LOGINXincere Calliope Monroe was a Psychology student who has a captivating look that was greatly noticeable. She had a childhood neighbor named Zachary Flynn Williams, he was a well-known basketball player at the Psalms Eastern University. They used to go to the same school together since first grade. His undeniable looks were able to get any girl he wanted. He was secretly in love with her, but used to be so mean to her. Will they let anyone come between them, or will they finally accept and admit their feelings for each other to prove that after all, it's going to be the both of them?
View More"Mau kemana?" Pria di sampingnya segera merasa tersinggung saat Liona berdiri dari posisi duduknya.
"Aku ke toilet sebentar."
Dirinya masih jengah dengan kedua temannya yang beberapa jam lalu memaksanya datang ke tempat itu, sebuah klub mewah yang mereka tahu adalah milik Arka Saputra, atasan Liona yang merupakan incaran salah satu temannya, Livy. Bukan rahasia lagi jika temannya itu sangat menggilai pria yang duduk di sampingnya sejak masa kuliah dulu.
"Aishhh baru minum beberapa teguk saja aku sudah pusing." Liona memukul kepalanya perlahan mencoba untuk tetap sadar sepenuhnya.
"Butuh bantuan?" Liona menatap cermin yang memperlihatkan sosok pria di belakangnya, dengan terkejut ia membalikan tubuhnya menghadap pria itu."Ini toilet wanita, kamu salah masuk." Liona memegang pegangan wastafel demi menumpu berat badannya yang mulai limbung.
"Aku hapal semua kejadian di tempat ini Liona, kamu lupa klub ini milikku?"
Jadi dia masuk dengan sengaja? Liona tak mau berpikir keras, ia sudah terlalu lama meninggalkan teman-temannya.
"Aku tahu, kalau begitu permisi." Baru saja melepas pegangan, Liona limbung lagi yang segera mendapat bantuan dari Arka yang tepat berada di depannya.
"Sepertinya kamu butuh bantuan, sini aku bantu." Tangannya masih terikat di pinggang Liona yang membuat pemilik tubuh itu tidak nyaman.
"Aku bisa jalan sendiri" Liona melepas tangan Arka dan berjalan sendiri.
"Na, kenapa lama banget, liat nih si Meta udah mabuk parah. Kayanya kita harus segera bawa dia pulang deh." Livy menunjuk teman di sampingnya yang sedang meracau tidak jelas.
"Kalian sudah mau pulang?" Arka mendengar percakapan mereka.
"Iya, kayaknya kita harus pulang sekarang. Padahal aku masih betah disini." Livy jujur.
"Na, lo bisa pulang naik taxi gak? Soalnya tempat lo paling jauh di antara kita bertiga. Kalau gue gak segera nganterin Meta, bisa- bisa gue marahin bang Andri."
Selalu seperti ini setiap mereka pergi, Liona ingin sekali memprotes tapi kalimat Livy memang benar juga.
"Oke gakpapa, gue bisa pulang sendiri." Liona membantu Livy membopong tubuh Meta yang sudah tak sadarkan diri sampai ke mobil.
"Na, thanks buat malam ini ya. Karena lo gue bisa ketemu Arka." Senyum sumeringah dari lawan bicaranya membuat Liona sedikit menghangat, bantuan kecil yang ia berikan sangat berarti untuk temannya.
Santai aja, itu bukan apa-apa kok.
Sudah hampir setengah jam Liona berdiri tapi tetap tak menemukan taksi yang lewat di dekatnya, ponsel yang sedari tadi dalam genggamannya sudah lama mati karena kehabisan daya.
"Kenapa malam ini begitu sial, aku ingin segera tidur." Liona berjongkok sewaktu-waktu, kakinya sudah sangat pegal.
"Kenapa belum pulang, bukannya teman kamu udah pulang dari tadi?" Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah Arka.
"Aku lagi nunggu taksi." Liona berdiri dari posisi jongkoknya.
