LOGINHanya karena tidak sengaja mendengarkan percakapan pribadi Axel Marcelo Davis, atasannya yang gila, Anasya Raveena mendadak diakui sebagai kekasih sang atasan! Sebagai imbalan, pria itu bersedia memberikan kompensasi. Masalahnya, semakin lama sandiwara itu berlangsung, semakin sulit Nasya membedakan mana yang pura-pura... dan mana yang benar-benar jatuh cinta. Apakah keputusan menerima permintaan atasannya itu adalah pilihan yang tepat atau ia justru sudah dalam masalah besar sejak masuk ke dalam dekapan atasannya itu?
View More“Aku mau membatalkan perjodohan ini.”
Suara Axel–CEO Davis Grup terdengar begitu ringan. Seolah kalimat yang keluar dari mulutnya itu bukan sesuatu yang besar baginya. Sayangnya, bagi Anasya Raveena–sekretaris Axel, yang baru saja mendorong pintu ruangan CEO, langsung membeku di tempat mendengar kalimat itu. Reflek tangannya yang memegangi gagang pintu dan hendak mendorong pintu, langsung terhenti. “Apa kamu gila membatalkan perjodohan ini?” Suara wanita terdengar begitu kencang. Karena mereka sedang melakukan panggilan video, jadi Nasya–panggilan akrab Annasya Raveena, mendengar pembicaraan itu. Masalahnya, pembicaraan itu terdengar pembicaraan pribadi, jadi rasanya Nasya tidak berani mendengarkan semua itu. ‘Aku masuk atau tidak?’ Nasya benar-benar bingung dalam situasi ini. Pembicaraan ini tak ada urusan pekerjaan sama sekali. “Anggap saja aku gila.” Suara Axel kembali terdengar. Ia yang duduk di kursi kebesarannya, tampak tenang saja. “Dengar, Mama dan Papa akan marah jika mendengar semua ini. Terlebih kamu tidak punya alasan tepat menolak perjodohannya ini.” Suara wanita yang Nasya ketahui jika itu adalah Bu Aletha—kakak Axel terdengar begitu kencang. Membuat Nasya sedikit ketakutan. “Dari tadi aku sudah bilang bukan? Aku tidak menyukainya, Kak.” Nada suara Axel terdengar kesal. Nada suaranya pun juga sudah meninggi, mengimbangi lawan bicaranya. Mendengar Axel berteriak memang bukan hal baru bagi Nasya. Itu sudah seperti makanan sehari-hari. Apalagi jika sedang rapat suaranya bisa menggelegar satu ruangan. Di situasi seperti ini, mengantarkan dokumen ke ruangan Axel bukanlah pilihan tepat. Mengingat Axel sedang berdebat dengan kakaknya. Akhirnya, Nasya memutuskan untuk mengurungkan niat mengantarkan dokumen. Ia mundur dan menarik pintu untuk menutupnya. Sayangnya, tepat saat itu, ia yang melihat ke arah Axel, tak sengaja saling berpandangan. Axel menatap ke arah pintu dan melihatnya di sana. ‘Aduh! Aku ketahuan.’ Jantungnya berdegup kencang. Ia takut jika sampai Axel marah karena baru saja ia mendengarkan obrolan pribadi pria itu. “Sayang, sedang apa kamu di sana?” Nasya tercenung, mengerjapkan bola matanya beberapa kali dan memutar kepalanya, memastikan bahwa mungkin ada orang lain dan Axel sedang berbicara pada orang itu. “Sayang, kenapa diam saja?” Suara Axel terdengar lagi. “Sayang? Siapa ‘sayang’ yang kamu maksud, Axel?!” Suara Bu Aletha juga terdengar lagi, lebih kencang daripada sebelumnya. Nasya menelan salivanya. Namun, tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan ini. “Saya, Pak?” Tetapi pertanyaannya tidak dijawab Axel, alih-alih atasannya itu kembali berkata, “Masuk, Sayang. Tepat sekali, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Axel menatap Nasya, bibirnya tersenyum tapi tatapan matanya menyeramkan, seakan ada laser jika Nasya tidak menuruti perintah Axel. Tak ada pilihan lain. Nasya harus masuk. Dengan langkah berat, Nasya masuk ke ruangan CEO. Udara dingin di ruangan CEO membuatnya semakin gemetar. Sepanjang langkahnya menuju ke meja kerja Axel, pandangan Nasya terus tertunduk. Ia tak berani menatap atasannya itu. Namun, ekor mata Nasya menangkap jika Axel sedang memerhatikannya. Ia memandangi Nasya dari kepala hingga ke ujung kaki. “Pak, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mendengarkan obrolan pribadi Anda.” Nasya menatap Axel dengan wajah polosnya. Ia berharap jika Axel akan memaafkannya dan melepaskannya. “Tidak masalah jika kamu dengar.” Mata Nasya berkedip beberapa kali untuk menyadarkan dirinya dengan apa yang baru saja didengarnya. ‘Jika tidak masalah mendengar, kenapa aku ditarik?’ Pertanyaan itu berputar di kepala Nasya. Ia bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang. “Axel, kamu dengar aku? Kenapa kamu justru pergi?” Suara Bu Aletha kembali terdengar. Jantung Nasya semakin berdegup ketika matanya menangkap sepasang sepatu pantofel mengilap di depan kakinya. Dan belum sempat Nasya mencerna yang terjadi, tangannya sudah ditarik Axel. Terlalu cepat, hingga Nasya terduduk di atas pangkuan Axel di kursi kebesarannya. Refleks Nasya melingkarkan lengannya di leher Axel dan menutup mata. “Aku di sini, Kak.” “AXEL, APA YANG KAMU LAKUKAN?! SIAPA WANITA ITU?!” Mendengar teriakan dari Bu Aletha, Nasya berjengkit kaget, dan semakin membuat Nasya memejamkan matanya. Kini, tubuhnya ikut berdesir hebat ketika Nasya merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya, dan satu tangan besar lainnya membelai sisi wajah Nasya. “Axel, jelaskan padaku. Sekarang!” “Apa lagi yang perlu dijelaskan, Kak?” Axel menjawab dengan santai. “Sudah jelas aku tidak bisa melanjutkan perjodohan karena aku sudah memiliki kekasih.”Mendapati pertanyaan itu Axel diam. Ia tampak memikirkan hal itu. Namun, sesaat kemudian ia membelai lembut rambut Nasya. Berusaha menenangkan kekasihnya itu. “Aku akan membujuk mama. Jangan khawatir.” Walaupun Axel berusaha untuk menenangkannya, tetap saja Nasya tidak bisa tenang. Ia masih kepikiran dengan orang tua Axel yang tidak menyukainya. Jika dulu, Nasya tenang dan tidak memikirkan hal itu karena yakin kelak hubungannya dengan Axel akan berakhir. Berbeda dengan sekarang, ia benar-benar kekasih Axel. Tidak lagi bisa menghindar dari kebencian dari Mama Helena. Karena sudah larut malam, akhirnya Axel pamit untuk pulang. Ia tidak mau membuat Nasya tidak nyaman dengan berada di apartemen terlalu lama. “Nanti aku akan hubungi.” Axel mendaratkan kecupan sebelum pulang. Nasya mengangguk. Melepaskan kekasihnya itu untuk pulang.Namun, baru beberapa saat Axel keluar, tiba-tiba suara ponsel Nasya berdering. Saat Nasya mengecek ternyata itu adalah Axel. Pria itu melakukan panggilan
Sorenya Nasya sengaja membeli bahan-bahan masakan untuk dipakai membuat makan malam nanti bersama Axel. Rasanya jantung Nasya begitu berdebar ketika membayangkan jika ia akan makan malam ini bersama Axel. Usai membeli bahan masakan, ia langsung pulang. Sesaat setelah sampai di apartemen, Axel datang.“Kamu sudah beli bahan masakan ternyata.” Axel melihat beberapa bahan masakan di atas meja dapur. “Iya, tadi aku sekalian cari bahan masakan.” Nasya tersenyum. “Baiklah, karena kamu sudah beli bahan masakan, maka aku yang akan memasak. Kamu duduk saja.” Axel mendorong Nasya perlahan untuk duduk di kursi di ruang makan kecil di dekat dapur.Kemudian Axel kembali ke dapur. Nasya menunggu Axel dengan tenang. Memerhatikan Axel yang mulai beraksi di dapur. Pria membuka jasnya kemudian, itu menggulung lengan kemejanya. Ia mengeluarkan bahan-bahan masakan yang dibeli Nasya. Tangannya begitu lihai beraksi di dapur. Nasya pernah dengar sendiri jika Axel sering masak makanan sendiri sewaktu
Nasya berdebar-debar menunggu ucapan temannya itu. Ia takut temannya tahu hubungannya karena menghubungkan kejadian tadi.“Apa jangan-jangan kalian bakal kencan bareng?” tanya teman Nasya sambil tertawa. Saat teman Nasya mengatakan hal itu, Nasya langsung bernapas lega. Ternyata temannya tidak berpikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan Axel. “Mana bisa aku kencan bareng Pak Axel. Kami beda status. Kalau Pak Axel kencan di tempat mewah, aku paling juga cuma di pinggir jalan.” Nasya tertawa. Berusaha untuk tetap tenang agar tidak membuat curiga teman-temannya. “Iya juga.” Teman Nasya ikut tertawa. Akhirnya makan siang yang sedikit menegangkan itu berakhir. Setelah selesai makan, Nasya dan teman-teman bersiap untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Namun, langkah Nasya terhenti ketika melihat kue coklat. Tadi dia ingat jika Axel belum makan. Jadi ia berinisiatif untuk membeli kue tersebut. “Sya, kamu belum kenyang?” tanya salah seorang teman. “Iya, aku masih lapa
Nasya berusaha melepaskan tangan Axel yang menggenggam tangannya, tapi Axel justru semakin mengencangkan genggaman tangannya itu. Dalam lift, dengan banyak orang seperti ini, ia takut jika ada yang melihat.Nasya sudah memberikan isyarat, tapi justru tidak dianggap oleh Axel. Pria itu tetap memegang tangannya. Sampai akhirnya bunyi lift terdengar tanda lift berhenti, barulah Axel melepaskan genggaman tangannya. Karyawan keluar sebagian. Kemudian lift kembali menutup lagi. Karyawan yang berkurang membuat kondisi lift sedikit lengang. Jadi Axel tidak berani meraih tangan Nasya lagi.Nasya bernapas lega karena akhirnya Axel melepaskannya. Ia takut jika karyawan tahu hubungan mereka. Untuk saat ini, ia mau fokus bekerja dan profesional. Lift kembali bergerak naik lagi ke lantai berikutnya. Setiap lantai lift berhenti karena ada karyawan yang keluar. Saat semua karyawan keluar dan hanya tersisa Axel dan Nasya saja, Axel kembali meraih tangan Nasya. Kali ini Nasya tidak menolak. Mem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore