulih sempurna di sana. Namun, bukannya dukungan yang ia dapat, Rumi justru menjadikan kekurangan fisiknya sebagai alasan untuk menghukumnya setiap malam.

Rumi segera beranjak, melangkah ke kamar mandi tanpa menoleh lagi. Nadia hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang yang kini terasa seluas samudera. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada rasa gantung yang menyiksa tubuhnya.

Nadia hanya bisa meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri sambil mendengarkan gemericik air dari kamar mandi. Rumi seolah hanya ingin membilas sisa keringatnya secepat mungkin.

Sejak kehilangan bayi mereka setahun lalu, kamar ini memang bukan lagi tempat berbagi, melainkan sekadar tempat singgah yang sunyi.

Bayangan masa kelam itu kembali membayang. Kelahiran prematur yang merenggut nyawa buah hatinya ternyata juga merenggut harga diri Nadia sebagai wanita.

Kondisi fisiknya pasca melahirkan yang tak lagi sekencang dulu menjadi alasan Rumi untuk terus menjauh, seolah Nadia adalah produk rusak yang tak layak lagi dinikmati.

Dua jam kemudian, suara dengkuran Rumi mulai mengisi kamar yang dingin. Pria itu tertidur pulas memunggungi Nadia.

Nadia membuka mata, menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar. Helaan napas lelah meluncur dari bibirnya. Ia bangkit dengan gerakan lunglai, meraih piyama untuk menutupi tubuhnya yang terasa hampa, lalu melangkah keluar mencari air di dapur.

Langkah kakinya membawa Nadia ke ruang makan yang remang. Di sana, ia melihat sosok Vega, adik iparnya yang tampak berantakan dengan rambut acak-acakan.

“Belum tidur, Mbak?” sapa Vega. Keringat masih tipis di dahi Vega, bahu piyamanya melosot memperlihatkan sisa-sisa kemesraan yang baru saja dia lalui.

“Kebetulan haus,” sahut Nadia pelan, mencoba menyembunyikan wajah sembabnya.

“Sama, aku juga. Mas Bagas malam ini bener-bener... Aduh, aku sampai puas banget dan—”

“Vega, aku ke atas dulu ya,” potong Nadia cepat, tak sanggup mendengar lebih jauh. Bagas, suaminya Vega. Kakak suaminya yang tinggal bersamanya.

Hatinya perih, seperti disiram cuka tepat di atas luka yang belum kering.

Nadia berbalik, menaiki tangga dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Dia merasa sangat tidak berguna, merasa bahwa surga yang didapat Vega seharusnya bisa menjadi miliknya jika saja ia tak gagal melahirkan.

Saat melewati ruang kerja Bagas, langkah Nadia terhenti. Ada cahaya kecil yang mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Rasa ingin tahu yang liar menuntunnya mendekat. Namun, baru saja tangannya hendak menyentuh pintu, suara desahan berat seorang pria pecah di dalam sana. Suara itu rendah, penuh gairah.

“Ah… ah…”

Nadia memberanikan diri mengintip lewat celah itu. Matanya membelalak, tangannya refleks membekap mulut agar tidak berteriak.

Di dalam sana, di balik meja kerja, Bagas sedang bergulat dengan gairahnya sendiri, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa kuatnya stamina pria itu hingga Vega yang kelelahan pun belum cukup untuk memuaskannya.

“Mas Bagas? Main sendiri?” bisik Nadia gemetar, hampir tak terdengar.

Melihat adik iparnya yang gagah itu kehilangan kendali atas tangannya sendiri, ada api yang mendadak menyambar di dada Nadia. Rasa haus akan sentuhan yang selama ini terkunci rapat kini mendidih, bertarung dengan rasa malu yang perlahan terkikis oleh kehampaan jiwanya.

“Ah... ssshh,” Bagas mendesis, gerakannya semakin cepat dan tak terkendali.

Nadia tak sanggup berpaling, rasa haus yang selama ini terkubur di bawah trauma kelahiran prematurnya mendadak bangkit dengan liar. Area sensitifnya yang selama ini terasa mati rasa kini berdenyut hebat.

Tanpa sadar, Nadia sedikit memajukan tubuhnya, membuat pintu kayu yang sudah tua itu mengeluarkan bunyi gesekan halus yang mematikan.

Gerakan tangan Bagas berhenti seketika. Pria itu menoleh tajam ke arah pintu, napasnya masih menderu dengan mata yang berkilat gelap penuh gairah yang belum tuntas. Nadia mematung, darahnya terasa mendesir kencang di balik pintu. Lalu pria itu melengang ke dalam menutup pintu sementara jantung Nadia berdetak cepat.

Namun, melihat apa yang ada di depan matanya sekarang, sebuah tanya yang lancang mendadak muncul di kepala.

Jika milik Bagas sebesar itu, apakah miliknya yang dicap 'rusak' oleh suaminya sendiri justru akan terasa pas?

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰

Dara Tresna Anjasmara
Dara Tresna Anjasmara
Buku ini sedang mengikuti lomba bertema Kesempatan Kedua Setelah Penghianatan. Mohon dukungannya buat Nadia dan Bagas supaya bisa terus menghibur kalian.
2026-05-08 19:40:17
0
0
ferina dewi
ferina dewi
gakkk sabar baca lanjutannya kakkk
2026-05-08 09:36:37
1
1
15 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status