"Hampir tidak ada taxi yang lewat sini, apalagi malam begini. Ayo aku antar." Arka berbaik hati memberi tumpangan.
"Tapi_"
"Ayo, aku antar sampai rumah. Aku bukan orang asing." Arka meyakinkan.
Liona melirik selai di tangannya, hampir selai satu pagi. Akhirnya Liona pasrah menerima tawaran Arka untuk masuk ke mobilnya."Kamu sering datang ke klub milikku?" Arka melirik sekilas, wanita di sampingnya yang selalu terlihat ragu saat mengobrol.
"Tidak, ini pertama kali." Liona jujur.
"Pantas saja."
"Hah? Kenapa?"
"Kamu amatir saat minum tadi." Liona tertunduk, entah malu atau apa tapi ia membenarkan kalimat pria di sampingnya.
"Arka, belok kanan." Liona sadar saat Arka memilih jalur yang bersebrangan.
“Kamu pindah kosan?” Arka sempat menyernyit.
"Dari mana kamu tahu?" Setahu Liona, belum ada yang tahu kepindahannya yang baru-baru ini selain temennya.
"Hanya menebak." Balas Arka data.
"Jadi kamu benar-benar baru aja pindah? Kenapa sama tempat lama kamu?"
"Aku hanya merasa kurang aman."
Liona mengarahkan perjalanan mereka ke sebuah share house yang lumayan besar, biasanya di satu rumah di antara beberapa orang. Pemilik share house menyewakan rumah karena sudah lama menetap di rumah barunya.
"Kamu tinggal disini? Ini rumah keluargamu?" Arka penasaran saat pertama kali melihat rumah yang Liona huni.
"Ini share house yang di sewakan, ada beberapa orang yang tinggal," jelas Liona singkat.
"Apa semua penghuninya wanita?"
Liona mulai merasa jengah dengan banyak pertanyaan yang Arka lontarkan, Liona pikir Arka seharusnya tidak terlalu banyak tahu tentang kehidupannya yang tidak akan menjadi hal penting untuk dirinya.
"Ada satu pria, dan dua wanita. Arka, terima kasih tumpangannya. Aku pamit" Liona hendak membuka pintu mobil namun Arka mencekal tangannya.
"Bukannya justru tidak aman berada satu rumah dengan pria di dalamnya? Dia bisa saja pria jahat."
"Aku udah ketemu dia, dia pria baik. Arka, ini udah malam. Aku mengantuk, bisakah aku pergi sekarang?" Mata Liona berhadapan dengan pegangan Arka di tangannya yang segera lepas.
Sedikit berawan tapi tak berani hujan. Langit terlihat sedang dalam mode romantis. Liona tanggap anggun di lobi kantor yang baru saja menjadi tempat kerjanya beberapa bulan yang lalu setelah resmi pindah dari kerjaan sebelumnya.
"Liona, kamu panggil pak Arka ke ruangannya." Marko yang merupakan kepala di divisinya memanggil Liona yang baru saja mendudukan diri di kursi.
"Sepagi ini?" Bahkan Liona belum menghidupkan komputernya dan dia sudah harus menemui Arka di pagi buta, jam kerja baru saja di mulai lima menit lalu.
"Aku juga nggak tau, mungkin ada keperluan mendadak. Datang saja, sebelum dia marah," balas Marko bercanda.
Dua ketukan cukup untuk membuatnya masuk ke ruangan Arka, derap langkahnya menarik perhatian pria yang sedang fokus dengan komputernya beberapa detik lalu.
"Ada apa Bapak memanggil saya." Meski panggilan formal itu selalu membuat Arka jengah, tapi Liona melarang untuk memanggilnya dengan formal di jam kerja.
"Ikut denganku untuk bertemu kali ini."
"Tapi Nadine_"
"Aku tidak akan menyuruhmu kalau dia ada, pergi bersiap dalam lima menit. Aku menunggu di lobi." Liona bersungut dalam hati, kenapa harus dia. Perusahaan tidak harus membayarnya lebih karena pekerjaan ekstra yang dia lakukan.
Liona membuka laptop milik Arka untuk mempersiapkan tayangannya sebentar lagi. Namun matanya tertarik pada nama folder yang serupa dengan namanya dan sengaja mengklik folder tersebut.
"Arka, apa semua ini?"
XINCERE CALLIOPE'S POINT OF VIEWS "It is you again, crying over the same man. Do you want me to punch him a big-time?" I looked in the direction of someone who had just spoken, but I could barely hear him since my vision was too blurry as my eyes began to well with tears as I try hard to hold them back. I was kneeling again in the same chapel where I used to go. I abruptly sniffed and wiped my nose and tears on the back of my hand, and suddenly realized that my handkerchief was too wet now that I could actually squeeze it because of tears. "Louis?" He smiled before offering his handkerchief to me. I burst into crying as I saw how he managed to give me the same and genuine smile he gave me from the last time I saw him. "What's the problem? Did I say anything wrong? I am
ZACHARY FLYNN'S POINT OF VIEW "Bro, have you seen "this"?" Justice handed me his phone and I saw some pictures of me with Beatrix. I ran my fingers over my hair and tightly closed my eyes out of frustration, knowing that Xincere might probably see it already as those pictures were uploaded on the official webpage of the university. I furrowed my eyebrows as wondering how they made those photos as if we were just the two of us who were eating together, as I remember it was the night when we won on our first game, all the coaches decided to treat us for lunch. Beatrix had shared a table with us, she seated me beside me, but after I answered the call of my Mom I decided to seat beside our coach since I saw how my teammates together with some of the volleyball players had a good time. They were too noisy. I even saw some shots of pictures when she was just giving me a bot
XINCERE CALLIOPE'S POINT OF VIEW The buzzing sound of my alarm clock was gradually awoken me this morning, I used to have alarm clocks that served as a wake-up call, those were given by Zac, probably because he was hoping that he would not need to wait for me for that long. My gaze was shifted on the neutral color blinds of my room that made me barely see the sunlight while squinted. I turned off my warm white lampshade that was on my side table before gently rubbing my eyes while stretching out my arms. I uttered a short prayer before reading the Bible that was a gift by my Mom, and I was properly seated down on my bed while still yawning. I went straight in the direction of my window and put up the binds, and I was amazed how the sunshine through my windows. Looking at the direction of my comfort room, made me want t
ZACHARY FLYNN'S POINT OF VIEW It was my fourth repetition in doing a hundred push-ups. Xincere once asked me if why I must do intense workouts though, I already achieved what I want. Xincere did not want someone with too much bulky muscle, so I just maintain my just-enough abs and biceps. Since I used to play basketball, one and a half-hour was enough for a workout once a day. "Man, we will be having our game next week against the Engineering department," Justice uttered while lifting up the 30 pounds on his both hands. I felt the dry towel on my shoulder that was casually thrown by Nate, who was on the treadmill. I sat as I was catching my breath. There were lots of some dudes who tapped my shoulder as they passed by where I was seating. I nodded my head in acknowledgment. I was checking my phone expecting a text mess
XINCERE CALLIOPE'S POINT OF VIEW It's been a long time since the last time I came to their house. I suddenly noticed the lavish interior in their house, Zac once told me that it was
ZACHARY FLYNN'S POINT OF VIEW "I will just take a shower quickly, just give me a moment." I was about to run going to my locker room when she held my wrist to stop me. I turned my ga
XINCERE CALLIOPE'S POINT OF VIEW "So, what did you say?" Mom and Geli were carefully listening and seemed like waiting for me for my answer. I deeply sighed and suddenly regret that I had told them about it. "I told me that he did not pressure me to gi
ZACHARY FLYNN'S POINT OF VIEW "You'll go with me later, right?" I just rolled my eyes as I saw her thinking as if she had already forgotten about it. But she laughed a bit before sha












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore