LOGINHanya karena tidak sengaja mendengarkan percakapan pribadi Axel Marcelo Davis, atasannya yang gila, Anasya Raveena mendadak diakui sebagai kekasih sang atasan! Sebagai imbalan, pria itu bersedia memberikan kompensasi. Masalahnya, semakin lama sandiwara itu berlangsung, semakin sulit Nasya membedakan mana yang pura-pura... dan mana yang benar-benar jatuh cinta. Apakah keputusan menerima permintaan atasannya itu adalah pilihan yang tepat atau ia justru sudah dalam masalah besar sejak masuk ke dalam dekapan atasannya itu?
View More“Halo, Nasya.” Untuk sesaat Nasya terdiam. Berusaha mendengarkan dengan saksama suara di seberang sana. “Kenapa lama sekali kamu angkat teleponnya?” Nasya berusaha menebak suara siapa ini. Suaranya terdengar familiar, tapi baru ia dengar kali ini di sambungan telepon. Sampai akhirnya ia menyadari suara siapa itu. “Iya, Tante. Maaf.” Ia bangkit dari posisi tidurnya dan bersandar di punggung tempat tidur. “Hari ini kamu libur bukan?” tanya Mama Helena di seberang sana. “Iya, Tante. Hari ini saya libur.” Nasya mengangguk-anggukkan kepala, meskipun Mama Helena tidak ada di depannya. “Kalau begitu ayo kita bertemu di mal.” Bertemu? Nasya menelan salivanya mendengar ajakan itu. Bertemu dengan Mama Helena saat ada keluarganya lain saja, ia takut. Bagaimana bisa ia bertemu berdua saja. “Apa kamu ada janji?” Saat suara Mama Helena di seberang sana terdengar lagi.“Tidak, Tante.” Buru-buru Nasya bersuara. “Kalau begitu berarti kamu bisa bertemu denganku bukan?” Nasya tidak punya pi
Mama Helena seketika langsung diam mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya. Ia tidak pernah tahu alasan sebenarnya seperti itu. Ia tidak pernah memerhatikan anaknya waktu kecil. Ia pikir dulu jika tidak mau makan, Axel memang sedang malas makan, makanya ia memilih membelikan makanan lain atau meminta asisten rumah tangga memasakan masakan lain. Nasya yang sedari tadi ikut mendengarkan pun sangat terkejut. Pertanyaan yang dulu membuat Nasya penasaran, akhirnya terjawab sudah, dan ia mengerti kenapa Axel tidak mau makan masakan mamanya selama ini. Di usia yang sangat kecil, pasti berat tinggal jauh dari orang tua. Ia berusaha keras melawan rindunya. Salah satunya adalah tidak makan masakan mamanya. Seperti halnya anak lain, pasti ia ingin pulang jika merindukan masakan mamanya. Sayangnya, ia tidak bisa pulang karena orang tuanya tidak mengizinkan. Suasana makan jadi tidak kondusif. Walaupun pembicaraan dilakukan dengan suara tenang tetapi ketegangan tetap tidak bisa di
Axel asyik memotong bawang yang akan dipakai oleh Nasya masak. Ia fokus dengan pekerjaannya itu sampai tidak menyadari jika Mama Helena sedang melihat-lihat apartemen. “Pak,” bisik Nasya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Axel, kemudian menunjuk ke satu tempat. Axel menoleh ke arah di mana Nasya menunjuk dan mendapati mamanya sedang berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Nasya. Seketika Axel panik. Ia meninggalkan pekerjaannya memotong bawang dan menghampiri mamanya. “Ma …” panggilnya. Mama Helena yang memegang gagang pintu kamar dan bersiap untuk membukanya langsung mengalihkan pandangannya. “Aku ada teh camomile, Mama mau coba?” Mama Helena melepaskan tangannya yang memegang gagang pintu, kemudian menatap Axel. “Kita minum sambil duduk mengobrol.” Axel tersenyum. Mama Helena mengangguk. Pikirnya, kapan lagi anaknya mau duduk manis mengobrol dengannya. “Mama tunggu dulu. Aku akan buatkan.” Axel berbalik, tapi ia tak kunjung jalan karena menunggu mamanya. Mama Helena ber
Tangan Nasya menggantung di udara setelah baru selesai menekan kombinasi angka di smart lock pintu apartemen milik Axel. Jantungnya berdegup dengan kencangnya. Takut dengan reaksi Mama Helena. Karena suaranya terdengar ketus. “Oh … iya, aku lupa jika kamu sering ke sini. Jadi pasti tahu kombinasi angka untuk membuka pintu apartemen.” Suara Mama Helena terdengar sinis. Tubuh Nasya membeku. Tangannya yang berada di depan layar pintu smart door apartemen, menggantung. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya. Sebagai orang asing, ia justru lebih tahu kombinasi angka untuk membuka pintu, sedangkan Mama Helena tidak tahu sama sekali. “Iya, Tante. Saya memang tahu karena kadang Axel meminta saya datang lebih dulu seperti sekarang.” Nasya tersenyum. Berusaha untuk tetap tenang. Mama Helena hanya menatap malas mendapati jawaban dari Nasya. Walaupun sikap Mama Helena begitu buruk, Nasya tetap tenang. Ia membuka pintu dan mempersilakan Mama Helena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore