Mag-log inTiba-tiba Theresia tersenyum dengan begitu ceria dan menggoda. “Tuan Morgan memang enak diajak kompromi!”Morgan tidak mengindahkan sindiran Theresia. Dia berkata dengan tersenyum, “Aku sudah hampir sampai perusahaanmu. Aku tunggu kamu di lantai bawah.”Theresia merasa sedikit kaget, tetapi dia segera mengangguk. “Segera.”Setelah memutuskan panggilan, Theresia membereskan barangnya, lalu bersiap-siap untuk pulang kerja.Saat Ingga memasuki ruangannya, dia pun merasa kaget ketika melihat Theresia sedang membereskan barangnya. Ingga berkata, “Bos, hari ini kamu pulangnya cepat sekali?”Suasana hati Theresia sedang sangat bagus. “Iya, bukannya sudah hampir jam pulang kerja?”Ingga menyipitkan matanya dan berkata dengan tersenyum, “Normal bagi orang lain untuk pulang kerja tepat waktu, tapi terlalu aneh bagi Bos karena nggak lembur hari ini. Seperti ada keajaiban saja, jangan-jangan kamu lagi pacaran!”Theresia menunduk untuk membereskan dokumennya. Dia bertanya dengan acuh tak acuh, “Gim
Agnes sungguh merasa emosi. Dia menghubungi Jovita, tetapi panggilan tidak kunjung diangkat.…Saat Ingga kembali ke perusahaan, kebetulan klien yang mencari Theresia sudah pergi. Ingga memasuki ruang kerja, lalu menceritakan semua yang terjadi di perusahaan Keluarga Manthana dan isi percakapannya dengan Roger kepada Theresia.Sepertinya Theresia bisa menebak siapa yang ingin melawannya. Dia pun bertanya, “Nggak turun tangan, ‘kan?”“Nggak. Mereka memang ingin pukul aku, tapi aku bilang aku bakal lapor polisi. Mereka pun ketakutan hingga pulang!” kata Ingga dengan bangga.“Bagus sekali. Keselamatan itu paling penting selama berada di luar, apalagi kamu itu perempuan. Jangan bersikap keras terhadap lawan,” kata Theresia.“Sayang sekali, mereka malah berhasil melarikan diri!” kata Ingga dengan emosi.“Memangnya kenapa kalau kamu bisa menangkap mereka? Kalau mereka bilang mereka salah kenal orang, kamu juga kehabisan akal,” kata Theresia dengan tersenyum, “Oke, jangan marah lagi. Hari ini
Saat perjalanan pulang ke perusahaan, semakin dipikir-pikir, Ingga pun merasa semakin marah saja. Dia menelepon Roger untuk memberi tahu semua yang terjadi di perusahaannya tadi.Roger berkata dengan kaget, “Aku tidak suruh orang untuk cari There!”Ingga berucap dengan gusar, “Jadi, ada orang yang sengaja ingin menjebak bos kami? Untung saja, hari ini bos kami ada urusan mendadak, makanya aku gantiin dia kemari. Kalau nggak, mereka pasti akan kesampaian!”Roger terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada dingin, “Aku akan selidiki masalah ini, lalu beri penjelasan kepada There.”Roger berpesan lagi, “Beberapa hari ini, kamu suruh There lebih hati-hati. Beri tahu There, kalau ada urusan, aku akan langsung telepon dia, tidak akan melewati asisten mana pun.”“Oke!”…Setelah panggilan diakhiri, Roger segera menghubungi Jovita, “Ibu, kamu lagi di mana?”Jovita sedang bermain kartu. Dia sedang merasa sangat gembira karena menang banyak hari ini. “Aku lagi main kartu sama temanku. Ada apa?”Ro
“Lho, kenapa Nona Theresia malah marah?” kata Ethan dengan tersenyum sinis, “Semalam kamu bersulang kepadaku. Kamu sangat lembut ketika nyanyi bareng aku semalam!”Brevi yang berada di samping tertawa terbahak-bahak.Seseorang membuka pintu ruang tamu. Tidak lama kemudian, orang-orang berkumpul untuk menyaksikan keramaian, bahkan ada yang memotret dan merekam.Raut wajah Ingga sungguh kelihatan gusar. “Kalau kalian sembarangan bicara lagi, nanti aku akan lapor polisi buat tuntut kalian sudah melakukan pemfitnahan!”“Kamu bilang siapa yang memfitnah?” Ethan tersenyum dingin sembari menunjukkan ekspresi tidak takutnya. “Lebih baik Nona Theresia segera lapor polisi saja. Bisa jadi, kelak reputasimu di Kota Jembara akan semakin besar lagi. Kamu itu hanya seorang humas. Kamu berbisnis dengan mengandalkan kecantikanmu untuk menggoda pria. Jangan kira kita semua tidak tahu!”Orang di luar ruangan sana mengirim video kepada Agnes. Agnes pun dengan puas mengirimnya kepada Jovita. Setelah membuk
