MasukUsai kehilangan bayinya yang lahir prematur, Nadia justru dihina "longgar" dan diabaikan di ranjang oleh suaminya yang tak lagi mau menyentuhnya. Di tengah duka dan dahaga batin itu, suatu malam ia tak sengaja memergoki Bagas—kakak iparnya yang juga...tak puas dengan istrinya. Nadia tau kalau itu adalah salah. Tapi, jika milik Bagas sebesar itu, apakah miliknya yang dicap 'rusak' oleh suaminya sendiri justru akan terasa pas?
Lihat lebih banyak“Mas... ah....”
Rintihan Nadia tertahan di balik bantal, jemarinya mencengkeram sprei kuat-kuat. Tubuhnya menegang, menuntut pelepasan yang sudah di ambang mata. Namun, belum juga badai itu pecah, ia merasakan berat tubuh suaminya mendadak limbung di atasnya. “Udah ya,” Rumi mendesah panjang, napasnya memburu cepat sebelum akhirnya hening. Kepuasan itu datang terlalu pagi bagi sang istri. “Mas? Kenapa...?” Nadia terperanjat saat merasakan suaminya langsung menarik diri begitu saja. Padahal, miliknya masih berdenyut hebat, terasa kosong dan perih karena gantung tak berujung. “Aku udah bilang, aku capek. Kalau aku capek, aku nggak bisa lama-lama,” ucap Rumi datar, nyaris tanpa rasa bersalah. “Tapi, Mas... aku belum—” “Lagian punya kamu longgar banget, becek, nggak enak,” potong Rumi tajam, telak menghujam jantung Nadia. Kalimat itu seketika membungkam mulut Nadia. Matanya panas, ia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat ia harus bertaruh nyawa melahirkan bayi prematur mereka yang akhirnya meninggal dunia. Prosedur medis yang darurat dan trauma fisik yang hebat meninggalkan bekas yang belum pulih sempurna di sana. Namun, bukannya dukungan yang ia dapat, Rumi justru menjadikan kekurangan fisiknya sebagai alasan untuk menghukumnya setiap malam. Rumi segera beranjak, melangkah ke kamar mandi tanpa menoleh lagi. Nadia hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang yang kini terasa seluas samudera. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada rasa gantung yang menyiksa tubuhnya. Nadia hanya bisa meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri sambil mendengarkan gemericik air dari kamar mandi. Rumi seolah hanya ingin membilas sisa keringatnya secepat mungkin. Sejak kehilangan bayi mereka setahun lalu, kamar ini memang bukan lagi tempat berbagi, melainkan sekadar tempat singgah yang sunyi. Bayangan masa kelam itu kembali membayang. Kelahiran prematur yang merenggut nyawa buah hatinya ternyata juga merenggut harga diri Nadia sebagai wanita. Kondisi fisiknya pasca melahirkan yang tak lagi sekencang dulu menjadi alasan Rumi untuk terus menjauh, seolah Nadia adalah produk rusak yang tak layak lagi dinikmati. Dua jam kemudian, suara dengkuran Rumi mulai mengisi kamar yang dingin. Pria itu tertidur pulas memunggungi Nadia. Nadia membuka mata, menatap punggung suaminya dengan tatapan nanar. Helaan napas lelah meluncur dari bibirnya. Ia bangkit dengan gerakan lunglai, meraih piyama untuk menutupi tubuhnya yang terasa hampa, lalu melangkah keluar mencari air di dapur. Langkah kakinya membawa Nadia ke ruang makan yang remang. Di sana, ia melihat sosok Vega, adik iparnya yang tampak berantakan dengan rambut acak-acakan. “Belum tidur, Mbak?” sapa Vega. Keringat masih tipis di dahi Vega, bahu piyamanya melosot memperlihatkan sisa-sisa kemesraan yang baru saja dia lalui. “Kebetulan haus,” sahut Nadia pelan, mencoba menyembunyikan wajah sembabnya. “Sama, aku juga. Mas Bagas malam ini bener-bener... Aduh, aku sampai puas banget dan—” “Vega, aku ke atas dulu ya,” potong Nadia cepat, tak sanggup mendengar lebih jauh. Bagas, suaminya Vega. Kakak suaminya yang tinggal bersamanya. Hatinya perih, seperti disiram cuka tepat di atas luka yang belum kering. Nadia berbalik, menaiki tangga dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Dia merasa sangat tidak berguna, merasa bahwa surga yang didapat Vega seharusnya bisa menjadi miliknya jika saja ia tak gagal melahirkan. Saat melewati ruang kerja Bagas, langkah Nadia terhenti. Ada cahaya kecil yang mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Rasa ingin tahu yang liar menuntunnya mendekat. Namun, baru saja tangannya hendak menyentuh pintu, suara desahan berat seorang pria pecah di dalam sana. Suara itu rendah, penuh gairah. “Ah… ah…” Nadia memberanikan diri mengintip lewat celah itu. Matanya membelalak, tangannya refleks membekap mulut agar tidak berteriak. Di dalam sana, di balik meja kerja, Bagas sedang bergulat dengan gairahnya sendiri, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa kuatnya stamina pria itu hingga Vega yang kelelahan pun belum cukup untuk memuaskannya. “Mas Bagas? Main sendiri?” bisik Nadia gemetar, hampir tak terdengar. Melihat kakak iparnya yang gagah itu kehilangan kendali atas tangannya sendiri, ada api yang mendadak menyambar di dada Nadia. Rasa haus akan sentuhan yang selama ini terkunci rapat kini mendidih, bertarung dengan rasa malu yang perlahan terkikis oleh kehampaan jiwanya. “Ah... ssshh,” Bagas mendesis, gerakannya semakin cepat dan tak terkendali. Nadia tak sanggup berpaling, rasa haus yang selama ini terkubur di bawah trauma kelahiran prematurnya mendadak bangkit dengan liar. Area sensitifnya yang selama ini terasa mati rasa kini berdenyut hebat. Tanpa sadar, Nadia sedikit memajukan tubuhnya, membuat pintu kayu yang sudah tua itu mengeluarkan bunyi gesekan halus yang mematikan. Gerakan tangan Bagas berhenti seketika. Pria itu menoleh tajam ke arah pintu, napasnya masih menderu dengan mata yang berkilat gelap penuh gairah yang belum tuntas. Nadia mematung, darahnya terasa mendesir kencang di balik pintu. Lalu pria itu melengang ke dalam menutup pintu sementara jantung Nadia berdetak cepat. Namun, melihat apa yang ada di depan matanya sekarang, sebuah tanya yang lancang mendadak muncul di kepala. Jika milik Bagas sebesar itu, apakah miliknya yang dicap 'rusak' oleh suaminya sendiri justru akan terasa pas?“Sel, kayaknya kita balik ya,” ucap Nadia sambil memegang erat cup kopi buatan Marsel yang masih tersisa separuh. “Loh, kok balik?” tanya Marsel heran, alisnya terangkat sebelah. “Biar lo punya banyak waktu sama Lily. Kalau dia lihat kita berdua di sini pas bangun, bakal panjang urusannya... nanti malah makin nempel sama Nadia,” ucap Bagas beralasan seraya memegang mug kopinya. “Oke deh kalau gitu. Tapi tolong pikirin bisnis kita ya, Gas!” seru Marsel sambil tertawa pelan, melangkah mengantar kedua sahabatnya itu menuju pintu depan. “Tenang aja, gue bakal hubungi lo. Dan nanti kita bahas tuntas,” ucap Bagas mantap, menepuk bahu Marsel ringan sebelum melangkah keluar. Mereka pun berpisah. Marsel segera berbalik dan bergegas menuju kamar untuk menyambut putri kecilnya, sementara Nadia dan Bagas berjalan santai menyusuri lorong menuju area lift sambil memesan taksi online lewat ponsel Bagas. Nadia menyeruput lagi kopinya menggunakan sedotan, membiarkan rasa manis dan gurihnya menye
Siang itu, suasana di apartemen Marsel terasa hangat saat pintu utama terbuka. Nadia berjalan sambil mendekap erat Lily di gendongannya, sementara Bagas menenteng tas perlengkapan, dan Marsel memimpin jalan sambil memegang kunci.“Oke... udah nyampe. Inilah tempat tinggal gue yang ala kadarnya...” ucap Marsel sambil membukakan pintu lebar-lebar untuk menyambut Nadia dan Bagas memasuki unit apartemen mewah nan modern khas lelaki metropolitan yang masih membujang.“Ketahuan banget jomblonya,” komentar Bagas santai sambil melangkah masuk, matanya langsung melirik ke arah ruang TV yang berdampingan dengan konsol PlayStation.“Sialan... Kan gue nggak jomblo lagi, sekarang ada anak nih...” bela Marsel sambil tertawa renyah. Ia kemudian mempersilakan mereka masuk dan menunjukkan kamar tidurnya. Di sudut ruangan, tampak sebuah ranjang anak berukuran sedang yang diletakkan berdampingan tak jauh dari ranjang utamanya.Nadia takjub begitu melangkah masuk ke dalam kamar. “Bagus juga nih ide kamu,
Mendekati pukul 11 siang, aroma harum masakan untuk makan siang sudah memenuhi area dapur dan meja makan. Nadia dan Bagas baru saja selesai merapikan hidangan di meja ketika pintu kamar tidur perlahan terbuka, menampilkan sosok Marsel yang keluar sambil menggendong Lily.“Wah... Yang tidur sama Daddy-nya nih...” ucap Nadia sambil tersenyum manis melihat Lily yang masih tampak mengantuk di dalam gendongan Marsel, rambut halusnya sedikit kusut dan sesekali balita itu menguap lucu.“Gimana tidurnya?” tanya Bagas ramah, menyandarkan tubuhnya di tepi meja makan seraya menatap sahabatnya itu.“Dia tidurnya nyenyak banget! Nggak rewel pas bangun liat Daddy-nya yang lagi jagain dia. Udah panik padahal, takut dia nangis, eh ternyata enggak nangis dan mau dipeluk...” ucap Marsel dengan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya, sambil membawa Lily mendekat ke arah meja makan.“Tuh kan! Apa aku bilang, Lily itu sebenernya udah paham dan nyaman banget sama kamu, Sel,” sahut Nadia me
"Iya, dua bulan lagi. Dan gue sama Nadia cuma ngerayain kecil-kecilan aja—keluarga, temen deket, dan lo pastinya," ucap Bagas sambil tersenyum lalu merapikan lagi posisi box berisi mainan itu agar terlihat makin rapi."Gue pasti datanglah... Nggak mungkin nggak. Nggak diundang aja, gue bakal tetep dateng kok!" balas Marsel mantap sambil melangkah ke dapur membawa gelas kotor bekas es krim mereka tadi."Datang ke mana?" tanya Nadia yang baru saja keluar dari kamar tidur Lily dengan langkah pelan."Nikahan kamu, Nad..." seru Marsel dari arah dapur."Siapa yang ngundang?" tanya Nadia jahil, lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa, bersantai menikmati sisa makanannya dengan helaan napas lega karena si kecil sudah lelap."Udah gue bilang, mau diundang atau enggak, gue tetep dateng!" tegas Marsel yang baru kembali dari dapur, membuat Nadia terkekeh geli mendengarnya."Jagain Lily sana, belajar lagi jadi Daddy, biar nggak kaku ngasuh anak," ledek Bagas yang kemudian duduk bersandar rapat deng
Bau menyengat obat dan suara desing alat bor gigi menjadi pelarian bagi Nadia pagi ini. Di kliniknya yang bernuansa serba putih dan minimalis, dia bukan lagi menantu yang gagal. Di sini, dia adalah Dokter Nadia, wanita yang memegang kendali penuh atas rasa sakit pasien-pasiennya. Pekerjaan ini a
“Nad, kenapa kamu kabur gitu aja? Nggak baik kayak gitu...” ucap Rumi sesaat setelah ia menutup pintu kamar rapat-rapat.“Mas, kamu dengar omongan Mama ke aku tadi kayak apa coba? Aku sakit hati, Mas. Dan ini bukan pertama kalinya mereka bahas, mereka sering mengulanginya dan aku bosan!” ucap Nadia
“Aah...” Desahan tertahan lolos dari bibir sensual Nadia saat ia memejamkan mata, membiarkan fantasi liar itu menguasai logikanya sepenuhnya. Satu tangannya sibuk memainkan bagian dada, sementara tangan yang lain turun perlahan, meraba perut ratanya yang kencang hingga jemari itu menyentuh lipatan
“Terima kasih, Mas Bagas.” ucap Nadia. Ia memberanikan diri membalas tatapan Bagas sembari terus mengunyah makanannya perlahan. Ada keberanian baru yang muncul di matanya, sebuah pemberontakan kecil terhadap rasa hampa yang selama ini ia telan sendiri. Ia menelan kentangnya seperti kaca. Kak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak