Share

Bab 124: Tidak Setuju

Penulis: Ayusqie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-17 23:54:27

**

“Gending..,”

Aku tersentak, cepat menoleh ke belakang. Ternyata, Ibu Suri yang menyebut namaku barusan.

Pantas aku tidak mendengar suara langkah kaki, karena Ibu Suri ini mendatangi aku dengan menggunakan kursi rodanya, tentu saja.

“Selamat pagi, Bu.” Ucapku sambil bangkit berdiri, tapi segera ditahan oleh Ibu Suri dengan isyarat tangan dan satu senyumnya yang berwibawa.

“Duduk saja, Gending. Jangan sungkan.”  

Aku kembali duduk.

“Hai, Venus,” Ibu Suri menyapa Venus. Disahut dengan satu gonggongan kecil dan kibasan ekor yang lincah. Venus pun berjalan mengelilingi Ibu Suri.

“Venus sudah kamu kasih makan, Gending?”

“Eee.., cuma sepotong roti, Bu. Kebetulan makanannya habis.”

“Oh, begitu? Ya sudah, nanti saya suruh Pak Budi membeli lagi.”

Aku mengangguk. Kami berdua segera terlibat dalam perbincangan yang santai. Ada b

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 235: Atas Nama

    **“Suiiiitt..!”Setelah bersuit itu Gending kemudian menunggu, sembari berharap ada respon dari arah kandang anjing di pojok halaman sana.Beberapa detik kemudian, ternyata respon itu tidak ada. Ia mengulangi panggilan suitnya.“Suiiitt..!”Gending pun menunggu respon yang ia harapkan. Ternyata, tidak ada juga.“Geblek!” Omel Gending. Ia lantas memanggil langsung dengan suara.“Venus..!”Kali ini anjing berdarah campuran itu bangkit dan keluar dari kandangnya yang nyaman.Guk!“Ke sini kamu..!” Panggil Gending.Gukk..!Dengan langkah yang sedikit terhuyung-huyung karena kantuk Venus pun berjalan terburu-buru menuju Gending.“Good boy,” puji Gending setelah Venus sampai di depannya.“Sini, duduk sini,” Gending mengarahkan Venus untuk duduk di samping kursinya.Venus pun menurut, dengan suka cita t

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 234: Kok Bohong Sih

    **Malam hari, di rumah Acroplis..,“Bagaimana kondisi Mikhail, Roh?” Tanya Gending pada Iroh lewat video call.Iroh menjawab dengan nada yang prihatin.“Demamnya sih sudah mulai turun, Mas. Tapi, batuknya masih belum reda.”Di rumahnya sana Iroh kemudian membawa ponselnya ke kamar, tepatnya menuju ke sosok Mikhail yang terbujur di kasur. Ada sebuah kain kompres yang menempel di keningnya.Gending mendekatkan wajah pada layar ponselnya sendiri, memperhatikan penampakan Mikhail dengan seksama. “Itu.., dia.., sedang tidur?”“Iya, Mas. Tapi, kalau tiba-tiba batuk, dia suka terbangun sendiri.”“Wajahnya kelihatan pucat, Roh.”“Iya, badannya juga semakin kurus. Padahal, baru beberapa hari saja dia sakit, bobot badannya langsung menurun drastis.”“Beberapa hari kamu bilang?” Tanya Gending tiba-tib

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 233: Si Penjaga

    **“Angkuh sekali ini manusia!” Barok bersungut-sungut dalam hati.“Siapa sih dia..??”Lelaki berjanggut lanjut bertanya,“Sesuai order yang kamu bilang itu, maksudnya bagaimana?”Barok tersenyum sebentar, jawabnya pula dengan balas bersikap angkuh. “Misalnya Bapak menyuruh saya menghajar seseorang. Apa yang Bapak mau sebagai barang bukti? Satu jarinya? Satu telinganya?” “Wah, sadis juga kamu.” Komentar lelaki berjanggut.Barok menoleh pada Niko yang juga terhenyak mendengar kata-katanya itu. Akan tetapi, Niko sontak menjaga gengsinya dengan mengangkat dagu sedikit.“Ah, saya tidak sadis kok. Saya tetap seperti manusia kebanyakan yang punya belas kasihan. Makanya, kalau saya mau menghabisi orang, saya selalu minum obat.”Obat yang dimaksud Barok di sini adalah narkoba, tentu saja.“Kamu bisa memakai beceng—pist

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 232: Lelaki Berjanggut Pendek

    **“Di lounge kelas bisnis itu Bapak punya janji dengan siapa?”“Pak Charles.”“Baik, dengan Pak Charles.”Sang resesionis pun mengalihkan pandangannya sedikit ke samping. Ia mencermati layar komputer di depannya untuk memeriksa sebuah tabel di sistem manajemen tamu.Beberapa detik kemudian, sang resepionis kembali menatap Barok, memberi konfirmasi.“Baik, Pak. Pak Charles berada di lounge Diamond 3.” Selanjutnya dengan diantar seorang petugas hotel Barok pun berjalan menuju area lounge kelas bisnis.Tak lama kemudian Barok dan petugas hotel itu sampai di depan sebuah pintu yang dalam keadaaan tertutup.“Ini lounge Diamond 3. Silahkan, Pak.” Petugas hotel kemudian berbalik dan meningggalkan Barok.Sempat canggung sebentar, Barok kemudian mengetuk pintu. Sembari menunggu pintu di depannya terbuka, Barok kembali menduga-duga.

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 231: Barok Punya Janji

    **"Saya tahu beberapa waktu belakangan ini kamu menyelidiki saya. Iya kan?”Mata Gending sampai membeliak membaca pesan ini. Bersamaan dengan itu darahnya terasa berdesir, dan jantungnya berdegup lebih kencang.Ini pasti Charles! Batinnya.Beberapa detik Gending terus mematung. Pikirannya disibukkan oleh skenario-skenario yang berserabutan di mana masing-masing dari pilihannya nanti bisa membawa resiko.Baiklah, Gending akan berpura-pura untuk menutupi usaha penyelidikannya.“Maaf ini siapa?” Balasnya dalam pesan.Tak lama kemudian, kliingg! Pesan dari nomor asing barusan pun datang pula. “You must know who I am—kamu pasti tahu siapa saya.”Nah, betul dugaan Gending. Memang dia adalah Pak Charles. Maka, simaklah, dan baca ulanglah isi pesannya.Bukankan isinya menyiratkan bahwa Pak Charles itu memang mempunyai rahasia yang sedang ia tutupi d

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 230: Kabar Buruk

    **Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasa. Miss Widya bisa bekerja di ruangan kantornya dengan tenang.Ia tidak perlu merasa khawatir, karena ia percaya bahwa Gending bisa mendampinginya dalam keadaan yang bagaimana pun.Pukul sepuluh, Gending sedang berada di ruangan Mbak Vera, membicarakan sebuah agenda untuk Miss Widya yang belum juga mendapatkan keputusan final.“Jadi, si calon costumer ini mengundang Miss Widya untuk berkunjung ke kantornya, juga ke site pabriknya langsung.”“Di mana, Mbak?”“Di Cilegon.”“Untuk apa?”“Yang pasti, untuk show of force, semacam unjuk pamer lini bisnis, begitu. Ini lho pabrik kami. Ini lho barang kami. Ini lho muatan yang bisa kalian angkut dengan kapal kalian.”Gending menangguk-angguk. Mbak Vera melanjutkan.“Jadi, mereka meminta penawaran kerja sama untuk jangka panjang.”“Bukankah Mi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status