Pada hari Kamis, Theresia menerima sebuah panggilan dari asistennya Roger. Nada bicaranya terdengar sungkan. “Nona Theresia, aku asistennya Tuan Roger. Kata Tuan Roger, kontrak kerja sama kedua perusahaan kita sudah hampir jatuh tempo, jadi butuh tanda tangan lagi untuk melanjutkan kontrak.”Theresia mengira Roger sedang sibuk, itulah sebabnya asisten Roger yang menghubunginya. Setelah memeriksa tanggal kontrak, memang sudah hampir berakhir.“Oke, apa ada yang perlu ditambahkan lagi dalam kontrak baru?” tanya Theresia.Asistennya Roger membalas, “Ada. Apa Nona Theresia bisa ke perusahaan sekarang? Kita bahas secara langsung!”“Boleh.” Theresia melihat jam sekilas. “Aku bisa sampai perusahaan kalian sebelum jam sebelas.”“Oke. Kamu bisa telepon aku setelah sampai nanti,” kata asisten dengan ramah.Theresia mengakhiri panggilan, lalu mencari keluar kontrak kerja sama Perusahaan Manthana. Setelah membaca dengan saksama, dia pun berdiri berencana pergi ke perusahaan Roger.Saat keluar ruan
Setengah badan Theresia merinding. Dia merasa arwahnya sudah bukan miliknya saja.…Di area ruangan bawah tanah vila ini, efek kedap suara di bioskop pribadi ini paling bagus. Mereka pun bisa bersikap semena-mena, tanpa perlu berpikir terlalu banyak.…Saat kembali ke Kediaman Keluarga Angsara, langit sudah gelap. Theresia memberikan hadiah yang dia beli tadi kepada Aska dan yang lain.Jemmy tersenyum cerah. “Kamu juga beli untuk aku?”Aska mengambil pakaiannya dengan ekspresi bangga. “Kamu bisa dapat juga berkat aku!”Jemmy tidak perhitungan dengannya. Lagi pula, dia tahu dia bisa mendapatkan hadiah berkat siapa.Julia melihat Theresia membeli hadiah untuk dirinya. Dia pun merasa sangat gembira. “Morgan, sudah merepotkanmu.”Morgan melirik Theresia sekilas. Dia berkata dengan tersenyum, “Nggak, sudah seharusnya.”Theresia berjalan ke sana, lalu membantu Julia untuk memakaikan gelangnya. Morgan berinisiatif untuk berkata, “Cocok sekali dengan Bibi Julia.”Julia mengangkat pergelangan
Pada jam sembilan malam, di lantai delapan Kasen.Jason, Bondan, dan yang lainnya tahu hari ini adalah hari ulang tahun Tandy. Awalnya mereka mengira Reza akan menemani Tandy di rumah. Siapa sangka setelah memasuki ruangan, mereka menyadari bahwa Reza sedang duduk di dalam sambil meneguk alkohol.Terl
Kelly merasa tidak leluasa lantaran terus ditatap Bondan. “Aku nggak pintar mainnya. Aku takut kamu bakal kalah nantinya.”Bondan langsung menunjukkan ekspresi terharu. Dia menepuk-nepuk dadanya sambil berkata, “Ini pertama kalinya ada orang yang begitu perhatian sama aku. Dik, kamu memang baik sekal
“Terima kasih, sampai jumpa!”Setelah Jason mengakhiri panggilan, dia sengaja tidak berbicara. Dia ingin melihat Reza bisa bertahan berapa lama.Ternyata tidak sampai tiga menit, Reza pun bertanya, “Dia mau ke mana?”“Siapa?” Jason berlagak kebingungan.Reza memelototi Jason dengan galak.Jason langsung
Widya mengangguk sambil membalas senyumannya. “Ini adalah teh yang baru dipanen tahun ini, coba kalian cicipi bagaimana rasanya?”Kelly menyesap teh, lalu mengatakan, “Wangi sekali! Dulu ada pohon osmanthus di depan rumahku. Jadi, tiap tahun ibuku bakal jemur kelopak bunganya, lalu bikin kue osmanthu







